| Lambok Parmalim, Pengurus DPD Parmalim Hutatinggi Kota Medan |
Saturday, October 22, 2016
Jalan Terjal Ugamo Malim (1)
Monday, September 19, 2016
The Mukidi Joke
Friday, July 1, 2016
Celoteh
Sunday, April 24, 2016
Perpisahan
Menyesap bulir-bulir bening di pipimu
Melenyapkan segala resah dan kekhawatiran
Sebab setiap yang telah dekat, akan selalu lekat
Friday, April 22, 2016
Thursday, April 14, 2016
KONSER SHEILA MAJID: Melepas Rindu untuk "I"
Pertunjukan malam itu dimulai dengan reffrain lagu "Kerinduan". Potongan lagu itu kemudian dirangkai dengan beberapa lagu lain seperti, "Warna", "Tua Sebelum Waktunya", dan "Aku Cinta Padamu". Seluruh komposisi itu dibawakan Sheila Majid dengan suaranya yang khas.
"Hello Jakarta, how are you? Rindu tak sama I?" sapa penyanyi kelahiran 3 Januari 1965 ini kepada penonton yang hadir dalam "30th Anniversary Concert: Kerinduan Sheila Majid", yang digelar di Plenary Hall, Jakarta Convention Center, Sabtu malam pekan lalu. Kehadiran wanita berdarah Mandailing-Jawa ini seakan memuaskan kerinduan para penggemarnya.
Penampilan Sheila tambah apik berkat panggung yang dirancang dengan artistik. Di antara pemain orkestra dan posisi blocking Sheila, Jay Subiakto, penata panggung, meletakkan sebuah layar transparan, yang dibentuk dari 70 lapis potongan kawat sepanjang 4,5 meter. Diletakkan di tengah, layar ini menjadibackground sekaligus foreground sepanjang pertunjukan, menyajikan visualisasi perjalanan Sheila selama tiga dekade.
Tak hanya mengurus panggung, bersama Tohpati, Jay juga menyusun 18 lagu yang dinyanyikan Sheila malam itu. Untuk penggarapan lagu-lagu Sheila dalam konser ini, Tohpati sengaja meracik aransemen tak jauh dari aslinya. "Karena penonton inginnya sing along menyanyikan lagu Sheila," katanya.
Animo penonton macam itu memang sudah terbaca sejak pukul 19.00, satu setengah jam sebelum pertunjukan dimulai. Ruang berkapasitas 5.000 orang itu hampir penuh ketika pertunjukan dimulai. Umumnya yang datang berusia dewasa, meskipun ada juga penonton belia yang datang ditemani kedua orangtuanya.
Seperti Rehan Mahendra, remaja berusia 17 tahun. Ia datang bersama kedua orangtua dan adik perempuannya. Rehan, yang diajak orangtuanya, mengaku lebih kenal Siti Nurhaliza ketimbang Sheila Majid. Namun ketika seorang teman memperdengarkan lagu "Sinaran", Rehan langsung menyimpulkan kalau lagu-lagu Sheila enak didengar. "Jadi penasaran, ingin dengar lagu-lagu lainnya," katanya.
Konser itu memang tak hanya dihadiri penggemar Sheila dari Indonesia, tapi juga dari Singapura dan Malaysia. Fans dari Malaysia memang perlu datang jauh-jauh ke Jakarta karena pertunjukan serupa -memperingati tiga dekade karier Sheila- tidak diselenggarakan di sana.
Azmi Latief, 56 tahun, adalah salah satu penggemar berat Sheila. Ia bersama adik perempuannya sudah berada di Jakarta sejak Jumat malam. Keduanya mengaku sudah menjadi fans berat Sheila sejak 1985. "Kami fans umur paling senior," kata Azmi, sambil tertawa.
