Showing posts with label Seni. Show all posts
Showing posts with label Seni. Show all posts

Saturday, January 23, 2016

Percakapan tentang Menggaruk dan Menambal


Narasi-narasi kecil tentang identitas politik, sosial, dan budaya mempertemukan Entang Wiharso dengan Sally Smart. Lantas keduanya kian bersinggungan saat memberi sudut pandang terhadap teror dan kekerasan dalam peradaban.

Ketika pergolakan yang umumnya dikenal sebagai G-30-Sterjadi, Entang Wiharso belum lahir. Namun ia telah menyimak informasi seputar itu sejak usia sekolah, dari cerita Ibunya dan propaganda Orde baru. Dari kelindan informasi itu, paling kena diingatannya adalah sosok Amoroso Katamsi yang memerankan tokoh Soeharto dalam film G-30-S yang wajib diputar dan ditonton saban 30 September. Ingatan itu, kelak, terhubung dengan persepsinya tentang laku kekerasan politik di Indonesia di masa lalu.

Lalu perupa kelahiran 19 Agustus 1967 itu memanifestasikan ingatannya dengan membuat potret akrilik Amoroso. Potret tersebut menjadi bagian dalam karya massifnya yang dibuat dengan teknik cetak digital. Total ada 1.000 gambar -potret dan peristiwa-- di atas plexiglass yang dituangkan dalam delapan panel instalasi itu. Entang memberinya judul Self Potrait.

Karya itu dibuat tahun lalu sebagai kelanjutan proyek residensinya di Singapore Tyler Print Institute. Merupakan representasi ingatan Entang tentang berbagai peristiwa publik dalam sejarah peradaban manusia di era kontemporer. Tidak hanya menyangkut peristiwa kekerasan di September 1965 yang terjadi di Indonesia, Self Potrait mengetengahkan berbagai peristiwa kekerasan di berbagai belahan dunia juga melalui tokoh-tokoh ikonik budaya populer seperti Bruce Lee, John F. Kennedy, Andy Warhol, hingga Iwan Fals.

Tema tentang kekerasan dan rasa sakit menjadi semacam benang merah dalam karya-karya Entang. Pasca-tragedi 9/11, dengan interpretasi yang --menurut Entang-- salah, tema khasnya itu bahkan pernah mengalami sensor di sebuah galeri di negara yang mengaku sebagai promotor utama demokrasi, Amerika Serikat.

Ketika itu, kurator dan pemilik galeri yang menyensor karya Entang, dinilai mengabaikan sudut pandang penting si perupa terhadap realitas kekerasan. Entang mengetengahkan realitas itu sebagai teror yang melahirkan rasa sakit, yang lantas dikelolanya menjadi rasa yang menyenangkan untuk mereduksi klaim keberhasilan pemberi teror.

Self Potrait tentang kekerasan kian menegaskan sudut pandang tersebut bersama sikapnya yang cair dan mengolok-olok keangkeran teror kekerasan.

Self Potrait dan karya-karya Entang lainnya berdialog dengan karya-karya seniman asal Australia Sally Smart dalam pameran berjudul Conversation: Endless Acts in Human History di Galeri Nasional, 14 Januari 2016-1 Februari 2016. Karya lainnya dalam bentuk patung, lukisan, dan instalasi. Sejumlah karya besar keduanya yang pernah dipamerakan juga turut hadir.

Entang dan Sally bersahabat. Pertama kali bertemu di Melbourne, ketika Entang residensi seusai pameran kolektif ''Closing the Gap'' pada 2012, Entang mengaku sudah merasakan chemistry dengan Sally. ''Tampak familiar. Seperti sudah pernah bertemu sebelumya,'' kata Entang. Begitu pula Sally. Ia merasakan adanya koneksi intelektual dan profesional dalam karya-karya mereka. ''Sebuah persahabatan sejati telah muncul,'' katanya, agak lebay.

Sejak itu, keduanya menjadi teman dekat dan memiliki banyak kecocokan hingga menggagas ide untuk membuat pameran bersama. Setahun kemudian, di Hong Kong, dialog itu berlanjut dengan perolehan sederet lembaga yang mendukung pameran ini. Di antaranya Galeri Canna Indonesia dan Pemerintah Australia.

Koneksi keduanya, sekurangnya, tampak pada tema dan metode pengerjaan karya. Pada metode pengerjaan karya, keduanya sama-sama menggunakan teknik memotong (cutting), membongkar objek, kemudian merekonstruksi kembali menjadi sebuah karya.

Ornamen-ornamen seperti teks, selang mesin, pepohonan, dan organ tubuh berupa usus dan jantung serta organ tubuh lainnya tampak dalam hampir setiap karya keduanya. Ornamen-ornamen ini menjadi narasi kecil yang mengukuhkan narasi besar ide-ide yang hendak disampaikan.

Ide-ide yang disampaikan keduanya pun saling bersinggungan. Karya seniman asal Tegal, Jawa Tengah, yang mulai memperoleh perhatian dunia sejak karyanya dipamerkan dalam Venice Biennale 2005 ini berkelindan seputar identitas dan narasi sosial, politik, ekonomi, juga budaya. Sedangkan Sally, yang berasal dari Flinders Renges, Australia bagian selatan, dengan latar belakang keluarga petani-peternak, telah melewati fase hidup yang tak mudah sebagai warga dari daerah terisolasi dan negara dengan persoalan etnis masa lalu.

Karya-karya Sally banyak cerita seputar identitas, gender, rasisme, kolonialisme politik dan persoalan sosial-ekonomi. ''Ini kolaborasi pemikiran. Karya keduanya bermuatan opini. Suatu pandangan dan penilaian terhadap semua persoalan yang mendasari penciptaan karya mereka,'' kata kurator pameran ini, Suwarno Wirosetrotomo.

Karya Sally berjudul Choreograph of Cutting (2015) menjadi representasi persoalan yang pernah Sally temui itu, berikut rumusan-rumusannya. Karya itu berupa papan tulis hitam dengan sajian kolase dari sejumlah figur tubuh perempuan menari, video, diagram, dan teks. Di sudut karya, sebuah teks memberikan penjelasan soal tubuh perempuan terbatasi dan terjebak dalam sebuah lingkaran.
Sally menyebut karyanya sebagai upaya ''menambal sobekan luka dengan tetap meninggalkan bekasnya''. Sedangkan Entang mendefinisikan karyanya sebagai upaya ''menggaruk rasa gatal'' dari segala persoalan dalam peradaban manusia.

Peradaban manusia dipenuhi aksi teror dan kekerasan. Dialog, salah satunya dalam bentuk pameran seni, akan menemukan persamaan dan perbedaan masing-masing kemudian bermuara pada orientasi bersama. Meski sudah mewujud dalam sebuah pameran, kata Entang, ini adalah awal dari sebuah dialog panjang dan tanpa akhir. ''Butuh percakapan terus untuk memperoleh sesuatu yang baru, yaitu kesadaran yang lebih dari ekspektasi,'' katanya.

Sementara itu, Suwarno menyebut dialog dalam pameran ini sebagai wujud kompleks dari ungkapan populer Yunani, ars longa vita brevis. ''Kehidupan relatif pendek, akan tetapi kekuatan visual dan narasi seni yang tersimpan di dalamnya bisa hidup sepanjang jaman,'' katanya.


Tuesday, December 15, 2015

Pasar Setan

Sumber foto: http://www.wisatasoloraya.com/
Remah yang kudapati malam ini adalah sejumput kenangan
Tentang pendakian masa silam ketika langit belum kelabu dan
Merapi masih cerah berdiri

Ada apa denganmu?
Mengobarkan api di tengah musim daun-daun berguguran sementara kita sudah melewati berjuta purnama
Masihkah perlu
Mempertanyakan di stasiun mana kau atau aku akan berhenti
Menutup lembaran sejarah yang telah lama kita torehkan bersama

Aku menyusuri bukit-bukit gelisah dan menunggui nasib-nasib dikeramatkan
Menghadang amarah yang serupa letusan Merapi membelah angkasa
Membakar jiwa-jiwa

Di Pasar Setan ini, lima tahun silam, 
Kau lebih memilih melabuhkan keretamu pada jurang-jurang misteri di lereng Merapi
Merapal segenap keyakinan yang rupanya selama ini kau pegang, tanpa kutahu, tanpa pernah kaututurkan, tanpa pernah pula kutangkap maknanya

Sejak itu hujan selalu turun dan langit muram



Wisma 46, 15 Desember 2015

Monday, November 23, 2015

TEATER: Jika Koruptor Menyambut Inspektur Jendlar



Pentas ke-142 Teater Koma. Mengusung isu korupsi dengan menyadur Revizor karya Nikolai Gogol. Asyik, kecuali selip lidah.

