Thursday, November 3, 2011

Hari Ini Belajar Bertani

Pagi itu Ngatemi bergegas. Rambut panjang yang ia kepang sampai sepinggang melambai-lambai mengikuti langkah kakinya. Perempuan asal Butuh Kulon itu berjalan kaki menuju Pesanggrahan, tempat wisata bekas pesanggrahan sultan kraton Surakarta yang terletak di bagian atas desa. Hari itu Sabtu 24 September 2011. Menurut informasi yang ia dapat, pada hari itu akan ada Pelatihan Pertanian Holtikultura Organik yang diadakan kader desanya bersama Yayasan Lestari Indonesia-PLAN Indonesia. Ngatemi ingin sekali belajar bertani, terutama pertanian holtikultura organik.

Angin dingin Lereng Merapi berdesir pelan. Matahari belum terlalu tinggi. Jarum jam belum juga menunjukkan pukul 08.30 WIB. Sampai di aula Pesanggrahan, ia mendapati beberapa panitia sedang mempersiapkan tempat pelatihan; menyapu dedaunan gugur, menggelar tikar dan mempersiapkan alat tulis. Di bawah Pesanggrahan sebelah timur, dengan jarak sekitar 50 meter, ia lihat Riyanto, warga Petung yang juga ketua kader desanya sedang mempersiapkan demplot. Rupanya demplot itu akan digunakan untuk praktek menanam.

Tak berapa lama, peserta lain pun datang. Pukul 09.00 WIB acara dibuka dan Kepala Desa Sidorejo, Suroso, memberikan sambutan. Dua orang pemateri siap berbagi ilmu. Keduanya berasal dari Desa Sidorejo.

Materi pertama diisi oleh Sukiman, praktisi pertanian asal Dukuh Mbangan, Sidorejo, yang juga koordinator radio komunitas Lintas Merapi. Ia menjelaskan pentingnya pertanian bagi masyarakat Lereng Merapi. Ia juga bercerita bagaimana usahanya memasyarakatkan pertanian di daerah Kaliwuluh Sidorejo, Tegalmulyo dan Balerante.

Pemateri berikutnya adalah Nur Sriyanto, praktisi pertanian asal Dukuh Karang, Sidorejo, yang juga ketua kelompok tani Desa Sidorejo. Pemateri yang akrab dipanggil Pak Nur ini menceritakan keprihatinannya perihal berkurangnya tradisi tani di Desa Sidorejo. Sungguh memprihatinkan, ujar Nur, masyarakat gunung yang terkenal akan tradisi pertanian sayurnya, untuk memenuhi kebutuhan sayur di dapurnya saja harus membeli. “Sekarang ini orang lebih memilih menambang pasir yang lebih cepat menghasilkan uang ketimbang bertani,” tambahnya.

Nur Sriyanto melanjutkan materinya dengan memaparkan cara-cara efektif bertani holtikultura, mulai dari persemaian, pengolahan lahan dan pemeliharaan. “Untuk proses pendederan, pupuk dan tanah yang digunakan adalah 1:3,” jelas Nur.

“Kalau menggunakan polybag, berapa ketebalan tanah yang dibutuhkan?” tanya salah satu peserta. Dengan sigap, Nur Sriyanto pun menjelaskan keuntungan dan kerugian dari penggunaan tanah yang terlalu tebal atau terlalu tipis.

Seusai penyampaian materi di aula pesanggrahan, peserta turun ke lokasi demplot. Bersama-sama mereka turut memasang mulsa yang akan digunakan untuk praktek bertani.

Dari lokasi demplot, peserta naik ke atas menuju Dukuh Mbangan. Di dukuh paling atas itu, mereka melihat langsung bagaimana hasil pertanian holtikultura yang sudah sukses dan berbuah. Mereka melihat langsung bagaimana pertanian memasyarakat dan tetap lestari di Dukuh Mbangan.

Darmanto, pemuda asal Butuh mengatakan senang sekali bisa ikut Pelatihan Pertanian Holtikultura Organik. Seusai pelatihan, ia berencana membagikan pengetahuan yang ia dapat kepada keluarganya. Bahkan ia berharap pelatihan semacam itu lebih sering lagi diadakan, terutama untuk tingkatan RT. “Kalau di tingkat RT bisa lebih intens dan mengena,” harapnya.

Seperti Darmanto, Bardi Widodo, warga asal Bono Kidul juga merasakan hal yang sama. Ia bersyukur bisa ikut Pelatihan Pertanian Holtikultura Organik. Apalagi beberapa bulan belakangan ini ia sedang menekuni pertanian. “Saya malah berencana mengundang Pak Sukiman dan Pak Nur di pertemuan kelompok tani di RT saya,” paparnya.

Nur Sriyanto punya keinginan besar memasyarakatkan kembali pertanian di daerahnya. “Saya senang sekali jika setelah pelatihan ini ada warga yang berdiskusi langsung dengan saya. Saya juga bersedia jika saya diundang ke pertemuan kelompok tani mereka,” ujar Nur, beberapa hari sebelum pelatihan.

Di Sidorejo, kisah Nur, sebetulnya sering sekali diadakan pelatihan pertanian. Pematerinya orang-orang pintar dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, sampai profesor. Namun pengetahuan mereka terlalu tinggi, sampai-sampai melupakan konteks lokalitas pertanian di lereng gunung. “Sering sekali begitu kami mempraktekan materi yang kami terima, hasil tanaman tak sesuai yang diharapkan. Karena suhu dan kelembaban di dataran tinggi dan rendah berbeda,” ujarnya.

Pertanian yang saya dan Mas Sukiman ajarkan, ujar Nur lagi, adalah pengetahuan yang kami dapat dari berbagai pelatihan. “Pengetahuan-pengetahuan tersebut sudah sukses kami praktekan sendiri di Lereng Merapi ini,” tambah Nur.

Pertanian holtikultura itu banyak filosofinya, ujar Sukiman. Holtikultura merupakan integrasi dari berbagai tanaman yang proses penanamannya saling melengkapi. Misalkan suami yang menanam, istri yang memelihara, dan bersama-sama memanen. Atau sebaliknya, istri yang menanam, suami yang memelihara dan memanen bersama. Integrasi tersebut menunjukkan seperti apa integrasi dalam rumah tangga, kelompok, bahkan masyarakat. Rumah tangga yang retak pasti berawal dari sistem pertanian yang kacau.

“Filosofi itu kadang juga kami gunakan sebagai guyonan. Misalkan ada teman yang dimarahi istrinya. Kami ejek ia dengan mengatakan di pertaniannya pasti sedang ada masalah,” kelakar Sukiman.

Thursday, October 27, 2011

Berbisnis dari Teknologi Karya Anak Bangsa

Kustanto senang bukan kepalang. Sejak memakai Femax Fuel Saver, Kijang LGX 2003 miliknya yang rajin bolak-balik Yogyakarta-Purwokerto jadi hemat bahan bakar. Biasanya, dengan jarak 2 kota itu ia menghabiskan Rp 200 ribu untuk membeli BBM. Setelah memakai Femax Fuel Saver ia hanya harus merogoh kocek Rp 100 ribu saja.