Di malam pertunjukan itu, Sheila tak tampil sendirian. Setelah nomor evergreen "Antara Anyer dan Jakarta", Sheila melanjutkan dengan tembang "Hadirmu", yang ia sebut sebagai one of my favourite song in Indonesia. Saat masuk bait ketiga, juara Indonesian Idol Season 2, Mike Mohede, tampil menemani Sheila. Malam itu, pria bersuara empuk ini tampil memesona dengan setelan jas berwarna hitam. Ia juga membawakan "Jeritan Batin" setelah mengantar Sheila sejenak meninggalkan panggung.
Setelah Mike undur diri, Sheila muncul dengan gaun hitam panjang. "Are you tired? I need your enthusiasm. This next song is a duet song, dan saya akan duet bersamamu.You must hafal this song, 'Begitulah Cinta'," katanya. Namun, duet itu tak sepenuhnya dilakukan bersama penonton.
Di tengah lagu, dari arah depan tiba-tiba muncul suara laki-laki. Sheila kaget, namun ia langsung mengenal pemilik suara itu. "Harvey, where are you?" Sheila celingak-celinguk mencari asal suara. Butuh beberapa detik sebelum sinar lampur menemukan posisi Harvey Malaiholo, yang duduk di kursi VIP bagian belakang. Kejutan itu disambut riuh tepukan pentonton. "Saya tak menyangka. Kudengar kau terkena demam. Semoga segera membaik. I love you, Harvey," ujar Sheila, seusai keduanya berduet.
Lagu-lagu Sheila yang dipilih untuk dinyanyikan dalam konser di Jakarta ini merupakan komposisi yang populer di Indonesia. Kebanyakan lagu ini bertempo medium dan bernuansa jazzy. Sementara itu, tempo up beat hanya terdapat dalam lagu "Sinaran" dan "Warna".
Dengan panggung besar, ada kekhawatiran lagu jazzy menjadikan konser tampak kurang megah. Kekhawatiran lainnya, jika dijejerkan, lagu semacam ini akan menjadikan panggung monoton. Solusinya, lagu dengan warna sama tak disusun berurutan. Di antara lagu bertempo sedang, disisipkan lagu lain yang lebih nge-dance. Juga lagu yang sedikit nge-rock. Inilah kemudian yang menjadi alasan mengapa Armand Maulana ikut ambil bagian.
Berduet dengan Armand, Sheila menyanyikan lagu "Persis Kekasihku" yang bertempo cepat. Di Indonesia, lagu ini memang tak terlalu populer. "Diharapkan Armand bisa memberi warna baru di konser itu," kata Tohpati, music director pertunjukan ini.
Bila akhirnya pertunjukan malam itu berlangsung menawan, acungan jempol harus diberikan kepada Sheila. Pasalnya, ia tidak punya banyak waktu untuk latihan. Dua pekan sebelum pertunjukan di Jakarta, Sheila juga menggelar konser serupa di Singapura. Idealnya, untuk konser seperti ini dibutuhkan delapan hingga 10 kali latihan. Untuk latihan ritem saja biasanya butuh empat kali latihan. Lalu latihan gabungan, yang dilaksanakan empat hingga lima kali.
Untungnya, para penyanyi pendamping dari Indonesia memudahkan pembentukan kekompakan itu. Kehadiran Mike Mohede juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari usaha itu. Mike memiliki kualitas suara yang bagus dan berkarakter "bunglon". Ia cocok dengan jenis nada apa pun. "Mike cocok sama lagu-lagunya Sheila," kata Tohpati.
Sementara itu, kemunculan Harvey memang tanpa skenario sama sekali. Pada konsep awal, lagu "Begitulah Cinta" rencananya akan dinyanyikan bersama penonton. Rupanya Jay Subiakto punya ide lain. Di tengah lagu, Harvey dan suaranya tiba-tiba ditampilkan di tengah penonton. "Benar-benar surprise. Jangankan Sheila, saya saja nggak tahu," kata Tohpati.
