Showing posts with label Film. Show all posts
Showing posts with label Film. Show all posts

Monday, July 27, 2015

Hilal, Keluarga dan Lebaran

MENCARI HILAL
Sutradara : Ismail Basbeth
Pemeran : Deddy Sutomo, Oka Antara, Toro Margens, Erythrina Baskoro
Produksi: MVP Pictures, Studio Denny JA, Dapur Film, Argi Film dan Mizan Productions, 2015

Dialog sosial dalam ragam konflik personal dan keagamaan. Film yang memperlihatkan ''wajah'' berbeda Ismail Basbeth.

Pertengkaran kecil di masjid seusai berbuka puasa itu menjadi klimaks dari perseteruan ayah-anak, Mahmud (Deddy Sutomo) dengan Heli (Oka Antara). Heli memilih angkat kaki. Sementara Mahmud tetap pada tujuan utama; mencari hilal dari Goa Hira yang tinggal beberapa kilometer jauhnya.

Sumber foto: twitter.com/mencarihilal
Mahmud adalah ayah berusia 60 tahun yang taat agama namun keras kepala. Sementara itu, Heli adalah anak bungsu yang kecewa lantaran ayahnya lalai menjaga ibunya hingga meninggal. Heli kemudian memilih menjadi aktivis lingkungan dan jarang pulang ketimbang tinggal bersama ayah serta kakak perempuannya.

Kembalinya Heli ke rumah bertujuan untuk meminta tolong sang kakak yang bekerja di kantor Imigrasi. Ia perlu memperpanjang paspor secepatnya demi misi lingkungan di Nikaragua. Namun permohonan itu bersyarat, sang kakak meminta Heli untuk menemani Mahmud yang sakit-sakitan dalam proyek pencarian hilal.

Mengunjungi tempat tinggi untuk mengamati hilal adalah tradisi Mahmud semasa menjadi santri. Tradisi itu hilang bersamaan dengan tutupnya pesantren. Sementara proyek pengamatan hilal yang dilakukan pemerintah menghabiskan miliaran rupiah yang justru berbuntut perpecahan di kalangan masyarakat dan ormas Islam.

Perjalanan spiritual dan muara konflik ayah-anak itu terekam dalam film Mencari Hilal (The Crescent Moon). Film ini hasil kerja bareng lima rumah produksi: MVP Pictures, Studio Denny JA, Dapur Film, Argi Film, dan Mizan Productions. Produsernya pun keroyokan, yaitu Hanung Bramantyo, Salman Aristo, Putut Widjanarko, dan Raam Punjabi. Sutradaranya adalah Ismail Basbeth, yang lewat Another Trip to The Moon tampil sebagai nominator Tiger Awards di International Film Festival Rotterdam Januari lalu.

Berbeda dari Another Trip to The Moon yang surealis dan miskin dialog, Mencari Hilal bergaya realis dengan narasi jelas dan riuh dengan dialog. Basbeth yang begitu asyik mengeksplorasi dialog personal dalam Another Trip to The Moon, kini melalui Mencari Hilal, ia memaparkan dialog sosial lewat interaksi ayah-anak, masyarakat dengan pemerintah, serta ragam wajah Islam di Nusantara berikut perdebatannya. Sementara benang merah kedua film ini adalah pencarian identitas dan kemerdekaan di tengah kuasa politik serta struktur sosial.

Plot cerita Mencari Hilal mengalir lancar atas bantuan narasi yang oke, sinematografi yang ciamik serta akting dan pengembangan karakter yang menunjukkan kerja keras para aktornya.

Film ini direncanakan tayang di bioskop-bioskop mulai 15 Juli dan menjadi film pengisi libur Lebaran. Isu ''hilal'' membuat tema film ini nyambung dengan percakapan sosial yang mengemuka saban awal Ramadan dan Syawal. Sementara pesan tentang dialog antar-anggora keluarga, telah menjadi semacam menu utama dalam konteks silaturahmi dan budaya saling maaf-memaafkan saat Lebaran.

Formulasi itu --kecuali fakta bahwa film ini punya selera humor yang terbatas-- tampaknya telah jauh-jauh hari dirancang oleh lima produser, juga untuk menangkap peluang pasar di libur Lebaran. Jika itu sukses dikemas, tujuan lain tentu akan seiring-sejalan. Indonesia adalah negeri dengan mayoritas muslim yang konsumtif. Ini tentu pasar potensial bagi produk apa saja yang islami, termasuk film.


Tuesday, June 9, 2015

Ramuan Klise Film Bencana

SAN ANDREAS 
Sutradara : Brad Peyton 
Pemeran : Dwayne Johnson, Carla Gugino, Alexandra Daddario, Paul Giamatti 
Produksi : New Line Cinema, 2015


Malaikat hadir dengan cara klise dalam film-film bencana garapan Hollywood. Tidak terkecuali dalam San Andreas. Praktek CGI-nya masih kalah seru dibandingkan dengan 2012.


Dari helikopter, Ray Gaines (Dwayne Johnson) melemparkan tali. Kali ini pilot helikopter search and rescue itu bukan menyelamatkan warga umum yang terjebak dalam bencana, melainkan ibu dari anaknya. Emma (Carla Gugino), perempuan yang telah menggugat cerai Ray, terjebak di atas reruntuhan gedung, di Los Angeles.

Gempa besar mengakibatkan gedung itu hancur dan dilalap api. Perempuan itu harus berlompatan di antara reruntuhan demi menyelamatkan diri. Sementara di tempat lain, putri mereka, Blake (Alexandra Daddario ), berteriak panik. Kakinya terjepit jok depan limousin yang tertimpa tembok di sudut parkiran gedung bertingkat. Tapi, siapa yang mau menolongnya di tengah gempa bumi begini. Orang-orang pada berhamburan dan berupaya menyelamatkan diri. Bahkan, calon ayah tirinya saja lebih memilih mencari selamat sendiri.

