Showing posts with label Lain-lain. Show all posts
Showing posts with label Lain-lain. Show all posts

Monday, May 23, 2022

Che dan Cakaran di Punggungku


Masih penasaran soal punggungku dicakar si kucing Che?

Begini ceritanya…

Che dalam kondisi kotor dan bau ketika aku pulang. Tempat grooming terdekat tutup karena habis lebaran. Besok paginya Che kumandiin sendiri.

Semua kamar mandi di rumah mami pintunya tak bisa menutup sempurna. Maklum udah lebih dari dua dekade. Jadi aku duduk mandiin Che sambil jagain pintu. Biar dia ga kabur.

Awalnya proses mandi berjalan lancar dan Che tertib. Pas air hangat di bak habis, aku berdiri ambil air dari kolam. Che langsung ambil kesempatan, nyoba buka pintu. Aku buru-buru balik ke posisi duduk dekat pintu.

Merasa jalan kaburnya terhalang, Che nyakar pinggang kiriku. Aku langsung mengaduh dan mengerutkan punggung kesakitan.

Che terus cari jalan keluar. Dia cakar punggungku. Berkali-kali. Berkali-kali. Aku jadi membayangkan bagaimana si penjaga satwa di kebun binatang di Purbalingga yang dicakar harimau beberapa waktu lalu (lebai sih tapi kejadiannya sama-sama dicakar).

Terpikir untuk pukul Che, atau jedotin dia ke tembok. Tapi aku terlalu sayang dia. Begitulah bagaimana cinta membutakan mata (Lol).

Aku selimuti Che dengan handuk. Dia langsung tenang dan terkendali. 

Besoknya aku demam ringan. Begitu dicek, bekas cakarannya memang banyak dan dalam. Mami ngomel-ngomel karena aku ga langsung ngiyain pas kemarin doi nawarin betadin. Waktu itu aku belum mandi dan kukira efeknya ga akan parah.

Selama tiga hari aku minum vitamin dan antibiotik. Sekarang sih udah pulih.

Mungkin pesan moralnya begini: kalau mau mandiin kucing, pastikan pintunya tertutup sempurna. Mendingan numpang di kamar mandi sodara atau tetangga, daripada jadi korban cakaran dan sakit berhari-hari.

Friday, December 30, 2016

Mengubah Kultur Bisnis Kreatif

Sebagai bisnis kreatif yang mengurusi pembangunan branding, Makna Creative memiliki prospek cemerlang. Menggiurkan dari sisi ekonomis sekaligus menuntaskan hasrat bertravelling.

Keenan Pearce, 25 tahun, memperoleh tawaran besar, alumnus jurusan Manajemen Universitas Pelita Harapan ini diminta membuat kampanye media sosial untuk maskapai penerbangan Batik Air. Pada 2014 itu Batik Air baru saja melaunching media sosial dan kepingin akun tersebut leading di jagat persosmedan. Kompensasi yang ditawarkan menggiurkan, berkisar dua pertiga miliar.

Dengan tawaran sebesar itu, Keenan membutuhkan bendera. Menggandeng Ernanda Putra, 32 tahun, alumni almamater yang sama, yang telah satu dekade menekuni desain grafis dan fotografi. Keduanya merintis sebuah perusahaan yang bergerak di sektor jasa pembangunan branding, aktivasi media sosial dan visual dengan nama Makna Creative pada 7 Oktober 2014.

Sudah sejak lama Ernanda kepingin memiliki perusahaan dengan nama yang berasal dari bahasa sendiri. Nama Makna, yang berarti arti, sengaja dipilih dengan harapan perusahan mereka dapat berarti bagi banyak orang.

Di bawah bendera Makna Creative, Keenan dan Ernanda berkeliling ke sejumlah kota di Indonesia demi mengabadikan rute dan destinasi Batik Air. Dengan kampanye media sosial #BatikJelajahNusantara, permintaan perusahaan yang hanya 10.000 follower dapat terpenuhi, bahkan hingga 15000 follower selama 4 bulan.

Selepas itu, tawaran pekerjaan datang silih berganti. Klien berdatangan mulai dari Adidas hingga Cathay Pacific. “Bisnis ini memiliki prospek menarik. Di Indonesia belum banyak perusahaan yang bermain,” kata Ernanda.

Kedua laki-laki muda yang hobi berbelanja ini memang pilih-pilih profesi. Mereka melakoni pekerjaan yang mengandung 3 hal. Menggiurkan dari sisi ekonomi, memacu untuk terus belajar dan berkembang, juga bisa membawa keduanya bepergian kemana saja. “Makna Creative jawabannya,” kata Keenan, sumringah. Setiap bepergian, mereka menambahkan #perjalananbermakna.

Tahun pertama berdiri, Makna Creative tak memiliki tempat untuk berkantor. Mereka menjadikan cafĂ© atau apartemen sebagai tempat merumuskan ide dan melakoni pekerjaanbersama. “Kami memanfaatkan apa yang ada,” kata Keenan.

Tahun berikutnya, kantor resmi Makna Creative terwujud. Di lantai 2 Southbox, Jakarta Selatan, Keenan dan Ernanda, juga 2 pegawai yang direkrut kemudian, berkreasi.

Makna Creative berupaya merubah tatanan mainstream soal bisnis kreatif hanya dikerjakan di kantor. Selain bepergian, Makna Creative menggali inspirasi dari mana saja. Dari arsitektur yang ditemui di jalanan, karya seni, film, atau bahkan berbincang bersama teman. Perbincangan pun tak sebatas obrolan ringan, tapi juga soal politik terkini. “Kita mengerjakannya dengan santai dan riang, tapi tetap serius,” kata Keenan.

Umumnya pola kerja bisnis kreatif berjibaku tak kenal waktu. Makna Creative memiliki tradisi berbeda. Mereka menerapkan jam kerja layaknya jam kantor, mulai pukul 10 hingga pukul 6 sore. Tak ada waktu lembur, tak ada pekerjaan yang dilakukan di malam hari. 

Penerapan jam kerja itu justru bertujuan agar mereka memaksimalkan pekerjaan dan kreatifitas. “Semua pekerjaan harus selesai sebelum jam pulang. Jadi efektif. Di luar Makna, kami ada kehidupan yang harus dijalani, kehidupan keluarga dan kumpul bersama teman-teman,” kata Ernanda.