Tidak ada yang bertahan sebagai rahasia di kota kecil di negara Astinapura itu. Ananta Bura, sang wali kota, memiliki telinga dan mata yang lihai menyelinap di antara surat-surat penting rahasia yang singgah di kotanya. Termasuk informasi tentang kedatangan seorang Inspektur Jenderal. Ia dikirim dari ibu kota untuk melakukan investigasi administrasi pemerintahan demi persiapan perang negeri Astina melawan Amarta.

Ananta Bura panik bukan kepalang. Posisinya, juga pejabat lain di kota kecil itu, terancam. Persoalannya, selama 30 tahun menjabat, virus korupsi merajalela. Segala jenis pejabat, tak ada yang tak korup. Wali kota, hakim, kepala kesehatan, penilik sekolah, kepala kantor pos, bahkan pegawai kecil seperti Nakuli dan Sadiwi terlibat dalam aktivitas yang dalam terminologi wali kota: "Jika sesuatu sudah masuk ke dalam kantong, tidak mudah mengeluarkannya."


Lantas, mereka merembukkan siasat untuk memanipulasi citra pelayanan masyarakat di kota itu di hadapan Inspektur Jenderal nantinya. Masalahnya, tidak ada deskripsi soal tongkrongan Inspektur Jenderal. Dari sejumlah informasi, mereka menyimpulkan bahwa sang utusan penting negara itu ?serba ingin tidak resmi?.

Saat bersamaan, si kembar Nakuli dan Sadiwi melaporkan bahwa kota mereka kedatangan seorang pegawai dari Pusat bernama Anta Hinimba. Sudah dua minggu tamu itu bermukim di penginapan. Ditinjau dari berbagai segi, tamu tak diundang itu bisa jadi adalah Inspektur Jenderal yang sedang menyelidiki kota dengan cara sembunyi-sembunyi. Sejak saat itu, segala hal yang berkaitan dengan komunikasi di kota itu berada dalam kubangan salah pengertian yang membuat mereka kian kotor.

Kepanikan pejabat kota sarang korupsi itu dan perlawanan masyarakat setempat yang tak menuai hasil, berkelindan dalam lakon Inspektur Jenderal yang dibawakan Teater Koma di Gedung Kesenian Jakarta, 6-15 November 2015.

Lakon ini merupakan saduran atas naskah satir klasik Revizor (1836) karya sastrawan besar Rusia, Nikolai Gogol. Nano Riantiarno selaku sutradara pementasan ini memanfaatkan naskah terjemahan oleh Teater Populer pada tahun 1970-an dan mengadaptasikannya ke dalam kisah carangan dengan setting pewayangan.

Ini merupakan produksi kedua Teater Koma di 2015. Dan produksi ke-142 sepanjang usia Koma; catatan produktivitas dan kontinuitas yang tidak bisa disamai oleh kelompok teater modern mana pun di Indonesia.

Lewat Inspektur Jenderal, dengan lihai Nano menyadur pernyataan sosial dan politik Gogol yang kontroversial di zamannya itu ke dalam latar peristiwa dan penokohan ala pewayangan. Bagian penting dari naskah ini (satir, sarkas dalam balutan komedi gelap, dan diksi khas Gogol ) dipertahankan sebagai material cerdas dan tajam. Nyaris tidak ada celetukan atau improvisasi dialog yang menyisipkan kritik sosial kekinian sebagaimana kerap terlihat dalam naskah-naskah berlatar pewayangan yang dibawakan Koma sebelumnya. Zonder adegan slapstick yang menganggu.

Pilihan skenografi melingkar di pusat panggung oleh Taufan S. Chandra membawa kesan rekreasional terhadap bloking pemain. Ini model skenografi yang dimanfaatkan secara lebih sederhana daripada yang digagas oleh Syaeful Anwar dalam produksi ke-110 Koma, Festival Topeng (2006). Sebaliknya, penataan cahaya oleh Taufan dalam lakon ini tidak seterang, sejernih, dan seberwarna penawarannya dalam lakon Opera Ular Putih beberapa bulan lalu. Padahal, panggungInspektur Jenderal tidaklah sepadat dan sedekoratif setting lakon-lakon pewayangan Koma lainnya.

Budi Ros, aktor senior Koma, dengan oke mewakili sebagian besar aktor dalam lakon berbiaya produksi Rp 2 miliar ini, yang pantas diberi pujian atas konsistensi dan kerja kerasnya. Tapi dari unsur keaktoran juga, ada masalah yang tampak dan sulit diabaikan sebagaimana terpapar dalam press preview-nya pada Kamis malam, 5 November lalu, di GKJ. Yaitu, selip lidah.

Penonton teater Indonesia sudah maklum dan mafhum dengan selip lidah aktor di atas panggung. Namun dalam 3,5 jam durasi Inspektur Jenderal malam itu, ada banyak pemain pemain, termasuk para senior seperti Budi Ros dan Sari Majid, yang berulang kali terselip lidah dalam mengartikulasikan dialog. Tidak hanya terjadi satu-dua kali dan tidak hanya oleh satu-dua aktor. Tidak hanya menyangkut satu suku kata, ada yang terselip dalam ukuran kata. Dan lebih mudah, "massif", dan sering dijumpai dibandingkan dalam lakon-lakon Koma 10 tahun terakhir.

Padahal, Nano terkesan telah berupaya mengurai kepadatan dialog dalam menyadur naskah Gogol ini. Lagi pula, statistik produksi Teater Koma yang fantastik itu akan lebih yahud jika tidak diimbangi dengan peningkatan statistik selip lidah aktor-aktornya.

Di luar itu, naskah Inspektur Jenderal sangat bisa diandalkan. Dengan jeli, Nano memilih sebuah "arsip sastra" yang tidak kehilangan konteks cerita di masa kini. Ketika dipentaskan pertama kali pada 1836 di negeri asalnya, Revizor menggegerkan masyarakat Rusia. Dampaknya luar biasa. Masyarakat terpecah menjadi dua kubu, pimpinan jurnalis Faddey Bulgarin yang mendukung otoritas Tsar dan mengkritik habis karya Gogol sebagai karya vulgar, berhadapan dengan penulis Alexander Pushkin yang menyebutkan Revizor sebagai lakon terbaik Rusia. Dampak berikutnya, Gogol, yang saat itu baru berusia 27 tahun, harus mengasingkan diri dari negerinya dan menjelajah Eropa.

Naskah ini juga berkali-kali direproduksi ke dalam sinema. Sutradara Amerika Henry Koster memfilmkannya dengan genre komedi-musikal berjudul The Inspector General (1949) dan, di Rusia, sutradara Sergey Gazarov baru memfilmkannya pada 1996 dengan judul Revizor. Indonesia tak ketinggalan, Usmar Ismail memfilmkan naskah ini dengan judul Tamu Agung pada 1955.


Tema korupsi menjadi pijakan awal Nano dalam merencanakan pentas ini. Korupsi adalah penyakit universal. Sebagaimana dalam Inspektur Jenderal, di Indonesia rasuah telah menjangkiti sistem pemerintahan, dari sebelum Orde Baru dan menjamur hingga kini. Menurut Nano, penyataan penting dalam naskah ini tepat untuk dilontarkan ke tengah masyarakat Indonesia, "Jangan lagi ada korupsi!" ujarnya.

PAMERAN: Satu Abad Sang Perayu


Mencari identitas dua dara dalam peringatan seabad Basoeki Abdullah (27 Januari 1915-5 November 1993). Mencari peran naturalisme Basoeki dalam wacana seni rupa Indonesia.