Gempa besar dari patahan San Andreas itu benar-benar anomali. Diprediksikan datang tiap 150 tahun dan tak kunjung tiba setelah lewat dari 100 tahun. Sekalinya datang, tanpa prediksi dan meluluhlantakan apa saja yang ada di sekitarnya. Patahan sepanjang 800 mil itu siap melahap daratan Amerika, dari Los Angeles hingga San Fransisco.

Setelah sukses menyuguhkan Journey to the Center of the Earth (2008) dan Journey 2: The Mysterious Island (2012), sutradara Brad Peyton masih ketagihan menyuguhkan film petualangan. Kali ini menyoal lanskap kiamat akibat gempa bumi besar dalam film San Andreas. Peyton bahkan juga masih ketagihan bermitra dengan tokoh yang sama dalam film Journey 2: The Mysterious Island (2012), yaitu Dwayne Johnson atau yang lebih dikenal dengan panggilan The Rock.

Dari sisi plot, secara umum, film bencana memiliki pola yang sama. Mengemas narasi besar soal musibah yang datang dan menelan banyak korban. Kemudian muncul sosok 'malaikat' penyelamat yang membantu korban, menyelamatkan dari musibah, dan narasi berakhir bahagia. Tarikan napas lega berlaku di setiap akhir film.

Ramuan klise itu berlaku juga dalam San Andreas. Pasangan suami-istri yang hampir bercerai dan disatukan kembali oleh bencana serta penyelamatan anak mereka.

Bingkai klise itu, seperti pada film-film keluaran Hollywood, diramu dengan teknologi visual untuk menggambarkan kedahsyatan bencana. Tanah bergetar, jembatan luluh lantak, tsunami menyerang dan gedung-gedung runtuh berhamburan. Persis seperti runtuhnya kartu-kartu dalam permainan domino.

Bantuan teknologi computer-generated imagery (CGI) membuat visualisasi film ini tampil ciamik. Memacu jantung penonton dan menjebaknya dalam kekhawatiran yang berkepanjangan ketika bencana itu nyaris merenggut sang tokoh.

Ramuan komersial San Andreas paling mudah dibandingkan dengan film 2012 garapan Rolland Emerich. Dalam konteks hiburan (cukup dengan ''h'' kecil), San Andreas masih tertinggal dari 2012. Baik dari sisi plot maupun suguhan efek khusus dan CGI-nya.
San Andreas hanya menyuguhkan kiamat kecil sepanjang Los Angeles hingga San Fransisco. Sedang 2012, yang pernah dinominasikan sebagai film laga atau petualangan terbaik oleh Saturn Award, menawarkan kepentingan sejagat. Bencana besar yang meluluhlantakan dunia dengan sajian visualisasi maksimal.


Pengalaman dua sutrdara dalam dua film bencana itu juga bisa jadi penyebab perbedaan tersebut. Emerich yang lebih dulu malang-melintang di dunia sinema, telah memproduksi sederet film berbau kiamat. Di antarnya Independence Day, The Day After Tomorrow. Emerich menguras ongkos US$ 200 juta untuk memproduksi2012. Sedangkan Peyton ''hanya'' menghabiskan separuhnya buat San Andreas.  

Thursday, June 4, 2015

Doea Titik Lemah Film Tentara*


Doea Tanda Cinta
Sutradara :Rick Soerafani
Pemeran : Fedi Nuril, Rendy Kjaernett, Tika Bravani
Produksi : Induk Koperasi TNI Angkatan Darat bekerja sama dengan Benoa dan Cinema Delapan, Mei 2015

Sumber Foto: http://awanjakarta.com/berita-terkini/film-terbaru/doea-tanda-cinta-jadi-film-perjuangan-cinta-di-akademi-militer/


Ketika disodorkan undangan untuk menonton film Doea Tanda Cinta, saya hanya melengos. Film garapan lembaga tentu mengusung misi personal yang belum tentu ada kaitannya secara langsung dengan publik. Atau bahkan sarat dengan kepentingan personal. Apalagi dibikin oleh rumah produksi yang tak memiliki nama besar, dengan produser dan sutradara tak terlalu dikenal.

Tiga bintang utama film ini bagi saya tak terlalu menarik dan bukan aktor moncer. Fedi Nuril memiliki nama besar, terutama sejak perannya dalam film 5 cm. Film 5 cm diangkat dari novel populer dan meninggalkan kesan menarik bagi banyak pembaca, terutama yang suka berpetualang. Film ini digarap ketika menjelajahi alam bebas ala backpacker menjadi tren di Indonesia. Meski begitu akting Fedi tak bagus-bagus amat. Tentu tak bisa dibandingkan dengan Reza Rahardian yang selalu berakting maksimal.

Salah satu pemeran lainnya adalah Rendy Kjaernett. Ia mantan bintang sinetron yang beruntung bisa memasuki dunia layar lebar meski kiprahnya bisa dikatakan tak cemerlang.

Pemeran film dan sinetron memiliki strata sosial berbeda dan jauh, sejauh langit dan bumi. Pemeran film mengandalkan kemampuan akting sebagai modal utama, sementara kemolekan fisik nomor berikutnya. Sedang dalam sinetron berlaku sebaliknya kemolekan fisik kriteria utama meski kemampuan akting tidak bagus-bagus amat.

Selain itu film ini juga minim publikasi. Media yang mengulas film ini bisa dihitung dengan jari. Film bagus umumnya memperoleh perhatian media dengan sangat besar. Perhatian media bisa menjadi cara praktis untuk mengetahui apakah film komersial terekomendasi untuk ditonton atau tidak.

Film Tjokroaminoto misalnya, menguras perhatian media jauh sebelum syuting dilakukan. Jika perbandingannya tidak setara karena Tjokroaminoto film biopik, baiklah saya ambil contoh lain. The Raid yang mengusung Gareth Evans, tokoh baru dalam dunia film, bahkan dalam seni peran, telah mengalihkan perhatian banyak pemerhati film dunia. Film ini memperoleh perhatian banyak festival film dunia, salah satunya Festival Film Toronto dan menjadi box office di Amerika pada seri keduanya.

