Thursday, May 30, 2013

Membaca Pram dari Dalam




PRAM DARI DALAM
Penulis: Soesilo Toer
Penerbit: Gigih Pustaka Mandiri, Februari 2013, 286 halaman



Mengenal Pramoedya Ananta Toer dari sudut pandang adiknya. Menelisik dan mengungkap Pram sebagai sosok orang biasa. Pram ternyata bukan segalanya. 
Tokoh Larasati dalam novel Larasati karya Pramoedya Ananta Toer ternyata tidak fiktif. Larasati, seorang pemain film di tengah pergolakan revolusi kemerdekaan Indonesia, itu benar-benar ada. Siapa sangka, Larasati di dunia nyata adalah kekasih gelap Pram sendiri. 
Itulah secuplik informasi tentang sastrawan legendaris Tanah Air, yang tertuang dalam Pram dari Dalam. Sebelum dituangkan dalam buku itu, Soesilo Toer memperoleh informasi tadi dari salah satu anak Pram. Jika benar, itu berbanding lurus dengan pemahaman Pram bahwa karya sastra merupakan seluruh atau sebagian dari autobiografi sang pengarang. 
Contoh lain termaktub dalam karya masterpiece Pram berjudul Bumi Manusia. Salah satu tokoh fenomenal dalam tetralogi Pulau Buru itu bernama Sanikem, yang lebih dikenal dengan sebutan Nyai Ontosoroh. Dalam dunia nyata, Sanikem memiliki nama asli Sakinem. Ia ibu dari Markaban, sahabat Pram. Sakinem yang mengajari Pram kecil merokok dan minum kopi. Ditemani kedua benda itu, Pram memperoleh pencerahan dan berproses menjadi pemikir seperti dikenal sekarang. 
Dalam buku Arus Balik, tokoh Idayu rupanya identik dengan ibunda Bung Karno. Bung Karno adalah tokoh yang dikagumi sekaligus dibela Pram, meski tidak ia sukai. Melalui representasi semacam inilah, Pram mengapresiasi orang lain. Ia mengangkat sosok tersebut, lalu membantingnya sekaligus. 
Soal cinta, Pram menganggap itu tak lebih dari kentut. Ungkapan yang ia anggap seni tersebut diperkuat dengan pemahaman bahwa kawin tidak lebih dari modoldalam bahasa Betawi atau ngising dalam bahasa Jawa. Inspirasi ini konon diperoleh Pram dari hinaan terhadap dirinya yang ia ubah menjadi kekuatan mahadahsyat. 
Pram merupakan sastrawan besar Indonesia yang memiliki lebih dari 50 karya dan telah diterjemahkan ke dalam 41 bahasa. Karya-karyanya yang bernuansa sejarah dan mengandung kritik sosial membuat Pram harus mendekam dalam penjara. Karya sastranya tersebut dianggap mengganggu keamanan negara. Pada masa kolonial, ia mendekam di penjara selama tiga tahun. Pada masa Orde Lama, ia dipenjara selama setahun. Pada masa Soeharto ia dalam tahanan pembuangan selama 14 tahun. Ia tidak memperoleh proses pengadilan sama sekali. 
Selama masa penahanan itulah sebagian karya Pram lahir. Salah satu karya yang dianggap masterpiece adalah tetralogi Pulau Buru yang terdiri dari Bumi Manusia,Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Pram menerbitkan karyanya selama di penjara tersebut melalui teman-temannya. Dikucilkan di negerinya sendiri, Pram justru memperoleh banyak apresiasi dari berbagai lembaga di luar negeri. Salah satunya anugerah Ramon Magsaysay Award pada 1995. 
Membaca Pram tentu tak cukup lewat karya-karyanya saja. Seusai ia menutup mata pada 30 April 2006, banyak bermunculan buku yang mengulas sosok revolusioner ini. Namun, Pram dari Dalam memaparkan hal ihwal Pram dari penuturan orang pertama. Sebagai adik keenam Pram, Soesilo, yang kini mengelola Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa (Pataba), memiliki pengalaman berinteraksi dengan Pram lebih dari yang lain. 
Sebagai orang yang memiliki ideologi yang hampir serupa dengan Pram, juga sebagai bagian utuh dari keluarga, Soesilo mampu menelisik kedalaman diri Pram, dan menyuguhkannya dengan rasa yang berbeda. Ibaratnya, buku lain memaparkan Pram dari luar pagar maupun halaman, sementara Soesila memotret Pram dari dalam rumah, yang tak bisa diakses semua orang. 
Bagi Soesilo sendiri, Pram ternyata bukan segalanya. Setiap manusia adalah tunggal dengan sejuta pemikirannya. Dalam otak manusia, terjadi pemikiran yang tidak terbatas namun itu tak berarti segalanya. "Apalagi kalau kita ingat ucapannya bahwa Pram ingin menjadi dirinya sendiri. Ia tidak mau meniru dan tidak ingin ditiru," tutur Soesilo. 