Sumber foto: museumbasoekiabdullah.or.id
Lukisan dengan obyek tiga perempuan cantik itu adalah salah satu karya masterpiece Basoeki Abdullah. Perempuan paling depan mengenakan busana melayu berwarna merah marun dengan kain songket berwarna senada. Ia duduk dengan bahu menyender di kursi. Di belakangnya, perempuan lain menyenderkan tangan di bahu kursi. Rambut perempuan itu digelung dan mengenakan baju kuning berbalut kain sari India. Sedangkan perempuan ketiga berdiri di samping keduanya dan mengenakan gaun cheongsam ungu muda.

Semula lukisan itu diberi judul Nusantara. Belakangan, judulnya diubah menjadi Tiga Dara. Basoeki membuatnya sekira tahun 1955. Setelah sang maestro naturalis itu mati karena dibunuh pada 1993, orang-orang mulai mencari tahu siapa sosok tiga perempuan cantik yang jadi model Tiga Dara itu.

Setitik cahaya datang pada 2010. Azah Aziz, ketika itu berusia 84 tahun, datang ke Indonesia dan menyempatkan diri menyambangi lukisan itu di sebuah pameran di Jakarta. Azah adalah seorang jurnalis senior di Malaysia. Perempuan berdarah campuran Arab, Melayu, dan Turki itu mengklaim diri sebagai sosok perempuan berbalut baju merah dalam lukisan itu. Ketika dilukis, Azah berusia 30 tahun. Seturut kemiripan wajah, didukung cerita-cerita yang disampaikan, orang-orang memercayai klaim itu.

Satu dara -tidak benar-benar dara karena Azah mengaku sudah punya satu anak saat dilukis Basoeki-- sudah ditemukan. Dua lainnya masih dicari. Museum Basoeki Abdullah berupaya menguak misteri identitas dua dara lain dalam lukisan itu enam dekade setelah lukisan dibuat. Kesulitannya: mungkin saja dua pemilik wajah itu sudah sangat renta atau telah meninggal dunia.

Proyek ''Mencari Tiga Dara'' diluncurkan melalui website Museum Basoeki Abdullah. Upaya yang sama juga dilakukan lewat pameran ''Rayuan 100 Tahun Basoeki Abdullah'' yang menghadirkan reproduksi digital lukisan Tiga Dara. Pameran tunggal Basoeki ke-50 hasil kerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini diselenggarakan di Museum Nasional, 21-30 September lalu.

Pameran ini menyajikan 42 lukisan asli karya Basuki Abdullah dengan beragam tema. Potret, lanskap alam, mitologi, dan perempuan. Kesemuanya mencomot koleksi Museum Basoeki Abdullah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Galeri Nasional Indonesia, Museum Seni Rupa dan Keramik,Cemara 6 Gallery dan sederet milik kolektor individu.

Tidak hanya lukisan yang dipajang, pameran ini juga menyajikan sejumlah reproduksi digital lukisan karyanya, foto, sejumlah arsip tentang Basoeki, berikut sederet memorabilia barang-barang yang pernah digunakannya ketika membuat karya. Kurator pameran ini, Mikke Susanto menyebut ajang ini bersifat semi-retrospeksi sekaligus semi-historis. Membuka kembali manuskrip karya dan hasil pemikiran Basoeki, sekaligus menyajikan arsip-arsip mengenai kehidupannya.

Tema rayuan sengaja dipilih terkait keterampilan sosial Basoeki dalam berkesenian. Lukisan-lukisan yang dipamerkan itu adalah jejak rayuan cucu Wahidin Sudiro Husodo ini. Jejak itu menyoal budaya leluhurnya seperti epos Ramayana dan Mahabharata, lanskap alam, dan potret tokoh nasional, kemudian melanglang buana ke Asia Tenggara, hingga ke Eropa.

''Rayuan ini menjadi titik penting dalam hidupnya agar ia menjadi utuh. Merayu seseorang untuk menjadi modelnya, membeli lukisannya, menjadi bagian dari apa yang ia inginkan. Basoeki Abdullah pandai untuk itu,'' kata Mikke.

Kepandaian Basoeki dalam merayu dan menuangkan hasil rayuannya ke dalam kanvas naturalisme tidak sepenuhnya mendapat tanggapan positif. Buku Basoeki Abdullah: Sang Hanoman Keloyongan (diluncurkan dalam pameran ini) yang ditulis Agus Dermawan T. merekonstruksi kritik "Bapak Seni Lukis Modern Indonesia", S. Sudjojono, terhadap karya-karya Basoeki.

Sudjojono pada 1930-an menempatkan karya naturalisme Basoeki sebagai penjelmaan nyata selera turis, tidak memiliki ingatan sejarah karena tidak merekam sebuah momentum. ''Naturalisme Basoeki dikecam sebagai contoh kedangkalan lukisan mooi Indie atau 'Hindia jelita' yang sekadar bermain di wilayah jual-beli,'' tulis Agus.

Namun, Basoeki adalah orang yang gampang murka jika ada yang menyebut naluralisme tidak lebih berharga dari realisme. ''Lukisan saya boleh dikecam, namun pandangan yang melecehkan naliralisme adalah keliru besar. Naturalisme justru ibu dari realisme,'' ungkap Basoeki sebagaimana dikutip Agus dalam bukunya.

Sudut pandang kaum akademisi dalam konstelasi seni rupa Indonesia menilai lukisan-lukisan naluralis Basoeki sebagai manifestasi yang cuma menghibur penglihatan dan tidak mengusung wacana. Itu sebabnya, karya Basoeki secara literer ditulis samar-samar di kitab sejarah seni rupa Indonesia.

Namun Basoeki bergeming. Ia, menurut Agus, memang mengakui bahwa tidak menemukan apa-apa dan tidak mencetuskan gaya baru dalam ''karier'' kepelukisannya (bukan berarti tidak mencoba gaya baru; di akhir kariernya ia sempat mencoba melukis abstrak namun, konon, tidak mendapat tanggapan beraryi dari publik seni rupa maupun pasar). Namun buatnya, hal terpenting dari sebuah karya adalah kegunaannya bagi penikmatan batin manusia. ''Lukisan saya memilih cara komunikasi yang paling bisa dipahami,'' ujarnya. 
Dengan sasaran indra penikmatan dan model komunikasi sederhana semacam itu, Basoeki menerjemahkan imajinasi orang Indonesia atas tokoh mitologi dan legenda seperti Nyi Roro Kidul dan Doko Tarub.

Nyi Roro Kidul adalah tokoh utama dalam mitlogi Laut Selatan Jawa. Ia disebut-sebut sebagai sosok perempuan dengan kecantikan dan keanggunan luar biasa. Sedang legenda Joko Tarub mengisahkan tujuh bidadari turun ke bumi untuk mandi dan sang Joko mencuri selendang salah satu bidadari itu yang kemudian diperistrinya. ''Seperti apa sosok Nyi Roro Kidul dan Joko Tarub, ya seperti yang Basoeki Abdullah lukis. Basoeki menanamkan pada kita imajinasi berkelanjutan mengenai itu semua,'' kata Mikke.


Setidaknya tiga kali Basoeki menciptakan lukisan Nyi Roro Kidul. Sedangkan legenda Joko Tarub ia lukis sebanyak enam kali. Salah satunya adalah pesanan khusus Presiden Soekarno dengan figur bidadari berjumlah enam saja.

Menelaah Barat dengan Manuskrip Jawa



Teks, budaya, bahasa dan sejarah berkelindan dalam satu karya. Menggunakan referensi barat dan timur dengan sudut pandang oksidentalis.

Seperti kitab yang terbuka, halaman kanan lukisan manuskrip tua itu berisikan teks kidung Ramayana, sastra jawa klasik di abad 12. Persis rujukan aslinya, ia berupa teks hanacaraka dalam bahasa sansekerta. Sedang di halaman kiri, Dewi Venus berpose erotis, sebagaimana dalam lukisan “The Sea Monster” karya pelukis Jerman abad renaissance Albrecht Durer. Jika dilihat detil, pose Dewi Venus itu berbahan taburan teks-teks kidung Ramayana, dengan huruf dan bahasa sansekerta pula.

Kedua teks budaya timur dan barat ini memiliki kesamaan; mengisahkan penculikan putri oleh sosok antagonis. Kitab Ramayana mengisahkan Shinta diculik raksasa bernama Rahwana. Sedang dalam The Sea Monster, digambarkan Dewi Venus diculik manusia setengah ikan yang berjenggot dan bertanduk.