Sialnya titah redaktur mengamanatkan saya untuk menonton film ini dan membuat ulasannya. Baiklah, sesekali nonton film “biasa” untuk mempertegas apa saja yang membedakan “biasa” dan “tak biasa”. Akhirnya saya datangi juga bioskop yang telah diramaikan oleh penonton-penonton berseragam loreng.

Sebetulnya ada banyak hal yang bisa dievaluasi dalam film ini. Tapi biar tampak kompak dengan judulnya, saya ambil dari doea sisi saja, dari sisi plot dan posisi film ini di tengah film menyoal kehidupan tentara.


*****

Akhirnya pertahanan Mahesa (Rendy Kjaernett) runtuh juga. Pada salah satu sesi latihan di hutan, kakinya menginjak batu rapuh. Tubuh yang sudah sempoyongan itu kemudian terpeleset, jatuh ke sungai dan pingsan.

Bagi anak kota dan putra petinggi militer seperti Mahesa, kehidupan di rumah dan di pendidikan Akademi Militer (Akmil) tentu berbeda. Di rumah ia dikelilingi kehidupan mewah dan hedonis. Apapun yang ia inginkan bisa dengan mudah dicapai dengan materi dan embel2 pangkat bapaknya. Sementara di Akmil sangat menyengsarakan. Bocah kebluk ini harus apel pagi, hidup disiplin dan menghadapi berbagai latihan fisik yang keras khas militer. Pola hidup begitu menyiksanya secara fisik juga mental.

Berkebalikan dengan Mahesa, Bagus (Fedi Nuril) justru lahir dan tumbuh di tengah keluarga sederhana. Bersekolah tentara sudah menjadi impiannya sejak kecil. Di Akmil itulah ia dan Mahesa dipertemukan. Mereka menjadi karib dan bahkan terjebak cinta pada perempuan yang sama. Perempuan itu adalah Laras (Tika Bravani), gadis asal Magelang yang baru lulus SMA.

Suka duka menempuh pendidikan di sekolah militer, hingga lulus dan kemudian terjun ke medan operasi dalam satuan Kopassus ini dikemas dalam film berdurasi 90 menit ini. Penggarapnya sutradara Rick Soerafani dengan penulis skenario Jujur Prananto. Rick adalah sutradara pendatang baru dalam dunia film. Sebelumnya ia telah menyutradarai belasan video iklan. Sementara Jujur adalah Cerpenis asal Salatiga yang karyanya bertebaran di media nasional. Debutnya dalam dunia film ia mulai dengan menulis skenario Ada Apa dengan Cinta berlanjut Petualangan Sherina.

Di Indonesia, film-film menyoal kehidupan tentara bisa dibilang sedikit. Beberapa diantaranya adalah Teror di Sulawesi Selatan, Madju Tak Gentar, Tujuh Wanita dalam Tugas Rahasia, Enam Djam di Jogja, hingga trilogi Merah Putih. Itu pun umumnya mengupas soal revolusi pasca kemerdekaan dengan tahun produksi 1964 hingga 1980an--kecuali trilogi Merah Putih yang diproduksi 2009, 2010 dan 2011. Film-film ini menjadi oase bagi penggemar film bertemakan kehidupan tentara di tengah semaraknya dominasi film bertema cinta dan horor.

Meski menyoal kehidupan tentara, Doea Tanda Cinta lebih tergolong genre laga-drama. Tak heran bila film ini lebih didominasi cerita cinta dan secuil kisah para tentara berjibaku di medan operasi. Pada penghujung film, Bagus dan Mahesa ditugaskan untuk menyelamatkan sandera, seorang profesor LIPI, dari tangan segerombol penjahat yang dipimpin John Reno. Sayangnya pertarungan di medan operasi itu hanya berdurasi beberapa menit saja, amat minim untuk ukuran genre film laga. Apalagi dengan adegan gerilya dan baku tembak yang tidak mencekam, tak cukup untuk memacu adrenalin penggemar film laga.

Dari sisi plot, film ini tak menawarkan hal baru. Diawali dengan adegan tembak-menembak dalam operasi militer penyelamatan sandera di salah satu hutan di Flores, Nusa Tenggara Timur. Alur kemudian mundur ke awal cerita, dan melaju secara linier. Sayangnya film ini tak banyak memberikan kejutan, tiap perkembangan alurnya sangat mudah ditebak. Misalnya siapa pemenang diantara cinta segitiga, tokoh mana yang tertembak mati di medan operasi, hingga berhasil atau tidaknya upaya penyelamatan sandera. Satu-satunya kejutan yang dimunculkan adalah ketika Bagus melompat dari helikopter yang siap tinggal landas demi membalas kematian sahabatnya. Meski juga alur ini tampak lucu, karena logikanya tak akan ada tentara yang membiarkan tentara lainnya terjun sendirian menghadapi sekelompok penjahat.

*versi lain dari ulasan ini ada di Majalah GATRA

Thursday, April 16, 2015

Kenangan dari Secangkir Kopi

FILOSOFI KOPI
Sutradara: Angga Dwimas Sasongko
Pemain: Chicco Jerikho, Rio Dewanto, Julie Estelle

Produksi: Visinema Pictures, 2015





Upaya berdamai dengan masa lampau melalui kopi. Plus minus adaptasi cerpen populer ke dalam film.


Sejak kedatangan El (Julie Estelle), perilaku Ben (Chicco Jerikho) berubah seratus delapan puluh derajat. Dulu, barista bergaya selengean itu berperangai riang. Kini ia lebih sering bermuram durja. Bersama hilangnya keceriaan Ben, raib pula masa depan Filosofi Kopi, kafe yang ia rintis bersama Jody (Rio Dewanto).