Wednesday, March 13, 2013

Mahfud dan Dongeng Batu Hijau

BIOGRAFI MAHFUD MD: TERUS MENGALIR
Penulis: Rita Triana Budiarti
Penerbit: Konstitusi Press, Jakarta, Maret 2013, xxxii + 614 halaman

Kehidupan dan perjalanan karier Mahfud MD dipaparkan secara utuh. Sebagai orang biasa, Mahfud tahu apa yang menjadi kegelisahan di masyarakat.

Suatu hari di awal November 1999, seorang beretnis India bertandang ke kantor Mahfud. Waktu itu, Mahfud menjabat sebagai Pembantu Rektor I Universitas Islam Indonesia (UII) di Yogyakarta. Melihat Mahfud, orang itu lalu melihat tangan Mahfud dan berkata, "Sebentar lagi Bapak mau pindah ke Jakarta."


Mahfud bingung. Bagaimana mungkin. Ia sudah menetap dan menjadi pegawai negeri sipil di Yogyakarta. Lagi pula, ia tak percaya ramalan. "Bapak diperlukan oleh negara. Ini sebentar lagi, minggu ketiga Bapak akan mendapat kejutan promosi," kata orang itu meyakinkan.

Tamu itu lalu mengeluarkan sebuah batu warna hijau. Ukurannya kecil, hanya seruas jari kelingking. Ia mengatakan, batu itu ia bawa dari Sungai Gangga. Diberikannya batu hijau itu kepada Mahfud. "Bapak pegang saja. Nanti, suatu saat diperlukan, mungkin Bapak ingat saya," katanya. Karena tak percaya ramalan mirip dongeng itu, usai tamunya pulang, Mahfud membuang batu hijau itu ke tempat sampah.

Tiga minggu kemudian, seorang pegawai Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, menelepon Mahfud. Ia mengatakan bahwa Dewan Guru Besar Dirjen Dikti menyetujui Mahfud untuk menjadi guru besar. SK-nya pun sudah turun. "Kini Bapak guru besar," kata pegawai itu.

Terang saja Mahfud kaget. Ia yang baru golongan lektor muda langsung meloncat ke puncak tertinggi profesi dosen menjadi guru besar. Promosi ini menjadikannya sebagai guru besar termuda saat itu, usia 41 tahun. Mahfud langsung teringat pada batu hijau dan ramalan orang India itu. Jangan-jangan orang itu benar, batinnya.

Sebulan kemudian, Mahfud ditelepon Hasballah M. Saad, yang waktu itu menjabat sebagai Menteri Negara Urusan HAM. Hasballah meminta Mahfud menjadi staf ahli di bidang peraturan perundang-undangan HAM. Lagi-lagi Mahfud teringat pada batu hijau dan ramalan itu. Penasaran, ia pun membongkar tempat sampah tempat batu hijau dibuangnya dulu. Tentu saja usahanya sia-sia, karena tempat sampah itu dibersihkan setiap hari. 

Seperti sudah ada yang mengatur, berbagai "tawaran" pun terus datang. Pada 15 Agustus 2001, ajudan Gus Dur menelepon Mahfud. Gus Dur yang saat itu menjadi presiden Kabinet Persatuan Nasional ingin ketemu Mahfud dan menawari jabatan Menteri Pertahanan. Sejak itu, hidup dengan berbagai kewajiban yang harus diembannya seperti mengalir. Sampai kemudian, dirinya dilantik menjadi Ketua Hakim Konstitusi pada 19 Agustus 2008. 