Pertemuan itu terpapar dalam lukisan manuskrip berjudul “The Book of Hours of Ramayana”(180 x 291 Cm) lengkap dengan ornamen berbagai bunga yang bertujuan memuliakan teks khas dalam kitab-kitab iluminasi. Karya pelukis Eddy Susanto itu menandai pameran tunggalnya berjudul “JavaScript” di Galeri Nasional, 4-13 September 2015.

Sumber foto: Gulalives.co
Selain lukisan manuskrip yang berjumlah 25 buah, sejumlah 25 karya lainnya juga dipamerkan. Terdiri dari 20 buah Cabinets of curiosities (jumlah yang sama dengan aksara jawa), illuminations of javascript, hymne of dystopia, the javanese calender lifetime, dan melancolia.

Selain kesamaan kisah dengan The Sea Monster, naskah Ramayana sebagai produk budaya, juga memiliki kedekatan dengan The Book of Hours. Jagat nusantara pernah mengalami peralihan dari tradisi teks melalui babad dan kakawin, kemudian bergeser ke tradisi kidung. Apa yang terkandung dalam kakawin yang mulanya dibaca dan dilakukan segolongan elit, kemudian beralih menjadi dinyanyikan dan dilakukan oleh kalangan luas dari berbagai golongan. Peralihan tradisi itu terjadi juga di barat, melalui The Book of Hours yang mulanya teks doa dari abad pertengahan, kemudian menyebar luas dengan dikidungkan di berbagai gereja.

Interaksi penonton dengan karya “The Book of Hours of Ramayana” tidak hanya melalui sajian visual, tapi juga audio. Di antara ornamen iluminati, pada bagian kanan bawah karya, penonton bisa mendengarkan suara pesinden melantunkan kidung Ramayana dan kidung dalam The Book of Hours dalam rekaman MP3.

Lukisan manuskrip lain tak memuat lukisan tua karya maestro barat, tapi produk budaya dengan kemajuan teknologi bikinan barat yang sedang digandrungi anak muda. Yaitu facebook, google, twitter, amazon.com, wikipedia, youtube, berikut portal website lainnya. Produk budaya kekinian itu diwujudkan dalam “Illuminations of Javascript”. Bentuk fisiknya, manuskrip lukisan itu menjadi wadah script masing-masing portal website dalam wujud teks hanacaraka.


Visual hanacaraka ini menjadi wujud identitas kejawaan Eddy Susanto, yang pernah numpang lahir di Jakarta, kemudian tumbuh dan berkembang di tanah leluhurnya di Jawa. Usai menamatkan studi Desain Grafis di Modern School of Desain, Yogyakarta, ia melanjutkan studi di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta di jurusan yang sama.

Di dunia desain, segala bidang telah dilakoninya. Kaos untuk sederet distro, poster, dan sampul buku. Ia pernah menyabet juara 1,2 dan 3 sekaligus dalam lomba poster HAM untuk Munir, serta mendesain ratusan cover buku untuk berbagai penerbit, seperti Pustaka Pelajar, Jendela, Kreasi Wacana Galang Press dan Insist Press.

Pada ranah lukis, ia mempertemukan dua produk budaya, barat dan timur, juga visual teks dalam satu wadah. Tercatat ia pernah memenangkan Bandung Contemporary Art Award yang diselenggarakan oleh Lawangwangi Creative Space. Sedang pameran tunggal diantaranya adalah The Passage of Panji – Memory, Journey and Desire di Lawangwangi Creative Space, Bandung, pada 2014 dan Albrecht Durer and the Old Testament of Java, Galerie Michael Janssen, Singapore di tahun yang sama.

Riset untuk pameran JavaScript digagas sejak 2,5 tahun lalu. Dengan merujuk ke sejumlah teks keagamaan lokal seperti Negara Kartagama, Arjunawiwaha, Pararaton, Wedhatama, Ramayana dan Serat Centini, juga lukisan tua karya maestro barat seperti Albrecht Durer, Christoph Weigel dan Martin Schaongauer.

Proses riset mendalam berikut korespondensi antara teks, bahasa, budaya dan sejarah ini yang menimbulkan kelindan makna dalam karya-karya JavaScript. Kelindan makna itu muncul karena tak hanya menerobos batas geografis timur-barat tapi juga menerobos dimensi waktu, pola produksi dan karakter visual. “Maka pemirsa pameran sedikit banyak akan dituntut untuk melakukan penelusuran intelektual yang cukup rumit untuk mendapatkan korelasi yang koheren,” kata kurator JavaScript, Asmudjo Jono Irianto.

Menariknya, jika selama ini ilmu pengetahuan dan berbagai produk budaya turunannya menggunakan perspektif orientalis dalam melihat timur, karya Eddy justru sebaliknya. Eddy menelaah budaya barat dengan modal identitas kebudayaan timur yang telah ajeg. “Perspektif okesidentalis ini jarang digunakan ilmuan maupun seniman,” katanya.

Kurator lain pameran ini, Suwarno Wisetrotomo mengatakan karya-karya ini tak hanya memancarkan watak historis yang kuat tapi juga memunculkan kesadaran soal identitas. Sebuah momentum yang ia nilai tepat di tengah kondisi bangsa yang limbung dan tidak percaya diri di antara pergaulan global.

Ada begitu banyak orang Indonesia yang kehilangan nilai-nilai lokalitasnya. Ada begitu banyak orang jawa yang kehilangan identitas kejawaannya. “Karya ini membangkitkan kesadaran bahwa kita tidak punya alasan untuk tidak percaya diri di tengah pergaulan dunia. Kita bukan bangsa miskin, kita punya modal budaya sejarah yang tidak terkira. Manuskrip Jawa ini menunjukan itu semua,” kata Suwarno.


Friday, May 1, 2015

Topi Darim Tidak Bundar*

Lakon adaptasi naskah teater garapan Arifin C. Noer dalam medium pantomim. Lebih susah ketimbang menginterpretasi naskah Samuel Beckett. 

Laki-laki itu berdiri di tengah panggung dengan tubuh lesu. Keningnya berkerut. Ia seperti kebingungan. Matanya berusaha mengenali satu per satu dari empat sosok yang berseliweran di sekelilingnya. Ia tak menemukan wajah yang dicari. 

Merujuk ke naskah teater garapan Arifin C. Noer, laki-laki itu bernama Darim, suami Eroh. Ia menghadapi lika-liku hidup dan pencarian identitas. Dari adegan itu, kita akan menduga Darim sedang mencari Eroh. Sebab, sebelumnya, terpapar adegan rutinitas kehidupan keluarga Darim yang lantas ditinggal pergi istrinya. 

Add caption

Tapi bukan Eroh yang dicari Darim. Ia sedang mencari wajahnya sendiri di wajah empat sosok yang berseliweran itu. Darim sedang mencari Darim; mencari jati dirinya. 


Adegan tersebut merupakan bagian dari lakon Kocak-Kacik karya Arifin C. Noer. Dibawakan dengan pendekatan pantomim oleh Bengkel Mime Theatre (BMT) asal Yogyakarta, pada 16-17 April lalu di Teater Salihara, Jakarta Selatan. Kocak-Kacik menjadi satu dari lima lakon dalam rangkaian Helateater Salihara 2015 yang mengambil tema ''Persembahan Kepada Arifin C. Noer''. 


Praktek mime yang dikembangkan BMT dalam mengurai naskah yang digubah pada 1975 ini mengarah pada gerak dalam struktur drama-tragis. Kalaupun ada unsur komedi, porsinya tidak sampai diperhitungkan. Lakon realis-tragis ini beririsan dengan karakter naskah Arifin yang khas, mengangkat peristiwa kehidupan sehari-hari seputar dunia ketiga dengan lokus dialog internal tokoh serta pengembangan-pengembangan imajinatif seperti pencarian identitas. 


Plot dalam Kocak-Kacik dinilai unik dan tidak banyak dikenal, serta menawarkan banyak imajinasi. ''Cocok dengan karakter pementasan pantomim,'' kata sutradara pertunjukkan ini, Andreas Ari Dwianto.