Wednesday, September 2, 2015

Koreksi Sejarah Film Indonesia (Festival Arkipel Bag II)

Pada 11 Oktober 1896, di Batavia, diputar film le scenimatographe. Film itu diputar dua kali pada hari yang sama: pukul 18.30 dan 19.30. Harga tiketnya, 1 gulden sekali menonton. Menilik dari jenis teknologi yang digunakan, le scenimatographe, pemutaran ini bisa jadi dilakukan oleh pengusaha yang juga pesulap asal Prancis, Louis Talbot.

Iklan pemutaran le scenimatographe termuat dalam surat kabar Java Bode edisi 9 Oktober 1896. Kolase iklan di surat kabar yang memuat soal masuknya teknologi sinema di Indonesia menjelang abad ke-20 itu menjadi satu dari sekian karya seni yang disuguhkan dalam pameran berjudul ''Jajahan Bergerak: Antara Fakta dan Fiksi'', di Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki, 19-29 Agustus 2015.


Sumber foto: rollingstone.co.id
Pameran yang digagas Forum Lenteng ini menjadi bagian dari program besar ''Arkipel 3rd Jakarta International Documentary & Eksperimental Film Festival''. Tahun ini Arkipel mengambil tema besar ''Grand Illusion''.

Pameran yang mengetengahkan arsip film hasil penelusuran seniman video Mahardika Yudha ini berupaya merentangkan situasi migrasi pengetahuan, sudut pandang dan ilusi melalui teknologi sinema dari negeri-negeri Eropa ke Hindia-Belanda yang terjadi pada masa awal kehadiran teknologi sinema.

Untuk diketahui, dalam buku ''Film Indonesia Bagian I (1900-1950)'' yang disusun oleh Taufik Abdullah, Misbach Yusa Biran, dan S.M. Ardan mencatat, teknologi sinema pertama kali masuk jagat Nusantara pada 1900. Itu ditandai dengan diputarnya film Intocht van H. M. De Koningin en Hertog Hendrik te Den Haag oleh perusahaan kolonial. Isinya berupa narasi gambar Ratu Wihelmina bersama Yang Mulia Hertog Hendrik ketika memasuki Kota Den Haag, 5 Desember 1900.

Sumber yang digunakan Misbach dalam meriwayatkan sejarah film semasa kolonial Belanda hingga datangnya tentara Nippon itu adalah iklan yang dimuat surat kabar Bintang Betawi terbitan 30 November 1900.

Buku garapan Misbach dan kawan-kawan itu yang kemudian menjadi rujukan utama berbagai karya ilmiah seperti skripsi, tesis dan disertasi, soal sejarah film di Indonesia, sejak diterbitkan pada 1993 oleh Dewan Film Nasional, hingga sekarang.

Hasil penelusuran Mahardika dalam pameran ini memberikan masukan penting dalam melacak mula teknologi sinema masuk ke Hindia Belanda. Sekaligus sebagai koreksi atas catatan Misbach dan kawan-kawan.

Sebab, temuannya menyebutkan teknologi sinema itu masuk ke Hindia Belanda pada 1896, atau empat sebelum pemutaran Intocht van H. M. De Koningin en Hertog Hendrik te Den Haag. Selain itu, le scenimatographe bukan dibawa oleh pemerintah kolonial atau orang Belanda, melainkan pengusaha-pengusaha asal Eropa selain Belanda dan Amerika. Mereka adalah Louis Talbot yang membawa scenimatograph, Harley yang membawa kinetoscope Edison, Meranda dengankinematograph, dan Carl Hertz asal Amerika dengan cinematographe Lumiere.

Ilusi Sejarah dalam Sinema (Festival Arkipel Bag I)

Memetakan sinema sebagai medium dalam produksi ilusi besar oleh kekuasaan. Menahbiskan Arkipel sebagai perayaan film eksperimental terbesar di Asia Tenggara.

Peluru dari bedil Kopral Herman (Bambang Hermanto) melubangi tubuh Violetta (Rima Melati). Gadis yang rindu sosok ayah itu lalu rebah bersimbah darah, di pangkuan kopral yang ia cintai. Pada malam nahas itu, patroli sedang disiagakan. Usai berdebat sengit dengan ibunya, Violetta hengkang dari rumah demi mewujudkan kemerdekaan dirinya.

Sumber foto: cinemapoetica.org
Lahir dari ibu (Fifi Young) yang memendam luka, Violetta tumbuh seperti bocah pingitan. Perlindungan berlebihan dilakukan sang Ibu demi menghindari kemungkinan anaknya dikecewakan laki-laki. Ia tidak mau Violetta menghabiskan hidup sebagai orang tua tunggal seperti dirinya.

Violetta (1964) adalah film karya sutradara Bachtiar Siagian. Film ini menjadi satu dari sejumlah film yang diputar dalam ''Arkipel 3rd Jakarta International Documentary & Eksperimental Film Festival'' yang dihela oleh Forum Lenteng. Festival yang digelar pada 22-29 Agustus 2015 lalu itu mengambil tema besar "Grand Illusion".

Tema tersebut diketengahkan untuk membaca dinamika demokrasi di Indonesia, juga situasi politik internasional pada umumnya. Derap politik, merumuskan tujuan bersama ke arah kehidupan lebih baik, yang masih diwarnai dengan berbagai persoalan kemanusiaan. ''Untuk melihat kembali posisi kita dalam hubungan sosial di mana kita hidup. Apakah ia kenyataan atau ilusi,'' kata Direktur Artisitik Arkipel, Hafiz Rancajale.

Sumber foto: arkipel.org
"Grand Illusion" terinspirasi dari judul film perang La Grande Illusion (1937) garapan master sinema asal Prancis, Jean Renoir. Gagasan film ini sendiri bermula dari buku The Great Illusion, A Study of the Relation of Military Power to National Advantage karya Norman Angel yang menyoal pertentangan kelas dan kritik kemanusiaan pada era Perang Dunia I.

Indonesia adalah salah satu bangsa dengan sejarah sosial-politik penuh ilusi. Sejumlah tragedi kemanusiaan yang melibatkan alat kekuasaan negara, meski telah diakui sebagai beban sejarah, namun belum juga diselesaikan hingga saat ini. Antara lain yang belakangan kembali menghangat adalah tragedi 1965-1966 ketika negara mendiskreditkan sebuah generasi dari ideologi politik tertentu (komunisme) dengan aksi pembantaian dan penangkapan banyak orang tidak berdosa tanpa proses persidangan. Juga memberangus karya-karya mereka.

Sejak Gerakan 30 September 1965, semua hal terkait komunisme diharamkan. Demi pelanggengan kekuasaan Orde Baru, dogma dalam sejarah yang disebarluaskan ke masyarakat amat ilusif, stigma komunisme dibangun dan didistribusikan lewat beragam media, ''Termasuk film dan media massa,'' kata Hafiz.

