Friday, August 18, 2017

Generasi Digital Incaran Terorisme


Hasan Cahyono, bukan nama sebenarnya, memiliki gambaran ideal soal sebuah negara. Bagi anak berusia 17 tahun ini, suatu negara akan damai, tentram, dan warganya sejahtera, jika negara tersebut berlandaskan hukum islam. “Negara Islam itu paling ideal, harus ditegakan,” ujarnya, berapi-api. 

Dalam pikiran kanak-kanaknya, negara islam yang ideal contohnya Arab Saudi, Turki, dan negara-negara di Timur Tengah.

Meski rajin mengikuti pengajian bulanan di kampungnya, Hasan beroleh informasi mengenai konsep negara Islam itu bukan dari guru ngajinya. Siswa salah satu sekolah menengah di Jawa Timur ini memperoleh informasi negara ideal islam itu justru dari laman internet.

Saban waktu, di sela-sela aktivitas bersekolah, Hasan rajin mengakses informasi seputar dunia Islam secara online lewat ponselnya. Sebagai generasi digital, ia akrab dengan benda pintar itu. Ia membuka laman-laman tertentu, maupun menggunakan mesin pencari.

Informasi lain yang rajin ia perbarui adalah mengenai perang di Suriah. Hasan melihat perang Suriah adalah perang agama Islam melawan kafir. Sebagai sesama muslim, ia merasa prihatin dengan penderitaan warga muslim Suriah di tengah kecamuk perang. Sampai-sampai anak kecil menjadi korban.

“Mereka terkena bom, tubuhnya penuh darah. Itu saudara kita sesama muslim yang mengalami musibah,” ujarnya.

Sesekali Hasan membagikan informasi yang ia peroleh itu melalui jejaring sosial Facebook. Melalui grup-grup di jejaring sosial itu pula Hasan kerap memperoleh informasi terbaru soal Suriah. Salah satunya lewat grup Save Aleppo.

Hasan hanya satu dari sederet anak-anak digital yang terpapar paham radikalisme melalui internet. Anak digital lainnya adalah IAH (18 tahun), tersangka penyerangan pemuka agama di Gereja Katolik Santo Yosep, Medan, pada Minggu, 28 Agustus 2016. IAH berguru mengenai radikalisme, bahkan terorisme hasil berselancar di dunia maya.

Sementara itu, Sultan Aziyansyah, pelaku teror yang menusuk polisi secara membabi buta di Cikokol, diduga terkait Kelompok Jamaah Anshorut Daulah (JAD) pimpinan Aman Abdurrahman. Meski aksi teror itu dilakukan di usia yang sudah tak lagi kanak, Sultan belajar seluk beluk aksi terror dari media sosial sejak belia. Ia juga menyebarkan ide terorisme melalui blog teach-n-share.

Anak-anak generasi Z yang lahir di rentang tahun 1995-2010 merupakan generasi digital native. Sejak lahir, mereka telah mengenal media elektronik dan terpapar internet, baik melalui personal computer, laptop, maupun ponsel. Kementerian Telekomunikasi dan Informatika menyebutkan terdapat 165 juta nomor aktif di Indonesia. Sebanyak 40 juta diantaranya digunakan oleh anak-anak.

Melalui ponsel, anak-anak dengan mudah mengakses internet. Mereka mengakses permainan maupun media sosial. Mereka mengunggah data pribadi yang dapat dengan mudah diakses siapapun. Melalui media sosial itu pula anak-anak dapat berinteraksi dengan berbagai jenis manusia dari berbagai belahan dunia.

Internet adalah rimba raya yang tak kita ketahui batasnya. Internet bisa berdampak positif, juga berdampak buruk, terutama pada anak. 

Sejumlah situs berisikan pemahaman terorisme misalnya adalah Almustaqbal-net. Situs ini sempat berkembang dengan domain Www.al-mustaqbal.net, namun kemudian diblokir setelah Fachri, pengelolanya ditangkap Densus 88 tahun 2015 lalu.

Situs dengan domain baru itu kini tak dapat diakses, namun situs asal dengan domain Blogspot itu masih tetap ada. Selebihnya, laman bermuatan terorisme tersebar begitu banyak di dunia maya. Dari muatan soal cita-cita khilafah islamiyah, bom bunuh diri, hingga uraian teknis soal bagaimana membuat bom.

Hasil riset Maarif Institute Desember 2015, terdapat 4 dari 100 anak SMA sepakat soal gerakan ISIS dan ide-ide terorisme. Sedang hasil survey Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) Oktober 2010 – Januari 2011 yang diselenggarakan di 100 sekolah menengah di Jakarta, hampir 50% siswa mendukung cara kekerasan dalam menghadapi persoalan moralitas dan konflik keagamaan. Sebanyak 63% siswa mau melibatkan diri dalam tindakan penyegelan rumah ibadah agama lain. Malah belasan pelajar menyetujui aksi bom bunuh diri. 

