Sunday, April 24, 2016

Perpisahan

Sumber foto: songlagu.com
Jika benar momen ini membentangkan jarak,
Maka aku akan menjelma camar yang terbang menuju palung hatimu
Menyesap bulir-bulir bening di pipimu
Melenyapkan segala resah dan kekhawatiran
Sebab setiap yang telah dekat, akan selalu lekat
Mari percaya pada satu hal, yang pergi akan segera kembali


Friday, April 22, 2016

Di Gigir Gunung

Sumber foto: fotokita.net

Di gigir gunung yang curam ini kita belajar mendaki kesunyian
Dan melenyapkan apa saja yang telah terlewat: cinta dan segenap kenangan
Sebab rindu yang membiru, tak lagi dianggap perlu
Dan pohon-pohon cemara menabalkan wajah-wajah yang menjauh oleh sauh

Thursday, April 14, 2016

KONSER SHEILA MAJID: Melepas Rindu untuk "I"

Sheila Majid merayakan tiga dekade kariernya bersama para penggemar, sahabat penyanyi lokal, dan tata panggung kreatif.

Pertunjukan malam itu dimulai dengan reffrain lagu "Kerinduan". Potongan lagu itu kemudian dirangkai dengan beberapa lagu lain seperti, "Warna", "Tua Sebelum Waktunya", dan "Aku Cinta Padamu". Seluruh komposisi itu dibawakan Sheila Majid dengan suaranya yang khas.


Malam itu, Sheila tampak anggun di usianya yang sudah setengah abad. Penampilannya tambah elegan dengan balutan gaun putih glitter berlengan kimono, yang memanjang hingga mata kaki, hasil rancangan Saptojoyo Kartiko. Rambutnya memanjang terurai dengan riasan muka bersahaja.

"Hello Jakarta, how are you? Rindu tak sama I?" sapa penyanyi kelahiran 3 Januari 1965 ini kepada penonton yang hadir dalam "30th Anniversary Concert: Kerinduan Sheila Majid", yang digelar di Plenary Hall, Jakarta Convention Center, Sabtu malam pekan lalu. Kehadiran wanita berdarah Mandailing-Jawa ini seakan memuaskan kerinduan para penggemarnya.

Penampilan Sheila tambah apik berkat panggung yang dirancang dengan artistik. Di antara pemain orkestra dan posisi blocking Sheila, Jay Subiakto, penata panggung, meletakkan sebuah layar transparan, yang dibentuk dari 70 lapis potongan kawat sepanjang 4,5 meter. Diletakkan di tengah, layar ini menjadibackground sekaligus foreground sepanjang pertunjukan, menyajikan visualisasi perjalanan Sheila selama tiga dekade.

Tak hanya mengurus panggung, bersama Tohpati, Jay juga menyusun 18 lagu yang dinyanyikan Sheila malam itu. Untuk penggarapan lagu-lagu Sheila dalam konser ini, Tohpati sengaja meracik aransemen tak jauh dari aslinya. "Karena penonton inginnya sing along menyanyikan lagu Sheila," katanya.

Animo penonton macam itu memang sudah terbaca sejak pukul 19.00, satu setengah jam sebelum pertunjukan dimulai. Ruang berkapasitas 5.000 orang itu hampir penuh ketika pertunjukan dimulai. Umumnya yang datang berusia dewasa, meskipun ada juga penonton belia yang datang ditemani kedua orangtuanya.

Seperti Rehan Mahendra, remaja berusia 17 tahun. Ia datang bersama kedua orangtua dan adik perempuannya. Rehan, yang diajak orangtuanya, mengaku lebih kenal Siti Nurhaliza ketimbang Sheila Majid. Namun ketika seorang teman memperdengarkan lagu "Sinaran", Rehan langsung menyimpulkan kalau lagu-lagu Sheila enak didengar. "Jadi penasaran, ingin dengar lagu-lagu lainnya," katanya.

Konser itu memang tak hanya dihadiri penggemar Sheila dari Indonesia, tapi juga dari Singapura dan Malaysia. Fans dari Malaysia memang perlu datang jauh-jauh ke Jakarta karena pertunjukan serupa -memperingati tiga dekade karier Sheila- tidak diselenggarakan di sana.

Azmi Latief, 56 tahun, adalah salah satu penggemar berat Sheila. Ia bersama adik perempuannya sudah berada di Jakarta sejak Jumat malam. Keduanya mengaku sudah menjadi fans berat Sheila sejak 1985. "Kami fans umur paling senior," kata Azmi, sambil tertawa.

