Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Thursday, August 23, 2012

Menyoal Aplikasi Komputer untuk Tuna Netra


Patutlah tuna netra berbangga, sebab keterbatasan penglihatan kini bukan lagi halangan untuk menikmati kecanggihan teknologi komputer.
Semuanya berawal dari pertanyaan ibu. Suatu hari pada tahun 2008, Debi Praharadika ditanyai sang Ibu, “Ada nggak ya komputer untuk kaum tuna netra?” Dalam kesehariannya Ibu Debi memang selalu berinteraksi dengan tuna netra. Ia adalah pengajar di SLB tuna grahita. Mendengar pertanyaan itu, muncullah niat Debi untuk menjawab pertanyaan sekaligus harapan sang Ibu. Lantas mahasiswa DIII Teknik Telekomunikasi Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) ITS ini mengajak kawan karibnya Eko Wahyu Susilo untuk mengerjakan proyek sosial ini.
Akhirnya dari tangan mereka berdua, terciptalah sebuah karya besar, yaitu Sistem Operasi Linux untuk Tuna Netra. Karya ini menggunakan database suara yang terdiri dari Natural Language Processing (NLP) dan Digital Signal Processing (DSP). Cara kerjanya mengkomunikasikan hasil ketikan keyboard Braille ke dalam format suara. Dengan karya itu, kaum tuna netra di Indonesia dapat menggunakan komputer. Tak tanggung-tanggung aplikasi ini dibuat bersifat open source. Dengan begitu, tuna netra dapat mengunduh aplikasi ini secara gratis.
Sistem komputer berbahasa Indonesia untuk tuna netra memang baru pertama kali lahir di tangan Debi dan Eko. Namun sistem komputer untuk tuna netra sendiri sudah pernah ada, hanya saja aplikasinya dalam bahasa inggris.
Awal pertama kali teknologi ini muncul malah mengharuskan penggunanya membeli aplikasi senilai US$1000. Namun kemudian mahasiswa Ilmu Komputer Universitas Brown Jeffrey Bigham mengembangkan aplikasi sejenis dan dibagikan secara gratis. Aplikasi berlabel WebAnywhere itu bias diunduh di http://webanywhere.cs.washington.edu.

Screen Reader: Sang Mesias bagi Tuna Netra
Inilah teknologi yang menjadi mesias bagi para tuna netra. Screen Reader atau Job Access With Speech (JAWS) adalah software yang membantu penderita tuna netra agar bisa menggunakan komputer. Dengan alat ini, para tuna netra akan lebih mudah menggunakan komputer tanpa perlu tergantung pada orang lain. Teknologi ini juga yang membuat berbagai aplikasi sistem komputer, termasuk sistem operasi Linux buatan Debi dan Eko, support untuk tuna netra.
Aplikasi ini ditemukan pertama kali pada 1989 oleh Ted Henter. Ted Henter menciptakan alat ini untuk membantu dirinya yang kehilangan penglihatan saat kecelakaan pada tahun 1978. Screen Reader  kemudian diproduksi secara massal oleh Freedom Scientific di St. Petersburg USA. Freedom Scientific tak lain adalah perusahaan milik Ted Henter dan kawan-kawan seperjuangannya.
Screen Reader dilengkapi layar yang bisa melafalkan teks yang ditampilkan. Cara kerjanya adalah dengan membaca tulisan yang ada pada layar. Misalkan kursor digerakkan ke icon My Komputer, maka akan terdengan bunyi “My Komputer”. Jika kursor bergerak ke arah Recycle Bin, suara yang terdengan adalah “Recycle Bin”.