Di antara program-programnya, Arkipel 2015 berupaya menelusuri praktik produksi kenyataan ilusif dalam medan sosial, politik dan kebudayaan di kitaran kasus G-30-S itu. Tinjauannya pada peran negara memanfaatkan sinema dalam proyek ilusi besar itu. Sekaligus peran negara dalam memberangus dan menghancurkan karya sinema karena diidentifikasi terkait dengan aroma terlarang, meski tidak secara langsung. Contohnya, film-film karya Bachtiar Siagian.

Serupa nasib Violetta, belasan film karya Bachtiar pun berakhir tragis; dimusnahkan hingga ke akar-akarnya. Bachtiar dianggap memiliki DNA komunis karena jabatannya sebagai Ketua Lembaga Film Indonesia, organisasi yang berdiri di bawah naungan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang underbouw Partai Komunis Indonesia. Bachtiar dituduh menyebarkan ideologi Leninisme-Marxisme lewat film.

Itu sebabnya, film-film karya Bachtiar dimusnahkan. Termasuk dua filmnya yang dicurigai memberi ruang bagi presentasi realisme sosialis, yakni Turang (1957) dan Piso Surit (1960). Keduanya mengambil setting Karo dalam pergolakan revolusi kemerdekaan. Turang, misalnya, berkisah tentang perjuangan masyarakat Karo melawan Belanda. Film ini mendapat respons positif dan dinobatkan sebagai Piala Citra untuk kategori film terbaik di ajang FFI II pada 1960.

Menghubungkan karya-karya Bachtiar dengan ideologi komunisme adalah ilusi yang diciptakan kekuatan politik yang berkuasa saat itu. Sebab, mengutip ulasan hasil wawancara dengan Misbach Yusa Biran di penghujung hayat sang pengarsip film itu pada 2013 silam, sebagaimana diterbikan oleh jurnal footage, film-film Bachtiar tidak secara konsisten menggambarkan ideologi Lekra (realisme sosialis).

Menurut Misbach, mengusulkan karya Bachtiar sebagai bagian dari pembacaan sejarah film Indonesia, sebenarnya, belum tentu juga menjamin kesejajaran sejarah dua ideologi yang bertarung dalam sejarah politik Indonesia pasca-kemerdekaan kala itu.

Sejak 1930-an, perfilman Indonesia didominasi oleh film Amerika yang mengonstruksi selera penonton dengan narasi sederhana. Dibutuhkan strategi khusus jika ingin melakukan penetrasi ideologi tertentu melalui sinema. Dengan pengaruh teori montase Vsevolod Pudovkin yang bersifat konstruktif, Bachtiar menawarkan semacam teori film melalui formula ''Pil Kina Bandung''. Hal itu terlacak dalam surat menyurat Bachtiar dengan Salim Said.

Rumusan ''Pil Kina Bandung'' sederhana. Yakni, menyuguhkan gula-gula entertainment, sebagaimana pil kina yang dibungkus oleh gula putih halus untuk membangkitkan selera para penderita malaria. Bachtiar memadukan struktur sederhana naratif linear yang populis pada waktu itu dengan penokohan yang kuat dan editing ala Pudovkin, seperti yang jelas tergambar dalam Violetta.

Penjelasan teoretis semacam itu tidak berguna di hadapan proyek ilusi yang konsisten. Saat meletus G-30-S/PKI, Bachtiar ditangkap, dibuang ke Pulau Buru, dan tanpa pengadilan sama sekali. Ia baru dibebaskan pada 1977.

Violetta adalah satu-satunya film karya Bachtiar yang berhasil diselamatkan, dan menjadi koleksi Sinematek Indonesia. Meski sudah didigitalisasi, kondisi Violetta tidak bisa dibilang bagus. Ada sejumlah ''luka'' materi seluloidnya, ada adegan terpotong sekira 15 menit, dan ada upaya penyambungan materi seluloid yang janggal.

Lewat Arkipel 2015, film ini diputar kembali setelah 50 tahun penayangannya dilarang. Selain Violetta, film yang tersisa dari sutradara yang dianggap memiliki afiliasi dengan PKI adalah Si Pincang (1951) karya Kotot Sukardi. Sayangnya, kondisi fisik Si Pincang kini sudah tak layak putar.

Ilusi besar semacam itu tak hanya terjadi di Indonesia. Sejarah dunia mencatat skenario-skenario ilusi besar itu diimplementasikan di berbagai negara. Lima di antaranya disajikan sebagai film pembuka Arkipel 2015. Yaitu, Beep (2014), What Day is Today (2015), Cinza/Ashes (2014), A.D.A.M (2014), dan Killing Time(2015).

Awal Beep langsung menyengat penonton dengan cetusan seorang bocah, ''Ayah, benarkah komunis itu jahat, membunuh anak kecil seperti saya?''

Beep adalah kolaborasi footage dan newsreel bermuatan propaganda anti-komunis yang dilakukan Korea Selatan. Korea Selatan menjadikan kisah hidup Seungbok Lee, bocah 10 tahun yang diduga tewas dibunuh milisi Korea Utara demi menciptakan kebencian kolektif terhadap Korea Utara. Beep hasil produksi Kyung-Man Kim, pemuda Korea Selatan yang rajin menyunting ulang footage arsip, newsreel, dan film-film propaganda sejak 2001.

Sementara itu, What Day is Today adalah hasil kolase ciamik beragam benda seperti radio, roti, buah, dan kertas hasil garapan sekumpulan anak muda Portugal yang tergabung dalam Colectivo Fotograma 24. Penggagasnya adalah Rodolfo Pimenta dan Joana Torgal. Dengan teknik stop motion, film ini mengusung ide pergolakan antar kelas yang terjadi di Portugal sejak lama hingga hari ini.

Cinza/Ashes juga berasal dari Portugal. Film hitam-putih ini terdiri dari sekumpulan foto yang membentuk pigura sejarah bangsa Portugal era 1926-1974. Menyuguhkan potret gedung pelayanan publik seperti sekolah, pembangkit listrik, stadion sepak bola, dan kereta api yang dibangun semasa pemerintahan diktator fasis Antonio de Oliveira Salazar. Penggarapnya Micael Espinha, alumnus jurusan Penyutradaan Sekolah Teater dan Film Lisabon pada 2003 yang banyak memproduksi film dokumenter, fiksi, serial TV, dan film pendek animasi.