Adaptasi naskah teater ke dalam bentuk teater mime, bagi BMT, bukan perkara mudah. Medium teater memiliki kebebasan penggunaan unsur verbal sebagai bagian dari upaya penyampaian. Sementara itu, dalam pantomim, proses penyampaian itu hanya melalui ekspresi dan gerak tubuh. 


Dari dua babak naskah Kocak Kacik, Andreas menyederhanakannya untuk sajian mime berdurasi 50 menit. Tidak semua jalan kisah dipaparkan sebagaimana naskah aslinya. Hanya dipilih sejumlah peristiwa atau adegan yang dinilai mewakili keseluruhan cerita. Andreas menyebut modus itu sebagai interpretasi dari naskah asli. ''Bisa juga menjadi cerita tersendiri bagi orang yang belum membaca atau menontonKocak-Kacik versi teater,'' ia menjelaskan. 


Pada umumnya, BMT pentas menggunakan naskah ciptaannya. Kalaupun mengadaptasi naskah lain, itu bersumber dari cerita pendek, puisi, atau cerita anak. Ini kali kedua bagi BMT mementaskan pantomim hasil adaptasi naskah teater. Kali pertama adalah adaptasi naskah Waiting for Godot karya Samuel Beckett. Naskah dibawakan dengan judul Menunggu dan pertama dipentaskan di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah dalam acara "Mimbar Teater Indonesia #4", September tahun lalu. 


Menginterpretasi naskah Beckett, menurut Andreas, jauh lebih mudah ketimbang menginterpretasi naskah Arifin. Karya-karya Beckett dikenal menampilkan dialog naskah yang rigid berikut instruksi lakon yang jelas. Cukup dengan mengikuti instruksi naskah dan menghilangkan dialog. Tidak perlu banyak pengembangan. Sedangkan naskah Arifin sebaliknya, ''Terlalu banyak narasi, minim instruksi,'' kata Andreas, yang mengaku sangat tertantang menginterpretasi Kocak-Kacik ke dalam pendekatan mime. 


Hasilnya, pada bagian yang tidak sedikit, nuansa mime pada pementasan ini dibuat untuk mengiringi teks verbal yang sudah banyak dikenal. Di antaranya pada khazanah gerak koreografis yang mengiringi lagu anak Topi Saya Bundar pada sebuah adegan. Gerak pada lirik ''kalau tidak bundar'' adalah cara BMT membaca Darim yang teralienasi dari masyarakatnya.


*versi ini bisa dilihat juga di Majalah GATRA edisi 30 April - 7 Mei 2015

Thursday, March 26, 2015

Paket Hemat Oposisi Barat-Timur

Lakon komedi-satire yang memotret persoalan Barat-Timur. Ditingkahi praktek verbal menyorot isu-isu aktual.

Arie Kriting terpaksa angkat kaki dari tanah kelahirannya, Papua. Ulah sekelompok tentara membuatnya dicap sebagai aktivis Organisasi Papua Merdeka. Lalu ia mengembara ke Jakarta. Di Ibu Kota, wilayah barat Indonesia, laki-laki timur ini masih juga kena sial. Ia ditangkap oleh ''orang-orang barat'' yang ingin merebut batu peninggalan nenek moyang pembawa kemakmuran.


Meski kelahiran Kendari, komedian Arie Kriting didapuk untuk memerankan karakter seorang Papua dalam pertunjukan Tabib dari Timur. Lakon yang dipentaskan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 18-19 Maret 2015, itu merupakan pertunjukan ke-15 dalam rangkaian ''Indonesia Kita''.

Kisah yang mengurai pertentangan ''Barat-Timur'' dalam ruang keindonesiaan ini diproduseri oleh Butet Kertaredjasa. Bertindak selaku sutradara adalah Agus Noor, sementara Djaduk Ferianto sebagai penata musik.

Selain tiga personel tetap kreator ''Indonesia Kita'' itu, pertunjukan Tabib dari Timur melibatkan koreaografer Papua, Jecko Siompo. Bersama 14 penarinya, Jecko menghadirkan kembali -dengan versi hasil penyuntingan-- karya In Front of Papua yang memopulerkan namanya dalam khazanah tari kontenmporer di Indonesia dan dunia.

Versi utuh koreografi itu pertama dibawakan pada 1998 di Graha Bhakti Budaya, TIM. Versi modofikasi dari karya yang sama juga dibawakan Jecko di Jerman pada tahun lalu. Jecko, koreografer lulusan Institut Kesenian Jakarta, menemukan rumusan gerak yang segar dalam In Front of Papua. Ia menyebutnya animal pop. Perpaduan antara gerak laku hewan dan patung-patung Papua dengan khazanah hip-hop. Jecko membawanya sebagai isu akulturasi yang jenaka dan riang.

Setelah 15 tahun, praktek akulturasi animal pop itu menjadi bagian dari menu yang secara ironis mempertentangkan Timur dan Barat dalam sudut pandang sosial, politik, dan budaya di Indonesia. Sudah menjadi wacana umum bahwa kekuasaan dan kemakmuran hanya tersebar di wilayah barat, khususnya Pulau Jawa. Sedangkan wilayah timur, seperti Papua --yang memiliki sumber daya alam berlimpah-- hanya dijadikan sebagai objek eksploitasi dan dianaktirikan dalam perkara distribusi kesejahteraan.

Oposisi ''biner'' Barat-Timur ini yang diketengahkan dengan pendekatan komedi-satir dalam Tabib dari Timur. Dan seperti lakon-lakon lainnya, para kreator ''Indonesia Kita'' selalu merasa punya kewajiban untuk secara verbal mengaktualisasikan tema-tema demografis semacam itu dengan isu-isu mutakhir, seperti celetukan seputar konflik APBD DKI Jakarta yang mengetengahkan tokoh Ahok vs Lulung. Tidak ketinggalan, materi tentang KPK-Polri.

Kebiasaan lainnya yang mewarnai strategi penggarapan lakon ''Indonesia Kita'' juga berlaku untuk Tabib dari Timur. Antara lain, proses latihan singkat dengan menjadikan improvisasi sebagai jembatan komunikasi antar-aktor. Pembatasan itu dilakukan dengan alasan biaya.

Teater membutuhkan dana tidak sedikit, sementara jumlah penonton terbatas. Jika rata-rata kelompok teater membutuhkan waktu latihan tiga bulan untuk menggarap sebuah lakon, bahkan lebih lama untuk kelompok teater seperti Koma, Tabib dari Timur hanya menjadwalkan tiga hari latihan. ''Untuk meminimalkan biaya,'' kata Butet.

Strateginya, konsep dan naskah digodok dari awal. Setiap kelompok yang terlibat, baik tari, musik, maupun aktor teater berlatih di kelompoknya masing-masing dengan lebih banyak eksplorasi dan improvisasi. Koridornya, ya, naskah dan konsep pertunjukan itu. Lalu, pada H-3 pertunjukan, semua kelompok itu bertemu untuk latihan bersama.

Model latihan seperti ini, menurut Butet, juga memiliki banyak keuntungan. Di luar urusan hemat ongkos, para aktor dituntut untuk menggali potensi-potensi yang ada dalam dirinya. Kekurangannya, selain segala sesuatunya serba terbatas, ada saja bagian dari dialog yang terlupakan. ''Di naskah ada dialog soal emas Papua yang diangkut ke Amerika. Tapi tadi kayaknya kelupaan,'' kata Agus Noor santai, usai pertunjukan.

Monday, December 30, 2013

Teater: Membaca Ulang Naskah Lawas*

Proyek penulisan dan pembacaan naskah lama. Menggali arsip berharga, mengundang para penulis bereputasi tinggi. Agar para penulis punya alasan untuk kembali menulis lakon teater.

Lima orang aktor dan seorang narator riuh berceloteh di sebuah meja perpustakaan. Ceritanya, mereka akan melakonkan naskah berjudul Rumah Tak Beratap Rumah Tak Berasap dan Langit Dekat dan Langit Sehat karya Akhudiat.

"Siapa, siapa yang bisa memerankan hujan?" ujar seorang aktor. "Sudahlah, nari dan maen gamelan saja tidak bisa. Apalagi meranin hujan? Adegan berikutnya?" Sahut aktor lainnya.