Dari Blog Sampai Game
Setelah ditemukannya Screen Reader, ada banyak aplikasi komputer yang bisa dinikmati tuna netra. Coba saja tengok Blog Ramaditya. Dilihat sekilas, blog ini tak jauh berbeda dengan personal blog pada umumnya. Isinya berupa artikel dan catatan harian pemiliknya. Tapi siapa sangka jika pemiliknya seorang tuna netra. Nama pemiliknya Raditya. Raditya sendiri yang menggarap blog ini, mulai dari layout, scripting, sampai posting artikel. Meski pemiliknya tuna netra, blog ini tetap dilengkapi dengan gambar yang berkaitan dengan isi tulisan.
Selain blog Ramaditya, tersedia juga Kartunet (karya tuna netra). Situs yang beralamat di www.kartunet.com ini merupakan wadah berkreasi bagi tuna netra yang gemar membuat puisi, cerita pendek atau esai. Seperti halnya blog Ramaditya, Kartunet juga dikelola oleh para tuna netra. Mereka adalah klien Yayasan Mitra Netra, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak dalam pendidikan dan pengembangan potensi tuna netra di indonesia.
Selain sistem operasi Linux, tersedia juga Screen Reader JAWS for Windows. Aplikasi yang bisa diakses lewat Screen Reader JAWS for Windows sama seperti aplikasi windows pada umumnya. Sebut saja Notepad dan Windows Media Player. Untuk aplikasi kantor, tuna netra dapat memilih Microsoft Office. Untuk membaca dokumen PDF, telah tersedia Adobe Reader. Bagi tuna netra yang tertarik bahasa pemrograman, ada berbagai software yang bisa digunakan seperti MySQL, Visual Basic, atau Oracle.
Bagi tuna netra yang gemar bermain game, coba klik www.audiogames.com. Game ini bergenre audio-games, yaitu game yang dimainkan menggunakan pendengaran. Pada www.audiogames.com, berbagai audio-games bisa diunduh dan dimainkan. Contohnya game kartu, monopoli dan game perang. Berbagai game menarik juga tersedia di www.darkgrimoire.com. Game online terkenal seperti Ragnarok Online, Pangya dan Warcraft tersedia di situs ini.
Situs yang cukup aksesibel di dunia untuk tuna netra adalah situs Blind Software. Beralamat di www.blindsoftware.com, situs yang dibuat oleh tuna netra bernama Justin Daubenmire ini menyediakan berbagai aplikasi freeware yang bersifat komersial. Berbagai aplikasi bisa diunduh di situs ini. Contohnya game, alarm digital, kalender, sampai video.
Berbagai aplikasi komputer memang telah banyak tersedia. Namun yang patut disayangkan adalah, mereka tak benar-benar bias menggunakannya tanpa bantuan orang lain. Sebab paling tidak, butuh orang dengan penglihatan yang baik untuk menginstal berbagai aplikasi ini.

Dimuat di majalah Jogja Education edisi XV tahun 2010

Ini jaman budaya virtual!


Tak usah heran bila melihat pelajar sekarang tak banyak membawa buku ke sekolah. Sebab “buku” itu sudah mereka bawa, bukan dalam bentuk kertas, tapi dalam wujud soft file tersimpan di flashdisk atau laptop yang mereka unduh lewat e-learning.
Pergeseran budaya dari tradisional menjadi modern mau tak mau memberikan tawaran menarik terhadap sistem dan metode pembelajaran. Pergeseran budaya ini salah satunya ditandai dengan semakin maraknya penggunaan peralatan elektronik berbasis IT (Information Technology) yang bisaa disebut budaya virtual. E-learning atau pembelajaran virtual merupakan wujud nyata produk budaya virtual itu.
E-learning berasal dari dua kata, yaitu e atau elektronika dan learning atau pembelajaran. Jadi E-learning berarti proses pembelajaran menggunakan jasa bantuan perangkat elektronika semacam audio, video, maupun perangkat komputer. Meski terhitung relatif baru, sudah banyak sekolah di Indonesia yang menggunakan teknologi pembelajaran ini.  
Ari Budiyanto, koordinator lab. komputer SD Muhammadiyah Condong Catur mengatakan tujuan penggunaan E-learning adalah demi efektifitas pembelajaran. “Untuk anak usia SD, bisaanya akan lebih tertarik pada fasilitas-fasilitas seperti audio-visual, soft-edu, dan sebagainya yang bersifat menarik dan interaktif. Jadi e-learning tak hanya untuk mewarnai proses pembelajaran, tapi juga sebagai rekreasi pendidikan,” demikian papar Ari.
Sependapat dengan Ari, Irvan Andi Wiranata, Administrator jaringan komputer SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta mengatakan pentingnya penggunaan e-learning untuk proses pembelajaran. “SMK Muhammadiyah 3 kan sudah menjadi Sekolah Berstandar Internasional (SBI), jadi salah satu kelebihan proses pembelajarannya kami menggunakan e-learning,” terang Irvan. Apalagi sekarang, tambah Irvan, SMK Muhammadiyah 3 dipercaya mengelola ICT (Information and Comunication Technology) center Yogyakarta.