Anak Target Potensial
Sayangnya tak semua orang tua memiliki kesadaran untuk melindungi anaknya dari bahaya internet. Survey Harris Interaktif yang digelar terhadap 9000 orang tua pengguna internet di Amerika Serikat, Rusia dan Eropa pada Februari  Maret 2012 menyimpulkan hanya 5% orang tua yang melindungi anak mereka dari bahaya internet.

Sepanjang tahun 2016, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menangani 4 kasus anak yang terpapar terorisme dan aliran radikal. Satu di antaranya terpapar muatan terorisme dan gerakan radikal itu dari laman digital.

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Susanto, mengatakan berdasarkan hasil kajiannya, penetrasi terorisme dipengaruhi oleh 4 hal. Pertama sebagai ideologi patronase, anak yang dididik oleh guru radikal, berpotensi kelak menjadi radikal.

Kedua, faktor nasab atau keturunan. Ketiga peer radikalisme, bersumber dari faktor tempat pemicu radikalisme, dan keempat, factor self radicalism. “Banyaknya muatan radikal yang dibaca membuat anak dengan sendirinya menjadi radikal,” kata Susanto.

Anak-anak menjadi target potensial perekrutan demi regenerasi agen terorisme. “Semangatnya potong generasi. Mereka mencari kader pelaku syahid berikutnya,” katanya.

Modusnya bertahap. Pertama, penetrasi ide radikalisme, mengupayakan agar anak tertarik dengan ideologi tersebut. Kedua, begitu tertarik, anak diajak bergabung. “Kalau sudah merasa sama, maka mereka melakukan tindakan,” katanya.

Pengamat terorisme Al Chaidir mengatakan sudah sejak lama kelompok terorisme memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana dakwah dan komunikasi. Berbagai jenis media social mereka gunakan seiring dengan perkembangan teknologi. MIRC, Blackberry Messanger, Whatsapp, Facebook dan Telegram.

“Dulu mereka yakin menggunakan Facebook. Bahrun Naim dakwah melalui itu. Belakangan mereka migrasi ke Telegram. Lebih aman dengan enkripsi tinggi,” katanya.

Selain sebagai sarana komunikasi antar teroris, teknologi digital juga memudahkan mereka untuk melakukan perekrutan anggota baru, termasuk target anggota usia anak. “Anak-anak mudah dibuat penasaran. Ibarat kertas, anak masih putih bersih, belum banyak referensi, lebih mudah diajak,” kata Chaidir.

Demi menggaet anak-anak, para teroris itu melakukan pendekatan lewat gaya hidup remaja. Mereka menggunakan bahasa gaul khas anak muda, atau cara lainnya. “Misanya dengan kalimat, kan malu kalau cowok muslim tak mau berjihad, sambil menggambarkan bidadari 72 orang di surga. Anak mudah terpengaruh,” katanya.

Divisi Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Hamidin Ajiamin mengiyakan jika saat ini anak-anak disasar sebagai target anggota baru teroris. Situasi yang terjadi di Indonesia itu tak lepas dari situasi global. Beberapa waktu lalu pemerintah Irak menemukan kurikulum sekolah dengan muatan terorisme.  “Isinya pemaknaan jihad ala ISIS,” katanya.

Jihad ala terorisme itu juga mereka dakwahkan lewat laman digital. Tahun 2014 lalu, BNPT mengidentifikasi sebanyak 9800 situs dengan muatan terorisme.

Dulu, kata Hamidin, media digital hanya digunakan sebagai alat bantu penetrasi ajaran terorisme. Begitu sudah satu pemikiran, perekrut dan calon anggota bertemu untuk berbaiat. “Sekarang bahkan baiat pun mereka lakukan melalui media social, melalui grup chatting,” katanya.

Menjauhkan anak dari gawai tentu tak mudah. Melarang pun bukan pilihan bijak. Hamidin mengatakan pentingnya kepedulian orang tua mendampingi anak ketika berselancar di dunia maya. “Apabila anak masuk ke situs radikal, orang tua harus segera mendampingi. Tidak serta merta melarang, tapi digeser pada dunia anak, dunia bermain,” katanya.



Thursday, April 20, 2017

Rindu

Di batas pantai

Kapal merayap pelan


Angin menyampaikan cerita 

Tentang jarak yang memanjang 

dan seseorang yang menunggu

Thursday, March 30, 2017

Seni Sebagai Ruang Mendiskusikan Persoalan

Lahir sebagai upaya berdialog dengan rezim, Teater Garasi tetap eksis hingga 23 tahun kemudian. Melestarikan watak kolektif dalam berkomunitas dan melakukan review rutin.


Yang Fana adalah Waktu Kita Abadi
Saat mulai dikenal khalayak nasional, Teater Garasi identik dengan lakon adaptasi bergaya absurd. Citraan itu muncul ketika sepanjang 1998-1999 dalam tempo berturut-turut memerankan narasi absurd seperti Endgame (Samuel Beckett) dan Les Paravents (Jean Genet). 