Di malam pertunjukan itu, Sheila tak tampil sendirian. Setelah nomor evergreen "Antara Anyer dan Jakarta", Sheila melanjutkan dengan tembang "Hadirmu", yang ia sebut sebagai one of my favourite song in Indonesia. Saat masuk bait ketiga, juara Indonesian Idol Season 2, Mike Mohede, tampil menemani Sheila. Malam itu, pria bersuara empuk ini tampil memesona dengan setelan jas berwarna hitam. Ia juga membawakan "Jeritan Batin" setelah mengantar Sheila sejenak meninggalkan panggung.

Setelah Mike undur diri, Sheila muncul dengan gaun hitam panjang. "
Are you tired? I need your enthusiasm. This next song is a duet song, dan saya akan duet bersamamu.You must hafal this song, 'Begitulah Cinta'," katanya. Namun, duet itu tak sepenuhnya dilakukan bersama penonton.

Di tengah lagu, dari arah depan tiba-tiba muncul suara laki-laki. Sheila kaget, namun ia langsung mengenal pemilik suara itu. "Harvey,
where are you?" Sheila celingak-celinguk mencari asal suara. Butuh beberapa detik sebelum sinar lampur menemukan posisi Harvey Malaiholo, yang duduk di kursi VIP bagian belakang. Kejutan itu disambut riuh tepukan pentonton. "Saya tak menyangka. Kudengar kau terkena demam. Semoga segera membaik. I love you, Harvey," ujar Sheila, seusai keduanya berduet.

Lagu-lagu Sheila yang dipilih untuk dinyanyikan dalam konser di Jakarta ini merupakan komposisi yang populer di Indonesia. Kebanyakan lagu ini bertempo medium dan bernuansa jazzy. Sementara itu, tempo up beat hanya terdapat dalam lagu "Sinaran" dan "Warna".

Dengan panggung besar, ada kekhawatiran lagu jazzy menjadikan konser tampak kurang megah. Kekhawatiran lainnya, jika dijejerkan, lagu semacam ini akan menjadikan panggung monoton. Solusinya, lagu dengan warna sama tak disusun berurutan. Di antara lagu bertempo sedang, disisipkan lagu lain yang lebih nge-dance. Juga lagu yang sedikit nge-rock. Inilah kemudian yang menjadi alasan mengapa Armand Maulana ikut ambil bagian.

Berduet dengan Armand, Sheila menyanyikan lagu "Persis Kekasihku" yang bertempo cepat. Di Indonesia, lagu ini memang tak terlalu populer. "Diharapkan Armand bisa memberi warna baru di konser itu," kata Tohpati, music director pertunjukan ini.

Bila akhirnya pertunjukan malam itu berlangsung menawan, acungan jempol harus diberikan kepada Sheila. Pasalnya, ia tidak punya banyak waktu untuk latihan. Dua pekan sebelum pertunjukan di Jakarta, Sheila juga menggelar konser serupa di Singapura. Idealnya, untuk konser seperti ini dibutuhkan delapan hingga 10 kali latihan. Untuk latihan ritem saja biasanya butuh empat kali latihan. Lalu latihan gabungan, yang dilaksanakan empat hingga lima kali.

Untungnya, para penyanyi pendamping dari Indonesia memudahkan pembentukan kekompakan itu. Kehadiran Mike Mohede juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari usaha itu. Mike memiliki kualitas suara yang bagus dan berkarakter "bunglon". Ia cocok dengan jenis nada apa pun. "Mike cocok sama lagu-lagunya Sheila," kata Tohpati.

Sementara itu, kemunculan Harvey memang tanpa skenario sama sekali. Pada konsep awal, lagu "Begitulah Cinta" rencananya akan dinyanyikan bersama penonton. Rupanya Jay Subiakto punya ide lain. Di tengah lagu, Harvey dan suaranya tiba-tiba ditampilkan di tengah penonton. "Benar-benar surprise. Jangankan Sheila, saya saja nggak tahu," kata Tohpati.

Tuesday, April 12, 2016

Menjelang Senja





Menjelang senja, aku memahat namamu pada tiap helai cahaya. Kelak bila penghabisan datang, kau akan menyaksikan bayanganku menari hingga hari lindap diam-diam.

Monday, April 4, 2016

Sajak untuk....

Sumber kiciks.wordpress.com


Malam membisu. Angin berhenti
Alam menabalkan isyarat tentang perjalanan cinta yang menua
Dan luka
; seorang Laki-laki yang terus belajar bagaimana menerjemahkan cinta