Roby Kurniawan, pengguna Femax asal Solo juga merasakan hal yang sama. Awalnya ia ragu Femax akan mengganggu sistem kelistrikan mobil injeksinya. Ia juga ragu, jangan-jangan pemanasan mengganggu sistem karburator karena bahan bakar yang panas. Tapi rupanya tidak. Setelah menggunakan Femax, justru tenaga mobilnya meningkat enteng di RPM rendah. Konsumsi bahan bakar pun lebih efisien sekitar 20-30%.

Femax merupakan teknologi terbaru penghemat BBM hasil uji coba Joko Istiyanto, alumnus Teknik Mesin Universitas Negeri Yogyakarta. Joko menggagas Femax Fuel Saver pada Lomba Karya Tulis Ilmiah Hemat Energi (LKTIHE) nasional yang diselenggarakan atas kerja sama Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Departemen Pertambangan dan Energi (Deptamben) dan Pertamina pada 1997. Pada lomba itu, Joko meraih kemenangan sebagai karya terbaik.

Uang hadiah juara lomba itu Joko gunakan untuk mengembangkan penelitiannya sekaligus menjadikannya sebagai enterpreneur mahasiswa. “Lebih kurang Rp 3 juta saya dapat dari hadiah lomba itu. Uang itu kemudian saya gunakan sebagai modal untuk membeli bahan baku, alat/mesin dan mesin packaging,” ujar Joko yang kini juga berprofesi sebagai dosen salah satu sekolah tinggi di Klaten, Jawa Tengah ini.

Pada dasarnya, penelitian yang dilakukan Joko adalah pengembangan penelitian penghematan terhadap hidrokarbon dengan teknologi fuel saver (magnetism) dan electric heater melalui kombinasi sisem resonansi magnetis dan electric preheater (DC ACCU) yang mampu menghemat pemakaian BBM hingga 35%.

Prinsip kerjanya adalah merekayasa reaksi fisika terhadap perlakuan molekul kimia bahan bakar menjadi lebih reaktif dengan menambah kecepatan putar elektron kimia bahan bakar melalui resonansi magnet permanen serta proses pemanasan dan ionisasi melalui treatment preheater. Dengan begitu, BBM menjadi berkualitas tinggi dan pembakaran lebih sempurna.

Kini karya Joko diproduksi oleh CV Solenoida Jakarta dan dijual secara massal. Selain itu, Joko juga mendistribusikan penemuannya di Pusat Informasi Teknologi Hemat Energi – Sains (PITHE-Sains) yang berlokasi di Karangmalang Blok A4 Yogyakarta, bersebelahan dengan kampus UNY. Di sana ia dibantu oleh 3 orang pegawai, 1 orang sebagai administrator dan 2 orang sebagai mekanik sekaligus marketing.

Kini Femax telah memiliki berbagai varian, diantaranya Femax Motor Standart, Femax Motor Combo, Femax Mobil Bensin/Solar Standart, Femax Mobil Bensin/Solar Combo, Femax Mobil Bensin/Solar Combo Extra, Femax Mobil Injection Tunggal, Femax Mobil Solar Combo XX, Femax Mobil Bensin/Injection, Femax Electric Saver, Femax Gas Saver dan Femax Alarm LPG Detector. Harga yang ditawarkan untuk motor Rp 80 ribu dan Rp 120 ribu, untuk mobil Rp 300 ribu – Rp 400 ribu, Femax Electric Saver Rp 150 ribu – Rp 300 ribu, Femax Gas Saver Rp 95 ribu dan Femax Alarm LPG Detector Rp 150 ribu.

Selain di Karangmalang, untuk Yogyakarta Joko juga membuka agen penjualan Femax di Jl. Janti No. 480 timur JEC dan di Jl. Wates KM 20. Selain itu, ia juga memiliki agen di Solo, Boyolali, Klaten, Semarang dan Jakarta.


Joko bangga jika anak indonesia maju dan bisa menciptakan produk-produk yang inovatif.Menurutnya, indonesia sebetulnya banyak memiliki anak pintar. Mereka berhasil menjuarai berbagai olimpiade sains dunia, fisika, matematika maupun elektronika. Medali yang mereka menangkan pun sudah demikian banyaknya. Prestasi itu, ujar Joko, perlu didukung oleh berbagai kalangan agar produk karya anak bangsa menjadi besar. “Bukan mustahil kalau pengusaha kaliber dunia lahir dari Indonesia,” tambah peraih piagam penghargaan MURI 2011 ini penuh semangat.

Untuk Femax ke depannya, Joko berharap Femax bisa menjadi merk branded yang melegenda seperti Philips dari Belanda yang brandnya kuat sebagai produk hemat energi, awet dan bergaransi.
Cara pemasangan pada mesin motor:
  1. Lepas clamp selang bensin pada saluran output kran dan saluran masuk karburator, kemudian lepas selang tersebut.
  2. Pasang Femax Combo di saluran bensin sebelum karburator terdekat
  3. Cek terminal positif pada switch rem atau pada salah satu socket di bawah stang.
  4. Sambungkan terminal positif Femax Combo dengan terminal positif switch rem atau pada salah satu socket di bawah stang dan negatif pada body kendaraan. Periksa kerja Femax Combo dengan memutar KK pada posisi IG. Pastikan lampu indikator Femax menyala.
Cara pemasangan pada mobil:

  1. Lepas clamp selang bensin pada pompa bensin dan karburator, kemudian lepas selang tersebut.
  2. Pasang Femax Combo di antara pompa bensin dan karburator.
  3. Cek terminal positif pada socket catu motor wiper.
  4. Sambungkan terminal positif Femax Combo dengan terminal positif catu motor wiper dan negatif pada body kendaraan.
  5. Periksa kerja Femax Combo dengan memutar KK pada posisi IG. Pastikan lampu indikator Femax menyala.

Berkat Sayang Pacar, Usaha Hamster Maju Pesat

Denny Yusrizal Siregar memulai usaha hamster benar-benar tanpa sengaja. Suatu hari pacarnya, Siwi, minta dibelikan hamster untuk dipelihara di kamar kosnya. Harganya waktu itu Rp 15 ribu per ekor. Waktu itu Juni 2010. Danny membelikan hamster untuk Siwi sampai beberapa kali. Siwi memberi hamster itu makanan dari biji-bijian seperti kwaci, beras merah, biji milet, pelet koi dan jagung.

Meski sama-sama penyuka binatang, Denny justru jijik pada hamster. “Waktu pertama kali pegang, tangan saya ia gigit. Dengan refleks ia langsung saya lempar,” kenang Denny yang sebelumnya sudah menggeluti usaha ternak kucing. Namun lama-kelamaan Denny turut menyukai hamster. Apalagi ketika hamster yang dipelihara Siwi beranak-pinak dan bertambah banyak.

Ketika masa jual tiba, tengkulak menawarnya seharga Rp 3500. Denny menolak harga itu dan membawa pulang kembali hamsternya.