Perubahan itu bermula dari respons El atas secangkir Perfecto yang Ben sajikan. Menurutnya, ada kopi lain yang lebih enak ketimbang mahakarya racikan Ben itu. Perfecto adalah hasil kerja keras Ben untuk menjawab tantangan seorang pengusaha yang akan mengganjar mereka Rp 1 miliar jika berhasil menyajikan rasa kopi paling sempurna sedunia.



Kopi terbaik pesaing Perfecto itu ada di lereng pegunungan Ijen, Jawa Timur. Peraciknya adalah petani kopi tua bernama Seno (Slamet Rahardjo) dan istrinya (Jajang C. Noer). Mereka menyebutnya kopi Tiwus. Satu gelas seduhan kopi Tiwus itu memengaruhi banyak hal dalam kehidupan Ben. Dari urusan membangkitkan kenangan hingga runtuhnya kebanggan semu yang ia bangun bersama Perfecto.



Kisah tersebut terangkai dalam film Filosofi Kopi garapan sutradara Angga Dwimas Sasongko. Ceritanya diadaptasi dari sebuah cerita pendek berjudul sama yang ditulis oleh Dewi Lestari pada 1996. Lazimnya sebuah karya layar lebar yang bersumber pada cerpen, ada sejumlah pengembangan karakter dan cerita dalam Filosofi Kopi dengan tujuan --yang cukup mudah ditebak-- mengetengahkan efek dramatis dalam target durasi lebih panjang.



Contohnya kehadiran cewek cakep bernama El. Versi cerpen Filosfi Kopi tidak mengenal karakter ini. Dalam film, ia dimunculkan sebagai sosok penting dalam hubungan persahabatan Ben dan Jody. Lainnya adalah pengungkapan latar belakang kehidupan Ben. Versi cerpen hanya mengenalnya sebagai barista ambisius, petualang citra rasa kopi yang rela keliling dunia demi menemukan koresponden kopi terbaik.



Penggarapan film hasil adaptasi cerpen dengan adaptasi novel sangat berbeda dalam soal penulisan naskah. Film hasil adaptasi novel adalah peringkasan cerita dari ratusan halaman kisah panjang ke dalam durasi film yang terbatas. Sebaliknya, untuk memenuhi durasi tersebut, sutradara harus putar otak mengembangkan karakter dan kisah dari belasan lembar halaman cerpen.



Metode berbeda dalam penulisan naskah ini memberi nilai lebih pada film hasil pengembangan cerpen. Sifat dasar medium visual gerak itu sendiri memiliki kelebihan soal penyuguhan narasi secara langsung. Dalam film, pembaca menemukan afirmasi visual atas imajinasi mereka saat membaca teks tertulis soal kepiawaian seorang barista mengemas secangkir cappuccino cantik.



Tapi medium itu sekaligus menjadi keterbatasan karena tak seperti film, interpretasi teks berkembang seiring berkembangnya pengetahuan dan imajinasi pembaca. Misalnya, narasi ketika Jody dan Ben mencicip kopi tiwus pertama kali. Deskripsi perubahan sikap keduanya, versi cerpen jauh lebih menggigit ketimbang versi film.



Dalam film, Ben tidak langsung mereguk. Ia menghirup aroma kopi sambil dengan kesal menyaksikan ekspresi Jody mencicipi kopi sambil memejamkan mata. Setelah itu, karena tuntutan pengembangan cerita, Ben kabur meninggalkan gubuk kopi Pak Seno untuk memasukkan kisah masa lalunya yang pahit. Itu berbeda dengan modus ungkap dalam cerpen yang mengungkap momen awal runtuhnya kebanggan Ben itu dengan kalimat, "Ben cuma membisu. Hanya matanya diliputi misteri. Perlahan, aku ikut menenggak. Dan... kami berdua tak bersuara. Teguk demi teguk berlalu dalam keheningan."



Adaptasi cerpen dalam film memberikan ruang yang sangat luas pada penulis naskah untuk mengembangkan alur cerita. Tidak semua hasilnya enak dihirup dan diteguk penonton. Seperti tragedi ketidaksempurnaan citra rasa Perfecto yang dibuat dengan "standar akademis" tinggi di hadapan kopi Tiwus yang sederhana dan penuh cinta.

Thursday, March 19, 2015

Cinderella Sepanjang Masa*

CINDERELLA
Sutradara: Kenneth Branagh
Pemain: Lily James, Richard Madden, Cate Blanchett 
Produksi: Disney, 2015


Setelah sukses dalam bentuk animasi 65 tahun lalu, lakon Cinderella bangkit kembali dalam sajian live-action. Digagas sutradara Shakespearean dengan visual meriah.

Menjelang pukul dua belas malam, satu per satu personel kereta kencana yang membawa Cinderella pulang dari istana, kembali ke wujud semula. Dua sais mulai berekor kadal, empat kuda mulai berkuping tikus, dan mulut kusir berubah menjadi moncong angsa. Tentu saja Cinderella panik luar biasa. Ia tak ingin penyamaran putri abu menjadi putri cantik jelita terbongkar. Tak jauh di belakang mereka, serombongan tentara kerajaan terus mengejar demi memperoleh identitas Cinderella yang kadung membuat Pangeran Kit jatuh hati.

Disney kembali menyuguhkan dongeng klasik sepanjang masa, Cinderella, dengan judul sama. Jika versi sebelumnya yang dibuat pada 1950 berbentuk animasi, kali ini Cinderella disajikan dalam bentuk live-action berdurasi 112 menit yang dibintangi oleh Lily James dan Richard Madden. Sutradaranya adalah Kenneth Branagh.

Branagh terkenal sebagai sutradara dan aktor yang doyan mengadaptasi karya-karya William Shakespeare ke layar lebar. Sebut saja; Henry V (1989), Much Ado About Nothing (1993), Othello (1995), Hamlet (1996), Love Labour's Lost (2000), dan As You Like It (2006). Lewat karya-karya Shakespearean itu, ia telah menyabet pelbagai penghargaan. Di antaranya daftar nominasi Academy Award sebagai aktor, aktor pendukung, sutradara, penulis naskah, dan film pendek.