Belajar Kapan Saja, Di Mana Saja
Ada banyak situs e-learning yang terpercaya menyediakan materi-materi pendidikan umum ataupun permatapelajaran. Sebut saja Sekola Maya (sekolahmaya.com, sekolahmaya.net, dan sekolahmaya.org) yang dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dari Depdiknas. Situs ini menjadi situs percontohan yang diujicobakan sebagai alternatif pembelajaran untuk paket A, paket B atau paket C.
Masyarakat Yogyakarta memiliki portal Jogja Learning Gateway (JLG) dan Jogja Virtual School (JPS) bernama Jogjabelajar.org yang kini dikelola BTKP (Badan Teknologi Komunikasi dan Pembelajaran). Para pendidik dari berbagai sekolah memberikan kontribusi dengan memperkaya materi pembelajaran yang diupload di situs ini.
Selain Sekola Maya dan Jogjabelajar.org, ada banyak situs e-learning baik dari dalam maupun dari luar negeri. Situs-situs yang banyak dikunjungi di antaranya adalah ilmukomputer.com, e-edukasi.net, britishcounsil.org, ristek-encyclopedia.org, maupun Wikipedia.org yang sudah diakui eksistensinya.
Siswa-siswi SD Muhammadiyah Condong Catur maupun SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta sebetulnya tak perlu banyak membuka situs semacam itu. Sekolah mereka telah menyediakan sendiri e-learning untuk efektifitas dan efisiensi proses pembelajaran.
“Namanya http://www.belajar.muganet.ac.id. Sebetulnya konsepnya sudah 1 tahun lebih. Guru-guru membuat materi pembelajaran dalam bentuk digital dan diupload ke e-learning,” tutur Irvan menceritakan situs e-learning milik SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta. Sedang situs SD Muhammadiyah Condong Catur beralamat di http://www/sdmuhcc.com.
Prosesnya guru membuat lesson plan dan materi pembelajaran dalam bentuk digital dan diupload ke e-learning sekolah. Selain itu materi-materi lain yang dibutuhkan didownload dari banyak situs untuk melengkapi materi yang ada. “Materi-materi tersebut dipilih dan disesuaikan dulu dengan siswa SD. Materi yang layak, kita unduh dan dikelompokkan sesuai bidang pelajaran,” ujar Ari.
Pada kegiatan belajar mengajar, siswa mengakses langsung materi pembelajaran dari e-learning sekolah. “Sebetulnya e-learning itu sebagai pusat sumber belajar dan virtual school. Jadi e-learning untuk tempat belajar, latihan, dll,” tutur Irvan. Sebagai bentuk dokumentasi, siswa bisa mengunduh materi-materi pembelajaran di e-learning dan disimpan dalam flashdisk atau laptop. Selain itu siswa bisa diberi tugas searching materi tertentu dengan menyisipkan sumbernya.
Selain materi pembelajaran, ujian sekolah terkadang dilakukan lewat e-learning. Siswa mengisi soal yang ada di e-learning, setelah selesai komputer langsung memproses dan nilai langsung bisa tampil. “Hanya saja untuk ujian online waktunya dibatasi dan soal dibuat secara acak, jadi antara siswa satu dengan yang lain soal yang diberikan tidak sama,” Irvan menjelaskan. Cara ini tentu lebih efisien karena cepat dan bisa dilakukan di mana saja.
Dalam prakteknya, kerap ada perbedaan antara materi yang diunduh dari internet dan materi sekolah. “Solusinya kita kolaborasikan saja. Karena kalau kerangka umum sebetulnya sama, hanya kendala teknisnya saja yang berbeda,” ujar Ari. Perbedaan itu, lanjut Ari, justru memperkaya metode pembelajaran.

Melengkapi Database Lewat E-Learning Sekolah
Jika selama ini perannya hanya sebatas penugasan dan interaksi dengan siswa dalam bentuk pengumpulan tugas, adanya situs e-learning sekolah, memungkinkan sekolah membangun dan melengkapi sendiri database yang diperlukan untuk dokumentasi sekolah dan proses pembelajaran. “Setiap sekolah sebetulnya punya data pembelajaran yang luar biasa banyak,” ujar Ari. Maka data-data itu dikumpulkan dalam database yang terintegrasi untuk dikemas di e-learning sekolah.
Materi-materi berupa bahan pembelajaran, film, puzzle, game edukasi, file presentasi, gambar, atau majalah diupload ke e-learning untuk mempermudah siswa dan guru mencari materi pembelajaran. “Segala data yang bisa didigitalkan diupload ke e-learning. Ada sekitar 400an data,” terang Ari. Jika ada siswa atau guru yang perlu informasi tertentu, mereka  tinggal mensearchnya di e-learning. Jika materi tersebut tidak ada, misalnya siswa butuh gambar transformer, gambar itu segera dicari di internet dan ditambahkan ke galeri e-learning.
Siswa SD Muhammadiyah Condong Catur memang diarahkan untuk online lewat situs sekolah tersebut. Langkah ini diambil dengan tujuan memfilter informasi yang masuk, “karena tak semua informasi di internet layak untuk anak seusia SD,” jelas Ari.
Selain guru, siswa juga mengupload hasil kegiatan di intranet. Contohnya siswa membuat puisi dengan tema kemerdekaan. Puisi itu dibuat dalam bentuk power point seindah mungkin, hasilnya nanti diupload di internet. “Pengemasan hasil karya anak justru akan menyuburkan e-learning itu sendiri. Kalau pengguna merasa memiliki, akan ada interaksi,” tutur Ari.