Nyatanya, selain lakon absurd, Teater Garasi juga mementaskan lakon realis seperti Empat Penggal Kisah Cinta. Atau Sangkar Madu, lakon yang mengisahkan migrasi budaya oleh buruh migran, berdasarkan hasil riset di Desan Jangkaran, kantung TKI di Kulonprogo.

“Kami tidak berafiliasi pada style tertentu. Justru style datang belakangan, yang pertama ide dan alasan,” kata Yudi Ahmad Tajudin, perintis Teater Garasi.

Jika dirunut kembali, lakon hasil adaptasi hanya berkisar 30% dari total pementasan Teater Garasi. Selain Becket dan Genet, mereka mementaskan juga adaptasi karya Albert Camus dan Arifin C Noer. Sisanya, 70%, berasal dari naskah yang diproduksi sendiri.

Yang Fana adalah Waktu Kita Abadi
Teater Garasi lahir pada 1993, dibidani sekelompok anak muda dari berbagai disiplin studi yang rajin mangkal di parkiran FISIP UGM. Mereka adalah Yudi Ahmad Tajudin, Kusworo Bayu Aji dan Puthut Yulianto. Lahir sebagai upaya berdialog dengan rezim Orde Baru, Teater Garasi ikut turun ke jalanan menjadi pelengkap berbagai aksi demonstrasi.

“Latar belakang atmosfir aktivisme itulah yang menjadi watak pementasan Teater Garasi hingga sekarang. Berupaya agar kesenian bisa menjadi ruang untuk mendiskusikan persoalan dan mencari solusinya bersama,” kata Yudi.

Tahun 1999, Teater Garasi keluar dari dinding kampus dan melebarkan sayap menjadi komunitas terbuka.

Sejak awal dirintis, tak satupun personil Teater Garasi memiliki latar belakang disiplin teater. Mereka mengkaji medium itu secara autodidak dengan bereksperimen dalam berbagai pementasan.

“Setiap karya yang dibuat adalah percobaan, Teater Garasi menjadi laboratorium penciptaan teater,” kata Yudi.

Aspek laboratorium Teater Garasi paling kentara pada sajian teater tubuh Repertoar Hujan (2001), Trilogi Waktu Batu (2001-2004), hingga Je.ja.Lan (2008).

Tak hanya menjajal metode baru dalam berteater, personil Teater Garasi juga banyak mengkaji buku, melakukan riset teater dan menyusun jurnal bernama LeBur. LeBur yang terbit tiap empat bulan ini menjadi wadah hasil diskusi dan gagasan teater.

Personil Teater Garasi terpapar kesenian internasional melalui berbagai kunjungan dan pentas kolaborasi dengan berbagai negara seperti Jepang, Singapura, Berlin dan Prancis. Lantas sejak 2013, Teater Garasi menahbiskan diri menjadi Garasi Performance Institute. Menawarkan laboratorium untuk bereksperimen bagi seniman manapun.

“Tak hanya untuk anggota, seniman lain juga bisa berkreasi di sini,” kata Yudi.
 
Waktu Batu #3
Tak seperti kelompok teater pada umumnya, di Teater Garasi, ketokohan tak bertumpu pada satu figur sentral. Watak kolektif telah terbentuk sejak awal. Setiap personil bisa menjadi apa saja. Ia bisa menjadi sutradara, penulis naskah, bahkan sutradara dalam pementasan sebelumnya bisa menjadi tokoh biasa pada pentas berikutnya. Selain Yudi, pentolan Teater Garasi lainnya adalah Naomi Srikandi, penyair Gunawan Maryanto, seniman Ugoran Prasad dan perupa Jompet Kuswidananto.


Perbedaan lainnya adalah review perjalanan setiap tahun dan 5 tahun. Aktivitas ini dilakukan rutin sejak awal. Dengan ini, Teater Garasi meninjau kembali berbagai hal yang telah dilakukan kemarin, kemudian memetakan kembali dengan kondisi kekinian dan masa datang.

Wednesday, February 1, 2017

Dunia Baru Cupid


Cupid adalah sosok cinta yang lain. Dunia yang diciptakan seorang ibu tanpa embel-embel surga berada di bawah telapak kakinya. Ia mengetuk pintu kamarku malam ini, merebahkan dirinya di dalam stoples air persis di samping tempat tidurku. Seekor ikan merah manis manja yang bermata jelita. 

Hei, akan kunyalakan cahaya surga tiap menjelang lelap tiba. Menemanimu melewati mimpi indah agar tak tergelak ketika terjaga. Cinta ibu untukmu, Cupid.

NB: Cupid berupa ikan cupang berwarna merah menyala. Beberapa minggu lalu ia resmi menjadi anggota keluarga Nufus :)

Wisma 46, dini hari, 30 Desember 2016

Semacam Puisi Bersama


Dua anak manusia terpisah jarak dan lautan. Malam begitu dingin, jarum jam telah melewati separuh malam. Di tengah deru hujan, perempuan mengirimkan puisi singkat.