Seperti nasib Cinderella, perjalanan dongeng klasik ini menjelajah waktu dengan sukses dan akhir yang membahagiakan. Istilah "dongeng peri"-nya: lived happily ever after. Cinderella, yang menjadi dongeng dari generasi ke generasi, ini ditulis oleh Charles Perrault pada 1697 dan telah diadaptasi dalam berbagai bentuk seperti opera, balet, teater, musik, dan film.

Sebagai karya film, Cinderella pertama kali diadaptasi oleh Georges Melies di Prancis pada 1899 dengan judul Cendrillon. Selepas itu, puluhan film dengan tema atau judul yang sama menyusul. Termasuk animasi klasik rilisan Disney pada 1950, Cinderella, dan terakhir, A Cinderella Story yang dibintangi Hilary Duff dan Chad Michael Murray pada 2004, hingga menjadi salah satu elemen racikan dongeng dalam Into The Woods (2014) --film drama fantasi-musikal dengan sutradara Rob Marshall. 

Pengaruh Cinderella juga terekam pada hampir tiap kepala anak perempuan di dunia selama berabad-abad. Mereka tumbuh dan berkembang bersama karakter Cinderella yang baik hati, polos, dan teraniaya. Dus, terciptalah mitos datangnya pangeran tampan berkuda yang menyelamatkan sang gadis dari nasib buruk. Itu kemudian dikritik habis oleh Collete Dowling sebagai The Cinderella Complex; gagasan bahwa perempuan cantik, anggun, pekerja keras, difitnah masyarakat, tapi tidak mampu mengubah nasibnya sendiri melainkan harus menunggu pertolongan pangeran tampan.

Pada 1950, animasi klasik Cinderella menguras biaya produksi sebanyak US$ 3 juta. Tapi perjuangan menyuguhkan mimpi hidup susah dan dipinang pangeran itu juga meraup laba berkali-kali lipat, lebih dari US$ 34 juta, dan masih terus diputar hingga kini, setelah 65 tahun kemudian.

Live-action Cinderella versi Branagh dibuat dengan nuansa klasik yang glamor. Ia tak hanya membangun kembali arsitektur Eropa abad ke-19 dengan penuh warna pada layar bioskop, melainkan juga memamerkan parade elaborasi kostum cantik dalam adegan pesta dansa buah karya desainer Sandy Powell.

Powell telah malang melintang menggagas kostum berbagai film. Di antaranya Far From Heaven dan The Crying Game. Termasuk tiga film yang mengantarnya menyabet Piala Oscar, yaitu The Young Victoria, Shakespeare in Love, dan The Aviator.

Dalam Cinderella versi Branagh, Powell mendesain kostum Ibu Peri; sebuah gaun putih bersayap perak terbuat dari 131 meter kain dan dilengkapi dengan 10.000 kristal Swarovski dan 400 buah lampu LED. Ratusan lampu ini akan menyala ketika Ibu Peri membaca mantra.

Dengan parade meriah itu, mampukah Branagh mengulang sukses manis Cinderella versi animasi klasik? Atau ia butuh bantuan mantra-mantra dan kereta kencana?We'll see.



* bisa dilihat pula di Majalah Gatra edisi xxi Maret 2015. Artikel di web ini lebih lengkap dengan tambahan teori Cinderella Complex

Wednesday, October 16, 2013

Sembilan Puluh Menit dalam Kepanikan



GRAVITY
Sutradara: Alfonso Cuaron
Pemain: Sandra Bullock, George Clooney
Produksi: Warner Bros Pictures, 2013
 


Racikan efek visual ciamik dan mendulang tepuk tangan pada Venice International Film Festival 2013. Membawa penonton turut menahan napasnya.
Ryan Stone (Sandra Bullock) dan Matt Kowalsky (George Clooney) sebetulnya hampir menyelesaikan misi luar angkasa mereka ketika satelit Rusia diledakkan. Serpihan satelit itu menabrak pesawat mereka dan mencerai-beraikan semua personelnya.
Stone masih belum rela Kowalsky melepas tali pengait mereka berdua, karena itu satu-satunya penyelamat agar keduanya kembali ke stasiun luar angkasa ISS dan tak terombang-ambing di angkasa. Tapi toh Kowalsky melepaskannya juga. Kemudian di gelap angkasa itu hanya ada Stone sendiri, panik, dan hampir kehabisan oksigen.
Dengan waktu tersisa hanya 60 menit sebelum serpihan satellit itu kembali memburunya, Stone yang hanya seorang insinyur biomedis harus kembali ke ISS. Ketegangan cerita pun dibangun oleh kesendirian Stone, yang mendapat rintangan bertubi-tubi. Mulai kebakaran stasiun ISS, kapsul Soyuz yang kehabisan bahan bakar, kapsul Cina dengan bahasa yang asing bagi Stone. Bahkan ketika akhirnya kapsul Cina itu berhasil terjun ke bumi, Stone masih harus berjuang melepaskan kostum astronotnya lantaran kapsul penyelamat itu masuk ke dasar danau dan terancam mati tenggelam.
Film fiksi ilmiah bergenre thriller ini adalah hasil garapan terbaru Alfonso Cuaron, sutradara yang pernah membuat Y Tu Mama Tambien (2001), Harry Potter and the Prisoner of Azkaban (2004), dan Children of Men (2006). Lewat film yang terakhir disebut, sutradara asal Meksiko ini masuk dalam dua kategori nominasi Oscar 2007, yaitu penyuntingan dan gubahan skenario terbaik.
Tampil dalam format 3D, film ini terhitung sukses menyuguhkan semesta luar angkasa dengan efek visualnya. Gravity tak hanya berhasil menampilkan hal makro seperti ruang angkasa bertabur bintang-bintang, pesawat NASA berikut awaknya, dan sepotong bumi, melainkan juga sukses membidik hal mikro seperti sekrup kecil yang terlepas, melayang di angkasa, lalu mengarah ke penonton.
Kefasihan Cuaron menggambarkan luar angkasa itu kiranya tak lepas dari campur tangan Emmanuel Lubezki dan Tim Webber di dapur efek visualnya. Agar bisa menciptakan gerakan selaiknya dalam kondisi tanpa gravitasi, mereka hanya mengambil gambar wajah para pemainnya --selebihnya diolah secara digital.
Untuk menunjang pencahayaan, Lubezki dan Webber menempatkan para pemainnya ke dalam sebuah kotak lampu yang dirancang khusus. Beredar kabar, produksi film ini sempat terkatung-katung selama empat tahun, sebelum akhirnya Cuaron menemukan formulasi pencahayaan tersebut. Dengan keseriusan macam ini, wajar bila Gravity memperoleh aplaus ketika diputar pada pembukaan Venice International Film Festival ke-70, Agustus lalu.
Selain mengajak menyelami kepanikan dan ketegangan, film ini sekaligus mengingatkan pada penonton yang bercita-cita pergi ke luar angkasa bahwa tempat itu tidak melulu menakjubkan. Dengan segala kemegahannya, ia juga menakutkan sekaligus berbahaya. Seperti yang dialami Stone dalam film ini.