Seorang teman memberi saran agar Denny berjualan hamster di Sanmor, pasar kaget yang rutin tiap hari minggu di sekitaran UGM-UNY. Pangsa pasarnya sudah jelas, anak-anak dan mahasiswa yang menyukai binatang, khususnya hamster.

Penjualan pertama, bukannya untung justru malah buntung. Omset yang diperoleh Rp 200 ribu, namun kerugian yang diderita Rp 400 tibu. “Waktu tu 10 hamster mati karena kepanasan. Padahal itu hamster yang harganya paling mahal,” tutur Danny.

Kerugian itu belum genap karena Danny juga harus membayar 3 orang teman yang membantunya berjualan. Namun niat Danny tak juga surut, ia tetap melanjutkan usaha hamster. Bahkan ia memberi label D&S untuk usahanya, yang merupakan kependekan dari Danny dan Siwi. Peran pun dibagi, Siwi mengelola ternak sementara Danny sebagai marketing.

Oktober 2010 D&S mulai membuka toko di Jl Perumnas Condongcatur Yogyakarta setelah memperoleh pinjaman uang Rp 6 juta dari adik Danny. “Uang itu saya gunakan untuk oper kontrak toko Rp 4 juta, sisanya saya belanjakan hamster dan perlengkapannya,” ujar Danny.

Lama-kelamaan kamar kos Siwi, juga kamar kos di sebelahnya yang sengaja disewa untuk berternak hamster tak lagi memadai. Mereka kemudian mengontrak sebuah rumah yang memiliki 3 kamar tidur. Dua kamar yang besar digunakan untuk ternak hamster, sedang 1 kamar yang kecil digunakan untuk tempat tinggal Danny.

Dari 4 jenis hamster, Dnny memelihara 3 jenis saja, yaitu cambell, winter dan roborobsky. Sedangkan jenis syrian tidak ia pelihara karena asupan makannya banyak dan postur tubuh yang memerlukan banyak tempat.

Hamster terhitung binatang yang cepat beranak-pinak. Hamster jenis cambell akan siap masa kawin setelah berusia 3 bulan. Jenis winter siap masa kawin pada usia 4 bulan, sedang roborobsky 7 bulan. Anak-anak mereka akan lahir setelah masa kehamilan 20 hari. Setelah lahir, bayi hamster bisa disapih di usia 20 hari dan ibu hamster sudah bisa dikawinkan kembali. Jika sudah pernah beranak 1 kali, hamster-hamster itu akan beranak tiap bulan.

Hamster-hamster itu D&S jual seharga Rp 8 ribu – Rp 25 ribu untuk jenis cambell dan Rp 10 ribu – Rp 70 ribu untuk jenis winter. Sedangkan jenis roborobsky dijual seharga Rp 25 ribu sampai Rp 45 ribu.

Selain ternaknya, D&S juga menjual aneka perlengkapan hamster seperti makanan, rumah, dot, kincir, terowongan, pasir wangi untuk mandi, bola-bola dan serbuk kayu untuk alas. Rumah dengan aneka perlengkapannya dijual seharga Rp 25 ribu sampai Rp 75 ribu. Biji-bijian untuk makanan dijual seharga Rp 5 ribu. Pasir dan serbuk kayu dijual masing-masing seharga Rp 5 ribu, dot Rp 10 ribu dan kincir Rp 15 ribu.

Ramainya pasaran hamster di Yogyakarta mengikuti musim. Menjelang lebaran atau ketika maraknya mahasiswa baru berdatangan, pasaran hamster sedang ramai. “Dua bulan menjelang lebaran yang ramai, sedangkan September-November ini kurang begitu ramai,” ujar Danny dan Siwi yang sama-sama alumnus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini.

Selain itu, kadang juga muncul tren jenis hamster tertentu. Beberapa bulan yang lalu sempat tren hamster jenis winter golden mata merah. Begitu banyak orang mencari jenis hamster tersebut. Harga di pasaran bisa mencapai Rp 150 ribu per ekor. Jika tren surut dan berganti jenis lainnya, harganya pun turun menjadi beberapa puluh ribu saja.

Omset yang diperoleh D&S dari Sanmor saja mencapai Rp 800 ribu – Rp 4 juta sekali berjualan. Sedangkan omset dari toko, perharinya rata-rata Rp 300 ribu. Dari omset itu, laba yang diperoleh sekitar 70% untuk hamster dan 30% untuk perlengkapannya.

D&S sempat juga memajang jualannya di situs-situs internet dan jejaring sosial. Namun Danny merasa terganggu ketika banyak pelanggan menghubunginya di luar jam kerja. Apalagi kebanyakan pemesan minta dikirim hamster ke luar jawa.

Pengiriman binatang ke luar pulau bukanlah perkara mudah. Ada berbagai syarat yang harus dipenuhi terlebih dahulu, seperti ribetnya birokrasi perijinan dari pulau asal ke pulau tujuan, serta jumlah hamster yng dikirim minimal 9 ekor. Kesulitan itu belum ditambah dengan biaya pengiriman yang terlampau mahal, “Jadinya biaya kirim jauh lebih mahal dibanding harga hamsternya,” tutur Danny. Walhasil, penjualan di luar Yogyakarta yang terjangkau baru sampai Tegal dan Bayuwangi saja. Itu pun karena jasa teman yang membawakan.

Friday, October 14, 2011

Bisnis Celengan Lukis: Menyulap Rp125 Ribu menjadi Rp15 Juta








Ediyono tak menyangka, idenya menyulap kertas bekas gulungan benang dari pabrik tekstil menjadi celengan lukis ternyata membawanya menuju tambang rupiah. Semuanya hanya bermodalkan Rp.125 ribu.

Pagi itu Ediyono menyusuri Sunday Morning (Sunmor), pasar yang dilakukan rutin pada minggu pagi di seputaran UGM-UNY. Ia ingin melepas kejenuhan terhadap sistem di tempatnya kerja. Edi, demikian panggilannya, melihat asyiknya orang berjualan. Mereka memiliki kebebasan, tidak seperti keseharian Edi yang bekerja di perusahaan ekspor impor.

Terinspirasi para penjual itu, Edi mencari ide, kira-kira produk apa yang disukai banyak orang dan bisa ia buat dan jual. Edi berpikir tentang celengan, yang menurutnya disukai orang tua. “Kalau anak dan orang tua suka, pasti dibelikan. Lain halya kalau anak suka tapi orang tua tidak suka, mainan misalnya, orang tua belum tentu membelikan,” ujar Edi. Ia berpendapat celengan yang bentuknya umum sudah banyak, namun yang dikreasikan belum ada.

Edi kemudian mencari bahan yang cocok, tahan lama dan harganya terjangkau. Ia mencoba menggunakan bambu. Namun ternyata lama-kelamaan bambu berserbuk dan modal yang dikeluarkan harus banyak. Lalu Edi mencoba paralon. Rupanya paralon terlalu tipis sehingga mudah remuk. Di tengah kebingungan, Edi baru ingat, sewaktu bekerja di perusahaan ia pernah memotong kertas bekas gulungan permadani. Kertas yang berbentuk tabung kecil panjang itu ia potong agar mudah mengangkutnya ke pembuangan. Waktu memotong, ia sempat berpikir jika potongan itu bagus juga untuk dibuat celengan.