Dear,
Di sini hujan

Hujan jugakah di hatimu?


Dari jarak ratusan kilometer, laki-laki menyusun puisi jawaban. Beribu terima kasih pada aplikasi perpesanan yang telah membawa puisi jawaban menyeberangi lautan, lalu sampai ke hati perempuan.


Masih cerah

Bilakah hatimu cerah
Biar kita pandang bersama
Pelangi sesudah hujan

Sayang ini malam,
Jika petang, kuajak kau ke pulau seberang

Menikmati pelangi sesudah hujan

Monday, January 2, 2017

Kekerasan Seksual pada Perempuan Terjadi di 15 dari 80 Perusahaan

Berbagai bentuk kekerasan dan diskriminasi masih dialami buruh perempuan di tempat kerja. Berdasarkan pemetaan yang dilakukan Kelompok Kerja (Pokja) Buruh Perempuan yang terdiri dari berbagai serikat buruh, masih banyak buruh perempuan yang mengalami kekerasan berbasis gender, baik secara verbal, fisik, seksual, maupun pelanggaran terhadap maternitas buruh perempuan.

Dari 80 perusahaan yang beroperasi di Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Cakung saja, kasus kekerasan seksual ditemukan di 15 perusahaan di antaranya. Salah satunya terjadi di industri padat karya seperti garmen yang mayoritas buruhnya perempuan.

Menurut, Ketua Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP), Jumisih, berbagai bentuk kekerasan seksual dialami buruh perempuan di tempat kerja. Diantaranya adalah diraba, diintip saat buang air kecil, hingga diperkosa sampai hamil.

Pelaku kekerasan seksual di tempat kerja ini bisa siapa saya, dari rekan kerja hingga atasan.

Pelecehan itu terjadi karena relasi yang tak setara antara buruh perempuan dan laki-laki. Buruh perempuan yang umumnya berlatar belakang ekonomi rendah terpaksa menuruti permintaan tersebut karena diancam.

“Kalau buruh perempuan menolak, ancamannya kontrak akan diputus atau beban pekerjaan ditambah,” katanya, dalam konferensi pers Bersama Melawan Diskriminasi Terhadap Buruh Perempuan di Tempat Kerja di kantor LBH Jakarta, Kamis (24/11).

Jumisih mengatakan selain kekerasan seksual, buruh perempuan juga kerap mengalami kekerasan fisik seperti dipukul, digebrak meja, atau dilempar dengan benda keras.

Buruh perempuan juga kerap kesulitan memperoleh cuti haid atau hamil dari tempat kerja. Padahal Pasal 81 UU No 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan mengatur ketentuan cuti haid bagi buruh perempuan. UU yang sama juga mengamanatkan soal cuti hamil. Namun fakta yang terjadi tak sedikit buruh perempuan yang diminta mengundurkan diri ketika mengajukan cuti hamil.

Di sektor media, Divisi Serikat Pekerja Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta, menyatakan sepanjang 2006-2016 terdapat 519 kasus kekerasan yang dialami jurnalis di Indonesia. Bentuknya berupa kekerasan fisik, ancaman teror, serangan, pengrusakan alat, pelarangan liputan, bahkan pembunuhan.

Sementara itu, sepanjang 2013-2016 terdapat sedikitnya 15 kasus kekerasan dan diskriminasi yang dialami pekerja media perempuan di Jakarta. Di antaranya kasus pelecehan seksual yang dialami enam pekerja media LKBN Antara oleh atasannya dan pemutusan hubungan kerja sepihak yang dialami jurnalis Luviana oleh Metro TV.

Pengacara publik LBH Jakarta Okky Wiratama mengatakan kerap mendampingi kasus kekerasan seksual yang dialami buruh. Sayangnya lebih banyak buruh perempuan yang tidak melaporkan kasus kekerasan seksual yang dialaminya. Terlebih jika pelakunya atasannya sendiri. “Ia khawatir ketika melapor ia akan dipecat atau diputus kontrak,” katanya.

Okky mengatakan Indonesia memiliki perangkat hukum yang mengatur perlindungan buruh, yaitu UU No 13 tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan dan KUHP pasal 289 mengatur tentang pencabulan. Pasal tersebut mengancam pelaku dengan pidana paling lama 9 tahun.

Namun itu belum cukup. Dalam RUU Pencegahan Kekerasan Seksual terdapat sanksi pidana terhadap pelaku kekerasan di tempat kerja. “Sayangnya hingga kini pemerintah belum mengundangkan RUU PKS,” katanya.

Berdasarkan pelanggaran hak-hak perempuan di tempat kerja tersebut, Pokja Perempuan menuntut agar pemerintahan Jokowi-JK menjamin tidak adanya kekerasan berbasis gender yang dialami buruh perempuan di tempat kerja.