Monday, October 7, 2013

Memacu Kecepatan, Memicu Persaingan


RUSH
Sutradara : Ron Howard
Pemain : Daniel Bruhl, Chris Hemsworth, Olivia Wilde
Produksi : Universal Pictures, 2013
 
  

Cerita tentang rivalitas Niki Lauda dan James Hunt di ajang Formula 1. Saling bersaing, salip-menyalip secara profesional dan personal. Menghadirkan sensasi visual dalam mendeskripsikan fungsi kecepatan. Menawarkan sudut pandang tersembunyi tentang peranan rival.
Niki Lauda (Daniel Bruhl) menyorongkan jari tengah kepada James Hunt (Chris Hemsworth) yang sedang merayakan kemenangan. Lauda emosi. Gelar juara balapan Formula Tiga itu sudah seharusnya menjadi miliknya. Ketika susul-menyusul tadi, begitu sampai tikungan, Hunt mendadak mengerem. Ketimbang menabrak mobil Hunt, Lauda, yang persis berada di belakang mobil rivalnya itu, lebih memilih injak pedal rem. Sial, keputusan itu bikin mobil Lauda berbalik arah. Belum sempat membalikkan arah mobil, Hunt sudah tak terkejar dan jadi pemenang.
Peristiwa tahun 1970 di arena balap Crystal Palace, Inggris, menjadi ilustrasi awal tentang persaingan kedua pembalap yang mempunyai karakter bertolak belakang ini. Hunt, pemuda Inggris yang slengean, tampan, dan play boy. Sementara Lauda adalah pembalap Austria yang serius, perfeksionis, dan penuh presisi. Keduanya memiliki mimpi besar memenangi Grand Prix Formula 1.
Melalui film Rush, sutradara Ron Howard mengangkat kisah nyata persaingan dua pembalap Formula 1 pada dasawarsa 70-an. Selayaknya film berlandaskan sejarah, Howard memulainya dengan riset mengenai kehidupan Lauda dan Hunt. Ia mewawancarai orang-orang yang pernah berinteraksi dengan dua tokoh itu. Mereka adalah awak McLaren dan Ferrari, keluarga, serta para wartawan yang meliput Formula 1 pada masa itu.
Reputasi F1 sebagai ajang balapan "jet darat" tercepat di dunia tidak perlu diragukan. Daya tariknya tidak hanya menyangkut kecepatan, tapi juga urusan teknologi, strategi, kebijakan politis, hingga dunia para pembalapnya yang glamor dan tidak jarang diliputi aroma persaingan personal.
Ada sejumlah rivalitas antar-pebalap kesohor dalam F1 yang menjadi bumbu penyedap olahraga yang satu ini. Ada juga yang telah dipaparkan lewat film. Di antaranya dalam Senna (2010), film dokumenter garapan sutradara Asif Kapadia. Footage-footage asyik dan berharga disusun menjadi plot menarik untuk meneropong kehidupan Ayrton Senna, di dalam dan di luar arena balap, termasuk persaingannya dengan Alain Prost.
Lainnya, sebut saja, rivalitas Nelson Piquet dengan Nigel Mansell, Michael Schumacher dengan Damon Hill, atau yang masih rada-rada hangat, Fernando Alonso dengan Lewis Hamilton. Dan yang lumayan "retro" namun tidak bisa diabaikan ya, Lauda dengan Hunt ini.
Dalam Rush, setelah ajang F3, rivalitas Lauda dengan Hunt kian panas di arena F1 musim balap 1975. Bersama Ferari, Lauda memenangi dua balapan pertama. Hunt terus mengejar, ia sempat merebut podium pertama di Grand Prix Spanyol, namun didiskualifikasi karena badan mobil McLaren yang dipacunya terlalu lebar. Hunt terancam kalah bersaing. Ditambah lagi kehidupan pribadinya ikut berantakan. Istri Hunt, supermodel Suzy Miller, ada main dengan milyarder Richard Burton. Musim 1975 jadi milik Lauda.
Tahun berikutnya, setelah bercerai dari Suzy, Hunt menatap musim baru balapan dengan semangat dan motivasi berlimpah. Tapi Lauda memiliki lebih banyak alasan untuk mengulang sukses tahun 1975. Ia berdiri di podium juara pada empat dari enam seri awal Grand Prix F1 1976. Dua lainnya, ia berdiri di podium kedua. Raihan angkanya, lebih dari dua kali lipat nilai yang dikumpulkan Hunt.
Menjelang Grand Prix Jerman di Nürburgring, Lauda mengusulkan pada rekan-rekan sesama pebalap untuk memboikot balapan, karena cuaca buruk dan beresiko kecelakaan. Namun, mayoritas pembalap menolak usulan itu, tentunya setelah upaya Hunt meyakinkan pembalap lain bahwa itu hanya ekspresi Lauda yang takut kehilangan poin. Balapan tetap berlangsung. Dan kekhawatiran Lauda terbukti. Mobilnya menabrak pembatas jalan dan meledak seketika. Lauda yang berhasil diselamatkan, mengalami luka bakar tingkat tiga di kepala, dan asap beracun masuk ke paru-parunya.
Setelah lima minggu di rumah sakit, Lauda muncul kembali di arena Grand Prix Monza Italia pada tahun yang sama. Wajahnya penuh bekas luka bakar. Sementara Lauda memulihkan kondisi, Hunt tercatat memenangi sejumlah seri GP di tahun itu. Nilainya terpaut tiga poin saja di belakang Lauda. Dan, GP Jepang menjadi puncak pertarungan mereka.
Adalah kehadiran rival yang membuat pembalap terus bertahan di jalur balap dan berupaya memenangi pertandingan. Disadari atau tidak, model persaingan semacam itu memberi dampak motivasional yang aneh.
Howard memilih untuk menyusun ketegangan di film berbiaya produksi US$65 juta ini, tidak hanya melalui visualisasi adegan balapan, raungan mesin, dan kepulan asap pada ban-ban yang berdecit. Namun, juga lewat drama rivalitas kedua pembalap itu, yang ia pertahankan hingga akhir musim balapan, akhir film.
Ketangkasan Howard ini mengingatkan pada daya tahan Oliver Stone memelihara ketegangan dalam Any Given Sunday (1999), film tentang olahraga American Football yang keras. Seperti halnya Stone, Howard berhasil mengoptimalkan peran efek visual khusus dalam mendeskripsikan fungsi kecepatan. Penonton dari kalangan penggemar F1 lumayan termanjakan dengan sensasi rush di film ini.
Bedanya, di antara strategi pengambilan gambar yang cepat dan editing yang tangkas, Stone punya cukup ruang untuk memaparkan juga intrik bisnis di balik industri American Football yang gemerlap. Sementara Howard lebih banyak mengurai unsur dramatik persaingan dua pebalap melalui kehidupan mereka, baik di dalam maupun di luar arena balap.
Dalam sudut pandang Howard, menjadi pembalap F1 pada tahun segitu, adalah pilihan yang melibatkan kematian pada setiap ritme napas, di antara trek-trek balapan. Setiap napas yang dihirup saat ini, bisa berarti napas terakhir dari kehidupan mereka. ''Twenty-five people start Formula One, and each year, two die. What kind of person does a job like this?'' kata Lauda di awal film ini.
Bambang Sulistiyo dan Hayati Nupus