Tuesday, April 12, 2016
Monday, April 4, 2016
Sajak untuk....
![]() |
| Sumber kiciks.wordpress.com |
Malam membisu. Angin berhenti
Alam menabalkan isyarat tentang perjalanan cinta yang menua
Dan luka
; seorang Laki-laki yang terus belajar bagaimana menerjemahkan cinta
Saturday, February 6, 2016
Sutradara Teater Kubur, Dindon WS: Kritik Globalisasi ke India (Teater Kubur Goes to India #2)
Bagaimana ceritanya hingga punya kesempatan ikut kompetisi di India?
Apa bagian dari globalisi yang hendak diperiksa lewat naskah ini?
Ada penyesuaian atau perubahan penting naskah ini untuk keperluan pentas di India?
Akan menggunakan bahasa Indonesia dalam dialog?
Teater Kubur sudah lebih dari 30 tahun. Bagaimana strategi kaderisasinya?
Rumah Bolong di Bawah Hujan (Teater Kubur Goes to India #1)
![]() |
| Foto oleh Nufus |
Saturday, January 23, 2016
Percakapan tentang Menggaruk dan Menambal
Narasi-narasi kecil tentang identitas politik, sosial, dan budaya mempertemukan Entang Wiharso dengan Sally Smart. Lantas keduanya kian bersinggungan saat memberi sudut pandang terhadap teror dan kekerasan dalam peradaban.
Ketika itu, kurator dan pemilik galeri yang menyensor karya Entang, dinilai mengabaikan sudut pandang penting si perupa terhadap realitas kekerasan. Entang mengetengahkan realitas itu sebagai teror yang melahirkan rasa sakit, yang lantas dikelolanya menjadi rasa yang menyenangkan untuk mereduksi klaim keberhasilan pemberi teror.
Self Potrait tentang kekerasan kian menegaskan sudut pandang tersebut bersama sikapnya yang cair dan mengolok-olok keangkeran teror kekerasan.
Self Potrait dan karya-karya Entang lainnya berdialog dengan karya-karya seniman asal Australia Sally Smart dalam pameran berjudul Conversation: Endless Acts in Human History di Galeri Nasional, 14 Januari 2016-1 Februari 2016. Karya lainnya dalam bentuk patung, lukisan, dan instalasi. Sejumlah karya besar keduanya yang pernah dipamerakan juga turut hadir.
Entang dan Sally bersahabat. Pertama kali bertemu di Melbourne, ketika Entang residensi seusai pameran kolektif ''Closing the Gap'' pada 2012, Entang mengaku sudah merasakan chemistry dengan Sally. ''Tampak familiar. Seperti sudah pernah bertemu sebelumya,'' kata Entang. Begitu pula Sally. Ia merasakan adanya koneksi intelektual dan profesional dalam karya-karya mereka. ''Sebuah persahabatan sejati telah muncul,'' katanya, agak lebay.
Sejak itu, keduanya menjadi teman dekat dan memiliki banyak kecocokan hingga menggagas ide untuk membuat pameran bersama. Setahun kemudian, di Hong Kong, dialog itu berlanjut dengan perolehan sederet lembaga yang mendukung pameran ini. Di antaranya Galeri Canna Indonesia dan Pemerintah Australia.
Koneksi keduanya, sekurangnya, tampak pada tema dan metode pengerjaan karya. Pada metode pengerjaan karya, keduanya sama-sama menggunakan teknik memotong (cutting), membongkar objek, kemudian merekonstruksi kembali menjadi sebuah karya.
Ornamen-ornamen seperti teks, selang mesin, pepohonan, dan organ tubuh berupa usus dan jantung serta organ tubuh lainnya tampak dalam hampir setiap karya keduanya. Ornamen-ornamen ini menjadi narasi kecil yang mengukuhkan narasi besar ide-ide yang hendak disampaikan.