Dimuat di majalah Jogja Education edisi September-Oktober 2009








ONE LAPTOP PER CHILD ALA KOMPUTER MULTIPOINT


Tak perlu minder jika sekolah belum mempunyai laboratorium komputer yang memadai. Dengan komputer MultiPoint, segala keterbatasan teknologi itu bisa diatasi.
Microsoft Research di India mengembangkan teknologi Microsoft Windows Multipoint Software Development Kit (SDK) atau MultiPoint Komputer yang memungkinkan setiap siswa seperti menggunakan sendiri komputernya. Teknologi baru ini mengingatkan kita pada program OLPC (One Laptop Per Child) yang digagas Profesor Nicholas Negroponte.
Bedanya dengan OLPC adalah jika OLPC membutuhkan satu komputer untuk satu siswa, dengan MultiPoint Komputer cukup menggunakan satu komputer untuk banyak siswa. Hal ini sesuai dengan tujuan awal diciptakannya teknologi MultiPoint yaitu memperkecil rasio antara siswa dengan komputer. Teknologi yang efisien ini tentu sangat berguna bagi sekolah yang tidak bisa menyediakan satu komputer untuk satu siswa.
Komputer MultiPoint kini telah sukses diujicobakan di India dan 43 sekolah di Filipina. Sedangkan di Indonesia, sekolah yang diujicobakan baru empat sekolah: SD Muhammadiyah Condongcatur, SD Muhammadiyah Sapen, SD Serayu dan SD Ungaran. “Keempat SD di Yogyakarta ini yang mengembangkan dan terus dipantau oleh Microsoft,” terang Wahyu Purbaya S.Kom., bagian IT SD Muhammadiyah Sapen.

Solusi Kesenjangan Teknologi
Permasalahan teknologi gap di Indonesia masih cukup besar karena kemampuan tiap sekolah berbeda. “Dengan prosentasi siswa yang ada, masalah keterbatasan teknologi di Indonesia masih sangat besar. Teknologi gap itu yang menjadikan kemungkinan dijalankannya program OLPC di Indonesia sangat kecil.” ujar Arif Rahmanto, S.Pd., kepala Litbang SD Muhammadiyah Sapen. Rata-rata SD di Indonesia, ujar Arif lagi, paling maksimal punya 4 PC (Personal Komputer). “Itu pun sebatas untuk administrasi saja,” tambah Arif.
Bagi sekolah yang tidak mampu menyediakan satu computer untuk satu siswa, Computer MultiPoint bisa menjadi solusi. Karena tidak dibutuhkan banyak computer untuk siswa satu kelas. Tapi cukup satu computer yang dihubungkan dengan banyak mouse dan proyektor untuk menampilkan materi pelajaran ke layar atau dinding. “Jumlah mouse disesuaikan dengan jumlah siswa,” ujar Wahyu Purbaya S.Kom. kepala IT SD Muhammadiyah Sapen. Total mouse yang bisa digunakan untuk satu computer, tambah Wahyu, sebetulnya tidak terbatas, “tapi yang baru kami coba sampai saat ini baru 30-40 buah.”
Peralatan yang minim ini menjadikan computer MultiPoint lebih efisien sehingga cocok untuk sekolah yang mempunyai kemampuan terbatas. “Makanya, Komputer Multipoint bisa menjadi jawaban permasalahan teknologi gap di indonesia,” ujar Arif.
Adanya teknologi baru memberikan atmosfir baru bagi proses pembelajaran siswa. “Sangat menyenangkan karena dengan teknologi baru ini semua anak bebas mengakses dan enjoy, terang Prayitno, kepala bagian IT SD Negeri Serayu.
Vikrama Anindito, ST guru pengguna computer MultiPoint di SD Muhammadiyah Sapen. Selain itu, tambah Vikrama, computer MultiPoint bisa memunculkan gambar, flash, ataupun video.