Juga mendorong DPR untuk segera mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual; memastikan dijalankannya regulasi perlindungan perempuan dari segala bentuk diskriminasi di lingkungan kerja, melakukan tindakan tegas serta penangkapan bagi pelaku pelanggaran diskriminasi terhadap buruh perempuan di tempat kerja; dan mendirikan badan pengawasan khusus untuk pemenuhan hak-hak perempuan di setiap suku dinas tenaga kerja.

Friday, December 30, 2016

Mengubah Kultur Bisnis Kreatif

Sebagai bisnis kreatif yang mengurusi pembangunan branding, Makna Creative memiliki prospek cemerlang. Menggiurkan dari sisi ekonomis sekaligus menuntaskan hasrat bertravelling.

Keenan Pearce, 25 tahun, memperoleh tawaran besar, alumnus jurusan Manajemen Universitas Pelita Harapan ini diminta membuat kampanye media sosial untuk maskapai penerbangan Batik Air. Pada 2014 itu Batik Air baru saja melaunching media sosial dan kepingin akun tersebut leading di jagat persosmedan. Kompensasi yang ditawarkan menggiurkan, berkisar dua pertiga miliar.

Dengan tawaran sebesar itu, Keenan membutuhkan bendera. Menggandeng Ernanda Putra, 32 tahun, alumni almamater yang sama, yang telah satu dekade menekuni desain grafis dan fotografi. Keduanya merintis sebuah perusahaan yang bergerak di sektor jasa pembangunan branding, aktivasi media sosial dan visual dengan nama Makna Creative pada 7 Oktober 2014.

Sudah sejak lama Ernanda kepingin memiliki perusahaan dengan nama yang berasal dari bahasa sendiri. Nama Makna, yang berarti arti, sengaja dipilih dengan harapan perusahan mereka dapat berarti bagi banyak orang.

Di bawah bendera Makna Creative, Keenan dan Ernanda berkeliling ke sejumlah kota di Indonesia demi mengabadikan rute dan destinasi Batik Air. Dengan kampanye media sosial #BatikJelajahNusantara, permintaan perusahaan yang hanya 10.000 follower dapat terpenuhi, bahkan hingga 15000 follower selama 4 bulan.

Selepas itu, tawaran pekerjaan datang silih berganti. Klien berdatangan mulai dari Adidas hingga Cathay Pacific. “Bisnis ini memiliki prospek menarik. Di Indonesia belum banyak perusahaan yang bermain,” kata Ernanda.

Kedua laki-laki muda yang hobi berbelanja ini memang pilih-pilih profesi. Mereka melakoni pekerjaan yang mengandung 3 hal. Menggiurkan dari sisi ekonomi, memacu untuk terus belajar dan berkembang, juga bisa membawa keduanya bepergian kemana saja. “Makna Creative jawabannya,” kata Keenan, sumringah. Setiap bepergian, mereka menambahkan #perjalananbermakna.

Tahun pertama berdiri, Makna Creative tak memiliki tempat untuk berkantor. Mereka menjadikan café atau apartemen sebagai tempat merumuskan ide dan melakoni pekerjaanbersama. “Kami memanfaatkan apa yang ada,” kata Keenan.

Tahun berikutnya, kantor resmi Makna Creative terwujud. Di lantai 2 Southbox, Jakarta Selatan, Keenan dan Ernanda, juga 2 pegawai yang direkrut kemudian, berkreasi.

Makna Creative berupaya merubah tatanan mainstream soal bisnis kreatif hanya dikerjakan di kantor. Selain bepergian, Makna Creative menggali inspirasi dari mana saja. Dari arsitektur yang ditemui di jalanan, karya seni, film, atau bahkan berbincang bersama teman. Perbincangan pun tak sebatas obrolan ringan, tapi juga soal politik terkini. “Kita mengerjakannya dengan santai dan riang, tapi tetap serius,” kata Keenan.

Umumnya pola kerja bisnis kreatif berjibaku tak kenal waktu. Makna Creative memiliki tradisi berbeda. Mereka menerapkan jam kerja layaknya jam kantor, mulai pukul 10 hingga pukul 6 sore. Tak ada waktu lembur, tak ada pekerjaan yang dilakukan di malam hari. 

Penerapan jam kerja itu justru bertujuan agar mereka memaksimalkan pekerjaan dan kreatifitas. “Semua pekerjaan harus selesai sebelum jam pulang. Jadi efektif. Di luar Makna, kami ada kehidupan yang harus dijalani, kehidupan keluarga dan kumpul bersama teman-teman,” kata Ernanda.

Saturday, November 19, 2016

Menengok Danau Cigaru, Surga Tersembunyi di Tangerang

Begitu turun dari motor, tiga bocah kecil itu berlari menuruni lembah. Di bawah sana, di depan danau, teronggok badak besar terbuat dari batu. Ketiganya lantas menaiki badak bercula itu. Maria Ulfah, 22 tahun, membantu menaiki ketiga bocah itu satu per satu.