Friday, August 31, 2012

Ramai Fragmen Perahu Kertas



Kugy patah hati! Di hari ulang tahun Keenan, laki-laki yang ia suka, Kugy urung memberikan kado unik buatannya sendiri. Ia malah pergi meninggalkan Keenan. Meninggalkan sepasang sahabatnya, Noni dan Eko, juga Wanda, sepupu Noni yang cantik dan blasteran.

Semua itu karena Kugy cemburu kepada Wanda. Wanda memang sengaja diperkenalkan Noni dan Eko untuk dijodohkan dengan Kugy. Bukannya mereka sahabat yang tidak baik, sebelum bertemu Keenan, Kugy sudah lebih dulu punya pacar di Jakarta. Namanya Joshua. Kugy cemburu melihat Wanda dan Keenan tampak begitu nyambung. Keenan yang pelukis, dan Wanda yang memiliki yayasan seni. Keenan terperanjat ketika Wanda tertarik pada lukisan Keenan. Tak hanya itu, Wanda yang memang tertarik pada Keenan, mengusulkan agar lukisan Keenan turut tampil pada pameran lukisan yang diadakan yayasannya. Kedekatan Kugy dengan Keenan, juga persahabatan Kugy dengan Noni dan Eko akhirnya luntur gara-gara itu.

Konflik cinta Kugy-Keenan ini tampil dalam film Perahu Kertas. Film ini diadaptasi dari novel dengan judul yang sama hasil garapan Dewi Lestari. Film yang disutradarai Hanung Bramantyo ini baru tayang di bioskop dua minggu kemarin dan berhasil menyedot banyak penonton. Yang menjadi ganjalan dan sangat mengganggu, film ini terlalu diramaikan oleh fragmen-fragmen jalan cerita yang justru mengacaukan fokus cerita tersebut.

Fragmen pertama menampilkan repotnya Kugy pindah dari Jakarta ke Bandung untuk kuliah di jurusan sastra. Dari proses pindah hingga ia tinggal di Bandung dibantu oleh sepasang sahabatnya, Noni dan Eko. Kemudian datanglah Keenan, dari Amsterdam kalau tidak salah, yang juga kuliah di Fakultas Ekonomi di kampus yang sama. Keenan pelukis, sedang Kugy penulis dongeng. Dari pertemuan pertama, kedua anak manusia ini sudah terjalin cinta.

Datanglah Wanda. Cerita kemudian fokus ke Keenan dan Wanda yang asyik mengadakan pameran seni. Dalam fragmen ini, Wanda diceritakan berkorban habis-habisan demi Keenan. Mulai dari membujuk orang tuanya agar lukisan Keenan tampil di pameran, bolak-balik Jakarta-Bandung, sampai membohongi Keenan bahwa lukisannya sudah terjual semua. Meski begitu Keenan tetap tak bergeming. Di ulang tahun Wanda, tahulah Keenan kalau Wanda sendiri yang membeli lukisannya. Semua itu Wanda lakukan demi memperoleh cinta Keenan. Pada pesta inilah puncak sekaligus akhir kisah Wanda dan Keenan.

Keenan kemudian hijrah ke Bali. Ia diusir papanya karena lebih memilih lukisan ketimbang kuliah. Di Bali, Keenan belajar melukis pada mantan pacar mamanya, Pak Wayan. Di bali itu pula Keenan berkenalan dengan perempuan pendiam keponakan Pak Wayan. Perempuan itu kemudian jatuh cinta pada Keenan. Seorang laki-laki Bali nampak cemburu melihat kedekatan Keenan dan perempuan itu.