Lebih Kreatif dengan Mouse Mischief
Prototip Komputer MultiPoint yang paling maju adalah Mouse Mischief. Prototip yang mulanya bernama Mighty Mouse ini merupakan aplikasi berbasis powerPoint yang bisa dikembangkan agar proses pembelajaran semakin menarik dan interaktif. “Guru tinggal mensarikan pelajaran, membuat slide presentasi dengan PowerPoint dan menggabungkannya dengan Mouse Michief, sehingga lebih efisien dari segi waktu dan budget” ujar Prayitno. Keunggulan aplikasi ini menjadikan guru lebih kreatif dalam membuat bahan pembelajaran agar menarik dan mudah dipahami siswa, “Mighty Mouse ini untuk alternative pembelajaran. Contentnya bisa fleksibel dan bisa dikreasi dalam bentuk apapun,” Arif menambahkan.

Interaktif dan Fun
Adanya teknologi baru, tak pelak menjadikan siswa lebih betah menyenangkan dalam belajar. “Sangat menyenangkan karena semua anak bebas mengakses dan enjoy,” tutur Prayitno.

Dimuat di majalah Inspirasi Usaha Edisi Juli-Agustus 2009



BOCAH SMK PUN JAGO BIKIN LAPTOP


Diknas terus saja menggenjot kompetensi siswa SMK agar kreatif dan tak kalah dengan siswa sekolah menengah lainnya. Perakitan laptop adalah salah satu wujudnya.
Laptop hitam itu menyala di ruangan Warjana, S.Pd., Kepala Pengembangan IT SMKN 2 Yogyakarta. Hamparan rumput luas menjadi wallpaper pada layar LCD berukuran 15.4’’. Sebetulnya barang elektronik itu sama seperti laptop-laptop lainnya. Bentuk dan spesifikasinya pun tak jauh berbeda dengan laptop pada umumnya. Hanya saja, laptop dengan seri M501S ini bermerk NECSMK.
Laptop ini memang bukan laptop bisaa. Siswa SMKN 2 Yogyakarta jurusan Teknik Komputer dan Jaringan yang merakitnya. Uswatun Khasanah, siswa usia 17 tahun yang merakit laptop, mengaku bangga, “awalnya sih gagap, tapi akhirnya bisa juga,” ujarnya sambil tertawa ringan.
Begitu juga dengan Muhkris, siswa SMKN 2 Yogyakarta yang berusia 16 tahun. Meski berencana melanjutkan kuliah selepas lulus SMK, bagi Muhkris, kemampuan merakit laptop bisa menjadi skill khusus. “Dengan modal skill semacam ini saya bahkan berencana membuat lapangan kerja sendiri,” tutur Muhkris.
Lewat program Business Center Manufacturing dengan proses pembelajaran sistem Teaching Factory, Uswatun dan Muhkris juga siswa lainnya dilatih memproduksi barang elektronik yang kini naik daun itu.
Program ini dibuat untuk membangun lingkungan industri di sekolah, membentuk jiwa wirausaha dan menumbuhkan inovasi baru siswa-siswa SMK. Sementara sistem Teaching Factory bertujuan disamping SMK melaksanakan pembelajaran sesuai bidang diklat, juga berproduksi menghasilkan barang jadi yang siap jual.
“Kita ingin anak SMK punya kemampuan merakit laptop untuk melengkapi karya anak bangsa. Agar mereka tidak merasa kecil hati, tapi juga bisa merakit dan berkarya,” ujar Drs. Marwata HN, kepala sekolah SMK N 2 Yogyakarta saat dimintai keterangan di ruang kerjanya.
Selain SMKN 2 Yogyakarta, ada delapan sekolah lain yang diujicobakan program Business Center Manufacturing. Yaitu SMKN 4 dan SMKN 5 Jakarta, SMKN 2 Depok Yogyakarta, SMKN 7 Semarang, SMKN 5 dan SMKN 2 Surakarta, SMKN 6 Bandung dan SMKN 2 Subang.
Sebetulnya tak hanya perakitan laptop yang diagendakan, tapi juga perakitan PC (Personal Komputer) dan monitor LCD. Kegiatan dilaksanakan dengan pendampingan dari pihak industri terkait. Dalam hal ini, SMKN 2 Yogyakarta bekerjasama dengan PT. Nec Mitra Persada. “Perusahaan menyediakan barang, siswa yang merakit dan penjualan dilakukan oleh perusahaan juga,” terang Marwata.
Program ini baru dimulai akhir tahun 2008. Siswa yang diajarkan dari jurusan Teknik Komputer dan Jaringan. Di SMK N 2 Yogyakarta, sejumlah 72 siswa kelas XI telah pandai merakit laptop.
Merk yang dilekatkan sesuai dengan perusahaan yang diajak kerjasama. SMKN 2 Yogyakarta yang bekerjasama dengan PT. Nec Mitra Persada memberi nama laptopnya NECSMK. Sedang SMKN 7 Samarinda bekerjasama dengan PT. Zyrex Mandiri memberi nama laptopnya Zyrex SMK.