Lainnya, A.D.A.M, kepanjangan autonomous digital assault microbe; sebuah kode dari drone otonom untuk pertambangan asteroid. A.D.A.M menyajikan eksplorasi mata android terhadap berbagai lanskap: laut, gurun, penambangan, dan kota dengan menggunakan teknik stereocospic 3D dari foto-foto udara 2D. Eksplorasi ini terhenti karena berbagai hal, yang menggambarkan kuasa dan kontrol atas informasi dari antariksa. Film ini dibuat oleh sutradara asal Kroasia, Vladislav Knezevic.

Film terakhir, Killing Time, memilih pendekatan jenaka untuk memetakan konflik interpersonal dan multikultural antara Arab dan Israel lewat relasi dua sejoli. Film berdurasi 22 menit ini diproduksi oleh sutradara dan penulis naskah asal Israel alumnus jurusan kajian film Minshar for Art, Rafi Shor.

Tahun ini, Arkipel menyeleksi 1.200 judul film dari 80 negara. Hasilnya, ada 130 film dari 30 negara yang bertarung dalam sesi kompetisi internasional. Kriteria penilaiannya adalah bagaimana peserta mengelola nilai-nilai estetika dan berekperimentasi dengan berbagai medium dan logika, sesuai dengan tema yang diusung.


Jumlah itu jauh lebih besar dibandingkan dengan penyelanggaraan Arkipel sebelumnya. Arkipel pertama, panitia menerima sejumlah 200 film dari 30 negara, sementara pada Arkipel kedua panitia menerima 320 film dari 60 negara. Perkembangan kuantitas partisipan yang hampir empat kali lipat dan proyek film yang dibuat itu dapat dijadikan indikator untuk menahbiskan Arkipel sebagai perayaan film eksperimental terbesar di Asia Tenggara, mengalahkan "Bangkok Experimental Film Festival" dan "Kuala Lumpur Experimental Film and Video Festival".

Monday, July 27, 2015

Hilal, Keluarga dan Lebaran

MENCARI HILAL
Sutradara : Ismail Basbeth
Pemeran : Deddy Sutomo, Oka Antara, Toro Margens, Erythrina Baskoro
Produksi: MVP Pictures, Studio Denny JA, Dapur Film, Argi Film dan Mizan Productions, 2015

Dialog sosial dalam ragam konflik personal dan keagamaan. Film yang memperlihatkan ''wajah'' berbeda Ismail Basbeth.

Pertengkaran kecil di masjid seusai berbuka puasa itu menjadi klimaks dari perseteruan ayah-anak, Mahmud (Deddy Sutomo) dengan Heli (Oka Antara). Heli memilih angkat kaki. Sementara Mahmud tetap pada tujuan utama; mencari hilal dari Goa Hira yang tinggal beberapa kilometer jauhnya.

Sumber foto: twitter.com/mencarihilal
Mahmud adalah ayah berusia 60 tahun yang taat agama namun keras kepala. Sementara itu, Heli adalah anak bungsu yang kecewa lantaran ayahnya lalai menjaga ibunya hingga meninggal. Heli kemudian memilih menjadi aktivis lingkungan dan jarang pulang ketimbang tinggal bersama ayah serta kakak perempuannya.

Kembalinya Heli ke rumah bertujuan untuk meminta tolong sang kakak yang bekerja di kantor Imigrasi. Ia perlu memperpanjang paspor secepatnya demi misi lingkungan di Nikaragua. Namun permohonan itu bersyarat, sang kakak meminta Heli untuk menemani Mahmud yang sakit-sakitan dalam proyek pencarian hilal.

Mengunjungi tempat tinggi untuk mengamati hilal adalah tradisi Mahmud semasa menjadi santri. Tradisi itu hilang bersamaan dengan tutupnya pesantren. Sementara proyek pengamatan hilal yang dilakukan pemerintah menghabiskan miliaran rupiah yang justru berbuntut perpecahan di kalangan masyarakat dan ormas Islam.

Perjalanan spiritual dan muara konflik ayah-anak itu terekam dalam film Mencari Hilal (The Crescent Moon). Film ini hasil kerja bareng lima rumah produksi: MVP Pictures, Studio Denny JA, Dapur Film, Argi Film, dan Mizan Productions. Produsernya pun keroyokan, yaitu Hanung Bramantyo, Salman Aristo, Putut Widjanarko, dan Raam Punjabi. Sutradaranya adalah Ismail Basbeth, yang lewat Another Trip to The Moon tampil sebagai nominator Tiger Awards di International Film Festival Rotterdam Januari lalu.

Berbeda dari Another Trip to The Moon yang surealis dan miskin dialog, Mencari Hilal bergaya realis dengan narasi jelas dan riuh dengan dialog. Basbeth yang begitu asyik mengeksplorasi dialog personal dalam Another Trip to The Moon, kini melalui Mencari Hilal, ia memaparkan dialog sosial lewat interaksi ayah-anak, masyarakat dengan pemerintah, serta ragam wajah Islam di Nusantara berikut perdebatannya. Sementara benang merah kedua film ini adalah pencarian identitas dan kemerdekaan di tengah kuasa politik serta struktur sosial.

Plot cerita Mencari Hilal mengalir lancar atas bantuan narasi yang oke, sinematografi yang ciamik serta akting dan pengembangan karakter yang menunjukkan kerja keras para aktornya.

Film ini direncanakan tayang di bioskop-bioskop mulai 15 Juli dan menjadi film pengisi libur Lebaran. Isu ''hilal'' membuat tema film ini nyambung dengan percakapan sosial yang mengemuka saban awal Ramadan dan Syawal. Sementara pesan tentang dialog antar-anggora keluarga, telah menjadi semacam menu utama dalam konteks silaturahmi dan budaya saling maaf-memaafkan saat Lebaran.

Formulasi itu --kecuali fakta bahwa film ini punya selera humor yang terbatas-- tampaknya telah jauh-jauh hari dirancang oleh lima produser, juga untuk menangkap peluang pasar di libur Lebaran. Jika itu sukses dikemas, tujuan lain tentu akan seiring-sejalan. Indonesia adalah negeri dengan mayoritas muslim yang konsumtif. Ini tentu pasar potensial bagi produk apa saja yang islami, termasuk film.


Wednesday, June 17, 2015

Perpisahan yang Diinginkan

Entah mengapa saya selalu merasa sore di bulan puasa menjelang berbuka sebagai sore yang ramai, tapi terasa lengang, dan penuh pengharapan. Momen menjelang tenggelamnya matahari seharusnya menjadi syahdu. Lanskap jingga di cakrawala, kemudian perlahan memudar berganti pekat. Seperti kisah dua anak manusia yang harus berhadapan dengan perpisahan. Mengharukan tapi penuh ketidakrelaan.

