Wednesday, September 2, 2015

Ilusi Sejarah dalam Sinema (Festival Arkipel Bag I)

Memetakan sinema sebagai medium dalam produksi ilusi besar oleh kekuasaan. Menahbiskan Arkipel sebagai perayaan film eksperimental terbesar di Asia Tenggara.

Peluru dari bedil Kopral Herman (Bambang Hermanto) melubangi tubuh Violetta (Rima Melati). Gadis yang rindu sosok ayah itu lalu rebah bersimbah darah, di pangkuan kopral yang ia cintai. Pada malam nahas itu, patroli sedang disiagakan. Usai berdebat sengit dengan ibunya, Violetta hengkang dari rumah demi mewujudkan kemerdekaan dirinya.

Sumber foto: cinemapoetica.org
Lahir dari ibu (Fifi Young) yang memendam luka, Violetta tumbuh seperti bocah pingitan. Perlindungan berlebihan dilakukan sang Ibu demi menghindari kemungkinan anaknya dikecewakan laki-laki. Ia tidak mau Violetta menghabiskan hidup sebagai orang tua tunggal seperti dirinya.

Violetta (1964) adalah film karya sutradara Bachtiar Siagian. Film ini menjadi satu dari sejumlah film yang diputar dalam ''Arkipel 3rd Jakarta International Documentary & Eksperimental Film Festival'' yang dihela oleh Forum Lenteng. Festival yang digelar pada 22-29 Agustus 2015 lalu itu mengambil tema besar "Grand Illusion".

Tema tersebut diketengahkan untuk membaca dinamika demokrasi di Indonesia, juga situasi politik internasional pada umumnya. Derap politik, merumuskan tujuan bersama ke arah kehidupan lebih baik, yang masih diwarnai dengan berbagai persoalan kemanusiaan. ''Untuk melihat kembali posisi kita dalam hubungan sosial di mana kita hidup. Apakah ia kenyataan atau ilusi,'' kata Direktur Artisitik Arkipel, Hafiz Rancajale.

Sumber foto: arkipel.org
"Grand Illusion" terinspirasi dari judul film perang La Grande Illusion (1937) garapan master sinema asal Prancis, Jean Renoir. Gagasan film ini sendiri bermula dari buku The Great Illusion, A Study of the Relation of Military Power to National Advantage karya Norman Angel yang menyoal pertentangan kelas dan kritik kemanusiaan pada era Perang Dunia I.

Indonesia adalah salah satu bangsa dengan sejarah sosial-politik penuh ilusi. Sejumlah tragedi kemanusiaan yang melibatkan alat kekuasaan negara, meski telah diakui sebagai beban sejarah, namun belum juga diselesaikan hingga saat ini. Antara lain yang belakangan kembali menghangat adalah tragedi 1965-1966 ketika negara mendiskreditkan sebuah generasi dari ideologi politik tertentu (komunisme) dengan aksi pembantaian dan penangkapan banyak orang tidak berdosa tanpa proses persidangan. Juga memberangus karya-karya mereka.

Sejak Gerakan 30 September 1965, semua hal terkait komunisme diharamkan. Demi pelanggengan kekuasaan Orde Baru, dogma dalam sejarah yang disebarluaskan ke masyarakat amat ilusif, stigma komunisme dibangun dan didistribusikan lewat beragam media, ''Termasuk film dan media massa,'' kata Hafiz.

Di antara program-programnya, Arkipel 2015 berupaya menelusuri praktik produksi kenyataan ilusif dalam medan sosial, politik dan kebudayaan di kitaran kasus G-30-S itu. Tinjauannya pada peran negara memanfaatkan sinema dalam proyek ilusi besar itu. Sekaligus peran negara dalam memberangus dan menghancurkan karya sinema karena diidentifikasi terkait dengan aroma terlarang, meski tidak secara langsung. Contohnya, film-film karya Bachtiar Siagian.

Serupa nasib Violetta, belasan film karya Bachtiar pun berakhir tragis; dimusnahkan hingga ke akar-akarnya. Bachtiar dianggap memiliki DNA komunis karena jabatannya sebagai Ketua Lembaga Film Indonesia, organisasi yang berdiri di bawah naungan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang underbouw Partai Komunis Indonesia. Bachtiar dituduh menyebarkan ideologi Leninisme-Marxisme lewat film.

Itu sebabnya, film-film karya Bachtiar dimusnahkan. Termasuk dua filmnya yang dicurigai memberi ruang bagi presentasi realisme sosialis, yakni Turang (1957) dan Piso Surit (1960). Keduanya mengambil setting Karo dalam pergolakan revolusi kemerdekaan. Turang, misalnya, berkisah tentang perjuangan masyarakat Karo melawan Belanda. Film ini mendapat respons positif dan dinobatkan sebagai Piala Citra untuk kategori film terbaik di ajang FFI II pada 1960.

Menghubungkan karya-karya Bachtiar dengan ideologi komunisme adalah ilusi yang diciptakan kekuatan politik yang berkuasa saat itu. Sebab, mengutip ulasan hasil wawancara dengan Misbach Yusa Biran di penghujung hayat sang pengarsip film itu pada 2013 silam, sebagaimana diterbikan oleh jurnal footage, film-film Bachtiar tidak secara konsisten menggambarkan ideologi Lekra (realisme sosialis).

Menurut Misbach, mengusulkan karya Bachtiar sebagai bagian dari pembacaan sejarah film Indonesia, sebenarnya, belum tentu juga menjamin kesejajaran sejarah dua ideologi yang bertarung dalam sejarah politik Indonesia pasca-kemerdekaan kala itu.

Sejak 1930-an, perfilman Indonesia didominasi oleh film Amerika yang mengonstruksi selera penonton dengan narasi sederhana. Dibutuhkan strategi khusus jika ingin melakukan penetrasi ideologi tertentu melalui sinema. Dengan pengaruh teori montase Vsevolod Pudovkin yang bersifat konstruktif, Bachtiar menawarkan semacam teori film melalui formula ''Pil Kina Bandung''. Hal itu terlacak dalam surat menyurat Bachtiar dengan Salim Said.

Rumusan ''Pil Kina Bandung'' sederhana. Yakni, menyuguhkan gula-gula entertainment, sebagaimana pil kina yang dibungkus oleh gula putih halus untuk membangkitkan selera para penderita malaria. Bachtiar memadukan struktur sederhana naratif linear yang populis pada waktu itu dengan penokohan yang kuat dan editing ala Pudovkin, seperti yang jelas tergambar dalam Violetta.