Tak Berbeda Dengan Merakit PC
Merakit laptop sebetulnya tak jauh berbeda dengan merakit PC, ujar Uswatun, “hanya untuk laptop komponennya lebih kecil.”
Ketika ditanya kesulitan saat merakit, Uswatun dan Muhkris mengaku tidak ada kesulitan berarti. “Sewaktu kelas 1 kami sudah diajarkan merakit PC, jadi tidak terlalu sulit ketika merakit laptop, asal mengikuti tata caranya saja,” terang Muhkris.
Uswatun mengiyakan. Ia bercerita bagaimana timnya gelagapan sewaktu laptop sudah jadi tapi LAN tidak bisa dijalankan. “Ternyata ada satu langkah yang dilewati. Harusnya ada tombol di bagian dalam yang dikunci dulu, tetapi kemarin terlewati, jadi LANnya enggak bisa jalan,” tutur Uswatun. Memang waktu itu sekolah mendapat pesanan 20 laptop. Setiap kelompok yang terdiri dari tiga siswa merakit satu laptop. Karena kesalahan itu, Uswatun dan timnya terpaksa membongkar ulang laptop untuk menyalakan tombol LAN.
Uswatun menambahkan, “oh iya, ada satu tips lagi. Ketika merakit, jangan sampai sepelekan baut. Jadi kemarin waktu selesai ternyata ada baut yang kurang,” ujar Uswatun sambil tertawa.
Meski laptop rakitan siswa tak berbeda dengan laptop pasaran, Marwata mengatakan improvisasi dan perbaikan tetap dilakukan. Selain merakit, Marwata juga berusaha agar siswa belajar membuat komponennya, “entah mungkin adaptornya atau komponen lainnya. Tapi masih tahap belajar sehingga kami bisa meniru dan nantinya bisa membuat sendiri,” ujar Marwata penuh harap.

Memenuhi Kebutuhan Laptop di Indonesia
Laptop-laptop produksi siswa SMK diproduksi secara massal dan nantinya diharapkan bisa memenuhi kebutuhan laptop di Indonesia. “Peluang pasar sangat potensial, terutama untuk jogja. Untuk sekolah, terutama sekolah-sekolah SBI siswanya diwajibkan menggunakan laptop.” ujar Marwata.
Saat ini sedang direncanakan laptop dengan harga murah, “kami baru bisa memproduksi yang harganya sekitar 4 jutaan dengan layar besar. Rencananya nanti membuat laptop layar 10” yang sekarang sedang trend dengan harga lebih murah,” ujar Marwata. Upaya ini juga dilakukan agar harga laptop di pasaran turun. “Ini baru tahap awal dari diknas, ke depannya akan dikembangkan lagi,” ujar Marwata.
Harapannya anak-anak Indonesia bisa menggunakan laptop karya sendiri dengan harga murah dan kualitas pembelajaran yang lebih baik, “Kita berharap marilah kita cintai harga anak negeri, kapan lagi kita bisa mulai kalau bukan saat ini,” ujar Marwata menutup pembicaraan.


Dimuat di Majalah Jogja Education Edisi Agustus-September 2009




TEKNIK MERAKIT LAPTOP
Bahan-bahan:
Prosessor, heatsink + kipas, harddisk SATA, CD ROM, wifi card dan memory, keyboard, chasing, LCD monitor dan mainboard.

Perlengkapan yang dibutuhkan:
Seperangkat obeng dan baut-baut kecil.