Lantas lanskap kesyahduan itu mendadak hilang dengan berbondong-bondongnya orang keluar dari persemayaman. Keluar dari rumah demi apa saja. Berburu makanan pembuka, menghabiskan waktu dan menunggu saat berbuka sambil menikmati senja. Rasa lengang muncul menjadi imaji ketika tubuh sempoyongan, energi yg terisi ketika sahur tengah melewati limit-limit penghabisan.

Seperti sore ini. Sejatinya puasa baru dimulai esok hari, tapi sore ini saya merasa seperti sore menunggu beduk bertalu. Jalan Pasar Minggu yang ramai tiap menjelang petang. Kelakuan manusia di ibukota yang tiap hari selalu serupa, pagi berangkat ke hilir dan sore kembali ke udik. Sore yang ramai, tapi terasa lengang dan penuh pengharapan.

Namun lengang tak selalu muram. Bahkan kelengangan kali ini tanpa kemuraman sama sekali. Hanya kosong. Seperti perpisahan yang seharusnya. Perpisahan yang bisa jadi mengharukan, tapi diinginkan. Perpisahan penuh pengharapan akan hal-hal lain.



Kalibata – Bundaran HI, 17 Juni 2015

Friday, May 29, 2015

Astronot Datang Pagi Ini

Ia selalu datang di pagi hari dengan dengung tajam dan kencang. Layaknya astronot, ia mengenakan kostum khusus yang membungkus sekujur tubuhnya. Astronot mengenakan penutup kepala berlapis kaca pada bagian depan. Begitu pula ia. Lewat lapisan bening itu matanya nanar memantau dunia luar.

Jika mendengar dengungannya, suara yang kencang itu terasa dekat, tapi sebetulnya masih amat jauh. Tambah kencang dengungannya tambah pendek jaraknya dengan kita. 

Aku selalu takut mendengar dengungan itu. Seperti bunyi sangkakala yang ditiup Izrail untuk memporak-porandakan semesta. Ketika bunyi itu datang, langit akan runtuh, gunung-gemunung menyemburkan lahar panasnya dan laut menggoyangkan seluruh isinya. Bumi terbalik dan musnahlah peradaban seluruh umat manusia.

Pagi ini Izrail datang lagi. Maaf, bukan Izrail, tapi astronot itu. Dari ujung gang, dengungannya santer terdengar. Beberapa pengikut--barangkali ajudan--mengekorinya di belakang. Mereka masuk ke tiap-tiap rumah kemudian menghujaninya dengan rentetan tembakan. Tembakan itu tak memiliki umpan, melainkan asap beracun yang dalam sekejap membumbung ke angkasa. 

Orang-orang berhamburan keluar rumah. Tua, muda, berikut binatang piaraan yang harus segera diselamatkan sebelum tergolek lemas tak berdaya. Mereka menuju tempat terbuka di mana banyak udara segar yang belum terkontaminasi--harta paling berharga di dunia-- meski tak pernah ada udara yang benar-benar segar di ibukota. Mereka menggunakan benda-benda demi menghindari asap yang siap meruntuhkan pertahanan: menghancurkan paru-paru dan memecahkan batok kepala. Baju, handuk, selimut, atau apa saja yang pertama kali tampak di mata mereka.  

Kelinci-kelinci piaraanku menjadi korban astronot beberapa tahun lalu. Namanya Britney dan Inal. Waktu itu aku masih tinggal di Jogja dan malam sebelumnya aku tak pulang ke asrama. Seorang teman menyelamatkan keduanya dari serbuan asap beracun. Begitu saya datang siang hari, saya melihat kandang itu sudah beralih ke halaman yang dipenuhi rerumputan. Britney selamat dari terjangan asap beracun, tapi tidak dari panasnya matahari. Tubuhnya tergolek di dalam kandang dengan napas kembang kempis. Beruntung Inal meminta keluar kandang ketika dipindahkan. Tubuh Inal juga lebih kuat ketimbang Britney. Bulu-bulu panjangnya bermekaran ketika ia berlompatan menyambut kedatangan saya.

Sore itu saya dan Inal, juga teman-teman seasrama, berduka menyaksikan napas terakhir Britney. Menjelang petang kami menguburnya di halaman belakang. 


*****


Pada penghujung 2008 saya pindah kos ke Demangan. Wilayah itu lebih dekat dengan kampus, tak sampai 15 menit berjalan kaki. Uniknya, akses masuk ke kos baru itu hanya melewati lorong kecil berliku kemudian mentok di satu pintu seperti gang buntu. Pintu itu yang mempertemukan penghuni kos dengan dunia luar. Pintu itu selalu kami kunci dan setiap penghuni kos memiliki kuncinya. Tak sembarang orang bisa melewatinya.

Pagi itu astronot datang ke kos kami. Sebagai penghuni yang kamarnya paling dekat dengan pintu masuk, saya memberanikan diri membuka kunci. Teman-teman kos yang mulanya bersembunyi di balik pintu kamar, menyembul pelan-pelan begitu mendengar saya keluar kamar. Mereka berdiri tegak dengan wajah cemas. Dengungan astronot kencang, tapi tampaknya ia masih di ujung gang.

Tentu tak butuh berjam-jam untuk astronot itu sampai ke depan pintu kos kami. Dengungan kencang yang kian mendekat, dan asap beracun yang menembus melalui celah pintu menyiutkan nyali saya. Alih-alih memasukan kunci ke lubangnya, saya malah terbirit ngungsi ke kamar paling ujung, diikuti teman-teman yang bersembunyi di kamar masing-masing.     

Tapi toh astronot itu berhasil masuk juga. Bapak pemilik kos mempersilakannya dan didampingi Pak RW. Aroma asap beracun menyebar dalam sekejap. Kami menahan napas sambil harap-harap cemas. 


*****

Jakarta membuatku berdamai dengan kenyataan, juga dengan astronot itu. Setidaknya aku mencoba jalan itu. Akan seperti apa jadinya kita jika terus-menerus takut padanya. 

Pagi itu ketika ia datang, saya mencoba mengajaknya berdialog. Orang-orang telah lebih dulu berhamburan memenuhi jalanan. Tapi sungguh sial. Alih-alih menerima sambutan saya dengan tangan terbuka, astronot itu malah menyemburkan asap persis ke muka saya ketika saya menuju pintu gerbang--hal yang bahkan tak pernah dilakukan oleh astronot-astronot di kota pelajar. Ah, dasar Jakarta! 

Meski dengungannya menyiksa, astronot di Jogja masih memiliki etika. Ia tak pernah menyemprotkan asapnya langsung ke manusia. Ia mengisi rumah-rumah dengan asap tapi tak pernah membidiknya langsung ke manusia. 