Penjelasan teoretis semacam itu tidak berguna di hadapan proyek ilusi yang konsisten. Saat meletus G-30-S/PKI, Bachtiar ditangkap, dibuang ke Pulau Buru, dan tanpa pengadilan sama sekali. Ia baru dibebaskan pada 1977.

Violetta adalah satu-satunya film karya Bachtiar yang berhasil diselamatkan, dan menjadi koleksi Sinematek Indonesia. Meski sudah didigitalisasi, kondisi Violetta tidak bisa dibilang bagus. Ada sejumlah ''luka'' materi seluloidnya, ada adegan terpotong sekira 15 menit, dan ada upaya penyambungan materi seluloid yang janggal.

Lewat Arkipel 2015, film ini diputar kembali setelah 50 tahun penayangannya dilarang. Selain Violetta, film yang tersisa dari sutradara yang dianggap memiliki afiliasi dengan PKI adalah Si Pincang (1951) karya Kotot Sukardi. Sayangnya, kondisi fisik Si Pincang kini sudah tak layak putar.

Ilusi besar semacam itu tak hanya terjadi di Indonesia. Sejarah dunia mencatat skenario-skenario ilusi besar itu diimplementasikan di berbagai negara. Lima di antaranya disajikan sebagai film pembuka Arkipel 2015. Yaitu, Beep (2014), What Day is Today (2015), Cinza/Ashes (2014), A.D.A.M (2014), dan Killing Time(2015).

Awal Beep langsung menyengat penonton dengan cetusan seorang bocah, ''Ayah, benarkah komunis itu jahat, membunuh anak kecil seperti saya?''

Beep adalah kolaborasi footage dan newsreel bermuatan propaganda anti-komunis yang dilakukan Korea Selatan. Korea Selatan menjadikan kisah hidup Seungbok Lee, bocah 10 tahun yang diduga tewas dibunuh milisi Korea Utara demi menciptakan kebencian kolektif terhadap Korea Utara. Beep hasil produksi Kyung-Man Kim, pemuda Korea Selatan yang rajin menyunting ulang footage arsip, newsreel, dan film-film propaganda sejak 2001.

Sementara itu, What Day is Today adalah hasil kolase ciamik beragam benda seperti radio, roti, buah, dan kertas hasil garapan sekumpulan anak muda Portugal yang tergabung dalam Colectivo Fotograma 24. Penggagasnya adalah Rodolfo Pimenta dan Joana Torgal. Dengan teknik stop motion, film ini mengusung ide pergolakan antar kelas yang terjadi di Portugal sejak lama hingga hari ini.

Cinza/Ashes juga berasal dari Portugal. Film hitam-putih ini terdiri dari sekumpulan foto yang membentuk pigura sejarah bangsa Portugal era 1926-1974. Menyuguhkan potret gedung pelayanan publik seperti sekolah, pembangkit listrik, stadion sepak bola, dan kereta api yang dibangun semasa pemerintahan diktator fasis Antonio de Oliveira Salazar. Penggarapnya Micael Espinha, alumnus jurusan Penyutradaan Sekolah Teater dan Film Lisabon pada 2003 yang banyak memproduksi film dokumenter, fiksi, serial TV, dan film pendek animasi.

Lainnya, A.D.A.M, kepanjangan autonomous digital assault microbe; sebuah kode dari drone otonom untuk pertambangan asteroid. A.D.A.M menyajikan eksplorasi mata android terhadap berbagai lanskap: laut, gurun, penambangan, dan kota dengan menggunakan teknik stereocospic 3D dari foto-foto udara 2D. Eksplorasi ini terhenti karena berbagai hal, yang menggambarkan kuasa dan kontrol atas informasi dari antariksa. Film ini dibuat oleh sutradara asal Kroasia, Vladislav Knezevic.

Film terakhir, Killing Time, memilih pendekatan jenaka untuk memetakan konflik interpersonal dan multikultural antara Arab dan Israel lewat relasi dua sejoli. Film berdurasi 22 menit ini diproduksi oleh sutradara dan penulis naskah asal Israel alumnus jurusan kajian film Minshar for Art, Rafi Shor.

Tahun ini, Arkipel menyeleksi 1.200 judul film dari 80 negara. Hasilnya, ada 130 film dari 30 negara yang bertarung dalam sesi kompetisi internasional. Kriteria penilaiannya adalah bagaimana peserta mengelola nilai-nilai estetika dan berekperimentasi dengan berbagai medium dan logika, sesuai dengan tema yang diusung.


Jumlah itu jauh lebih besar dibandingkan dengan penyelanggaraan Arkipel sebelumnya. Arkipel pertama, panitia menerima sejumlah 200 film dari 30 negara, sementara pada Arkipel kedua panitia menerima 320 film dari 60 negara. Perkembangan kuantitas partisipan yang hampir empat kali lipat dan proyek film yang dibuat itu dapat dijadikan indikator untuk menahbiskan Arkipel sebagai perayaan film eksperimental terbesar di Asia Tenggara, mengalahkan "Bangkok Experimental Film Festival" dan "Kuala Lumpur Experimental Film and Video Festival".

Monday, July 27, 2015

Hilal, Keluarga dan Lebaran

MENCARI HILAL
Sutradara : Ismail Basbeth
Pemeran : Deddy Sutomo, Oka Antara, Toro Margens, Erythrina Baskoro
Produksi: MVP Pictures, Studio Denny JA, Dapur Film, Argi Film dan Mizan Productions, 2015

Dialog sosial dalam ragam konflik personal dan keagamaan. Film yang memperlihatkan ''wajah'' berbeda Ismail Basbeth.

Pertengkaran kecil di masjid seusai berbuka puasa itu menjadi klimaks dari perseteruan ayah-anak, Mahmud (Deddy Sutomo) dengan Heli (Oka Antara). Heli memilih angkat kaki. Sementara Mahmud tetap pada tujuan utama; mencari hilal dari Goa Hira yang tinggal beberapa kilometer jauhnya.

Sumber foto: twitter.com/mencarihilal
Mahmud adalah ayah berusia 60 tahun yang taat agama namun keras kepala. Sementara itu, Heli adalah anak bungsu yang kecewa lantaran ayahnya lalai menjaga ibunya hingga meninggal. Heli kemudian memilih menjadi aktivis lingkungan dan jarang pulang ketimbang tinggal bersama ayah serta kakak perempuannya.

Kembalinya Heli ke rumah bertujuan untuk meminta tolong sang kakak yang bekerja di kantor Imigrasi. Ia perlu memperpanjang paspor secepatnya demi misi lingkungan di Nikaragua. Namun permohonan itu bersyarat, sang kakak meminta Heli untuk menemani Mahmud yang sakit-sakitan dalam proyek pencarian hilal.

