Tuesday, August 31, 2010

RISALAH MELUPAKAN

Apakah melupakan?

Seperti lokomotif. Bergerak meninggalkan rel yg semakin jauh semakin linear, dan akhirnya tak tampak sama sekali.

SepertI perjalanan. Bergerak cepat melewati pohon demi pohon, rumah demi rumah, desa dan kota, lantas sampai pada tujuan di mana sebuah cahaya menanti.

Sunday, August 8, 2010

080810

Di sini waktu menjadi beku
Angin selatan diam tak bergerak;
berhenti menerjemahkan katakata.
Sepasang elang terbang rendah di atas kepala
Berputar dan tanpa haluan

O, bukankah desir darah seharusnya bergejolak,
dari sekerlingan mata yang menyala?

Monday, July 26, 2010

HUJAN

Kau tahu, aku paling suka hujan. Rinainya jatuh satu-persatu dan membentuk genangan-genangan kecil di tanah . Rinai itulah yang menciptakan gelembung-gelembung oksigen berterbangan, kemudian terhirup masuk ke dadaku, dan menyegarkan nafas. Semua terasa sangat indah. Dan pada genangan air itu, samar-samar, aku melihat wajahmu.

LELAKON #1

Aku menemukannya. Di sudut lapangan yang rerumputannya sudah hampir mengering. Ia tertelungkup diam membisu. Pohon-pohon pinus di sisi lapangan berdiri tegak kaku. Semesta memberi kami kebekuan yang pekat.

Kudekati ia. Aku bahkan tak tahu apakah ia mengenalku sebagai perempuannya atau tidak. Dari sudut matanya, kulihat ia masih menyimpan kenangan. Juga rindu-dendam dari sebuah episode yang mengekalkan peristiwa menjadi sebuah rasa. Bukankah semuanya sudah jelas, bahwa cinta tercipta justru untuk menyatukan? Dan dendam bukanlah jawaban atas ketidakmengertian.

Sehelai daun kering jatuh ke tanah.

Kuulurkan tangan hendak menghapus air matanya. Rupanya ada selaput yang membatasi, tipis namun tak juga bisa kutembus. Jangankan untuk menyentuhnya, mendengarkan suaranya saja tak bisa. Lalu suaraku, juga suaranya, merayap bersama angin, pergi dan pergi jauh tak tersampaikan. Detik demi detik berlalu dalam diam.

Sesosok pelukis menyemburatkan warna lembayung di ujung langit sebelah timur. Sedang ia masih juga terdiam kebingungan.

Senja sudah hampir habis, Sayang. Nanti kau terlambat menemukan jalan pulang. Aku ingin mengantarmu sampai pintu pagar. Tidak. Bukan pintu pagar, tapi pintu dan kedalaman hatimu. Meski di kejauhan sana, di balik warna langit yang keemasan, sependar cahaya menungguku dengan sabar.

SUATU MALAM DI KOTAMU

Angin dingin mengantarkan sisa
embun kemarin. Juga rangkaian cerita
Tentang penyair yang membacakan puisipuisi di bangku taman
Kotamu. Tapi kini kau tak ada.

DIAM

Seribu benci

Seribu cinta

Seribu dendam

Seribu iba


Apakah aku akan terus diam saja?

KENANGAN

Ingatkah kau, sebuah kenangan pernah kau simpan dalam kotak kecil di sudut hatimu. Masihkah ia berada pada tempatnya? Atau telah lapuk dimakan waktu?


Bukankah cinta adalah dinamika kehidupan. Ia datang dan pergi pada waktunya. Datang dan pergi sebab begitulah siklusmu tertakdirkan.


Bagaimana dengan luka yang kugores dulu dengan tanganku sendiri itu? Masihkah berbekas? Apakah hilang bersama sentuhan beribu angin? Atau justru malah semakin melebar dan bernanah?


Aku tak tahu bagaimana caranya melihat rupamu. Memastikan kotak kecil itu masih berada pada tempatnya dan meneliti lukamu.


Ah, aku sungguh tak tahu.

Monday, March 8, 2010

Seratus Hari (Belum) Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Kabinet Indonesia Bersatu jilid dua telah melewati masa 100 hari kepemimpinan. Meski tak pernah ada dalam hukum mana pun di Indonesia, momentum 100 hari dijadikan barometer awal untuk mengukur sejauh mana kesuksesan kabinet yang belum lama dilantik pimpinan Susilo Bambang Yudhoyono ini.