Sumber foto: detik.com
Di Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki itu, Jumat malam pekan lalu, Forum Aktor Yogyakarta sedang membacakan naskah teater berjudul Di Luar 5 Orang Aktor. Sambil berlakon, sesekali mata mereka tertuju pada naskah yang tergenggam di tangan masing-masing.

Naskah yang dibacakan itu adalah gubahan Afrizal Malna, yang berupa penulisan ulang (atau lebih tepatnya; tanggapan) penyair dan esais berkepala plontos itu atas naskah karya Akhudiat yang ditulis 39 tahun lalu.

Naskah Rumah Tak Beratap Rumah Tak Berasap dan Langit Dekat dan Langit Sehat, yang menjadi rujukan Afrizal, berkisah tentang penari ledhek yang akan dinikahkan dengan juragan kaya, karena ibu si penari itu berutang pada si juragan. Naskah tersebut berlatar kehidupan rakyat jelata, dengan sebagian besar dialog berbahasa Jawa. Pada 1974, naskah ini keluar sebagai juara harapan di perhelatan Sayembara Naskah Dewan Kesenian Jakarta.

Alih-alih melakukan interpretasi linear atas plot tradisional penari ledhek, Afrizal mengambil daya tarik intrinsik lainnya pada naskah karya Akhudiat itu. Yakni, remah-remah dialog keseharian wong cilik yang seolah-olah tidak diikat oleh sebuah narasi besar.

Melalui Di Luar 5 Orang Aktor, Afrizal menghadirkan realisme baru dengan mengambil jarak tegas atas realitas naskah rujukannya. Versi Afrizal berkisah tentang lima aktor dan seorang narator yang berjibaku mempersiapan pementasan teater untuk lakon Rumah Tak Beratap Rumah Tak Berasap dan Langit Dekat dan Langit Sehat.

Persiapan itu tak hanya menyoal riweuh-nya berbagi peran dan latihan vokal, tapi juga sejumlah perdebatan mengenai sejarah, sosiologi, bahkan isu feminisme dalam karya aslinya, yang nyaris tidak pernah dibawakan di panggung teater itu.

"Karena aku punya imajinasi yang berada dalam background berbeda dari tokoh-tokoh yang diciptakan Akhudiat. Pokoknya tokoh, setting, tema, itu milik Akhudiat. Jadi aku tidak masuk, aku ada di luar," kata Afrizal, seusai naskahnya dibacakan.

Proyek penulisan ulang naskah lama dan pembacaannya itu merupakan bagian dari perhelatan "Indonesia Dramatic Reading Festival (IDRF) 2013". Festival yang diselenggarakan pada 3-6 Desember lalu itu merupakan rangkaianan dari Festival Teater Jakarta 2013.

Pertama kali digelar pada 2010, IDRF kemudian secara rutin diselenggarakan tiap tahun. Konsepnya adalah penulisan naskah teater dan pembacaan naskah tersebut oleh kelompok teater. Sejumlah kelompok teater terkenal pernah turut dalam pembacaan naskah IDRF. Di antaranya adalah Teater Koma, Teater Gandrik, Teater Garasi, Teater Gardanala, Teater Kertas, dan Studi Teater Bandung (STB).

Penyelenggaraan IDRF sebelumnya bersifat terbuka. Namun, tahun ini, dengan dukungan Jaringan Arsip Budaya Nusantara, lima penulis yang diundang untuk menuliskan kembali naskah lama.

Naskah lama yang dipilih adalah naskah dari era 1970-1979. Dari 532 naskah yang tersimpan di bank naskah Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), terpilihlah 18 naskah untuk ditulis ulang. Dari jumlah itu kemudian mengerucut menjadi lima naskah, sesuai jumlah penulisnya. Semua penulis bebas menulis ulang naskah tersebut dan hanya diberi satu syarat: durasi naskah 1-1,5 jam saja.

Selain Afrizal, ada Esha Tegar Putra yang menulis ulang naskah Malin Kundang karya Wisran Hadi. Cerita rakyat berlatar tradisi Minang ini ditulis sebagai naskah teater oleh Wisran pada 1978. Jika dalam cerita rakyat Malin durhaka pada orangtuanya, dalam versi Wisran, justru orangtua --dalam hal ini paman alias adik ibunya Malin-- yang durhaka dengan menjual rumah keluarga Malin. Naskah itu juga menceritakan Malin yang merana di tanah rantau karena anaknya yang kelak menjadi penyair hilang entah ke mana.

Dari naskah Wisran itu, Esha menggubah Malin-Malin. Naskah ini terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama mengenai bocornya proyek perbaikan batu Malin Kundang. Bagian kedua Malin menggugat alur cerita Malin Kundang yang didongengkan tiga tukang kabar. Sedangkan di bagian ketiga, Malin sedang galau, kebingungan antara harus merantau atau tinggal di rumah.

Penulis lain dalam proyek ini adalah Andri Nur Latif. Ia menulis Yuni dengan rujukan naskah Ben Go Tun karya Saini KM. Lalu ada Ibed Surgana Yuga yang menulis Para Agung sebagai versi lain dari naskah karya Ikranagara yang berjudul Saat Drum Band Menggeram-geram di Bekas Wilayah Tuanku Raja. Tearkhir ada Shinta Febriany menulis ulang Tidak Ada Waktu bagi Nyonya Fatmah,Barda dan Cartas menjadi sebuah naskah berjudul Ummu dan yang Tersembunyi di Balik Cemburu.

Di Jakarta, naskah hasil tulis ulang tersebut dibacakan oleh Lab Teater Ciputat, Stage Corner Community, dan Forum Aktor Yogyakarta. Sebelum dibacakan di Jakarta, naskah IDRF 2013 lebih dulu dibacakan di Yogyakarta pada 23-25 Oktober 2013.

IDRF berangkat dari kegelisahan Gunawan Maryanto dan Juned Suryatmoko soal semakin langkanya penulis naskah teater. Semasa zaman emas teater Indonesia pada 1970-an, meski masih terhitung minim, penulis naskah teater masih terakomodasi banyak media. Pada masa itu sayembara penulisan naskah teater kerap diselenggarakan. Biasanya, naskah yang jadi pemenang sayembara dibukukan dan dipentaskan.

Tradisi itu yang tidak ada lagi, setidaknya dalam sepuluh tahun terakhir. Tidak ada lagi wadah untuk penulis naskah teater, kecuali si penulis memiliki dan menjadi bagian dari sebuah kelompok atau komunitas teater. "Akhirnya, penulis lakon tidak punya alasan untuk menulis lagi," kata Gunawan Maryanto, Penata Program IDRF.

Afrizal mengatakan kota dengan pasar dan media tumbuh sedemikian rupa. Sayangnya pertumbuhan itu tidak melihat arti penting pertumbuhan teater. Seperti kota, teater juga penting terkait dengan bagaimana warga menginternalisasi kotanya sendiri. "Ketika sebuah kota tumbuh dan tidak memperhitungkan pentingnya seni, dalam hal ini teater, ia seperti tumbuh tanpa memori, tanpa pembacaan," ujarnya.