Mengunjungi tempat tinggi untuk mengamati hilal adalah tradisi Mahmud semasa menjadi santri. Tradisi itu hilang bersamaan dengan tutupnya pesantren. Sementara proyek pengamatan hilal yang dilakukan pemerintah menghabiskan miliaran rupiah yang justru berbuntut perpecahan di kalangan masyarakat dan ormas Islam.

Perjalanan spiritual dan muara konflik ayah-anak itu terekam dalam film Mencari Hilal (The Crescent Moon). Film ini hasil kerja bareng lima rumah produksi: MVP Pictures, Studio Denny JA, Dapur Film, Argi Film, dan Mizan Productions. Produsernya pun keroyokan, yaitu Hanung Bramantyo, Salman Aristo, Putut Widjanarko, dan Raam Punjabi. Sutradaranya adalah Ismail Basbeth, yang lewat Another Trip to The Moon tampil sebagai nominator Tiger Awards di International Film Festival Rotterdam Januari lalu.

Berbeda dari Another Trip to The Moon yang surealis dan miskin dialog, Mencari Hilal bergaya realis dengan narasi jelas dan riuh dengan dialog. Basbeth yang begitu asyik mengeksplorasi dialog personal dalam Another Trip to The Moon, kini melalui Mencari Hilal, ia memaparkan dialog sosial lewat interaksi ayah-anak, masyarakat dengan pemerintah, serta ragam wajah Islam di Nusantara berikut perdebatannya. Sementara benang merah kedua film ini adalah pencarian identitas dan kemerdekaan di tengah kuasa politik serta struktur sosial.

Plot cerita Mencari Hilal mengalir lancar atas bantuan narasi yang oke, sinematografi yang ciamik serta akting dan pengembangan karakter yang menunjukkan kerja keras para aktornya.

Film ini direncanakan tayang di bioskop-bioskop mulai 15 Juli dan menjadi film pengisi libur Lebaran. Isu ''hilal'' membuat tema film ini nyambung dengan percakapan sosial yang mengemuka saban awal Ramadan dan Syawal. Sementara pesan tentang dialog antar-anggora keluarga, telah menjadi semacam menu utama dalam konteks silaturahmi dan budaya saling maaf-memaafkan saat Lebaran.

Formulasi itu --kecuali fakta bahwa film ini punya selera humor yang terbatas-- tampaknya telah jauh-jauh hari dirancang oleh lima produser, juga untuk menangkap peluang pasar di libur Lebaran. Jika itu sukses dikemas, tujuan lain tentu akan seiring-sejalan. Indonesia adalah negeri dengan mayoritas muslim yang konsumtif. Ini tentu pasar potensial bagi produk apa saja yang islami, termasuk film.


Wednesday, June 17, 2015

Perpisahan yang Diinginkan

Entah mengapa saya selalu merasa sore di bulan puasa menjelang berbuka sebagai sore yang ramai, tapi terasa lengang, dan penuh pengharapan. Momen menjelang tenggelamnya matahari seharusnya menjadi syahdu. Lanskap jingga di cakrawala, kemudian perlahan memudar berganti pekat. Seperti kisah dua anak manusia yang harus berhadapan dengan perpisahan. Mengharukan tapi penuh ketidakrelaan.

Lantas lanskap kesyahduan itu mendadak hilang dengan berbondong-bondongnya orang keluar dari persemayaman. Keluar dari rumah demi apa saja. Berburu makanan pembuka, menghabiskan waktu dan menunggu saat berbuka sambil menikmati senja. Rasa lengang muncul menjadi imaji ketika tubuh sempoyongan, energi yg terisi ketika sahur tengah melewati limit-limit penghabisan.

Seperti sore ini. Sejatinya puasa baru dimulai esok hari, tapi sore ini saya merasa seperti sore menunggu beduk bertalu. Jalan Pasar Minggu yang ramai tiap menjelang petang. Kelakuan manusia di ibukota yang tiap hari selalu serupa, pagi berangkat ke hilir dan sore kembali ke udik. Sore yang ramai, tapi terasa lengang dan penuh pengharapan.

Namun lengang tak selalu muram. Bahkan kelengangan kali ini tanpa kemuraman sama sekali. Hanya kosong. Seperti perpisahan yang seharusnya. Perpisahan yang bisa jadi mengharukan, tapi diinginkan. Perpisahan penuh pengharapan akan hal-hal lain.



Kalibata – Bundaran HI, 17 Juni 2015

Tuesday, June 9, 2015

Ramuan Klise Film Bencana

SAN ANDREAS 
Sutradara : Brad Peyton 
Pemeran : Dwayne Johnson, Carla Gugino, Alexandra Daddario, Paul Giamatti 
Produksi : New Line Cinema, 2015


Malaikat hadir dengan cara klise dalam film-film bencana garapan Hollywood. Tidak terkecuali dalam San Andreas. Praktek CGI-nya masih kalah seru dibandingkan dengan 2012.


Dari helikopter, Ray Gaines (Dwayne Johnson) melemparkan tali. Kali ini pilot helikopter search and rescue itu bukan menyelamatkan warga umum yang terjebak dalam bencana, melainkan ibu dari anaknya. Emma (Carla Gugino), perempuan yang telah menggugat cerai Ray, terjebak di atas reruntuhan gedung, di Los Angeles.

Gempa besar mengakibatkan gedung itu hancur dan dilalap api. Perempuan itu harus berlompatan di antara reruntuhan demi menyelamatkan diri. Sementara di tempat lain, putri mereka, Blake (Alexandra Daddario ), berteriak panik. Kakinya terjepit jok depan limousin yang tertimpa tembok di sudut parkiran gedung bertingkat. Tapi, siapa yang mau menolongnya di tengah gempa bumi begini. Orang-orang pada berhamburan dan berupaya menyelamatkan diri. Bahkan, calon ayah tirinya saja lebih memilih mencari selamat sendiri.

Gempa besar dari patahan San Andreas itu benar-benar anomali. Diprediksikan datang tiap 150 tahun dan tak kunjung tiba setelah lewat dari 100 tahun. Sekalinya datang, tanpa prediksi dan meluluhlantakan apa saja yang ada di sekitarnya. Patahan sepanjang 800 mil itu siap melahap daratan Amerika, dari Los Angeles hingga San Fransisco.