Ide-ide yang disampaikan keduanya pun saling bersinggungan. Karya seniman asal Tegal, Jawa Tengah, yang mulai memperoleh perhatian dunia sejak karyanya dipamerkan dalam Venice Biennale 2005 ini berkelindan seputar identitas dan narasi sosial, politik, ekonomi, juga budaya. Sedangkan Sally, yang berasal dari Flinders Renges, Australia bagian selatan, dengan latar belakang keluarga petani-peternak, telah melewati fase hidup yang tak mudah sebagai warga dari daerah terisolasi dan negara dengan persoalan etnis masa lalu.
Karya-karya Sally banyak cerita seputar identitas, gender, rasisme, kolonialisme politik dan persoalan sosial-ekonomi. ''Ini kolaborasi pemikiran. Karya keduanya bermuatan opini. Suatu pandangan dan penilaian terhadap semua persoalan yang mendasari penciptaan karya mereka,'' kata kurator pameran ini, Suwarno Wirosetrotomo.
Karya Sally berjudul Choreograph of Cutting (2015) menjadi representasi persoalan yang pernah Sally temui itu, berikut rumusan-rumusannya. Karya itu berupa papan tulis hitam dengan sajian kolase dari sejumlah figur tubuh perempuan menari, video, diagram, dan teks. Di sudut karya, sebuah teks memberikan penjelasan soal tubuh perempuan terbatasi dan terjebak dalam sebuah lingkaran.
Peradaban manusia dipenuhi aksi teror dan kekerasan. Dialog, salah satunya dalam bentuk pameran seni, akan menemukan persamaan dan perbedaan masing-masing kemudian bermuara pada orientasi bersama. Meski sudah mewujud dalam sebuah pameran, kata Entang, ini adalah awal dari sebuah dialog panjang dan tanpa akhir. ''Butuh percakapan terus untuk memperoleh sesuatu yang baru, yaitu kesadaran yang lebih dari ekspektasi,'' katanya.
Thursday, December 31, 2015
Kemenangan Jepang atas Peristiwa 1965
PERISTIWA 1965: PERSEPSI DAN SIKAP JEPANG
Penulis: Aiko Kurosawa
Penerbit: Kompas, Jakarta, 2015, xxi+202 halaman
Jepang meraup kemenangan ekonomi besar dari pergolakan politik akibat Gestapu. Dari jalinan diplomasi politik yang baik hingga metaformosis menjadi negara adidaya di Asia.
Naoko Nemoto adalah perempuan dengan pemulusan serangkaian proyek Jepang di Indonesia semasa pemerintahan Soekarno. Pertemuannya dengan Soekarno merupakan hasil skenario Direktur perusahaan Tonichi Boeki, Kubo Masao, dalam kunjungan pertama RI ke Jepang pada Juni 1959.
Soekarno, yang dikenal gila perempuan, kemudian jatuh cinta pada Naoko. Sekembalinya ke Jakarta, ia mengundang perempuan itu datang ke Jakarta, lantas menikahinya. Sejak menikah dengan Soekarno, Naoko beralih kewarganegaraan dan mengubah namanya menjadi Ratna Sari Dewi.
Sebelum Gestapu, Jepang memiliki peran ekonomi dan politik yang kuat. Hubungan diplomatik Indonesia-Jepang mulai dibuka pada Januari 1958. Berdasarkan Perjanjian Pampasan Perang (Reparation Agreement) yang telah disepakati November tahun sebelumnya, Jepang harus membayarkan ganti rugi perang sebesar US$ 223 juta kepada Indonesia, berikut bantuan ekonomi sebesar US$ 400 juta. Jepang membayar sebagian dana pampasan perang itu dalam bentuk proyek yang dikerjakan Jepang di Indonesia.