Dengan sigap, kakak Maria Ulfah, Ali Khumaeni, 26 tahun, memasang kamera handphone. Maria Ulfah dan ketiga keponakan kecilnya berpose dengan berbagai gaya. Dengan lanskap danau biru dan goresan pepohonan hijau di belakangnya.

Di pojokan danau, Maria melihat perahu tertambat dengan sebuah pondok di depannya. Persis seperti sebuah rumah di tepi danau dengan pelabuhan sendiri. Seorang bapak keluar dari pondok itu dan menawarkan jasa naik perahu. Tarifnya Rp10.000 per orang.

Maria mengiyakan. Lantas menaiki perahu itu disusul keponakan, juga kakaknya. Perahu meninggalkan tambatan, berdayung mengelilingi danau.

Sabtu siang itu, Maria sengaja menyempatkan waktu berlibur ke Danau Cigaru, Cisoka, Tangerang. Dari rumahnya di Kresek, Tangerang, ia harus menempuh perjalanan 22 kilometer dengan kendaraan bermotor.

Meski berasal kabupaten yang sama, mahasiswa Jurusan Farmasi Universitas Muhammadiyah Prof DR HAMKA ini justru memperoleh informasi soal Danau Cigaru dari teman-teman kampusnya yang telah lebih dulu kesini. Sambil mengajak keponakannya berwisata, Maria sekaligus ingin membuktikan celoteh teman-temannya soal keindahan danau ini.

“Ternyata betulan indah. Nggak nyangka di daerah saya ada tempat seperti ini,” katanya, sumringah.

Jika Maria datang bersama keluarga, Andi Widodo, 29 tahun, menempuh perjalanan dari Kebayoran ke Danau Cigaru seorang diri. Andi sejak lama menyukai travelling. Berbalus kaos putih, celana pendek dan ransel di punggung, laki-laki asal Jawa Tengah ini menempuh perjalanan Jakarta-Danau Cigaru selama 2 jam.

Dari Kebayoran, Andi naik kereta commuterline hingga Stasiun Tigaraksa. Ia kemudian berjalan kaki sepelemparan batu sampai pangkalan angkot jurusan Taman Adiyasa – Balaraja. Di Pasar Cisoka, ia turun dari angkot, lantas melanjutkan perjalanan hingga Danau Cigaru dengan berjalan kaki selama 30 menit. “Lumayan capek, tapi terbayar dengan keindahan tempat ini,” katanya.

Mahasiswa pascasarjana salah satu kampus swasta di Jakarta ini memperoleh informasi keindahan Danau Cigaru dari media sosial. Ia memilih mengunjungi tempat ini karena lokasinya tak begitu jauh dari Jakarta, dengan kemudahan akses transportasi kereta. “Belum ada tempat sejenis di Jabodetabek,” katanya.

Suhandi, 45 tahun, warga setempat, mengatakan lahan danau ini milik seorang pengusaha properti asal Kalimantan yang kini menjadi warga Kampung Jengkol, Cisoka, Tangerang. Mulanya lahan ini adalah tambang pasir seluas 3 ha yang beroperasi sejak 2001. Pasir hasil tambang itu digunakan untuk membangun sejumlah perumahan yang berdiri di wilayah Cisoka. Diantaranya adalah Perumahan Taman Kirana Surya, Triraksa Village dan Kota Batara Cisoka. Suhandi yang kini menawarkan jasa perahu berkeliling danau, dulunya pegawai tambang pasir itu.

Tahun 2009, pasir di wilayah ini telah habis digali. Bersisa sejumlah cekungan tanah. “Pasir sudah habis, ya ditinggalkan,” katanya.

Tahun 2015, muncul keajaiban. Air dalam cekungan yang mulanya berwarna keruh, berubah menjadi hijau kebiruan. Pada waktu-waktu tertentu, air danau berubah, dari hijau menjadi kebiruan atau dari biru menjadi kehijauan. Ada 3 cekungan berderet yang airnya berubah warna, sedang lainnya tidak. Luas danau biru ini sekira 1,5 ha. Dengan lanskap deretan pepohonan hijau, danau ini tampak indah dipandang mata. “Ini karena faktor alam, kekuasaan Yang Maha Esa,” kata Suhandi.

Sejak itu warga berbondong-bondong mengunjungi Danau Cigaru. Makin lama informasi keindahan danau ini tersebar luas dan pengunjung makin ramai.


Awal tenar, pengunjung yang datang mencapai ribuan. Mereka memenuhi lahan terbuka yang mengelilingi ketiga danau itu. Sejumlah gubuk bermunculan di pinggir jalan, berderet menjual makanan.

November ini termasuk bulan sepi pengunjung. Tetap saja, jika hari minggu, pengunjung yang datang bisa mencapai 500an. Mereka tak hanya berasal dari Jabodetabek, tapi juga berbagai wilayah lainnya. “Pernah waktu itu ada pengunjung dari Padang semobil datang kesini, cuma mau liat danau ini,” kata Suhandi.