Edi mematangkan rencananya. Ia mendatangi Liman, toko besar di Yogyakarta yang menjual permadani. “Ada kertas bekas gulungan permadani, tapi tidak terlalu banyak. Mosok yo buat jualan bahannya cuma sedikit,” Edi meneritakan perburuannya.

Iseng-iseng Edi mampir ke rumah teman dan menceritakan rencananya membuat celengan dari kertas bekas gulungan. Tak disangka, teman yang pernah bekerja di pabrik tekstil itu memberinya petunjuk. “Banyak kertas bekas gulungan benang di pabrik tempat saya pernah bekerja,” ujar Edi menirukan ucapan temannya. Diantarkan teman, Edi menuju pabrik tekstil yang dimaksud. Setelah melewati proses birokrasi perusahaan yang rumit, barulah Edi bisa bekerja sama untuk memanfaatkan kertas bekas gulungan benang itu.

Waktu itu awal 2007. Edi mengeluarkan Rp 125 ribu sebagai modal. Modal itu ia gunakan untuk membeli kertas bekas gulungan yang seharga Rp 2 ribu per kilo, lem dan cat. Untuk desain lukis, Edi menggunakan tokoh kartun yang sedang disukai anak-anak seperti Upin Ipin, Spong Bob, Spiderman, Naruto, Ben10, dan sebagainya.

Edi membuat 50 buah celengan dan menjualnya di Sanmor seharga Rp 3 ribu per item. Tak butuh lama, celengan lukis langsung habis. Ia memperoleh Rp 150 ribu, padahal bahan yang ia beli baru digunakan sepertiganya. Edi senang sekali melihat prospek bagus dari usaha yang ia rintis. Ia langsung mengundurkan diri dari pekerjannya. “Kalau dihitung-hitung, prospek keuntungan bisnis celengan lukis lebih tinggi dibanding gaji yang saya dapat dari perusahaan ekpor impor,” ujar Edi yang kemudian menggunakan label Celengan Artdesign untuk usahanya.

Seiring perkembangannya, saran dari pembeli ia gunakan untuk mengembangkan usahanya. “Model dan gambar banyak mendapat masukan dari konsumen. Bahkan label Celengan Artdesign juga konsumen yang membuat,” tuturnya.

Selain di Sanmor, Edi memiliki stan di Pasar Senthir Malioboro. Dari pasar Senthir itu, karya Edi merambah keluar jawa seperti Papua, Aceh, Riau dan Kalimantan, juga sampai ke mancanegara seperti Malaysia dan Korea. Ia juga kerap menerima pesanan dan menyuplai ke pedagang lain. “Baru-baru ini saya menerima pesanan untuk souvenir pernikahan sejumlah 1400 buah,” ujar Edi. Selain itu, Edi juga rajin mendatangi event-event yang ada di Yogyakarta, misalnya Lomba Drumband, Lomba Mewarnai, atau pelepasan wisuda. Di acara pelepasan wisuda, celengan Edi tak hanya dibeli anak-anak, tapi juga orang dewasa.

Edi kerap menolak pesanan karena stok barang yang ia buat terbatas. Ia membuat celengan itu hanya dengan isteri, anak dan ibunya. Ia tidak menggunakan karyawan, demi menjaga keaslian karya.

Harga celengan yang ia patok tahun 2011 ini adalah Rp 5 ribu untuk celengan besar dan Rp 2500 untuk celengan kecil. Ia memperoleh laba 70 % dari modal yang dikeluarkan. Ia tidak pernah menghitung omset yang ia dapat, karena uang hasil penjualan ia belanjakan lagi untuk modal. Edi tidak pernah menambah modal selain Rp 125 ribu di awal. Untuk di Sanmor saja, paling tidak laku 750 buah celengan setiap kali berjualan. Jika dikalkulasikan, dalam satu bulan ia mampu menjual 3000 buah celengan. Dengan harga Rp 5ribu per celengan, ia memperoleh omset Rp 15 juta hanya dari stan yang ada di Sanmor saja, belum omset dari pesanan dan stan di Pasar Senthir. Semua itu bermula dari Rp 125 ribu saja.

Cara membuat:

Bahan: kertas bekas gulungan benang, kuas, injeksi, cat temboc acrylic, cat sablon, pewarna sendy.

Cara membuat:

  1. 1. Kertas bekas gulungan benang dipotong sesuai ukuran.
  2. 2. Siapkan kertas karton daur ulang yang agak tebal untuk membuat tutupnya. Buat bulatan pada karton tersebut dan tempelkan pada bahan utama.
  3. 3. Setelah itu celengan diberi cat dasar. Cat dasar adalah campuran dari cat tembok dan cat sablon. Untuk memperoleh warna terang bisa 2-3 kali pengecatan. Untuk warna gelap cukup 1 kali pengecatan. Jemur hingga kering.
  4. 4. Buat sketsa gambar pada bagian luar celengan. Desain bisa diperoleh dari internet atau majalah. Warnai sketsa tersebut menggunakan pewarna sendy yang dimasukan ke dalam injeksi. Jemur hingga kering.
  5. 5. Beri ornamen cantik pada garis tepi, agar sisa sketsa tidak terlihat. Jika ingin ditambahkan nama atau ucapan, tinggal ditulis saja menggunakan injeksi. Jemur hingga kering.
  6. 6. Celengan siap dipacking.

Kotak Penghasil Rupiah

Ini bukan sembarang kotak. Kerajinan yang terbuat dari kertas daur ulang dan kertas kado ini mampu menjadi kotak penghasil rupiah.

Sigit tak pernah menyangka, usahanya yang sudah 5 tahun ia jalani dalam bidang pembuatan kerajinan kotak kado mampu menghasilkan omset Rp 35 juta sebulan. “Kalau bukan karena Mbak menghitung tadi, saya nggak pernah tahu. Lha wong nggak pernah memegang uang segitu banyak. Begitu laku sedikit, uang hasil penjualan langsung saya alokasikan ke gaji pegawai dan belanja bahan,” tutur Sigit tercengang melihat hasil kalkulasi usahanya.

Terang saja Sigit bisa memperoleh omset sebegitu besar. Bagaimana tidak, setiap minggu ia menjual kerajinan kotak kado yang ia buat di Sunday Morning (Sanmor) dan memperoleh omset sekitar Rp 3 juta – Rp 3,5 juta. Dalam sebulan, dari hasil penjualan di Sanmor saja, paling tidak ia bisa memperoleh sekitar Rp. 12 juta. Jumlah itu belum ditambah hasil penjualan pesanan dari reseller yang biasanya melebihi hasil penjualan di Sanmor. Maka tak heran bila nominal Rp. 35 juta masuk ke kantong Sigit dalam sebulan.

Produk yang Sigit buat adalah aneka macam kotak kado dari kertas dengan label Dunia Pelangi. Ada loker mini, kotak aksesoris, loker lipat, kotak perlengkapan, dan banyak lagi. “Awalnya saya lihat loker mini dari bahan plastik di supermarket. Harganya mahal sekali. Lalu saya coba membuat bentuk yang sama dari bahan kertas, karena modelnya pun tidak terlalu rumit. Ternyata loker mini dari bahan kertas harganya lebih terjangkau,” tutur Sigit.