Proses pembuatan:
·         Tahap pertama pasang prosessor pada Mainboard. Putar lock sebagai pengunci sampai maksimal. Jika belum terkunci sempurna, bisa jadi laptop tidak akan menyala ketika dijalankan.
·         Tahap kedua Pasang heatsink+kipas. Heatsink berfungsi mendinginkan prosessor. Sedang kipas untuk mendinginkan heatsink.
·         Selanjutnya pasang memory pada slotnya
·         Lalu pasang wifi card dan antena untuk menangkap sinyal hotspot
·         Setelah Wifi card terpasang dan lock terputar maksimal, pasang harddisk dan CD ROM.
·         Masukkan pita keyboard ke slot lalu dudukkan keyboard di atasnya. Selanjutnya pasang LCD monitor dan kabel untuk konektor ke VGA.
·         Tahap terakhir tutup seluruh komponen dengan chasing dan kencangkan dengan baut. Pasang baterai di bagian bawah laptop. Proses pembuatan selesai, setelah ini laptop siap disetting biosnya dan diinstal sistem operasi

Kecil-Kecil Jadi Dokter


Menjadi sarjana kedokteran di usia 17 tahun, tak heran bila kemudian Riana Helmi menjadi pusat perhatian. Kesuksesannya tak hanya digembar-gemborkan media lokal dan nasional, bahkan media luar negeri pun turut memberitakannya.
Media luar negeri yang memuat seputar kesuksesan Riana itu adalah surat kabar China. Riana mengetahuinya dari seorang teman. “Tidak merasa diwawancarai sama media luar sih,” ujar Riana pagi itu di tempat kostnya di daerah Sendowo, Sleman. Meski begitu, Riana tetap bangga kesuksesannya tersiar sampai ke negeri orang.
Sosok bertubuh mungil dan berkerudung yang lahir di Banda Aceh 22 Maret 1991 ini jelas saja patut dibanggakan. Dalam sejarah Indonesia, Rianalah yang pertama kali menyabet gelar sarjana kedokteran di usia semuda itu. Ia dinyatakan lulus dari Fakultas Kedokteran dengan IPK 3,67 pada 25 Februari 2009, tepat di usia  17 tahun 11 bulan.
Meski banyak orang terheran-heran, Riana malah merasa biasa saja. “Karena tidak ujug-ujug 17 tahun, kemudian jadi sarjana kedokteran. Dari awal sudah ada prosesnya, cuma proses saya memang lebih cepat,” terang Riana.
Di usia 4 tahun, Riana merengek minta sekolah. Karena jarak rumah dengan TK terlalu jauh, sang ibu, Rofiah Helmi, menitipkan Riana di SD terdekat. Meski awalnya hanya menjadi anak bawang di sekolah, namun Riana sudah lancar membaca dan menulis.
Memasuki usia 10 tahun, Riana yang sudah lulus SD meneruskan sekolah ke SMPN 1 dan SMAN 3 Sukabumi. Di kedua sekolah menengah itu Riana mengikuti kelas akselerasi, “jadi SMP dan SMA masing-masing hanya dua tahun,” jelas Riana.
Usia lebih muda tak menjadikan Riana kalah pintar dari teman sekelasnya. Buktinya, rangking pertama selalu Ia pegang dari SD sampai SMA, “hanya waktu kelas 1 SD semester pertama yang rangking dua, setelah itu sampai SMA rangking satu terus,” tutur Helmi, SH, ayah Riana yang kesehariannya mengajar di Sekolah Calon Perwira (SECAPA) POLRI.

Bingung Mengisi Formulir Kuliah
Masuk sekolah di usia muda dan proses sekolah menengah yang lebih cepat membuat Riana menyabet gelar mahasiswa termuda ketika memasuki dunia kampus. “Sebetulnya waktu mendaftarkan anak saya kuliah, ada ketakutan tidak ada sekolah yang menerima karena usianya baru 14 tahun. Jangan-jangan malah disuruh menunggu 2 tahun lagi,” papar Helmi. Perkiraan sang ayah melenceng, Riana diterima di Fakultas Kedokteran UGM tahun 2005 melalui jalur PBS (Penelusuran Bakat Skolastik) dan dinobatkan sebagai mahasiswa UGM termuda pada saat itu.
Ada yang lucu ketika proses pendaftaran kuliah. Waktu itu Riana sedang mengisi identitasnya di komputer. Ketika mengisi tahun kelahiran, Riana terdiam. Ia bingung melihat tak ada pilihan tahun yang sesuai dengan tahun kelahirannya. Pilihan tahun kelahiran yang ada di komputer hanya mulai tahun 1989.
Petugas pendaftaran heran, “waktu aku jelaskan tidak ada pilihan tahun karena lahir 1991, petugas malah kaget dan bilang kok bisa sampai di sini. Lalu aku jawab saja karena sudah tamat SMA,” kenang Riana sambil tersenyum.