Sejumlah kebijakan telah dicanangkan pada minggu pertama November 2009. Khusus untuk kebijakan pendidikan, Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh mencanangkan delapan program kerja. Program kerja tersebut antara lain adalah penyediaan internet secara massal di sekolah, penguatan kemampuan kepala dan pengawas sekolah, pemberian beasiswa perguruan tinggi negeri (PTN) untuk siswa SMA/SMK/MA kurang mampu, penyusunan kebijakan khusus bagi para guru yang bertugas di daerah terdepan dan terpencil, penyusunan dan penyempurnaan Rencana Strategis (Renstra) 2010-2014, pengembangan budaya dan karakter bangsa, pengembangan metodologi belajar-mengajar, serta membuat roadmap sinergisitas lembaga pendidikan (Depdiknas-Depag) dengan para pengguna lulusan untuk mengatasi masalah ketenagakerjaan. Harapan awal, program-program ini akan menjadi pijakan pertama untuk menuju kebijakan pendidikan selanjutnya. Lantas yang menjadi pertanyaan kemudian adalah sejauh mana kesuksesan program-program tersebut setelah melewati masa 100 hari?

Menilik kedelapan program satu-persatu, tampak bahwa tiga program pertama adalah kebijakan lama dengan wajah baru. Penyediaan internet secara massal di sekolah, penguatan kemampuan kepala dan pengawas sekolah serta pemberian beasiswa perguruan tinggi negeri (PTN) untuk siswa SMA/SMK/MA kurang mampu merupakan program kerja yang pernah dicanangkan kabinet sebelumnya. Sedang lima program lainnya masih menunggu kejelasan capaiannya, untuk tidak mengatakan belum berhasil.

Program penyediaan internet secara massal di 17.000 sekolah sebetulnya adalah program yang terkesan dipaksakan. Program yang mengeluarkan dana besar ini tak hanya membutuhkan sarana pendukung seperti komputer, tapi juga membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan penggunaan teknologi.

Bukan rahasia lagi bila faktanya masih banyak guru di daerah yang bahkan tak menguasai keahlian komputer. Apa jadinya bila internet dipasang sementara penggunanya bingung untuk menggerakkan mouse? Untuk program yang satu ini, harapannya adalah program ini tidak menjadi mubazir dengan menyaksikan komputer dan internet hanya menjadi barang pajangan di sekolah. Kebijakan itu perlu diimbangi pelatihan bagi guru-guru.

Apapun kebijakannya, implementasi memang selalu jauh panggang dari api. Pada intinya, kedelapan program ini belum menjawab persoalan sesuai dengan tujuan pendidikan yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Masa 100 hari kepemimpinan justeru diramaikan oleh mencuatnya kasus-kasus besar seperti Pansus hak angket aliran dana Bank Century dan konflik polisi vs KPK. Fokus pemerintah menjadi terpecah antara melaksanakan program seratus hari dengan menangani kasus-kasus yang terjadi.

Seratus hari memang terhitung waktu yang singkat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun seratus hari juga bisa menunjukkan sejauh mana keseriusan dan niat pemerintah menyelesaikan persoalan bangsa.

Demangan, 13 Februari 2010

Monday, February 15, 2010

Air Mata Perpisahan




Sore ini menjadi sore yang basah. Bukan karena hujan, tapi karena ucapan selamat tinggal.

Tuesday, February 2, 2010

Opera Prolog Cerpen

Berikut prolog cerpen yang saya buat pada 7 November 2010 di kamar kos seorang kawan di bilangan Mrican Yogyakarta. Idenya terpikir hanya selintas.

-------------------------------------------------------------------------------
Aku tak juga menangis sampai seminggu setelah kepergiannya. Jangankan menangis, menitikkan air mata saja tidak. Barangkali benar yang mereka bilang, aku, perempuan yang tak pernah bisa menangis.

Sehelai daun jatuh terbuai angin. Menyebarkan aroma sisa hujan semalam dan luruh mengenai mukaku, lantas jatuh ke tanah. Ada warna bening kemilau di bawah mataku. Bukan air mata, tapi embun sisa hujan yang menetes di kelopak mata.

Kadang aku mempertanyakan, sebenarnya terbuat dari bahan apa hatiku.
-------------------------------------------------------------------------------

Meski tak selesai, prolog cerpen ini saya simpan di laptopnya. Beberapa hari berikutnya, saat saya kembali berkunjung dan membuka laptopnya, juga membuka file-file titipan saya, ada tambahan tulisan yang lebih tepat disebut komentar. Berikut komentarnya.

-------------------------------------------------------------------------------
(jika tak mau menangis mengapa harus dipaksa, ketidakberdayaan tidak hanya dapat dilihat dari tangisan)
-------------------------------------------------------------------------------

Well, kalian boleh tertawa setelah ini. Tabik!

Wednesday, August 26, 2009

Di Batas Kenangan

Adakah kau tanya sampai di mana batas kenangan?
Menyusuri lorong tua yang tak sempat kita beri nama. Kau kais
sisa kata-kata di antara remeh temeh
kehidupan.

Dulu, sewaktu langit masih biru, kau simpan
kenangan itu
dalam kotak kecil
di sudut hatimu.


Dwi Prama, 22 Juli 2009

Wednesday, November 5, 2008

; Buat Seorang Kawan

Mari kita diskusikan perihal apa dan mengapa. Biarkan
tema-tema itu berputar
dan mengantarkan kita membentuk
sebuah cerita. Lakon lama yang kita dekonstruksi
dengan karakter kita sendiri. Versi kita sendiri.