Setelah sukses menyuguhkan Journey to the Center of the Earth (2008) dan Journey 2: The Mysterious Island (2012), sutradara Brad Peyton masih ketagihan menyuguhkan film petualangan. Kali ini menyoal lanskap kiamat akibat gempa bumi besar dalam film San Andreas. Peyton bahkan juga masih ketagihan bermitra dengan tokoh yang sama dalam film Journey 2: The Mysterious Island (2012), yaitu Dwayne Johnson atau yang lebih dikenal dengan panggilan The Rock.

Dari sisi plot, secara umum, film bencana memiliki pola yang sama. Mengemas narasi besar soal musibah yang datang dan menelan banyak korban. Kemudian muncul sosok 'malaikat' penyelamat yang membantu korban, menyelamatkan dari musibah, dan narasi berakhir bahagia. Tarikan napas lega berlaku di setiap akhir film.

Ramuan klise itu berlaku juga dalam San Andreas. Pasangan suami-istri yang hampir bercerai dan disatukan kembali oleh bencana serta penyelamatan anak mereka.

Bingkai klise itu, seperti pada film-film keluaran Hollywood, diramu dengan teknologi visual untuk menggambarkan kedahsyatan bencana. Tanah bergetar, jembatan luluh lantak, tsunami menyerang dan gedung-gedung runtuh berhamburan. Persis seperti runtuhnya kartu-kartu dalam permainan domino.

Bantuan teknologi computer-generated imagery (CGI) membuat visualisasi film ini tampil ciamik. Memacu jantung penonton dan menjebaknya dalam kekhawatiran yang berkepanjangan ketika bencana itu nyaris merenggut sang tokoh.

Ramuan komersial San Andreas paling mudah dibandingkan dengan film 2012 garapan Rolland Emerich. Dalam konteks hiburan (cukup dengan ''h'' kecil), San Andreas masih tertinggal dari 2012. Baik dari sisi plot maupun suguhan efek khusus dan CGI-nya.
San Andreas hanya menyuguhkan kiamat kecil sepanjang Los Angeles hingga San Fransisco. Sedang 2012, yang pernah dinominasikan sebagai film laga atau petualangan terbaik oleh Saturn Award, menawarkan kepentingan sejagat. Bencana besar yang meluluhlantakan dunia dengan sajian visualisasi maksimal.


Pengalaman dua sutrdara dalam dua film bencana itu juga bisa jadi penyebab perbedaan tersebut. Emerich yang lebih dulu malang-melintang di dunia sinema, telah memproduksi sederet film berbau kiamat. Di antarnya Independence Day, The Day After Tomorrow. Emerich menguras ongkos US$ 200 juta untuk memproduksi2012. Sedangkan Peyton ''hanya'' menghabiskan separuhnya buat San Andreas.  

Thursday, June 4, 2015

Doea Titik Lemah Film Tentara*


Doea Tanda Cinta
Sutradara :Rick Soerafani
Pemeran : Fedi Nuril, Rendy Kjaernett, Tika Bravani
Produksi : Induk Koperasi TNI Angkatan Darat bekerja sama dengan Benoa dan Cinema Delapan, Mei 2015

Sumber Foto: http://awanjakarta.com/berita-terkini/film-terbaru/doea-tanda-cinta-jadi-film-perjuangan-cinta-di-akademi-militer/


Ketika disodorkan undangan untuk menonton film Doea Tanda Cinta, saya hanya melengos. Film garapan lembaga tentu mengusung misi personal yang belum tentu ada kaitannya secara langsung dengan publik. Atau bahkan sarat dengan kepentingan personal. Apalagi dibikin oleh rumah produksi yang tak memiliki nama besar, dengan produser dan sutradara tak terlalu dikenal.

Tiga bintang utama film ini bagi saya tak terlalu menarik dan bukan aktor moncer. Fedi Nuril memiliki nama besar, terutama sejak perannya dalam film 5 cm. Film 5 cm diangkat dari novel populer dan meninggalkan kesan menarik bagi banyak pembaca, terutama yang suka berpetualang. Film ini digarap ketika menjelajahi alam bebas ala backpacker menjadi tren di Indonesia. Meski begitu akting Fedi tak bagus-bagus amat. Tentu tak bisa dibandingkan dengan Reza Rahardian yang selalu berakting maksimal.

Salah satu pemeran lainnya adalah Rendy Kjaernett. Ia mantan bintang sinetron yang beruntung bisa memasuki dunia layar lebar meski kiprahnya bisa dikatakan tak cemerlang.

Pemeran film dan sinetron memiliki strata sosial berbeda dan jauh, sejauh langit dan bumi. Pemeran film mengandalkan kemampuan akting sebagai modal utama, sementara kemolekan fisik nomor berikutnya. Sedang dalam sinetron berlaku sebaliknya kemolekan fisik kriteria utama meski kemampuan akting tidak bagus-bagus amat.

Selain itu film ini juga minim publikasi. Media yang mengulas film ini bisa dihitung dengan jari. Film bagus umumnya memperoleh perhatian media dengan sangat besar. Perhatian media bisa menjadi cara praktis untuk mengetahui apakah film komersial terekomendasi untuk ditonton atau tidak.

Film Tjokroaminoto misalnya, menguras perhatian media jauh sebelum syuting dilakukan. Jika perbandingannya tidak setara karena Tjokroaminoto film biopik, baiklah saya ambil contoh lain. The Raid yang mengusung Gareth Evans, tokoh baru dalam dunia film, bahkan dalam seni peran, telah mengalihkan perhatian banyak pemerhati film dunia. Film ini memperoleh perhatian banyak festival film dunia, salah satunya Festival Film Toronto dan menjadi box office di Amerika pada seri keduanya.

Sialnya titah redaktur mengamanatkan saya untuk menonton film ini dan membuat ulasannya. Baiklah, sesekali nonton film “biasa” untuk mempertegas apa saja yang membedakan “biasa” dan “tak biasa”. Akhirnya saya datangi juga bioskop yang telah diramaikan oleh penonton-penonton berseragam loreng.

Sebetulnya ada banyak hal yang bisa dievaluasi dalam film ini. Tapi biar tampak kompak dengan judulnya, saya ambil dari doea sisi saja, dari sisi plot dan posisi film ini di tengah film menyoal kehidupan tentara.


*****

Akhirnya pertahanan Mahesa (Rendy Kjaernett) runtuh juga. Pada salah satu sesi latihan di hutan, kakinya menginjak batu rapuh. Tubuh yang sudah sempoyongan itu kemudian terpeleset, jatuh ke sungai dan pingsan.