Moristririni, isteri Sigit menambahkan bahwa penggunaan bahan kertas lebih ramah lingkungan. “Kertas sekalipun sudah jadi sampah tetap bisa didaur ulang. Lain halnya dengan plastik. Kertas yang kami pakai juga kertas daur ulang,” tambah Moristririni.

Bermodalkan Rp 2 juta, Sigit dan sang isteri membuat aneka bentuk kotak kado. Teman-temannya yang menjadi distributor dengan menyuplainya ke toko-toko. Selain itu, Sigit yang sedari 2001 berjualan sabuk dan hanger di Sanmor, juga memajang kotak kado karyanya di Sanmor. “Ternyata di Sanmor laku juga dan penjualannya cepat sekali,” terang Sigit antusias.

Bahan yang digunakan ia peroleh dari Yogyakarta dan luar kota. Untuk kertas daur ulang, kertas samson dan perlengkapan lainnya ia peroleh dari Yogyakarta. Sedangkan kertas kado ia peroleh dari Solo atau Jakarta, “Di Solo atau Jakarta lebih murah daripada di kota lain,” ujar Sigit.

Melihat prospek yang bagus, Sigit dan Moristririni semakin semangat mencari bentuk lain yang lebih menarik. Mereka terinspirasi oleh barang-barang apa saja yang ada di sekitar. “Terinspirasinya spontan saja. Waktu lihat laptop, kami jadi punya ide membuat tempat aksesoris yang bisa dibuka praktis dan ada ceminnya,” ungkap Moristririni. Bentuknya pun kini tidak melulu kotak. Ada yang berbentuk hati, segitiga, bintang, lingkaran, atau kotak. Harganya pun beragam. Mulai dari Rp 2000 sampai Rp 19000. Untuk reseller Sigit memberikan harga lebih murah, sekitar Rp 1500 sampai Rp 16000.

Seiring makin banyaknya pesanan, Sigit pun mulai memberdayakan tetangganya. Ia dan istrinya dibantu oleh 12 orang tetangga. “Saya menyediakan bahan dan memotongnya untuk mereka kerjakan di rumah masing-masing,” ujar Sigit. Upah yang diterima sesuai item yang mereka buat. Untuk loker mini upahnya Rp 1500. Untuk kotak kado upahnya Rp 500 – Rp 3000, tergantung ukuran.

Kini kotak kado karya Dunia Pelangi merambah Jakarta, Medan, Palembang, Banjarmasin, Jombang, Nganjuk, Klaten, Solo, Purworejo, Purwokerto, Lombok, bahkan Sulawesi. Untuk Lombok dan Sulawesi, Dunia Pelangi terkendala permasalahan transportasi. “Karena kebetulan reseller kami rumahnya di pelosok dan jauh dari bandara, jadi mereka sering kesulitan mengambil paketnya,” keluh Sigit.

Sigit juga sering kesulitan dalam memperoleh bahan. Ketika Merapi meletus misalnya, Sigit kesulitan memperoleh kertas daur ulang yang biasanya ia pasok dari warga Sleman yang berlokasi di Lereng Merapi. “Untungnya waktu itu kami masih menyimpan stok, jadi tetap bisa berproduksi walaupun tidak sebanyak biasanya,” ujar Sigit. Jika kertas kado di Solo ataupun Jakarta sedang kosong, Sigit pun ketiban pusing, karena ia terpaksa membelinya di Yogyakarta yang harganya lebih mahal.

Bahan: kertas daur ulang, kertas samson, lem kuning, lem kayu, lem putih, kertas kado

Cara Pembuatan:

· Rekatkan kertas daur ulang dengan kertas samson menggunakan lem kayu. Kertas samson berfungsi sebagai bagian dalam agar bercak-bercak pada kertas daur ulang tidak nampak. Gosok menggunakan tangan atau alat lain agar rekatan merata.

· Potong rekatan kertas tadi sesuai ukuran yang dibutuhkan.

· Rakit potongan-potongan kertas menggunakan lem kuning. Bila ada kertas tersisa, potong dengan gunting atau cutter.

· Tempeli bagian luar kotak dengan kertas kado menggunakan lem putih.

· Beri aksesoris yang dibutuhkan.

Thursday, September 8, 2011

Sri Sultan Hamengkubuwono X pun Menitipkan Barang Bekasnya….

Nina dan Riza, mahasiswa asli Yogyakarta menyukai barang-barang yang unik. Namun mereka sering kesulitan karena barang unik sulit dicari. Jimmy Simarmata dan Erwin juga mengalami hal yang sama. Makanya mereka sering berkunjung ke Klitikhan, pasar barang bekas yang ada di Yogyakarta. Di Pasar itu, barang-barang bekas dijual di pinggir jalan. Pengunjungnya ramai sekali. Kadang di pasar itu mereka menemukan barang langka yang selama ini sulit dicari. Namun tak semua orang berani berkunjung ke pasar yang tempatnya gelap dan harus berhimpit-himpitan dengan orang tak dikenal.

Melihat potensi bisnis itu, Jimmy Simarmata dan Erwin berpikir untuk menjual barang bekas dengan konsep modern. Mereka survey ke toko barang bekas yang ada di Bandung. Juni 2005 mereka membuka Barkas, toko yang menjual barang bekas di Jl Affandi Yogyakarta. “Ada orang punya tas, karena bagusnya sampai awet. Begitu ada model baru ia beli lagi dan yang lama hanya menumpuk di gudang. Sementara di lain tempat ada orang tidak bisa membeli tas. Nah, kenapa tas yang tidak terpakai tadi tidak dititipkan saja dan kita jual. Agar yang tidak bisa membeli tas baru itu bisa memakai tas,” ujar Jimmy menceritakan alasan lainnya.

Konsumen utamanya mahasiswa, karena perputaran mahasiswa di Yogjakarta cepat sekali. “Yang baru datang, yang lama pergi. Yang baru butuh barang. Yang lama butuh jual barang,” tutur Jimmy. Tapi karena barangnya beraneka ragam, akhirnya konsumen Barkas merambat ke semua golongan. Ada mainan untuk anak-anak, alat-alat musik, furnitur dan perlengkapan rumah tangga. Mekanisme penjualannya dengan sistem penitipan dengan jasa penitipan sebesar 10% dari harga jual. Harga jual ditentukan dengan kesepakatan bersama. Semakin unik barang yang dititipkan, semakin cepat penjualan. Dengan mekanisme seperti itu, Barkas bisa memperoleh omzet lebih dari Rp 150 juta perbulan.

Nina dan Riza akhirnya sering mengunjungi Barkas. “Keberadaan Barkas sangat membantu. Saya pernah memperoleh kamera bekas yang lucu di sini, lebih sering sih membeli hiasan mobil yang unik untuk melengkapi koleksi. Biar bekas dan sudah jelek tidak apa-apa, yang penting unik, “ tutur Nina dan diiyakan dengan Riza.