Sementara itu, Kugy yang sedang patah hati lebih banyak menghabiskan waktunya pada sebuah sanggar anak. Anak-anak sanggar itu bahkan memiliki kedekatan emosional tersendiri pada Keenan. Mereka tidak mau mengikuti lomba kalau Keenan tidak datang.

Pada saat yang sama, Kugy berkonflik dengan Joshua. Perbedaan yang sudah ada sejak lama tiba-tiba saja menjadi kesenjangan antara Kugy dan Joshua. Joshua menganggap Kugy aneh dengan dunia dongengnya. Joshua juga merasa Kugy lebih mementingkan sanggar ketimbang dirinya. Joshua kemudian menawarkan pilihan, anak-anak sanggar, atau turut ke Bali bersamanya. Kugy rupanya lebih memilih anak-anak sanggar ketimbang pacarnya yang egois. Mereka pun putus.

Fragmen kemudian berpindah pada proses Kugy menyelesaikan kuliah, memperoleh pekerjaan baru dan sukses pada pekerjaan itu. Fragman kemudian berlanjut ke cinta lokasi antara Kugy dengan Remi, bos di kantor tempatnya bekerja. Remi rupanya pernah bertemu Keenan di Bali dan membeli lukisannya. Meski begitu Kugy tidak tahu kalau Remi dan Keenan saling kenal.

Fragmen-fragmen ini terlalu ramai. Penonton hanya menyaksikan beragam fragmen tanpa ada kedalaman cerita dari setiap fragmen. Tak ada kedalaman artinya tak ada penghayatan. Sebetulnya benang merah film ini tetap tidak hilang, tetap dalam kerangka percintaan antara Keenan dan Kugy. Meski telah berputar-putar ke fragmen lain, fokus ceritanya akan kembali ke percintaan Keenan dan Kugy. 
 
Kembalinya fragmen ke fokus cerita, setelah penonton diajak berputar-putar ke aneka fragmen, seperti tersadar dari shock yang panjang dan kembali ke realitas kehidupan. Ada kelelahan dari shock yang panjang, dan ada sedikit helaan nafas bahwa penonton kembali ke kehidupan yang riil. Meski nafas telah terhela, kelelahan akibat shock panjang itu tentu saja tak hilang begitu saja. Makanya, film ini, menurut saya, gagal membuat penonton merasa menikmati dan turut masuk ke dalam cerita.

Selain ramai fragmen, film ini juga penuh taburan bintang. Para pemeran utama dalam film ini sebetulnya termasuk pendatang baru. Seperti Maudy Ayunda yang menjadi Kugy, Adipati Dolken yang menjadi Keenan, Sylvia Fully (Noni) dan Fauzan Smith (Eko). Artis terkenal yang tampil adalah pemeran orang tua Keenan, Ira Wibowo dan Agus Melaz. Begitu juga dengan orang tua Wanda. Ibunya Wanda bahkan diperankan langsung oleh Dewi Lestari. Sayangnya ia tampil 2 syut saja.

Beberapa sosok lain yang sudah sangat familiar justru tampil di tengah bahkan di akhir cerita. Reza Rahadian misalnya. Pemeran utama dalam Perempuan Berkalung Sorban ini muncul di tengah cerita ketika ia ke Bali dan tertarik pada lukisan Keenan. Sebelumnya Reza tidak tampil sama sekali. Selanjutnya Reza berperan sebagai bos sekaligus pacar Kugy. Begitu juga dengan Titi DJ. Parahnya, Titi tampil ketika film hampir berakhir. Ia menjadi salah satu keluarga Kugy dalam tampil beberapa syut saja (kalau tidak salah malah sekali syut).

Bintang-bintang bertaburan ini bukannya menambah daya tarik film, tapi justru malah mengacaukan fokus. Bayangkan, ketika kita sedang asyik menikmati cerita, tiba-tiba kita dikagetkan oleh kehadiran Reza di tengah film. Kehadirannya yang tiba-tiba membuat menonton harus menguras energi untuk mengingat alur film dari awal, siapa sosok Reza ini. Kehadiran Titi DJ juga begitu. Perannya yang tidak penting dan hanya tampil dalam beberapa syut saja, setelah itu menghilang. Jika begini sebaiknya Titi DJ tidak usah ditampilkan saja. Seperti pelengkap, tapi membuat kacau rasa. Bagi saya, cerita lebih penting ketimbang bintang-bintangnya.

Satu hal yang saya menikmati betul dari film ini adalah sinematografinya. Dari awal film, kameramen membidik objek-objek dengan angle yang unik dan memikat. Misalnya ketika ia membidik Kugy yang sedang duduk di meja belajarnya. Ia tidak mebidik dari depan, melainkan dari samping, sekaligus membidik cermin di lemari pakaian Kugy. Efeknya sosok Kugy tidak tampil tunggal, melainkan ganda, Kugy yang riil dan Kugy dalam cermin. Komposisi gambarnya pun sesuai dengan the rule of third-nya fotografi dan nyaman ditonton. Banyak angle-angle unik semacam ini yang ditampilkan. Selain itu, film ini juga menampilkan eksotisme alam Indonesia. Bali dengan pantai dan budayanya, keindahan alam di sekitar lokasi sanggar anak, juga hijaunya pegunungan dilihat dari rumah Keenan.

Film yang diadaptasi dari novel, biasanya memang mengecewakan. Bagi saya itu sebetulnya wajar saja. Berbeda dengan novel, film memiliki ruang dan waktu yang terbatas. Biasanya sutradara kepingin memasukan semua isi novel ke dalam film. Namun keinginan itu justru membuat film jadi mengecewakan, terutama bagi pembaca yang sudah membaca novelnya. Meski belum membaca novelnya, tapi tetap saja saya kecewa. Semoga film-film selanjutnya yang diadaptasi dari novel tidak sebegini mengecewakan. Amin.