Apa lagi yang bisa kulakukan selain menghindar dari serbuan asap dan bergabung dengan orang-orang yang telah lebih dulu berhamburan ke jalan.

Aku mengaku kalah, kami memang kalah. Astronot berhasil menguasai tempat tinggal kami dan menandainya dengan semburan asap beracun.


*****

Kali lain saya tak ingin berdamai dengannya. Tidak juga menantang. Namun bukan menyerah kalah. Hidup kami berjalan paralel. Aku dengan kehidupanku, astronot dengan dukungan Pak RT dan orang-orang kelurahan. 

Pagi ini dengungan astronot datang bersamaan dengan niat saya ke kamar mandi. Ia melewati pintu gerbang kos dan saya melewati pintu kamar mandi. Saya menutup pintu dan menyadari bahwa kamar mandi bisa menjadi ruang pertahanan yang amat nyaman.


Sumber Foto: http://www.antarafoto.com/peristiwa/v1276337705/cegah-dbd

Sunday, January 19, 2014

sepi

Sepi ini terbuat dari kenangan dan sorot matamu beberapa malam lalu.

Monday, December 2, 2013

Mashadi: Ini Pengkhianatan yang Tak Bisa Dimaafkan*

Saat kini korupsi menjerat Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaaq, Mashadi kecewa berat. "Saya tidak terima," katanya kepada reporter Gatra Hayati Nupus dan pewarta foto Karvarino dalam perbincangan di rumahnya, Kelapa Dua, Depok, Senin malam lalu.

Dalam diskusi "Parpol Islam: Solusi atau Masalah" di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Rabu pekan lalu, Mashadi, deklarator Partai Keadilan (PK), embrio Partai Keadilan Sejahtera (PKS), meminta PKS membubarkan diri, meminta maaf kepada publik, dan mengembalikan aset. Saat jadi anggota DPR 1999-2004 dari PK, Mashadi dikenal sederhana. Aktivis kelahiran Bojonegoro, Jawa Timur, 12 November 1953, ini pernah menjadi sekretaris pribadi Mohamad Roem, mantan Wakil Perdana Menteri dan Wakil Ketua II Masyumi.

"Yang saya pelajari dari tokoh Masyumi adalah komitmen perjuangan dan kesederhanaan," ujar Mashadi, 60 tahun, kepada sebuah media. Saat PK berubah jadi PKS, Mashadi menolak jadi caleg karena memandang PKS cenderung pragmatis secara politik. Bersama tujuh tokoh dakwah, lima tahun silam, Mashadi pernah mengingatkan langsung KH Hilmi Aminuddin, Ketua Majelis Syuro PKS, agar transparan mengelola dana partai.

Saat kini korupsi menjerat Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaaq, Mashadi kecewa berat. "Saya tidak terima," katanya kepada reporter Gatra Hayati Nupus dan pewarta foto Karvarino dalam perbincangan di rumahnya, Kelapa Dua, Depok, Senin malam lalu. Ia melihat kasus ini merupakan buntut kepemimpinan PKS yang permisif. Serba-boleh. Berikut petikannya:

Bagaimana Anda melihat kasus Luthfi?

Ini anomali yang tidak bisa dimengerti. Sebuah entitas politik yang berasal dari kegiatan dakwah berubah karakter, perilaku politik, dan visi-misinya. Sekarang bukan saja melakukan pragmatisme politik, melainkan juga melakukan pelanggaran terhadap asas. Bukan hanya melanggar hukum, melainkan juga pelanggaran doktrin gerakan.

Ketika awal membangun partai, kami memiliki komitmen memperbaiki keadaan, menjadi antitesis kondisi sebelumnya. Kami ingin mengakhiri Orde Baru yang korup dan otoritarian. Pimpinan PKS saat ini berkhianat terhadap cita-cita awal. Pengkhianatan yang tidak bisa dimaafkan. Akan jadi beban sejarah umat Islam yang tidak pernah bisa dihapus. Nanti anak-cucu kita membaca buku sejarah sebuah partai yang presidennya terlibat korupsi.


Setujukah Anda pada hipotesis bahwa ini skenario lawan politik atau lebih akibat perilaku elite partai?

Ini bukan intervensi, bukan skenario atau konspirasi dari luar. Ini murni dari internal elite partai. Sejak PK berubah menjadi PKS, 2004, tampak perubahan perilaku politik elite PKS. Bukan hanya pragmatisme politik, melainkan lebih menunjukkan sikap sangat permisif. Serba-menggampangkan. Serba-boleh.

Tidak lagi menggunakan parameter syar'i atau prinsip Islam yang menjadi dasar gerakan. Termasuk menjadi partai terbuka, ikut dalam koalisi pemerintahan SBY. Prinsip dasar kami berpolitik kan amar makruf nahi mungkar. Tapi, selama ikut dalam pemerintahan SBY, PKS lebih menjadi stempel karet terhadap kekuasaan dengan imbalan jabatan dalam kabinet.

Anda termasuk salah satu tokoh yang pernah memperingatkan Hilmi Aminuddin secara internal sejak dini?

Ya. Peringatan pada internal elite PKS itu sudah dengan berbagai cara. Termasuk bertemu Ustad Hilmi. Maret 2008, kami bertujuh mendatangi Ustad Hilmi di Bandung. Selain saya, ada Pak Didin Hafidhuddin, Ihsan Tanjung dan istri, Tizar Zein, Daud Rasyid, dan Bu Aisyah Nurmi. Ada satu staf kami minta meninggalkan ruangan, menjaga supaya Ustad Hilmi jangan malu.

Kami menyampaikan pokok-pokok pikiran tentang adanya hal yang menyimpang. Otokritik untuk memperbaiki kebijakan. Tapi Ustad Hilmi tidak begitu suka pada kritik, nasihat, atau saran teman-teman. Tidak mengapresiasi. Bahkan kami yang dalam posisi mengingatkan itu disingkirkan dari partai.

Ada tujuh hal pokok yang kami ingatkan. Antara lain sikap kurang hati-hati terhadap maal (harta). Tidak ada transparansi pengelolaan dana partai. Tidak ada kejelasan antara uang umat dan uang pribadi. Kemudian soal jabatan mutlak ketua majelis syuro. Dalam anggaran dasar, jabatan ketua majelis syuro dibatasi dua periode. Tapi klausul itu dihapus. Ustad Hilmi menjadi pemimpin partai seumur hidup.