Modal awal dibutuhkan untuk sewa tempat, display dan gaji karyawan. Barkas menyewa satu ruko Rp 50 juta per tahun. Untuk display tidak sampai Rp 10 juta, karena Jimmy dan Erwin juga mendisplay barang bekas milik pribadi yang sudah tidak terpakai. Selain itu mereka juga membeli barang bekas dari luar dan etelase bekas yang kemudian dijual juga. Awalnya karyawan hanya 6 orang dengan 2 shift. Kini karyawan berjumlah 30an dan ruko diperlebar menjadi 3 ruko.
Baru berumur 6 bulan, Barkas menarik perhatian Sri Sultan Hamengkubuwono x. Jimmy dan Erwin dipanggil ke Kraton dan diminta untuk mempromosikan Barkas dengan namanya. Sultan tidak mau masyarakatnya terlalu konsumtif. “Kalau punya barang bekas tidak dipakai, kenapa tidak dijual saja, di luar sana banyak orang yang tidak bisa membeli barang baru. Saya senang dengan usaha ini. Saya senang orang-orang tidak konsumtif dengan barang baru terus, barang bekas juga bisa dimaksimalkan penggunaannya,” Jimmy menirukan ucapan Sri Sultan waktu itu. Untuk contoh nyata, Sri Sultan dan istri turut menitipkan barang bekasnya di Barkas.

Banyak penitip tak rela menjual barang bekasnya dengan harga murah. “Untuk kasus seperti itu kita nego harga. Misalnya orang menitip lemari seharga 1 juta. Kemudian ada yang menawar seharga 700 ribu. Pemiliknya kita hubungi, mau tidak dengan harga segitu,” ujar Jimmy. Setelah barangnya terjual, penitip bisa mengambil uang hasil penjualan pada tanggal yang telah ditentukan, yaitu tanggal 5, 10, 15, 20 dan 27 setiap bulannya.

Masa penitipan selama 20 hari. Setelah melewati masa itu, penitip bisa memperpanjang sampai 2 kali. Jika setelah 60 hari masa penitipan tidak juga laku, berarti ada yang salah, misalnya harga terlalu mahal.

Banyak juga penitip yang tidak mengurus administrasi meski masa penitipan habis. Dengan begitu toko lebih mirip seperti gudang. “Makanya sekarang dibuat aturan kalau tidak diurus 7 hari setelah masa penitipan habis, hari berikutnya barang kita sale agar tidak rusak di sini,” jelas Jimmy. Sale dimulai dengan potongan 25%. Kalau tidak laku dinaikan menjadi 50%, kemudian 75%, sampai 100%.

Ruko 3 lokal pun tempat masih terasa kurang luas. Terutama untuk mebel dan furniture yang berjubel sampai didisplay di luar. Padahal mebel bisa laku cepat kalau harganya bagus. Untuk mebel dan furniture antik, Jimmy sering kesulitan memprediksi harga karena tidak ada harga standarnya.

Pada 2006 Barkas membuka cabang di Jl Kaliurang, yang kini telah pindah ke Ruko Pogung Permai, tak jauh dari Jl Kaliurang. Kini Barkas tak hanya menjual barang bekas, tapi juga barang baru tapi unik. Penitip barang pun melihat peluang dengan menitipkan barang-barang unik.

Dari Limbah untuk Keberlangsungan Lingkungan

Limbah selalu menjadi masalah. Residu yang dihasilkan pusat-pusat produksi menjadi pekerjaan rumah yang belum juga selesai di berbagai negara. Namun siapa sangka dari limbah ternyata bisa menjadi rupiah. Bahkan menjaga keberlangsungan lingkungan.

Lunar Cipta Kreasi melihat peluang menjaga keberlangsungan lingkungan itu. Kayu bekas bongkaran rumah misalnya, yang disulap menjadi rak etalase. Atau kayu sisa rel kereta yang disulap menjadi lampu hias. Juga kayu sisa pembuatan furnitur yang disulap menjadi furnitur utuh yang unik. Tujuan kami tidak semata-mata demi target ekonomi, tapi juga demi penghargaan terhadap alam,” tutur Satya Brahmantya, Creative Director Lunar Cipta Kreasi yang akrab dipanggil Bram itu.

Lunar berlokasi di Jl. Palagan Tentara Pelajar Km. 10,2 No. 45 Sleman Yogyakarta. Selain sebagai kantor, di lokasi itu juga terdapat show room dan tempat produksi. Barang-barang yang diproduksi berupa tas dan home deco dengan desain unik seperti furnitur, lampu hias dan aksesoris. Untuk lampu hias, harga dimulai dari Rp100 ribu, sedangkan tas dimulai dari harga Rp150 ribu. Selain itu Lunar juga membuka retail di Jl. Kemang Timur Raya 43 B Jakarta.

Lunar mulai berdiri pada 2001 dengan memproduksi limbah menjadi barang-barang mewah. Pangsa pasar yang dibidik adalah konsumen luar negeri seperti Jepang dan berbagai negara di Eropa. Baru beberapa tahun belakangan merambah ke pasar lokal. Tanpa disadari, visi misi penghargaan terhadap alam sejalan dengan yang dilakukan Sustainable Furniture Council (SFC), sebuah lembaga yang konsern terhadap furnitur ramah lingkungan yang berpusat di New York, Amerika Serikat. Untuk memastikan seperti apa teknik yang dipakai di SFC, Bram langsung mendatangi negeri Paman Sam itu. Di sana ia mendapati bahwa teknik yang disebut sustainable atau keberlangsungan yang digembor-gemborkan SFC ternyata sudah lebih dulu dipakai Lunar, bahkan di Indonesia secara umum. “Asalkan bukan perusahaan besar, apa yang dilakukan pengusaha indonesia sudah sustainable. Karena proses produksi kami tidak menghabiskan energi yang terlalu tinggi. Apalagi kalau perusahaan kecil, biasanya lebih mengutamakan penggunaan bahan-bahan sisa,” jelas Bram.

Bram juga memberikan contoh banyaknya kearifan lokal di Indonesia yang ternyata sangat sustainable. Memotong bambu misalnya, yang dilakukan pada musim ketiga, musim transisi kemarau ke hujan, “karena begitu musim hujan, pohon bambu yang telah dipotong tumbuh subur kembali.” Selain masa memotong bambu, aneka ragam hitung-hitungan jawa untuk mencari waktu yang tepat menebang pohon juga sustainable.

Dalam menjalankan bisnisnya, Lunar menggunakan prinsip 3 R, yaitu reduce, reuse dan recycle. “Kami mereduce atau mengurangi energi yang kami pakai,“ ujar Bram. Misalnya pada proses pengangkutan, Lunar menggunakan material yang ada di daerah sekitar saja, misalnya Semarang dan Solo, sehingga tidak terlalu banyak menggunakan bahan bakar. Mesin yang digunakan juga mesin standar peralatan rumahan atau home industry yang membutuhkan energi rendah. “Kalau mesin industri besar pakai energi besar sekali, hingga 1300 watt. Kami hanya pakai yang 450 watt saja, dengan pertimbangan tidak eksploitasi alam” tambah Bram.