Bupati Tangerang, Zaki Iskandar, mengunjungi danau ini pada awal Januari lalu. Hasil penelitian Badan Lingkungan Hidup setempat menyimpulkan air danau ini memiliki keasaman di bawah angka tujuh. Kadar asam yang rendah itu menyebabkan air ini tak bisa langsung diminum. Selain soal kadar asam, perubahan warna terjadi akibat ganggang yang tumbuh di dalam air. “Katanya sorotan cahaya matahari yang membuat air dengan ganggang itu berubah-ubah warnanya,” ujar Suhadi. 

Wednesday, November 16, 2016

Filosofi Hewan Raditya Dika

Sederet gelar disandangnya: penulis buku, film maker, hingga komika. Berhasil menyuguhkan tontonan jenaka yang segar dengan embel-embel nama hewan.

Raditya Dika tak ujug-ujug sukses sebagai penulis cerita jenaka. Ketika menawarkan kumpulan tulisannya ke sejumlah penerbit, bukunya justru ditolak. Pelabuhan terakhirnya adalah Gagasmedia, yang dengan lega menerima karyanya, meski ia harus presentasi lebih dulu.

Buku yang diterbitkan tahun 2005 itu berjudul Kambing Jantan: Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh. Berisikan pengalaman sehari-hari Raditya selama menempuh studi di Adelaide, Australia, yang sebelumnya ia narasikan dengan gaya ringan dan jenaka dalam blog www.kambingjantan.com. Buku pertama ini berhasil melambungkan namanya, sekaligus melekatkan identitas komedian pada lelaki kelahiran 28 Desember 1984 ini.

Selain menghadirkan tulisan jenaka dengan gaya segar, Raditya Dika terhitung penulis produktif. Hampir tiap tahun ia menerbitkan buku. Buku keduanya, Cinta Brontosaurus, terbit setahun kemudian, pada 2006. Masih menyoal kisah sehari-hari namun dalam format cerita pendek. Buku berikutnya berjudul Radikus Makan Kakus: Bukan Binatang Biasa terbit tahun 2007 dan Babi Ngesot: Datang Tak Diundang Pulang Tak Berkutang terbit tahun 2008.

Raditya Dika mulai merambah dunia sinema pada 2009 dengan bermain dalam film Kambing Jantan: The Movie. Film ini masih bercerita soal pengalaman sehari-hari Raditya selama di Australia dengan gaya jenaka.

Berselang tahun, Raditya menggarap serial komedi berjudul Malam Minggu Miko. Berkisah tentang Miko, laki-laki yang memiliki nasib sial soal cinta. Dalam serial pendek ini, Raditya berperan sebagai produser, sutradara, penulis naskah dan aktor sekaligus. Ditayangkan di kanal YouTube, serial ini berhasil diproduksi sebanyak 2 session, dengan 26 episode masing-masing session.

Malam Minggu Miko mendulang sukses besar. Meraup lebih dari 50 juta penonton, ditayangkan di Kompas TV, kemudian diangkat ke layar lebar dengan judul Cinta Dalam Kardus.

Sederet bukunya yang lain direproduksi ke dalam medium film. Diantaranya Cinta Brontosaurus, Marmut Merah Jambu, Manusia Setengah Salmon dan Koala Kumal.

Jika dirunut, semua judul buku yang Raditya terbitkan menyomot nama hewan. Begitu pula film-film besutannya yang merupakan adaptasi dari buku yang ia tulis. Alasan penggunaan nama hewan ini sederhana, Raditya ingin memiliki gaya khas dan konsisten dalam gaya itu. “Sebagai penulis kan gue pingin punya ciri, biar terlihat beda dengan yang lain. Gue pilih filosofi hewan. Film-film yang dibuat dari buku gue juga otomatis judulnya ada nama hewannya,” katanya.

Tak berhenti di ranah buku dan film, Raditya menjajal tantangan lain dengan tampil di panggung stand up comedy. Predikat baru yang kemudian disandangnya adalah komika. Di ranah ini, ia meraih sukses pula. Didapuk menjadi juri sekaligus mentor Stand Up Comedy Indonesia di Kompas TV, dan Stand Up Comedy Academy di Indosiar. Ia menjadi tokoh penting yang melahirkan banyak komika baru di Indonesia.

Meski tiga gelar disandangnya sekaligus: penulis buku, film maker, dan komika, Raditya menyebut dirinya hanya seorang story teller yang menggunakan beragam medium. Ketika ingin menulis buku, ia menyampaikan storynya itu lewat medium buku. Begitu pula, ketika menggagas film atau tampil di panggung stand up comedy, ia menyampaikan kisah jenakanya lewat medium itu. “Lebih tepatnya gue story teller. Bercerita, mediumnya berbeda-beda. Kadang lewat medium buku, kadang film, kadang stand up comedy,” katanya.