Bagi anak kota dan putra petinggi militer seperti Mahesa, kehidupan di rumah dan di pendidikan Akademi Militer (Akmil) tentu berbeda. Di rumah ia dikelilingi kehidupan mewah dan hedonis. Apapun yang ia inginkan bisa dengan mudah dicapai dengan materi dan embel2 pangkat bapaknya. Sementara di Akmil sangat menyengsarakan. Bocah kebluk ini harus apel pagi, hidup disiplin dan menghadapi berbagai latihan fisik yang keras khas militer. Pola hidup begitu menyiksanya secara fisik juga mental.

Berkebalikan dengan Mahesa, Bagus (Fedi Nuril) justru lahir dan tumbuh di tengah keluarga sederhana. Bersekolah tentara sudah menjadi impiannya sejak kecil. Di Akmil itulah ia dan Mahesa dipertemukan. Mereka menjadi karib dan bahkan terjebak cinta pada perempuan yang sama. Perempuan itu adalah Laras (Tika Bravani), gadis asal Magelang yang baru lulus SMA.

Suka duka menempuh pendidikan di sekolah militer, hingga lulus dan kemudian terjun ke medan operasi dalam satuan Kopassus ini dikemas dalam film berdurasi 90 menit ini. Penggarapnya sutradara Rick Soerafani dengan penulis skenario Jujur Prananto. Rick adalah sutradara pendatang baru dalam dunia film. Sebelumnya ia telah menyutradarai belasan video iklan. Sementara Jujur adalah Cerpenis asal Salatiga yang karyanya bertebaran di media nasional. Debutnya dalam dunia film ia mulai dengan menulis skenario Ada Apa dengan Cinta berlanjut Petualangan Sherina.

Di Indonesia, film-film menyoal kehidupan tentara bisa dibilang sedikit. Beberapa diantaranya adalah Teror di Sulawesi Selatan, Madju Tak Gentar, Tujuh Wanita dalam Tugas Rahasia, Enam Djam di Jogja, hingga trilogi Merah Putih. Itu pun umumnya mengupas soal revolusi pasca kemerdekaan dengan tahun produksi 1964 hingga 1980an--kecuali trilogi Merah Putih yang diproduksi 2009, 2010 dan 2011. Film-film ini menjadi oase bagi penggemar film bertemakan kehidupan tentara di tengah semaraknya dominasi film bertema cinta dan horor.

Meski menyoal kehidupan tentara, Doea Tanda Cinta lebih tergolong genre laga-drama. Tak heran bila film ini lebih didominasi cerita cinta dan secuil kisah para tentara berjibaku di medan operasi. Pada penghujung film, Bagus dan Mahesa ditugaskan untuk menyelamatkan sandera, seorang profesor LIPI, dari tangan segerombol penjahat yang dipimpin John Reno. Sayangnya pertarungan di medan operasi itu hanya berdurasi beberapa menit saja, amat minim untuk ukuran genre film laga. Apalagi dengan adegan gerilya dan baku tembak yang tidak mencekam, tak cukup untuk memacu adrenalin penggemar film laga.

Dari sisi plot, film ini tak menawarkan hal baru. Diawali dengan adegan tembak-menembak dalam operasi militer penyelamatan sandera di salah satu hutan di Flores, Nusa Tenggara Timur. Alur kemudian mundur ke awal cerita, dan melaju secara linier. Sayangnya film ini tak banyak memberikan kejutan, tiap perkembangan alurnya sangat mudah ditebak. Misalnya siapa pemenang diantara cinta segitiga, tokoh mana yang tertembak mati di medan operasi, hingga berhasil atau tidaknya upaya penyelamatan sandera. Satu-satunya kejutan yang dimunculkan adalah ketika Bagus melompat dari helikopter yang siap tinggal landas demi membalas kematian sahabatnya. Meski juga alur ini tampak lucu, karena logikanya tak akan ada tentara yang membiarkan tentara lainnya terjun sendirian menghadapi sekelompok penjahat.

*versi lain dari ulasan ini ada di Majalah GATRA

Friday, May 29, 2015

Astronot Datang Pagi Ini

Ia selalu datang di pagi hari dengan dengung tajam dan kencang. Layaknya astronot, ia mengenakan kostum khusus yang membungkus sekujur tubuhnya. Astronot mengenakan penutup kepala berlapis kaca pada bagian depan. Begitu pula ia. Lewat lapisan bening itu matanya nanar memantau dunia luar.

Jika mendengar dengungannya, suara yang kencang itu terasa dekat, tapi sebetulnya masih amat jauh. Tambah kencang dengungannya tambah pendek jaraknya dengan kita. 

Aku selalu takut mendengar dengungan itu. Seperti bunyi sangkakala yang ditiup Izrail untuk memporak-porandakan semesta. Ketika bunyi itu datang, langit akan runtuh, gunung-gemunung menyemburkan lahar panasnya dan laut menggoyangkan seluruh isinya. Bumi terbalik dan musnahlah peradaban seluruh umat manusia.

Pagi ini Izrail datang lagi. Maaf, bukan Izrail, tapi astronot itu. Dari ujung gang, dengungannya santer terdengar. Beberapa pengikut--barangkali ajudan--mengekorinya di belakang. Mereka masuk ke tiap-tiap rumah kemudian menghujaninya dengan rentetan tembakan. Tembakan itu tak memiliki umpan, melainkan asap beracun yang dalam sekejap membumbung ke angkasa. 

Orang-orang berhamburan keluar rumah. Tua, muda, berikut binatang piaraan yang harus segera diselamatkan sebelum tergolek lemas tak berdaya. Mereka menuju tempat terbuka di mana banyak udara segar yang belum terkontaminasi--harta paling berharga di dunia-- meski tak pernah ada udara yang benar-benar segar di ibukota. Mereka menggunakan benda-benda demi menghindari asap yang siap meruntuhkan pertahanan: menghancurkan paru-paru dan memecahkan batok kepala. Baju, handuk, selimut, atau apa saja yang pertama kali tampak di mata mereka.  

Kelinci-kelinci piaraanku menjadi korban astronot beberapa tahun lalu. Namanya Britney dan Inal. Waktu itu aku masih tinggal di Jogja dan malam sebelumnya aku tak pulang ke asrama. Seorang teman menyelamatkan keduanya dari serbuan asap beracun. Begitu saya datang siang hari, saya melihat kandang itu sudah beralih ke halaman yang dipenuhi rerumputan. Britney selamat dari terjangan asap beracun, tapi tidak dari panasnya matahari. Tubuhnya tergolek di dalam kandang dengan napas kembang kempis. Beruntung Inal meminta keluar kandang ketika dipindahkan. Tubuh Inal juga lebih kuat ketimbang Britney. Bulu-bulu panjangnya bermekaran ketika ia berlompatan menyambut kedatangan saya.