Untuk reuse, Lunar menggunakan bahan-bahan yang sudah tidak terpakai. “Contohnya kayu sisa bongkaran rumah yang disulap menjadi etalase ini,” Bram menunjukkan salah satu etalase. Untuk recycle, Lunar mendaur ulang kembali material sisa yang telah menjadi limbah. Komposisinya 60% material sisa dan 40% material baru, ”Karena kalau bahan sisa semua harganya jadi lebih mahal. Kayu sisa yang potongannya kecil misalnya, disusun secara unik untuk menjadi sandaran kursi. Jika tidak dimanfaatkan, limbah-limbah kayu itu digunakan masyarakat untuk dijadikan kayu bakar. Hasil pembakaran kayu akan menghasilkan emisi yang merusak lingkungan.

Kayu yang digunakan untuk produksi 80% kayu jati. Selain itu juga menggunakan kayu munggur, kayu pinus, kayu akasia, ranting jati, serat abaka, serat rami, serat rumput gebang dan serat mendong. Semua bahan-bahan tersebut alami dan mudah di peroleh di Indonesia. Dari menjaga keberlangsungan lingkungan tersebut, Lunar memperoleh omset sampai Rp400 juta per bulan.

Sampai saat ini, Lunar mempekerjakan 120 orang karyawan yang merupakan hasil pemberdayaan masyarakat sekitar. Sebagian dari mereka merupakan karyawan sub produksi yang menyuplai spare part yang akan digunakan produk Lunar. Ada yang membuat kaki meja saja, ada juga yang membuat sandaran kursi. “Mereka punya tempat dan skill mengolah kayu, kami mensuplai alat dan mereka mensuplai hasil ke kami. Memberdayakan mereka juga bagian dari menjaga keberlangsungan lingkungan, yang berarti menjaga keseimbangan antara lingkungan, sosial dan ekonomi,” ujar Bram.

Tuesday, September 6, 2011

Gurihnya Nasi Bakar Mengundang Omset Besar

Ada beragam nasi yang mewarnai kuliner nusantara. Sebut saja nasi goreng, nasi lemak, nasi jamblang, maupun nasi uduk. Namun ada satu jenis nasi yang benar-benar baru dan unik yang turut mewarnai belantara kuliner nusantara. Nasi unik tersebut adalah nasi bakar.

Seperti namanya, nasi bakar dimasak dengan cara dibakar. Nasi uduk yang sudah dicetak bulat disiram dengan kuah terik. Bagian atasnya, ditambahkan daun singkong yang telah direbus dan kemangi sebagai garnisnya. Setelah dibungkus daun pisang, nasi dibakar seperti layaknya kita membakar ikan. “Santan menjadikan nasi bakar terasa gurih, sedangkan aroma daun pisang yang dibakar menjadikan nasi bakar sedap dan wangi,“ tutur Sri Murtanti, Pengelola Warung Nasi Bakar Wirosaban yang terletak di Jl. Ki Ageng Pemanahan Wirosaban, Yogyakarta. Proses memasak dari berbentuk beras sampai menjadi nasi bakar menghabiskan waktu 3 jam.

Harga nasi bakar di Warung Nasi Bakar Wirosaban relatif murah, hanya Rp. 2.500,- per bungkus. Jika ditambah ikan lele, harganya menjadi Rp. 7.000,-. Jika ditambah ayam bakar, harganya menjadi Rp. 8.000,- saja.

Awal berdiri, pada Februari 2007, dalam sehari Warung Nasi Bakar Wirosaban hanya mengabiskan sejumlah 3 kg beras dan 2 kg ayam. Kini, setelah 4 tahun, dalam sehari bisa menghabiskan 15 kg beras. “Kalau hari libur malah lebih banyak lagi, “ ujar Sri Murtanti. Menunya pun sekarang lebih lengkap. Selain ayam dan lele, juga tersedia gurame, bandeng, nila, telur, bebek, bahkan sampai sambal belut pun tersedia.

Pada awal berdiri, proses pemasaran menggunakan brosur yang dititipkan ke kantor teman. Kini, tanpa brosur pun setiap harinya Warung Nasi Bakar Wirosaban tak pernah sepi. Sejumlah pengunjung selalu menikmati sedapnya nasi bakar. Mereka bisa saja pelajar yang sedang merayakan ulang tahun, mahasiswa, orang kantoran yang sedang menikmati istirahat siang, atau sekelompok usia parobaya yang sedang reuni sambil membawa alat musik dan mendendangkan lagu-lagu nostalgia.

Setiap harinya, Warung Nasi Bakar Wirosaban memperoleh omset sekitar 1-1,5 juta rupiah. Kalau hari libur malah bisa lebih dari Rp. 2 juta. Dengan begitu, dalam sebulannya omset bisa mencapai 50 juta

Pada proses produksi, Warung Nasi Bakar Wirosaban mempekerjakan 8 orang pekerja, 4 orang shift pagi dan 4 orang lainnya shift sore. Jumlah itu pun masih kurang menurut Sri Murtanti, “Kalau hari libur kan ramai, jadi dengan pegawai sebanyak itu pun rasanya capai sekali.”

Terkait kunci sukses usaha, Sri Murtanti mengatakan sumbernya melalui masakan yang enak, harga terjangkau, pelayanan yang baik dan tempat yang menarik, “Tempat yang nyaman dengan pemandangan menarik di pinggir sawah seperti ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung,” ujar Sri Murtanti.

Resep Membuat Nasi Bakar

Bahan nasi uduk:

1 kg beras

Santan dari 1 butir kelapa

Daun singkong rebus

Kemangi

Sereh, salam, daun jeruk

Garam

Air putih sekitar 1 liter

Bahan Kuah Terik:

Bawang merah

Bawang putih

Kemiri

Ketumbar

Laos

Sereh

Santan

Minyak goreng untuk menumis

Cara membuat:

Rebus santan yang telah dicampur air beserta sereh, salam, daun jeruk dan garam untuk membuat nasi uduk. Setelah mendidih, masukkan beras. Tunggu sampai air habis. Setelah itu nasi dikukus seperti memasak nasi biasa.

Untuk membuat kuah terik, haluskan bawang merah, bawang putih, kemiri dan ketumbar. Goreng bumbu yang telah halus seperti untuk menumis. Masukkan santan, laos dan sereh. Tunggu sampai mendidih.

Siapkan daun pisang. Cetak nasi uduk menggunakan mangkuk. Taruh nasi yang telah dicetak di atas daun pisang dan siram dengan kuah terik. Lapisi bagian atas nasi dengan selembar daun pisang. Taruh daun singkong rebus dan kemangi di atasnya. Setelah nasi dibungkus kemudian dibakar di atas arang yang menyala hingga daun pisang sedikit gosong. Angkat dan sajikan dalam piring.

Merangkai Daun Jadi Tumpukan Rupiah

Indonesia merupakan negara tropis yang terkenal akan kekayaan alamnya. Aneka ragam hayati tumbuh di negara yang dilintasi garis khatulistiwa ini. Tak terhitung jumlah pepohonan dengan aneka ragam bentuk dan warna daunnya. Dari daun saga, daun pisang, hingga daun talas yang berukuran besar.