Hobi Belajar Sedari Kecil
Meski proses pendidikannya terbilang cepat, namun proses belajar Riana sebetulnya lebih panjang. Jika teman-temannya hobi bermain, Riana yang sedari kecil bercita-cita dokter mengaku hobi belajar. “Enggak tahu kenapa, suka aja, akhirnya jadi kebiasaan,” ujar Riana.
Bahkan saat kecil, ketika teman seusianya sibuk bermain boneka, Riana lebih memilih belajar membaca. Waktu luang Riana lebih banyak diisi untuk belajar, “sebetulnya main juga, cuma mainnya mungkin sedikit, sementara yang lain banyak,” ujar Helmi menceritakan masa kecil anaknya. Riana mengiyakan, sampai saat kuliah pun Riana masih hobi belajar, “meski kadang main juga, ke mall juga kalau perlu, tapi lebih banyak belajarnya.”
Sang ayah bangga melihat kesuksesan anaknya. Ia mengatakan sebetulnya tak ada penanganan khusus untuk Riana, tapi Riana sendiri yang kepingin belajar. “Kesadaran belajar Riana tinggi. Ia sudah sadar sebelum disadarkan. Ibarat mengayuh biduk ke hilir, belum diayuh biduknya sudah berjalan kencang,” cerita Helmi. “Hanya saja sebagai orang tua, kami siaga membantu kalau anak sedang menghadapi masalah, agar Riana tetap fokus pada pelajaran,” tambah Helmi.
Kesadaran belajar yang tinggi itu mempermudah Riana menghadapi kuliah. Apalagi jurusan kedokteran terkenal dengan buku-buku tebal dan tugas bejibun. “Sebetulnya merasa susah, tapi yang penting dijalani saja,” ujarnya. Kerja keras Riana menuai hasil ketika kuliahnya selesai hanya dalam waktu 3 tahun 8 bulan.
Menanggapi fenomena anak muda sekarang yang lebih suka kongkow-kongkow daripada belajar, Riana mengomentari itu pilihan masing-masing. “Tergantung usaha dan kesenangan masing-masing. Kalau mau dapat banyak, ya harus usaha banyak. Kalau kepinginnya nyantai-nyantai, ya hasilnya juga sedikit,” ujar Riana yang juga kerap membaca buku-buku psikologi ini.
Riana kini sibuk menjalani KoAs. Untuk membaca, Ia merasa sudah tak punya banyak waktu luang. Maka Riana menyarankan selagi mahasiswa sebaiknya manfaatkan waktu untuk belajar, “mumpung masih kuliah, masih banyak waktu untuk belajar.” Kalau sudah KoAs, ujar Riana, mau belajar saja susah, “sedikit banget waktu luangnya. Jadi sebaiknya mantapkan dulu teorinya selagi kuliah.”

Prihatin Kondisi Kesehatan Indonesia
Melihat kondisi kesehatan di Indonesia, Riana prihatin terhadap rendahnya kesadaran dan kepedulian masyarakat untuk memeriksakan diri ke dokter. Skripsi yang ia angkat mengenai terapi kanker payudara. “Kanker payudara dan kanker leher rahim banyak terjadi di Indonesia. Sebetulnya kanker leher rahim lebih bisa dicegah, karena kalau kanker payudara itu lebih ke masalah genetika jadi agak sulit dicegah,” tutur Riana. Ia menambahkan seharusnya yang lebih bisa dicegah itu yang lebih banyak diinformasikan, “untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar memeriksakan diri ke dokter.”
Untuk masyarakat yang tinggal di pelosok, menurut Riana sebetulnya informasi sudah banyak disampaikan, “cuma kadang ada stigma yang membuat masyarakat urung memeriksakan diri. Masyarakat melihat penyakit itu takdir dan tak perlu dicegah,” tuturnya prihatin. “Padahal untuk kanker leher rahim sekarang sudah ada fasilitas pemeriksaan di puskesmas-pukesmas,” tambahnya.
Untuk ke depannya, Riana ingin mendalami spesialis kandungan, “rencana terdekat belum tahu mau ambil spesialis atau kerja dulu, tapi memang ada rencana untuk ambil spesialis kandungan,” ujar Riana tersenyum.


Dimuat di Majalah Jogja Education Edisi Agustus-September 2009