Ditulis oleh mantan wartawan GATRA, memakai data hasil wawancara intensif dengan Mahfud dan sejumlah tokoh, didukung dengan berbagai arsip, dan rampung dalam waktu lima bulan, buku ini dibagi ke dalam lima bab. Masa kecil Mahfud, sejak masih dalam kandungan hingga Mahfud menjadi besar dan menyukai filsafat Kho Ping Ho, dituangkan di bab pertama.

Bab kedua menceritakan perjuangan Mahfud bersekolah di Yogyakarta, tertarik menjadi wakil Tuhan di dunia dengan bercita-cita menjadi hakim, hingga ia menjadi guru besar termuda. Bab ketiga berkisah tentang perjalanan karier Mahfud di Jakarta hingga demisioner dari posisi Menteri Kehakiman dan HAM. Aktivitas Mahfud terjun ke partai politik diceritakan pada bab berikutnya. Sedangkan bab kelima berkisah tentang perjalanan Mahfud menjadi hakim konstitusi.

Saat buku itu diluncurkan Senin pekan lalu di aula Mahkamah Konstitusi, sejumlah tokoh penting menghadirinya. Siang itu, Pramono Anung (Wakil Ketua DPP PDIP), Prof. Laica Marzuki (mantan Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi), budayawan Emha Ainun Nadjib, dan Prof. Hikmahanto Juwana (guru besar hukum internasional Universitas Indonesia) hadir membahas buku tersebut.

Pramono menanggapi kisah cinta pertama Mahfud dengan Zaizatun Nihayati. "Saya baru tahu cinta pertama Pak Mahfud dengan Mbak Yati memakai vespa merah ini. Pak Mahfud tidak pernah pacaran dengan siapa pun. Terus terang di bagian ini saya nggak yakin," kata Pramono, disusul gelak tawa audiens.

Bagi Laica, Mahfud adalah penegak hukum sejati. Pemikiran Mahfud kerap bertolak belakang dengan teori hukum yang ada. Namun pemikiran Mahfud bermanfaat bagi masyarakat luas. Sementara itu, Emha Ainun Nadjib mengatakan bahwa tugas Mahfud ke depan ada tiga pilihan.

Pertama, jika tidak ada perubahan cara berpikir yang signifikan, pilihan Mahfud menjadi presiden. Jika kemungkinan ada perubahan cara berpikir politik yang kemudian dielaborasi menjadi lebih tinggi, maka dibutuhkan konsep kenegarawanan figur begawanan, dan Mahfud akan menjadi ketua dewan negara. Sedangkan pilihan ketiga, Mahfud harus mencari perahu untuk menyusuri Sungai Bengawan Solo. "Judul buku ini belum selesai. Kalau dinyanyikan, kan terus mengalir sampai jauh," kata Emha sambil melantunkan lagu Bengawan Solo. 

Sementara itu, Hikmahanto mengatakan bahwa Mahfud orang biasa. Padahal, biasanya orang-orang yang memilih jurusan hukum adalah orang yang super-elite yang lahir dari orangtua yang elite. Namun, sebagai orang biasa, Mahfud tahu apa yang menjadi kegelisahan di masyarakat. "Mahfud tidak bisa membiarkan ketidakadilan, kegundahan, dan kegelisahan terus-menerus ada di masyarakat," kata kawan dekat Mahfud ini.

Mahfud sendiri memuji usaha sang penulis. Demi buku ini, penulis mengunjungi langsung kampung Mahfud di Madura dan Yogyakarta serta sekolahnya dulu. "Buku ini bisa menggambarkan yang sesungguhnya dengan cara penulisan yang bisa dinikmati semua orang, baik orang biasa, pejabat tinggi, anak SMA, maupun profesi berbeda-beda," kata Mahfud.

Thursday, February 28, 2013

Stranger

Semacam cerita yang ingin kita rangkai bersama, namun ternyata kita tak memiliki kata-kata.

Jejak Teror Penyakit Kelamin Penjajah

PENYAKIT KELAMIN DI JAWA 1812-1942
Penulis: Gani A. Jaelani
Penerbit: Syabas Books, Bandung, Januari 2013, xv+153 halaman

Buku yang mencoba menguak sejarah penyakit kelamin di Jawa pada masa kolonial Belanda. Menelisik persoalan langka, tabu, sekaligus mengungkap stigma diskriminatif yang ditimpakan kepada perempuan.