Saijo, warga Dusun Magirejo, RT/w 04/02 Desa Ngalang Kecamatan Gedangsari, Gunungkidul Yogyakarta melihat peluang usaha dari kekayaan alam Indonesia itu. Ia membuat kerajinan dari bahan dedaunan yang tumbuh di sekitar lingkungan rumahnya.

Sebelumnya Saijo membuat kerajinan topeng kayu, namun tak memiliki prospek cerah karena terlalu banyak pengrajin topeng kayu di daerahnya. Lalu ia mengamati alam sekitar tempat tinggalnya, mencari potensi apa yang kira-kira memiliki prospek usaha namun belum banyak dijalani orang. Saijo melihat Gunungkidul memiliki banyak pepohonan dengan aneka keunikan daunnya. Dari situ munculah ide membuat kerajinan dari daun.

Waktu itu tahun 1999. Meski hanya lulusan SMP Saijo mencoba menciptaka inovasi baru. Modal Rp500 ribu ia gunakan untuk membeli kertas, lem dan aksesoris untuk mempercantik karyanya. “Untuk daun tidak perlu mengeluarkan biaya, karena beragam daun sudah tersedia di sekitar rumah,” ujar Saijo yang waktu itu masih melajang.

Saijo kemudian menawarkan aneka kerajinan daun yang ia buat kepada pengepul di wilayah Kasongan, Yogyakarta. Pengepul tertarik dengan keunikan karya Saijo. Waktu itu belum ada pengrajin yang membuat kerajinan dari daun. Ada box tisu, blocknote, frame foto, undangan, cermin, tempat pensil, kotak perhiasan, dan lain sebagainya. Semuanya berlapis daun. Pengepul langsung memesan sejumlah kerajinan daun pada Saijo. Dari pesanan itu, Saijo menerima upah pertamanya, Rp1,5 juta, jumlah yang besar saat itu untuk ukuran orang kecil sepertinya. Tak dinyana, lewat pengepul itu, hasil karya berbahan daun milik Saijo merambah hingga ke mancanegara seperti Belanda, Kanada dan Amerika.

Cara membuatnya mudah. Pertama-tama Saijo menyiapkan daun yang akan digunakan. Daun yang masih hijau segar tersebut ada yang direbus terlebih dahulu, ada yang langsung digunakan, tergantung keinginan pemesan. Hasil kerajinan dari daun yang tidak direbus bisa tahan sampai 2 tahun, sedangkan jika direbus terlebih dahulu, bisa tahan sampai 5 tahun. Sebelum digunakan, daun disetrika terlebih dahulu. Kemudian Saijo membuat konstruksi sesuai bentuk kerajinan yang diinginkan dari kertas karton. Setelah siap, daun yang telah disterika dilekatkan pada konstruksi menggunakan lem. Sisa-sisa lem pada kerajinan dibersihkan menggunakan lap yang telah dibasahi bensin. Setelah itu kerajinan yang setengah jadi siap dihias. Hiasannya bisa macam-macam. Untuk tempat pensil dan kotak perhiasan, tinggal diberi puring untuk bagian dalam dan alasnya. Untuk cermin tinggal dipasangkan kaca dan manik-manik agar bentuknya lebih manis. Jika ingin warna yang berbeda, tinggal diberi pewarna.

Aneka macam daun ia gunakan, seperti daun kupu-kupu, daun coklat, daun mahoni, daun pisang atau daun lamtoro. “Kami baru mencoba beberapa daun, mungkin daun lain juga bisa digunakan. Namun sampai saat ini konsumen lebih banyak menyukai daun kupu-kupu. Mungkin karena bentuknya unik, seperti kupu-kupu,” tutur Saijo.

Seiring bertambah banyaknya jumlah pesanan, selain dibantu istrinya, Mujiyati dan mempekerjakan 5 orang karyawan, Saijo juga berbagi ilmu tentang bagaimana membuat kerajinan daun kepada tetangganya. Sampai sekarang, sejumlah 21 pengrajin daun terkumpul di Dusun Magirejo. Untuk mengembangkan usahanya, enam bulan yang lalu Saijo membentuk kelompok usaha kerajinan daun dengan nama Kelompok Karya Muda. Ia menjadi ketua di kelompok itu. Melalui kelompok itulah sejumlah pengrajin kumpul guyub sambil berbincang-bincang. “Malah sekarang kami membuat arisan dan dikocok tiap selapanan atau 35 hari sekali, sesuai kalender jawa,” ujar Saijo mengutarakan perkembangan kelompoknya. Selain agar lebih guyub, jika ada pesanan kerajinan daun, Saijo membagi kerja lewat kelompok itu. Sampai kini sudah ada 3 pengepul yang rajin memesan kerajinan daun kepada Kelompok Karya Muda. Meski sewaktu pertama berdiri hasil penjualan hanya Rp1,5 juta, kini setelah berkembang, sekali pesanan omset bisa mencapai Rp 35 juta.

Hambatan yang selama ini dialami Saijo lebih banyak karena faktor alam. Gunung Kidul, seperti namanya, secara geografis memang terletak di wilayah pegunungan. Jika musim kemarau warga mengalami krisis air. Hal ini berpengaruh pada tumbuhan di sekitarnya. Bila kemarau tiba, daun-daun mulai meranggas dan tumbuh kembali di musim penghujan. “Kesulitannya kalau musim kemarau, mencari daun yang masih hijau jadi susah” tegas Saijo yang kini memiliki 2 orang anak ini.

Ke depannya Saijo berharap tidak hanya mampu memproduksi, tapi juga mengekspor sendiri hasil karyanya. “Tapi itu baru cita-cita. Ya semoga saja terkabul,” harap Saijo dimini istrinya.

Wednesday, August 10, 2011

110611#2

Jika boleh memilih, ia ingin tak punya rasa saja. Sebab bila esok ia membaca wajahwajah dan menemukan namanama, ia tak ingin tahu seperti apa lara seperti apa kecewa.

110611#2

Jika boleh memilih, ia ingin tak punya rasa saja. Sebab bila esok ia membaca wajahwajah dan menemukan namanama, ia tak ingin tahu seperti apa lara seperti apa kecewa.

110611

Sesungguhnya ia ingin pergi jauh ke tempat yang tak terjangkau siapapun. Tempat di mana periperi hutan menyulam tarian jiwa dan kepak sayap burung menjadi dawainya.

Diam

Ia hanya diam. Tidak mengingat masa lalu, tidak juga merencanakan masa depan. Baginya masa lalu hanya benang kusut sementara masa depan masih awang-awang. Ia hanya bingung, apa yg harus dilakukannya malam ini dan esok. Dalam kepalanya, wajahwajah hanya datang dan pergi tanpa memberinya kesempatan untuk mengenalnya. Datang dan tidak memberinya kesempatan untuk mengenal lebih jauh. Datang dan pergi lalu ia hanya diam.

Yogyakarta, 13 Juni 2011