Sore itu saya dan Inal, juga teman-teman seasrama, berduka menyaksikan napas terakhir Britney. Menjelang petang kami menguburnya di halaman belakang. 


*****


Pada penghujung 2008 saya pindah kos ke Demangan. Wilayah itu lebih dekat dengan kampus, tak sampai 15 menit berjalan kaki. Uniknya, akses masuk ke kos baru itu hanya melewati lorong kecil berliku kemudian mentok di satu pintu seperti gang buntu. Pintu itu yang mempertemukan penghuni kos dengan dunia luar. Pintu itu selalu kami kunci dan setiap penghuni kos memiliki kuncinya. Tak sembarang orang bisa melewatinya.

Pagi itu astronot datang ke kos kami. Sebagai penghuni yang kamarnya paling dekat dengan pintu masuk, saya memberanikan diri membuka kunci. Teman-teman kos yang mulanya bersembunyi di balik pintu kamar, menyembul pelan-pelan begitu mendengar saya keluar kamar. Mereka berdiri tegak dengan wajah cemas. Dengungan astronot kencang, tapi tampaknya ia masih di ujung gang.

Tentu tak butuh berjam-jam untuk astronot itu sampai ke depan pintu kos kami. Dengungan kencang yang kian mendekat, dan asap beracun yang menembus melalui celah pintu menyiutkan nyali saya. Alih-alih memasukan kunci ke lubangnya, saya malah terbirit ngungsi ke kamar paling ujung, diikuti teman-teman yang bersembunyi di kamar masing-masing.     

Tapi toh astronot itu berhasil masuk juga. Bapak pemilik kos mempersilakannya dan didampingi Pak RW. Aroma asap beracun menyebar dalam sekejap. Kami menahan napas sambil harap-harap cemas. 


*****

Jakarta membuatku berdamai dengan kenyataan, juga dengan astronot itu. Setidaknya aku mencoba jalan itu. Akan seperti apa jadinya kita jika terus-menerus takut padanya. 

Pagi itu ketika ia datang, saya mencoba mengajaknya berdialog. Orang-orang telah lebih dulu berhamburan memenuhi jalanan. Tapi sungguh sial. Alih-alih menerima sambutan saya dengan tangan terbuka, astronot itu malah menyemburkan asap persis ke muka saya ketika saya menuju pintu gerbang--hal yang bahkan tak pernah dilakukan oleh astronot-astronot di kota pelajar. Ah, dasar Jakarta! 

Meski dengungannya menyiksa, astronot di Jogja masih memiliki etika. Ia tak pernah menyemprotkan asapnya langsung ke manusia. Ia mengisi rumah-rumah dengan asap tapi tak pernah membidiknya langsung ke manusia. 

Apa lagi yang bisa kulakukan selain menghindar dari serbuan asap dan bergabung dengan orang-orang yang telah lebih dulu berhamburan ke jalan.

Aku mengaku kalah, kami memang kalah. Astronot berhasil menguasai tempat tinggal kami dan menandainya dengan semburan asap beracun.


*****

Kali lain saya tak ingin berdamai dengannya. Tidak juga menantang. Namun bukan menyerah kalah. Hidup kami berjalan paralel. Aku dengan kehidupanku, astronot dengan dukungan Pak RT dan orang-orang kelurahan. 

Pagi ini dengungan astronot datang bersamaan dengan niat saya ke kamar mandi. Ia melewati pintu gerbang kos dan saya melewati pintu kamar mandi. Saya menutup pintu dan menyadari bahwa kamar mandi bisa menjadi ruang pertahanan yang amat nyaman.


Sumber Foto: http://www.antarafoto.com/peristiwa/v1276337705/cegah-dbd

Friday, May 1, 2015

Topi Darim Tidak Bundar*

Lakon adaptasi naskah teater garapan Arifin C. Noer dalam medium pantomim. Lebih susah ketimbang menginterpretasi naskah Samuel Beckett. 

Laki-laki itu berdiri di tengah panggung dengan tubuh lesu. Keningnya berkerut. Ia seperti kebingungan. Matanya berusaha mengenali satu per satu dari empat sosok yang berseliweran di sekelilingnya. Ia tak menemukan wajah yang dicari. 

Merujuk ke naskah teater garapan Arifin C. Noer, laki-laki itu bernama Darim, suami Eroh. Ia menghadapi lika-liku hidup dan pencarian identitas. Dari adegan itu, kita akan menduga Darim sedang mencari Eroh. Sebab, sebelumnya, terpapar adegan rutinitas kehidupan keluarga Darim yang lantas ditinggal pergi istrinya. 

Add caption

Tapi bukan Eroh yang dicari Darim. Ia sedang mencari wajahnya sendiri di wajah empat sosok yang berseliweran itu. Darim sedang mencari Darim; mencari jati dirinya. 


Adegan tersebut merupakan bagian dari lakon Kocak-Kacik karya Arifin C. Noer. Dibawakan dengan pendekatan pantomim oleh Bengkel Mime Theatre (BMT) asal Yogyakarta, pada 16-17 April lalu di Teater Salihara, Jakarta Selatan. Kocak-Kacik menjadi satu dari lima lakon dalam rangkaian Helateater Salihara 2015 yang mengambil tema ''Persembahan Kepada Arifin C. Noer''. 


Praktek mime yang dikembangkan BMT dalam mengurai naskah yang digubah pada 1975 ini mengarah pada gerak dalam struktur drama-tragis. Kalaupun ada unsur komedi, porsinya tidak sampai diperhitungkan. Lakon realis-tragis ini beririsan dengan karakter naskah Arifin yang khas, mengangkat peristiwa kehidupan sehari-hari seputar dunia ketiga dengan lokus dialog internal tokoh serta pengembangan-pengembangan imajinatif seperti pencarian identitas. 


Plot dalam Kocak-Kacik dinilai unik dan tidak banyak dikenal, serta menawarkan banyak imajinasi. ''Cocok dengan karakter pementasan pantomim,'' kata sutradara pertunjukkan ini, Andreas Ari Dwianto.


Adaptasi naskah teater ke dalam bentuk teater mime, bagi BMT, bukan perkara mudah. Medium teater memiliki kebebasan penggunaan unsur verbal sebagai bagian dari upaya penyampaian. Sementara itu, dalam pantomim, proses penyampaian itu hanya melalui ekspresi dan gerak tubuh. 