Cumano gusar. Dokter militer Venesia itu melihat bintil-bintil mirip butiran gandum pada sekujur tubuh pasukan infanteri Perang Fornoue, terutama pada bagian wajah dan kelamin. Penyakit yang mulanya tak dikenal ini tidak hanya membikin kulit perih bernanah, melainkan juga menurunkan daya tahan tubuh hingga ke titik paling akhir, kematian. 


Kegusaran tak hanya melanda Venesia, juga meneror Hindia Belanda. Di Pulau Jawa, menyebar penyakit mirip sifilis dengan jumlah signifikan justru pada saat pemerintah kolonial masih belum menganggap penting persoalan kesehatan. Pada saat itu, penyembuhan dilakukan dengan cara dijemur di bawah sinar matahari. Kalaupun ada pelayanan kesehatan, itu hanya terbatas untuk militer.


Berbeda dari masa pendudukan Inggris di Jawa. Raffles, bersama Dr. Hunter, serius mengendalikan penyakit, khususnya cacar dan kelamin. Ia mengirim surat tertanggal 4 Mei 1815 kepada lima residen di Jawa dengan tujuan pengendalian penyakit ini. Namun surat itu tak memperoleh tanggapan berarti. Alasannya, mulai soal teknis hingga alasan moral. 


Penyakit kelamin utamanya menyerbu kalangan militer. Pada 1882, dari 30.051 tentara, terdeteksi 1.290 orang terinfeksi sifilis dan 8.826 orang terinfeksi morbili veneris. Sedangkan pada 1887, dari sejumlah 31.688 tentara, 1.163 terinfeksi sifilis dan 10.108 orang terinfeksi morbili veneris.


Persentase yang tidak sedikit itu menjadi teror tersendiri bagi Pemerintah Hindia Belanda. Sebagai basis politik dan pertahanan utama, kekuatan militer berpengaruh besar terhadap eksistensi kekuasaan. Militer yang kuat akan mengokohkan legitimasi kekuasaan kolonial di bumi Jawa. Sebaliknya, militer yang lemah dan terjangkit penyakit menjadi ancaman serta mengerdilkan eksistensi kekuasaan itu sendiri.


Penyebaran penyakit kelamin pada tentara bukan satu-satunya teror. Seiring dengan dibukanya praktek cultuurstelsel atau sistem tanam paksa, penyakit kelamin juga mulai menjangkiti para pekerja perkebunan. Benar kata Van der Burg, "Sifilis merupakan kado pertama yang dibawa peradaban Barat." Fenomena ini berakibat menurunnya produktivitas pekerja. Padahal, dari tetes keringat merekalah kelancaran ekonomi dan praktek kolonialisme terbiayai.


Pelacur dan rumah bordil dianggap sebagai sumber penyakit ini. Kemudian dimulailah kebijakan represif pada praktek pelacuran. Setiap pelacur wajib diperiksa dokter Eropa dan yang terinfeksi dikarantina. Karantina artinya kekangan permanen. Pelacur yang dikarantina hanya bisa keluar dengan syarat meninggalkan profesinya, menikah, atau bahkan meninggal, meski upaya ini kemudian tak berdampak signifikan.


Karya Gani A. Jaelani ini patut diapresiasi. Tak banyak penelitian yang memaparkan persoalan penyakit kelamin secara komprehensif. Menguak persoalan tabu di masa pemahaman masyarakat hanya terbatas pada yang boleh dan tidak boleh, serta yang benar dan tidak benar, tentu bukan perkara mudah. Perlu kesabaran ekstra untuk menelisik lembar demi lembar arsip, menguak fragmen demi fragmen peristiwa.


Telaah Gani juga mengungkap stigma moral negatif yang berkembang di masyarakat ketika itu. Dalam literatur sering muncul penyebutan "penyakit perempuan" bagi laki-laki yang mengidap penyakit kelamin, terutama sifilis. Bagaimana perempuan dijadikan tersangka dari asal-muasal penyakit sifilis, padahal perempuan tidak lain hanya menjadi perantara terjangkitnya penyakit itu di kalangan laki-laki yang telah memakainya. 