Saturday, October 22, 2016

Jalan Terjal Ugamo Malim (1)

Puluhan warga merangsek masuk ke lahan perkebunan milik Patiar Sirait di Jl Aer Bersih, Medan, suatu hari di tahun 2005. Mereka adalah warga sekitar yang tak sepakat atas dibangunnya rumah ibadah warga Parmalim, sebutan untuk penganut Ugamo Malim, di sudut lahan itu.
“Bongkar, bongkar!”
“Tertibkan!”
Melihat suasana kian memanas, Lambok Manurung, 45 tahun, pengurus DPD Kota Medan Punguan Parmalim Hutatinggi, berikut pengurus lainnya memilih menyingkir. Rencana akan melobi aparat desa yang berdiri di barisan pendemo pun dibatalkan. Mereka menyerahkan nasib rumah ibadah yang belum sepertiga berdiri tegak itu pada puluhan polisi yang sudah datang lebih dulu ketimbang warga. “Kami pasrah saja, takut terjadi bentrok,” kenang Lambok.
Ketika Lambok dan pengurus Punguan yang lain kembali di sore harinya, 2 lubang akibat pukulan martil sudah menganga di dinding bangunan itu. Batu bata dan semen kering berserakan di sekitarnya.
Jauh hari sebelum aksi massa berikut penyegelan itu, selembar surat lengkap dengan tanda tangan warga, datang seperti petir menggelegar. Isinya surat itu mempertanyakan ijin pembangunan sekaligus menolak adanya rumah ibadah Ugamo Malim di wilayah itu. Alasannya, warga takut kelak anak-anak mereka berpindah haluan menjadi Parmalim. Warga juga beralasan, penghentian pembangunan ibadah itu adalah pilihan baik demi menghindari terjadinya keributan yang tidak diinginkan. 
Sejatinya tanah tempat rumah ibadah itu berdiri telah dibeli oleh Patiar Sirait sejak lama, jauh sebelum wilayah itu menjadi pemukiman warga seperti sekarang. Mulanya Sirait menjadikan tanah seluas 1591 m2 itu sebagai lahan beternak dan berkebun.
Berselang tahun, Sirait menghibahkan tanah itu kepada kepercayaan yang ia dan nenek moyangnya anut, Ugamo Malim. Setelah dana terkumpul, tahun 2005, peletakan batu pertama dilakukan. Rumah ibadah adalah bangunan yang direncakan pertama berdiri di lahan itu.
Beroleh penyegelan, Sirait dan pengurus punguan mengupayakan pengurusan ijin dan dialog dengan warga. Membujuk warga yang terlanjur terbakar api tentu tidak mudah. Sedang pengurusan ijin dari Pemerintah Kota Medan, berbuahkan syarat: pengurus Ulupunguan harus mengumpulkan 75 persen tanda tangan warga sekitar. Jika syarat ini telah terpenuhi, barulah ijin akan diberikan.
Syarat itu tak mudah. Mayoritas warga setempat beragama Kristen dan citraan Parmalim sudah terlanjur buruk di mata mereka.
Beragam upaya telah dilakukan. Pendekatan persuasif dimassifkan. Namun fakta yang terjadi tak melulu sesuai harapan, hanya sedikit warga yang bersedia menorehkan tanda tangan persetujuan.
Lambok merasa syarat ini berat dan tidak adil. Bagaimana mungkin Ugamo Malim diberi syarat seberat itu sementara agama lainnya, ketika hendak mendirikan rumah ibadah, tak memperoleh syarat yang sama. “Tidak ada tawaran solutif dari pemerintah. Kalau memang mau adil, harusnya sama. Memperoleh ijin 75% itu tidak mudah. Warga di sini juga tak semuanya Kristen, ada orang Islam juga, ada Parmalim juga,” katanya.
Lantas bangunan itu dibiarkan mangkrak bertahun-tahun dan dirimbuni ilalang.
Tahun 2011 situasi sudah mereda. Pembangunan kembali dilakukan meski sempat datang surat pernyataan dari HKBP yang mengatakan tidak keberatan namun tidak mendukung pembangunan rumah ibadah itu.
Bale Persantian, Medan
Setahun kemudian rumah ibadah itu berdiri dan diberi nama Bale Parsantian. Di kompleks yang sama didirikan juga ruang belajar, gedung serba guna, penginapan tempat warga Parmalim menginap jika ada acara besar, dan rumah tempat tinggal Sirait.


Lambok Parmalim, Pengurus DPD Parmalim Hutatinggi Kota Medan


Setiap Sabtu, sekitar 130an warga Parmalim Hutatinggi yang tinggal di Medan beribadah di tempat itu. Hari di akhir pekan, adalah hari di mana mereka beribadah, mendalami ajaran Ugamo Malim, belajar seni dan budaya Batak. Semua kegiatan dilakukan di kompleks itu.