Perusahaan Jepang berlomba merebut proyek pembangunan dari dana pampasan itu. Salah satunya Tonichi, yang memiliki kedekatan khusus dengan Soekarno. Lewat implementasi proyek dana pampasan itu, perusahaan Jepang memperoleh kesempatan besar untuk berekspansi ke Indonesia. Kesempatan itu tidak diperoleh negara-negara Barat lainnya.
Semasa itu, Indonesia dan Jepang adalah kawan akrab. Sedangkan bagi Inggris dan Amerika, Soekarno adalah sosok berbahaya arena bersimpati pada ideologi komunisme. Tugas Jepang, selain memuluskan kepentingan ekonominya, juga menjaga agar Soekarno tidak condong ke kiri.
Setelah menikahi Dewi, keterikatan Soekarno dengan Jepang semakin kuat. Lewat itu pula kepentingan Jepang dimuluskan. Dengan bantuan Dewi, Duta Besar Jepang dapat langsung bertemu Soekarno tanpa harus melewati protokol resmi.
Tokoh Jepang yang akrab dengan Soekarno, di antaranya, adalah PM Jepang Ikeda Hayato. Ikeda menyebut Soekarno sebagai "Brother Soekarno". Tokoh lainnya adalah Deputi Ketua Liberal Democratic Party Kawashima Shojiro. Kawashima dipanggil Dewi dengan sebutan "Papa", sementara oleh Soekarno ia dipanggil dengan sebutan "My Brother".
Begitu eratnya hubungan dengan Indonesia, Jepang selalu diamanahi tugas oleh negara-negara Barat untuk mendekati Soekarno dalam beragam persoalan. Seperti konflik Indonesia-Malaysia. Menjelang Gestapu, hubungan Indonesia-Jepang mulai berjarak, akibat kedekatan Indonesia dengan Cina yang berideologi Komunis.
Semasa itu, Jepang masih percaya Soekarno dapat menstabilkan negaranya dan meninggalkan kebijakan pro-Peking. Fakta yang terjadi kemudian justru sebaliknya. Situasi semakin genting dan pemerintahan diambil alih Soekarno melalui legitimasi Supersemar. November 1965, Saito mengubah haluan dan meninggalkan Soekarno.
Baru pada masa Orde Baru, Jepang memperoleh keuntungan ekonomi lebih besar lagi. Meski gagal memperoleh proyek di bidang pertambangan seperti minyak, timah, bouksit dan tembaga yang telah diambil Amerika, namun Jepang menjalankan roda ekonominya di Indonesia dalam bidang lain.
Jepang mengekspor katun seharga US$ 6 juta ke Indonesia dengan tempo pembayaran dua tahun. April 1966 ia mengirimkan bantuan 10.000 ton beras dan 5.000 gulung katun senilai US$ 25 juta sebagai bantuan kemanusiaan. Pada Mei tahun yang sama, ia memberikan pinjaman US$ 30 juta ketika Hamengku Buwono IX dan Emil Salim berkunjung ke Jepang.
Januari 1966, Menteri Perdagangan Jepang Miki Takeo berinisiatif membangun konsorsium ekonomi beranggotakan Amerika, Australia, dan berbagai negara Eropa. Setelah beberapa kali preliminary meeting, pertemuan resmi perdana terselenggara di Den Haag dan melahirkan Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI).
Aiko Kurosawa menyusun fakta-fakta terkait negerinya itu dalam sebuah buku berjudul Peristiwa 1965: Persepsi dan Sikap Jepang. Ia memunguti fakta-fakta yang terserak lewat wawancara tokoh-tokoh terkait dan riset literatur lewat naskah akademik, koran-koran Jepang yang memberitakan G-30-S, serta arsip-arsip pemerintah. Arsip-arsip pemerintah itu ia peroleh dari arsip Kementerian Luar Negeri Jepang, Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, dan British Foreign Office, yang sudah dibuka kepada publik.
Tuesday, December 15, 2015
Pasar Setan
![]() |
| Sumber foto: http://www.wisatasoloraya.com/ |