Dari dua babak naskah Kocak Kacik, Andreas menyederhanakannya untuk sajian mime berdurasi 50 menit. Tidak semua jalan kisah dipaparkan sebagaimana naskah aslinya. Hanya dipilih sejumlah peristiwa atau adegan yang dinilai mewakili keseluruhan cerita. Andreas menyebut modus itu sebagai interpretasi dari naskah asli. ''Bisa juga menjadi cerita tersendiri bagi orang yang belum membaca atau menontonKocak-Kacik versi teater,'' ia menjelaskan. 


Pada umumnya, BMT pentas menggunakan naskah ciptaannya. Kalaupun mengadaptasi naskah lain, itu bersumber dari cerita pendek, puisi, atau cerita anak. Ini kali kedua bagi BMT mementaskan pantomim hasil adaptasi naskah teater. Kali pertama adalah adaptasi naskah Waiting for Godot karya Samuel Beckett. Naskah dibawakan dengan judul Menunggu dan pertama dipentaskan di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah dalam acara "Mimbar Teater Indonesia #4", September tahun lalu. 


Menginterpretasi naskah Beckett, menurut Andreas, jauh lebih mudah ketimbang menginterpretasi naskah Arifin. Karya-karya Beckett dikenal menampilkan dialog naskah yang rigid berikut instruksi lakon yang jelas. Cukup dengan mengikuti instruksi naskah dan menghilangkan dialog. Tidak perlu banyak pengembangan. Sedangkan naskah Arifin sebaliknya, ''Terlalu banyak narasi, minim instruksi,'' kata Andreas, yang mengaku sangat tertantang menginterpretasi Kocak-Kacik ke dalam pendekatan mime. 


Hasilnya, pada bagian yang tidak sedikit, nuansa mime pada pementasan ini dibuat untuk mengiringi teks verbal yang sudah banyak dikenal. Di antaranya pada khazanah gerak koreografis yang mengiringi lagu anak Topi Saya Bundar pada sebuah adegan. Gerak pada lirik ''kalau tidak bundar'' adalah cara BMT membaca Darim yang teralienasi dari masyarakatnya.


*versi ini bisa dilihat juga di Majalah GATRA edisi 30 April - 7 Mei 2015

Solusi Ekologi Melalui Relasi Manusia dengan Alam*

Ekofenomenologi: Mengurai Disekuilibrium Relasi Manusia dengan Alam
Penulis : Saras Dewi
Penerbit : Marjin Kiri, Tangerang Selatan, Maret 2015, ix+171 halaman

Merumuskan kembali musabab kerusakan lingkungan sekaligus memunculkan solusi baru melalui ekofenomenologi. Setingkat di atas ekofeminisme dengan kerangka berbeda.

Semasa kecil, penyair, penyanyi sekaligus pengajar Fakultas Filsafat UI Saras Dewi kerap menghabiskan waktu bersama kakeknya di Sanur. Bersama lanskap langit biru dan ombak bergulung dari Samudera Hindia yang menggumuli pasir-pasir pantai, sang kakek bercerita soal bagaimana alam sebagai sumber kehidupan itu bekerja. Kakek merisaukan soal massifnya pembangunan di Bali.

Kerisauan kakek kian menggurita ketika Saras dewasa. Hutan kayu dibabat habis berganti dengan hutan beton. Bahkan kawasan konservasi Teluk Benoa, tempat yang menjadi habitat sejumlah biota, direklamasi menjadi infrastruktur demi mempercantik pariwisata. Pembangunan mengubah wajah Bali tak lagi hijau, demi memuaskan ambisi segolongan manusia. Dan Bali hanya sekelumit kecil dari kerusakan lingkungan yang terjadi di seluruh penjuru dunia. 

Kerisauan itu pula yang kemudian mendorong Saras untuk menekuni bidang filsafat lingkungan. Ia berupaya merombak pola epistemologis soal kaitan manusia dengan alam, lalu menuangkan hasilnya dalam disertasi berjudul Dimensi Ontologis Relasi Manusia dan Alam, Suatu Pendekatan Fenomenologi Lingkungan Terhadap Problem Disekuilibrium. Buku Ekofenomenologi: Mengurai Disekuilibrium Relasi Manusia dengan Alam adalah hasil pengemasan ulang disertasi di pascasarjana Universitas Gajah Mada itu.


Manusia sebagai pusat kebudayaan yang didengung-dengungkan pada abad ke-18 memperoleh validasi oleh banyak hal. Pada abad pertengahan, tafsir-tafsir kitab suci mengusung manusia sebagai khalifah di bumi. Pada abad pencerahan, rasio membenarkan asumsi manusia untuk menaklukan alam. Alam adalah semesta yang bertugas demi kepuasan dan ambisi manusia sebagai pemimpin sekaligus penakluk alam. Fondasi antroposentris ini berkembang pada revolusi industri. Ditemukannya mesin uap menjadi penanda awal lahirnya peradaban modern di mana eksplorasi teknologi kian gencar dan inovasi kian massif. Produksi berkembang secara massal, terutama dalam soal pertambangan, pertanian dan transportasi. Teknologi sebagai wujud kepongahan spesies manusia mengeksploitasi alam dan sumber dayanya habis-habisan. 

Sayangnya, laku pongah itu terjadi tanpa menyadari dampak ekologis secara berkepanjangan. Belantara liar habis, hutan lindung terdegadasi, lapisan ozon menipis, udara tercemar, air juga tercemar. Alam hancur dan manusia berada di tengah kehancuran itu. Tapi toh konservasi pun hanya dianggap relevan jika melibatkan kepentingan ekonomis alam bagi ego manusia. Padahal belantara liar bukanlah sesuatu yang dapat dicipta dan direkonstruksi kembali, betapapun canggihnya upaya manusia untuk mewujudkan itu melalui teknologi.

Sejak kemunculannya pada 1950an, gerakan ekologi dan etika lingkungan kemudian berhasil merumuskan sekaligus menunjuk pandangan antroposentris sebagai musabab kerusakan ekologi. Metode ini berupaya mengeliminasi antroposentrisme sebagai wujud diskriminasi yang dilakukan manusia terhadap alam, tapi belum menyentuh akar persoalan, yaitu membedah relasi manusia sebagai subjek, dengan alam. 