*artikel di Majalah GATRA edisi 7/XX Desember 2013

BIENNALE JAKARTA 2013: Imajinasi Seni Media Baru*

Karya seni media baru garapan anak-anak muda meramaikan Jakarta Biennale 2013. Interaktif dan menghibur. Berpotensi menjadi konvensional di tengah massifnya serbuan media digital.
Di depan kinect, Fatya Arta Utami merenggangkan kedua tangannya ke samping. Seperti berlatih yoga, mahasiswa pascasarjana Program Studi Psikologi Universitas Indonesia ini menggerakan tangan ke atas, kemudian kuncup, turun, lalu jongkok mengikuti gerak lingkaran berwarna yang tampil pada kinect. Lingkaran merah untuk tangan kanan, biru untuk tangan kiri.
Tak berapa lama, tiba-tiba manusia raksasa dengan rambut sebahu muncul dan meloncati Fatya yang masih jongkok. Tak hanya itu, seekor macan dan dinosaurus mengintip, pergi sebentar, kemudian muncul lagi dan satu per satu melompati tubuh Fatya seperti yang dilakukan raksasa tadi. Kaget, Fatya menengok ke samping. Tak ada makhluk mengerikan apa pun di ruangan itu. Manusia raksasa, macan, ataupun dinosaurus yang melompati itu rupanya citraan digital saja.
"Seru dan lucu. Serasa dilompatin dinosaurus beneran!" katanya bersorak.
Instalasi video hasil perpaduan augmented reality dengan kinect yang interaktif ini berjudul "In The Name of Futile Gesture". Yusuf Ismail, seniman asal Bandung, membuat karya ini khusus untuk dipamerkan dalam Jakarta Biennale 2013 selama 9-30 November 2013 di basementTeater Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Demi mengerjakan proyek yang dibuat dalam waktu satu bulan itu, Yusuf mengajak Labtek Indie untuk berkolaborasi.
Yusuf adalah alumnus seni patung Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung. Pemuda kelahiran Bogor, Jawa Barat, 1981, ini rajin memproduksi karya hasil olah video. Banjir informasi melalui internet, dengan segala kekurangan dan kelebihannya dimanfaatkan Yusuf untuk memamerkan karyanya pada audiens lebih luas. Terhitung lebih dari 50 video sudah dibuat Yusuf.
Paling ramai ditonton beberapa waktu lalu adalah video klip berjudul Demi Tuhan Style - Psy feat. Arya Wiguna. "Demi Tuhan!" adalah ungkapan Arya Wiguna yang sering muncul di program infotainment ketika berseteru dengan Eyang Subur. Video klip yang diunggah Yusuf pada 22 April 2013 di Youtube ini tercatat telah ditonton lebih dari 1,5 juta kali.
Sementara itu, Labtek Indie adalah perusahaan non-profit yang berlokasi di Bandung dan bergerak di bidang teknologi. Pada In the Name of Futile Gesture, Yusuf mengonsep dan membuat video, sementara Labtek Indie kebagian jatah membuat script dan programming.
Instalasi video ini memotret bagaimana karya ini merespons gerakan pengunjung. "Tanpa pengunjung sadari, karya saya itu seperti streaming untuk merespons orang yang ingin eksis di dunia maya," kata Yusuf.


Sumber foto: aikon.org
Rencananya, seusai perhelatan Jakarta Biennale 2013, rekaman interaktif pengunjung dalam karyanya ini akan diproduksi ulang menjadi karya lain. "Hasil paper streaming itu saya capture, saya cetak ulang menjadi karya baru lagi," Yusuf menjelaskan.
Karya digital lainnya yang unjuk gigi di Jakarta Biennale 2013 adalah A Building to Long For atau Gedung Idaman. Pembikinnya adalah Serrum & Dinas Artistik Kota.
Dinas Artistik Kota adalah program Serrum dalam rangka mempercantik kota. Terinspirasi dari visual art garapan Diego Rivera di gedung Istana Cortes di Cuernavaca, Meksiko dan karya Pablo Picasso di gedung Pemerintah Norwegia, Serrum mengajak warga Jakarta mewujudkan seperti apa gedung pemerintah yang mereka imajinasikan.
Serrum merupakan sekumpulan alumnus mahasiswa Seni Rupa Universitas Negeri Jakarta. Anggotanya, M.G. Pringgotono, Arif Kurniawan, Arief Rachman, Sigit Budi, J.J. Adibrata, Gunawan Wibisono, dan R.M. Herwibowo. Sesuai dengan latar belakang almamater, Serrum lebih banyak fokus pada masalah sosial dan pendidikan dalam medium seni rupa.
Pada proyek Gedung Idaman, Serrum memilih tiga gedung pemerintah yang dianggap paling popular di masyarakat, yaitu Gedung KPK, Gedung MPR/DPR, dan Gedung Mahkamah Konstitusi (MK).
Serrum membuat contoh pola gedung-gedung pemerintah itu dan masyarakat "mendandani" pola itu sesuai imajinasi mereka. Bagian tertentu sengaja diberi warna putih, misalnya bagian atap Gedung MPR/DPR, "Biar pengunjung bisa menggambarinya sesuka hati," kata J.J. Adibrata, Sabtu malam, 16 November lalu, di markas Serrum Jalan Gurame 3, Rawamangun, Jakarta.
Interaksi masyarakat diperoleh melalui dua metode: online dan offline. Pada pendekatan online, Serrum membuat halaman di jejaring sosial, mengunggah contoh pola gedung pemerintah dalam bentuk digital dan mengundang banyak orang untuk berpartisipasi melalui jejaring sosial pula. Masyarakat menggambari contoh pola itu menggunakan aplikasi Adobe Photoshop.
Sedangkan metode online, tim Serrum mengunjungi langsung gedung yang dituju dan meminta partisipasi masyarakat sekitar gedung tersebut untuk mendandani contoh pola yang sudah disiapkan. Serum sudah menyiapkan "reporter" untuk menanyakan langsung pada masyarakat gedung seperti apa yang diidamkan. Lantas seorang ilustrator akan menggambarkannya pada contoh pola gedung tersebut.
Alih-alih membuat gedung idaman, karya yang muncul justru citraan masyarakat pada lembaga dan orang-orang yang menempati gedung tersebut. Karya digital Djmas Prast, misalnya. Atap gedung MPR-DPR itu digambari sekumpulan tikus dalam jumlah banyak. Djmas memberi judul Sarangpada karyanya.
Ada juga yang menyulap contoh pola gedung legislatif itu menjadi pesawat luar angkasa UFO, lengkap dengan suasana temaram dan petir di langitnya. Karya digital hasil partisipasi pemilik akun Say Hello ini diberi judul Sebenarnya Gedung Tersebut Merupakan Pesawat Luar Angkasa dari Planet Sebelah.
Karya lain, misalnya, contoh pola Gedung KPK ditempeli coretan bergambar uang lima ratus rupiah lengkap dengan seekor monyet di atas pohon. Di sampingnya ditambahi tulisan Manusia Emang Kaga Pernah Ada Puasnya.
Ada juga contoh pola Gedung MK yang digambari payung tertutup di sebelah kanan dan kiri kubah. Di sampingnya dibubuhi tulisan Hukum di Indonesia Sudah Tertutup. Karya ini hasil imajinasi Uji Sanusi, tukang ojek yang mangkal di sekitar Gedung MK.
Dua karya tadi merupakan di antara sejumlah karya dengan pendekatan seni media baru yang mejeng di Biennale Jakarta 2013. Pendekatan seni satu ini tumbuh dan berkembang seiring lahirnya teknologi digital seperti internet, komputer, dan video. Di Indonesia, para seniman muda mulai menghela praktek seni ini sekira satu dasawarsa terakhir.
Menurut Yusuf Ismail, di tengah massifnya serbuan teknologi, seni media baru tak lagi baru. Dari segi alat maupun teknis, tak ada yang benar-benar baru pada genre seni ini. Kebaruan muncul seiring dengan adanya konsep-konsep baru. "Kalaupun ada yang baru, itu pemikirannya. Kita bisa merespons hal-hal yang ada di lingkungan dengan cara baru," ujarnya.


*dimuat di Majalah GATRA edisi 3/XX November 2013

Thursday, September 19, 2013

Sudjojono Sampai Mati

Mozaik kisah kasih Djon dan Rose dalam bingkai teater. Bersumber dari berbagai dokumen sejarah: visual, audial, arsip surat-menyurat, dan kesaksian sumber-sumber yang pernah bersinggungan dengan Sudjojono. Pertunjukan biografis yang romantis.

Suara mezosopran Rose Pandanwangi menggema di seluruh ruangan. Lagu yang ia nyanyikan itu lagu kesukaan Sudjojono, Ich Liebe Dich, karya Ludwig van Beethoven. Rose terlihat anggun berbalut rok hitam dan blus merah dengan cardigan emas. Begitu lagu berakhir, di tengah panggung, tampak Rose muda (diperankan putri pertama Rose-Sudjojono, Maya Sudjojono) dan Sudjojono muda (Gandung Bondowoso) sedang memadu kasih. ''Kudengar orang bilang kemarin adalah kemarin. Esok adalah esok. Sebelum hari ini berlalu, kita santap saja Mama,'' kata Sudjojono pada Rose.