Saya tahu betul seperti apa kehidupan Hilmi waktu pertama pindah ke Jakarta dari Madinah tahun 1978. Ia ngontrak rumah di Gang Melati, Tanah Abang. Kontrakannya hanya berlantai tanah. Sekarang rumahnya di Lembang, Bandung Barat, sangat mewah.

Respons Ustad Hilmi bagaimana?

Diam saja. Tidak berkomentar apa-apa. Tapi auranya menampakkan tidak nyaman dengan kedatangan kami.

Banyak orang yang bilang, kasus sekarang akibat Luthfi yang salah gaul dengan Fathanah.

Itu pencetus saja. Faktor utama, karena ketidakhati-hatian. Hilmi sebagai pimpinan tertinggi partai dan jamaah sangat longgar dan kurang hati-hati. Bukan hanya kasus ini, saya kira nanti akan banyak kalau dibuka KPK. Ada transaksi politik dalam pilkada dan sebagainya.

Pilkada di mana saja?

Banyak. Semuanyalah. DKI, Sumatera Selatan, Bengkulu, Sumatera Utara. Hampir pasti ada transaksi. Tapi itu tidak pernah secara transparan dilaporkan ke partai. Hanya orang-orang terbatas yang tahu. Mereka juga membuat pembukuan ganda. Ada yang sifatnya terbatas, hanya beberapa orang yang tahu, ada yang bisa dilihat publik.

Diprediksi akan muncul tersangka baru dari elite PKS. Apa saran Anda untuk pembenahan?

Hanya ada dua pilihan. Pertama, orang-orang yang sekarang diperiksa KPK, baik statusnya tersangka maupun saksi, sebaiknya secara elegan mengundurkan diri. Hilmi sebagai ketua majelis syuro, Anis Matta sebagai presiden partai, bendaharanya juga, Mahfuz Abdurrahman. Itu opsi paling ringan. Tapi, menurut saya, partai ini sudah tidak bisa diselamatkan. Pilihan paling baik, membubarkan diri dan kembali pada gerakan dakwah.

Satu dekade ini menunjukkan, justru orang-orang yang memimpin partai tidak memiliki kematangan. Justru mereka menjadi sumber masalah. Bukan pelanggaran ringan. Ini menyimpang dari doktrin dasar. Menjadi partai terbuka dengan segala implikasinya, menjadi sangat pragmatis dan melakukan tindakan yang sangat tidak bisa dimaafkan, terlibat korupsi. Yang melakukan ini bukan anggota, melainkan ikon partai.

Solusinya?

Pilihan paling baik membubarkan diri, kembali pada gerakan dakwah, sambil terus melakukan otokritik, muhasabah kesalahan selama 10 tahun, supaya menjadi catatan sejarah untuk keturunan kita. Bukan hanya berpikir untuk sekarang. Jadi, ada gerakan dakwah, sebuah partai Islam, melakukan kesalahan, kemudian menyadari kesalahan itu, dan berani membuat keputusan membubarkan diri. Itu akan lebih baik dan memberikan pelajaran sangat berharga kepada bangsa. Gerakan Ikwan di Mesir saja perlu waktu 100 tahun untuk seperti sekarang ini. Itu terus berada di posisi tak pernah berkompromi pada kekuasaan.

Suara Anda tampak berbeda dari arus umum politisi PKS.

Kami tidak main-main waktu menjatuhkan Soeharto. Saya juga ikut demo, mengerahkan ribuan massa. Ditembaki tentara. Kami ingin melihat kehidupan lebih baik, membentuk good government. Bersih dari KKN. Kami merasakan akibat KKN selama pemerintahan Soeharto. Tapi, kok sekarang justru kami terlibat di situ. Sekarang kami dikhianati orang-orang yang berada di puncak, yang memimpin partai. Saya tidak bisa terima atas apa yang terjadi sekarang!

Partai ini didirikan di Masjid Al-Azhar. Dari pendukung awal hanya 50.000 menjadi 7 juta. Sekarang mereka tidak berani mengambil pilihan. Bersikap dengan pilihannya yang sombong, menuduh KPK melakukan konspirasi. Ke internal, mereka membuat exit plan supaya tetap solid dengan mengatakan bahwa ini upaya dari luar untuk pembusukan partai. Tindakan elite partai sekarang ini melawan arus dan sangat tidak rasional.

Bagaimana kondisi internal PKS saat ini?

Kader PKS itu kan terdidik. Mereka direkrut sebagian besar dulu mahasiswa yang memiliki sikap kritis, intelektualitas tinggi, terbiasa dengan kehidupan kampus yang punya idealisme. Tiba-tiba dihadapkan pada situasi sekarang. Mereka sangat confused. Sekarang mereka tidak lagi memiliki kebanggaan, harga diri, dan martabat. Sekarang mereka sulit bicara kepada publik. Apa yang mereka mau katakan dengan fakta yang ada sekarang.

Tapi sebagian elite PKS tetap mempertahankan hegemoni mereka pada kader supaya satu suara dengan mengatakan ini konspirasi. Upaya lawan politik menjatuhkan PKS. Kan, tidak mungkin ini tiba-tiba terjadi. Dengan Deptan (Kementerian Pertanian) saja sudah dua periode dipegang PKS. Bisa dilihat sendiri, apa progress selama dua periode dipegang PKS, terhadap petani, sektor pertanian secara keseluruhan? Nothing!


*Dipublikasikan di Majalah Gatra 30 tahun 19 tanggal  1 Juni 2013

Thursday, February 28, 2013

Stranger

Semacam cerita yang ingin kita rangkai bersama, namun ternyata kita tak memiliki kata-kata.

Dilarang Ngomong Sembarangan!

Lokasi Jl Duren Tiga Selatan, Kalibata, Jakarta Selatan

Monday, February 4, 2013

“Saya Kan Masih Lajang!”


Beberapa waktu lalu, saya liputan ke Bumi Perkemahan (Bumper) Cibubur. Demi mempermudah proses liputan, saya naik ojek. Ia satu-satunya ojek yang saya temukan tak jauh dari lokasi Bumper. Tanpa pikir panjang dan tawar-menawar harga, saya menaiki motornya. “Keliling Cibubur, Pak,” kata saya.

Sumber gambar: iwok.blogspot.com
Sepeda motor matic dengan merek M*o itu pun membawa saya memasuki Bumper. Rupanya tukang ojek itu cukup dikenal di wilayah Bumper tersebut. Beberapa petugas di gerbang masuk menyapanya. Cukup menunjukan kartu sakti, saya pun masuk tanpa membawar retribusi. Begitu pula dengan ojek itu. Karena kerap membawa masuk penumpang, tak juga berlaku retribusi ataupun ongkos parkir.