Saras menawarkan metode fenomenologi sebagai solusi persoalan ekologi. Metode ini mengkaji kembali hubungan ontologis manusia sebagai subjek dengan alam secara lebih mendalam. Melampaui gerakan ekologi yang ada dan etika lingkungan, fenomenologi lingkungan melihat tak perlu adanya pemilahan antara manusia dengan alam. Jarak diantara kedua ini justru menjadi petanda untuk membangun relasi secara substantif. Agar seimbang, manusia harus memiliki kesadaran betapa berharganya bumi dan betapa istimewanya bisa bernapas di alam raya. Saras menekankan pentingnya rekonstruksi kebudayaan yang memosisikan alam bukan sebagai latar belakang tapi inti kehidupan manusia: manusia dan alam adalah kehidupan itu sendiri. Era keserakahan dan teror manusia harus segera berakhir, bereformasi menjadi kebudayaan baru yang mewujudkan kecintaan terhadap kehidupan.   

Beberapa dekade lalu Feminis India Vandana Shiva dan Maria Mies menelurkan gagasan soal ekofeminisme yang dituangkan dalam buku Ecofeminism. Keduanya merumuskan bahwa kerusakan ekologi senasib dengan persoalan jender. Seperti jender perempuan, alam tereksploitasi dan dihancurkan oleh maskulinitas manusia. Jika ekofeminisme menawarkan solusi persoalan ekologi dengan pendekatan feminisme, maka ekofenomenologi menyelesaikannya dengan metode fenomenologi. Jika feminisme mengusung konsep bahwa perempuan adalah manusia yang memiliki kesamaan hak seperti manusia dengan jenis kelamin lainnya, dan ekofeminisme berupaya mewujudkan prinsip feminitas yang ramah terhadap alam, maka ekofenomenologi menawarkan konsep bahwa alam adalah ciptaan Tuhan yang memiliki kesamaan hak pula seperti makhluk hidup lainnya, termasuk manusia.

*resensi ini bisa dilihat pula di Majalah GATRA edisi 30 April - 7 Mei 2015

Thursday, April 16, 2015

Kenangan dari Secangkir Kopi

FILOSOFI KOPI
Sutradara: Angga Dwimas Sasongko
Pemain: Chicco Jerikho, Rio Dewanto, Julie Estelle

Produksi: Visinema Pictures, 2015





Upaya berdamai dengan masa lampau melalui kopi. Plus minus adaptasi cerpen populer ke dalam film.


Sejak kedatangan El (Julie Estelle), perilaku Ben (Chicco Jerikho) berubah seratus delapan puluh derajat. Dulu, barista bergaya selengean itu berperangai riang. Kini ia lebih sering bermuram durja. Bersama hilangnya keceriaan Ben, raib pula masa depan Filosofi Kopi, kafe yang ia rintis bersama Jody (Rio Dewanto).


Perubahan itu bermula dari respons El atas secangkir Perfecto yang Ben sajikan. Menurutnya, ada kopi lain yang lebih enak ketimbang mahakarya racikan Ben itu. Perfecto adalah hasil kerja keras Ben untuk menjawab tantangan seorang pengusaha yang akan mengganjar mereka Rp 1 miliar jika berhasil menyajikan rasa kopi paling sempurna sedunia.



Kopi terbaik pesaing Perfecto itu ada di lereng pegunungan Ijen, Jawa Timur. Peraciknya adalah petani kopi tua bernama Seno (Slamet Rahardjo) dan istrinya (Jajang C. Noer). Mereka menyebutnya kopi Tiwus. Satu gelas seduhan kopi Tiwus itu memengaruhi banyak hal dalam kehidupan Ben. Dari urusan membangkitkan kenangan hingga runtuhnya kebanggan semu yang ia bangun bersama Perfecto.



Kisah tersebut terangkai dalam film Filosofi Kopi garapan sutradara Angga Dwimas Sasongko. Ceritanya diadaptasi dari sebuah cerita pendek berjudul sama yang ditulis oleh Dewi Lestari pada 1996. Lazimnya sebuah karya layar lebar yang bersumber pada cerpen, ada sejumlah pengembangan karakter dan cerita dalam Filosofi Kopi dengan tujuan --yang cukup mudah ditebak-- mengetengahkan efek dramatis dalam target durasi lebih panjang.



Contohnya kehadiran cewek cakep bernama El. Versi cerpen Filosfi Kopi tidak mengenal karakter ini. Dalam film, ia dimunculkan sebagai sosok penting dalam hubungan persahabatan Ben dan Jody. Lainnya adalah pengungkapan latar belakang kehidupan Ben. Versi cerpen hanya mengenalnya sebagai barista ambisius, petualang citra rasa kopi yang rela keliling dunia demi menemukan koresponden kopi terbaik.



Penggarapan film hasil adaptasi cerpen dengan adaptasi novel sangat berbeda dalam soal penulisan naskah. Film hasil adaptasi novel adalah peringkasan cerita dari ratusan halaman kisah panjang ke dalam durasi film yang terbatas. Sebaliknya, untuk memenuhi durasi tersebut, sutradara harus putar otak mengembangkan karakter dan kisah dari belasan lembar halaman cerpen.



Metode berbeda dalam penulisan naskah ini memberi nilai lebih pada film hasil pengembangan cerpen. Sifat dasar medium visual gerak itu sendiri memiliki kelebihan soal penyuguhan narasi secara langsung. Dalam film, pembaca menemukan afirmasi visual atas imajinasi mereka saat membaca teks tertulis soal kepiawaian seorang barista mengemas secangkir cappuccino cantik.



Tapi medium itu sekaligus menjadi keterbatasan karena tak seperti film, interpretasi teks berkembang seiring berkembangnya pengetahuan dan imajinasi pembaca. Misalnya, narasi ketika Jody dan Ben mencicip kopi tiwus pertama kali. Deskripsi perubahan sikap keduanya, versi cerpen jauh lebih menggigit ketimbang versi film.



Dalam film, Ben tidak langsung mereguk. Ia menghirup aroma kopi sambil dengan kesal menyaksikan ekspresi Jody mencicipi kopi sambil memejamkan mata. Setelah itu, karena tuntutan pengembangan cerita, Ben kabur meninggalkan gubuk kopi Pak Seno untuk memasukkan kisah masa lalunya yang pahit. Itu berbeda dengan modus ungkap dalam cerpen yang mengungkap momen awal runtuhnya kebanggan Ben itu dengan kalimat, "Ben cuma membisu. Hanya matanya diliputi misteri. Perlahan, aku ikut menenggak. Dan... kami berdua tak bersuara. Teguk demi teguk berlalu dalam keheningan."



Adaptasi cerpen dalam film memberikan ruang yang sangat luas pada penulis naskah untuk mengembangkan alur cerita. Tidak semua hasilnya enak dihirup dan diteguk penonton. Seperti tragedi ketidaksempurnaan citra rasa Perfecto yang dibuat dengan "standar akademis" tinggi di hadapan kopi Tiwus yang sederhana dan penuh cinta.