Lalu, suara merdu Rose tua kembali menggema. Kali ini ia menyanyikan lagu My Way. Cinta yang telanjur bersemi menjadi jalan yang mereka pilih. Tapi kemudian, Rose muda dan Djon bingung bukan kepalang. Sedari mula mereka sadar status masing-masing yang tak lagi sendiri. ''Harus ada kejelasan, Mas. Setelah hubungan kita kian jauh. Kita tidak bisa begini terus,'' kata Rose muda.



Biografi kehidupan Sudjojono atau akrab dipanggil Djon, lengkap dengan kisah cintanya itu dikemas dalam pertunjukkan teatrikal berjudul Pandanwangi dari Sudjojono yang disutradarai oleh Gandung Bondowoso. Dalam durasi sekitar dua jam, Gandung memadukan berbagai disiplin seperti teater, monolog, tari, dan olah-vokal pada pertunjukan yang digelar di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jumat malam, pekan lalu.

Gandung yang juga berperan sebagai Djon muda dan narator, mempersiapkan lakon biografis ini dengan cukup serius. Ia mengetengahkan mozaik-mozaik yang membentuk kisah hidup Djon melalui penggalian arsip visual, audio, catatan, dan kesaksian. Dalam pementasan ini, penonton bukan hanya dapat menikmati karya-karya lukisan Sudjojono yang terpampang sebagai latar belakang panggung, melainkan juga rekaman suara aslinya.

Sesuai dengan judulnya, plot besar pertunjukan ini adalah perjalanan kisah kasih Rose dan Djon. Namun untuk menjaga objektivitas muatan biografis, sejumlah interaksi Djon dengan sumber-sumber lain juga dimunculkan. Di antaranya pemunculan sosok-sosok yang dijadikan objek lukisan Djon, seperti Jajang C. Noer. ''Itu saya, itu, itu gambar saya,''kata Jajang dari atas panggung, sembari menunjuk sebuah lukisan karya Djon yang terpampang di tirai belakang panggung. Ceritanya, dulu Jajang bertetangga dengan Djon di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Jajang tahu betul kalau Djon itu pelukis hebat. Ia rela menyerahkan tabungannya Rp10 ribu agar bisa dilukis Djon.

Dari fragmen ini, selain Jajang, tampil pula empat anak Djon yang diperankan oleh cucu-cucu Djon dan Kemal Abdul Hamid (diperankan oleh aktor senior, Joseph Ginting), pacar Pandanwangi, putri bungsu Djon. Mereka bertutur mengenai tantangan kesabaran yang harus dilalui, berdiri seharian, ketika menjadi objek lukisan Djon. Tak mengherankan bila sebagian besar hasil lukisan mereka adalah sosok dengan wajah cemberut.

Djon memang terbiasa membuat lukisan dalam waktu lama. Lukisan My Queen, misalnya, yang mulai ia buat pada 1956 dan menjadi representasi awal hubungan Rose-Sudojono, selesai 15 tahun kemudian. Pada tiap lukisan itu, Djon selalu membubuhkan puisi.

Dalam riwayat kepelukisannya, Djon banyak mengkritik gaya lukisan mooi indie yang hanya melukis pemandangan dan manusia cantik dalam bentuk sempurna, yang hidup dalam citraannya sendiri. ''Djon berpendapat lukisan semacam itu memang cantik, tapi tidak berjiwa karena lepas dari kehidupan sebenarnya,'' tutur Gandung dalam narasinya.

Pada 1946 Djon membuat kredo ''jiwa ketok''. Merujuk pada pengertian "jiwa yang kelihatan" ; "kecantikan" jiwa yang hadir tanpa mempercantik wajah modelnya. Atas kiprah dan pemikirannya itu, Djon dianugerahi gelar Bapak Seni Lukis Indonesia Baru oleh Trisno Sumardjo, pengamat seni yang juga seniman.

Gandung mempersiapkan pementasan ini dalam kurun waktu cukup lama, sembilan bulan untuk riset dan penulisan, dan dua bulan untuk latihan. Riset dan penulisan membutuhkan waktu paling lama. Pada tahap riset, Gandung mewawancarai berbagai narasumber yang pernah bersentuhan langsung dengan Sudjojono. Terutama keluarga Sudjojono.

Gandung juga membaca berbagai buku yang memuat tentang Sudjojono, membaca naskah-naskah pidatonya dan mendengarkan suara Sudjojono dalam rekaman kaset. ''Ini naskah sejarah, saya tidak boleh ngarang, tidak boleh berimajinasi,'' kata Gandung seusai pentas.

Sebagian aktor masih amatir. Anak-anak Djon semasa kecil dan Maya yang menjadi Rose muda misalnya. ''Kalau saya menggunakan orang-orang yang bersentuhan langsung dengan Sudjojono akan lebih afdol," Gandung menjelaskan. Untuk mengimbangi akting aktor amatir itu, ia menghadirkan aktor kawakan seperti Jajang C. Noer dan Joseph Ginting."Supaya nuansa teaternya lebih muncul,"ujarnya.

Kisah kasih Rose dan Djon dalam lakon ini menjadi materi paling lengkap. Selain sumber-sumber sekunder, Gandung merujuk langsung pada cerita Rose Pandanwangi yang kini berusia 83 tahun. Rose dan Djon pertama kali bertemu di Armsterdam pada 1951. Saat itu Rose adalah penyanyi seriosa yang sedang belajar vokal, sedang Djon pelukis kenamaan Indonesia yang sedang melakukan lawatan kebudayaan.

Sepulang dari Belanda, tiga tahun kemudian, Rose dan Djon dipertemukan kembali pada konferensi perdamaian sedunia di Jakarta. Seorang yang mengenal mereka menyarankan Rose untuk bertandang ke galeri lukisan Sudojono di Yogyakarta. Sejak itu Rose rajin mengunjungi Djon. Rose menyaksikan langsung, banyak lukisan Djon yang tak selesai dibuat. Ia pun menyarankan agar Djon menyelesaikan lukisan-lukisan tersebut. ''Jika begini terus, kau tidak akan dikenang,'' kata Rose muda dalam pentas.

Rupanya, dukungan Rose memberikan semangat baru pada Djon. Sejak saat itu wajah Rose banyak nongol dalam lukisan-lukisan Djon. Sejak itu pula cinta Rose dan Djon tumbuh bersemi. Setelah pementasan, kepada GATRARose bercerita mengenai cara Djon mengungkapkan isi hatinya. Yaitu dalam bentuk pernyataan retorik; ''Kamu tahu kan kalau saya cinta?" Rose menirukan ucapan Djon.

Singkat cerita, mereka lantas jadi sepasang kekasih. Rose bercerai dari suaminya pada 1958. Beberapa bulan kemudian Djon menceraikan istrinya, Mia Bustam. Mereka menikah setahun berikutnya, saat Djon berusia 46 tahun sedangkan Rose 30 tahun. ''Setelah lama melalui banyak rintangan, kami baru bisa memutuskan dengan ikhlas bahwa untuk menempuh jalan bersama,'' kata Rose mengenang.

Rose mengabadikan kisah cintanya bersama lukisan-lukisan karya Djon di museum di Cirendeu (semula di Pasar Minggu). Termasuk surat-surat cinta Djon untuk Rose. Salah satu surat yang menggambarkan betapa abadi cinta Djon-Rose, dibacakan oleh narator di penghujung pentas.

"....walaupun topan membelah kapal dan memukul berkeping-keping, saya masih merasa tidak sendirian. Bahkan sampai kematian di dasar laut pun kita tetap bersama dengan pelukan lengan-lengan erat kita yang abadi. Sebuah cinta dua seniman yang tidak pernah akan hilang. Ya, ya, Rose. Cinta seperti itu sangat hebat. Badai bisa menghilangkan, memaksakan dan meremukkan tubuh ini. Tapi cinta tidak. Itu adalah jiwa cinta yang besar, tidak mengenal kehilangan....''

Pementasan ini menjadi bagian dari rangkaian acara memperingati seabad pelukis Sudojono yang digelar sepanjang 2013. Acara lain adalah pameran karya-karya Sudjojono, pembacaan surat-surat cinta dan diskusi. Rangkaian acara ini selenggarakan di berbagai wilayah seperti Jakarta, Yogyakarta, Bali, dan bahkan hingga di Singapura.