Usia tukang ojek ini masih muda, sepertinya tak terpaut jauh dari usiaku. Posturnya yang gemuk tambah kelihatan jumbo dengan kaos warna cream dan celana pendek dengan warna senada yang ia kenakan. Paduan warna kostumnya pun senada dengan warna kulitnya yang cenderung gelap.

“Habis ini kemana, Mbak?” tanyanya.

“Yang belum sebelah mana ya?”

Mendengar jawaban saya, ia menduga-duga siapa saya dan apa tujuan berkeliling ini. Tebakannya benar, saya memang sedang menelusuri soal tanah Bumper yang akan dialihfungsikan menjadi mall. Tanah tersebut ternyata berada di Taman Wiladatika, persis di depan Cibubur Junction.


Tukang ojek kemudian membantu saya menelusuri wilayah itu dan menemukan beberapa narasumber yang harus saya tanya. Sebagai orang lokal, pengetahuan dan relasinya sangat membantu proses reportase saya.


Selepas wawancara, ia mengantar saya hingga angkot terdekat. Lokasi Cibubur-Kalibata yang cukup jauh tak memungkinkan saya untuk terus ngojek sampai depan pintu kos. Bisa-bisa masuk angin nanti. Sebelum pergi, tukang ojek itu menawarkan diri jika sewaktu-waktu dibutuhkan. “Saya kan masih lajang,” katanya tanpa perlu saya Tanya.

“Oh ya, makasih ya,” saya basa-basi sambil ngeloyor pergi.

“Ini nomor hape saya,” katanya. Saya pun urung pergi. Saya ketik nomornya sambil pura-pura menyimpannya di phonebook. Saya pikir, tak setahun sekali juga saya kesini. “Kalau perlu, tinggal kontak saya aja. Saya bisa kapan aja kok. Saya kan masih lajang,” katanya. Entah berapa kali ia mengucapkan kalimat terakhir itu.

Lagi-lagi saya urung pergi ketika ia kembali melontarkan tawarannya, sambil mengucap kalimat yang sama. Dengan tersenyum, saya pamit pergi, sambil menduga-duga maksud kalimat berulang-ulang itu. “Saya kan masih lajang!” 

Wednesday, January 2, 2013

Tentang Hujan



pecinan, kota tua, jembatan kota intan
ada yang tidak sempat kita pikirkan hingga malam terlewati. tentang hujan
yang jatuh ke rambutku, juga matamu yang segaris
ia bisa tiba-tiba datang dan tiba-tiba pergi
hingga lampulampu meredup, pedagang kaki lima juga pelacur beranjak
pulang
lalu kita sadar tak lagi menatap langit yang sama

Monday, December 31, 2012

Tahun Baru

Tahun baru.
Petasan, jagung bakar, kembang api.

Sudah sampai di manakah impian?

Sunday, December 30, 2012

Kabut di Kedalaman Matamu

Aku menemukan kabut di kedalaman matamu. Dingin dan muram. Kucoba menghapus kabut itu, namun ia berubah menjadi hujan deras dan membadai. Dan kamu menghilang di tengah hujan.

Friday, October 12, 2012

Pengemis-pengemis Jembatan Salemba UI

Hampir di setiap sudut jalanan Jakarta ada pengemis. Itu pasti. Kali ini saya memotret pengemis di jembatan Salemba UI pada sisi sebelah timur. Ada dua pengemis di sana, di tangga dan di pelataran tangga. 

Pengemis yang berada di pelataran tangga ini tampak seperti bertangan buntung. Tapi sepertinya tidak, sebelah tangannya ia masukan ke dalam baju. Ia memakai topi hingga menutupi sebagian besar mukanya. 

Pada foto ini, ia tampak sedikit tegak. Orang yang mengenalnya bisa jadi tahu siapa ia. Tak mudah saya memperoleh foto ini. Ketika saya foto, ia selalu berusaha menunduk. Barangkali agar wajahnya tak dikenali. Ah, peduli apa, saya pun tak kenal dia.

Saya memang tak begitu suka pengemis. Tapi barangkali ia tak punya pilihan atau apapun maka menjadi pengemis. 








Entah mengapa pengemis tua ini bertelanjang dada. Kondisinya lebih memprihatinkan ketimbang pengemis gadungan di atas. Apalagi ia juga sudah lanjut usia.

Ini dia wajah sang bapak tua pengemis....


 
Sedikit out of context, saya tambahkan suasana di atas jembatan....

Thursday, October 11, 2012

Pada Perhentian Stasiun

Dari Yogyakarta, Senin kemarin saya kembali ke Jakarta dengan Kereta Bogowonto. Dijadwalkan pukul 7.30, kereta ekonomi AC ini berangkat pukul 8. Kereta yang cukup nyaman dengan harga murah-meriah, hanya Rp140.000 saja. 

Seperti biasa, setiap ada pergantian penggunaan jalur, salah satu kereta harus mengalah. Keretaku berhenti di Stasiun Linggapura, sekitaran Tegal. Bagi beberapa orang, perhentian ini memuakkan. Perhentian artinya penundaan jadwal sampai. Tapi bagi saya, perhentian artinya foto-foto. Apalagi kalau pemandangan di sekitar stasiun itu menarik.

Kebetulan, Stasiun Linggapura dikelilingi pegunungan dan lahan terbuka. Pak Agus, Security kereta sempat menyebutkan nama beberapa bukit. Tapi saya lupa nama bukit itu :D :D...
Diantara pegunungan yang saya lupa namanya itu, ada cerita menarik. Jadi di gunung itu tinggal beberapa warga. Kata Pak Agus, ada sekitar 4 rumah di sana. Mereka tinggal jauh dari puncak kok. Anak-anak mereka tidak sekolah dan tidak juga bergaul dengan anak-anak di kaki gunung. Kebutuhan sehari-hari mereka peroleh dari ladang. Kadang-kadang mereka turun gunung untuk menjual hasil kebun dan membeli berbagai kebutuhan. Konon, mereka sama seperti warga kaki gunung, menggunakan aneka barang yang sama untuk kebutuhan sehari-hari. Misalnya minyak goreng. Padahal minyak goreng diperoleh dari hasil olahan yang tidak sederhana. Jadi katanya warga gunung ini dulunya warga kaki gunung juga. Entah apa penyebabnya mereka tinggal di sana.
 
Yup. Kereta melaju melewati persawahan dan pegunungan. eh, ada jembatan juga di ujung sana. Saya selalu menyukai alam terbuka. Persawahan, pegunungan; cakrawala. Ada kebahagiaan tersendiri ketika saya menyaksikannya.