Praktek diskriminatif bahwa perempuan sebagai biang imoralitas dalam masyarakat merupakan konstruksi khas penguasa. Akibatnya, pendekatan untuk menuntaskan penyebaran penyakit ini menemui jalan buntu.


Dilarang Ngomong Sembarangan!

Lokasi Jl Duren Tiga Selatan, Kalibata, Jakarta Selatan

Monday, February 4, 2013

“Saya Kan Masih Lajang!”


Beberapa waktu lalu, saya liputan ke Bumi Perkemahan (Bumper) Cibubur. Demi mempermudah proses liputan, saya naik ojek. Ia satu-satunya ojek yang saya temukan tak jauh dari lokasi Bumper. Tanpa pikir panjang dan tawar-menawar harga, saya menaiki motornya. “Keliling Cibubur, Pak,” kata saya.

Sumber gambar: iwok.blogspot.com
Sepeda motor matic dengan merek M*o itu pun membawa saya memasuki Bumper. Rupanya tukang ojek itu cukup dikenal di wilayah Bumper tersebut. Beberapa petugas di gerbang masuk menyapanya. Cukup menunjukan kartu sakti, saya pun masuk tanpa membawar retribusi. Begitu pula dengan ojek itu. Karena kerap membawa masuk penumpang, tak juga berlaku retribusi ataupun ongkos parkir.

Usia tukang ojek ini masih muda, sepertinya tak terpaut jauh dari usiaku. Posturnya yang gemuk tambah kelihatan jumbo dengan kaos warna cream dan celana pendek dengan warna senada yang ia kenakan. Paduan warna kostumnya pun senada dengan warna kulitnya yang cenderung gelap.

“Habis ini kemana, Mbak?” tanyanya.

“Yang belum sebelah mana ya?”

Mendengar jawaban saya, ia menduga-duga siapa saya dan apa tujuan berkeliling ini. Tebakannya benar, saya memang sedang menelusuri soal tanah Bumper yang akan dialihfungsikan menjadi mall. Tanah tersebut ternyata berada di Taman Wiladatika, persis di depan Cibubur Junction.


Tukang ojek kemudian membantu saya menelusuri wilayah itu dan menemukan beberapa narasumber yang harus saya tanya. Sebagai orang lokal, pengetahuan dan relasinya sangat membantu proses reportase saya.


Selepas wawancara, ia mengantar saya hingga angkot terdekat. Lokasi Cibubur-Kalibata yang cukup jauh tak memungkinkan saya untuk terus ngojek sampai depan pintu kos. Bisa-bisa masuk angin nanti. Sebelum pergi, tukang ojek itu menawarkan diri jika sewaktu-waktu dibutuhkan. “Saya kan masih lajang,” katanya tanpa perlu saya Tanya.

“Oh ya, makasih ya,” saya basa-basi sambil ngeloyor pergi.

“Ini nomor hape saya,” katanya. Saya pun urung pergi. Saya ketik nomornya sambil pura-pura menyimpannya di phonebook. Saya pikir, tak setahun sekali juga saya kesini. “Kalau perlu, tinggal kontak saya aja. Saya bisa kapan aja kok. Saya kan masih lajang,” katanya. Entah berapa kali ia mengucapkan kalimat terakhir itu.

Lagi-lagi saya urung pergi ketika ia kembali melontarkan tawarannya, sambil mengucap kalimat yang sama. Dengan tersenyum, saya pamit pergi, sambil menduga-duga maksud kalimat berulang-ulang itu. “Saya kan masih lajang!” 

Wednesday, January 2, 2013

Tentang Hujan



pecinan, kota tua, jembatan kota intan
ada yang tidak sempat kita pikirkan hingga malam terlewati. tentang hujan
yang jatuh ke rambutku, juga matamu yang segaris
ia bisa tiba-tiba datang dan tiba-tiba pergi
hingga lampulampu meredup, pedagang kaki lima juga pelacur beranjak
pulang
lalu kita sadar tak lagi menatap langit yang sama

Monday, December 31, 2012

Tahun Baru

Tahun baru.
Petasan, jagung bakar, kembang api.

Sudah sampai di manakah impian?

Sunday, December 30, 2012




Judul Buku    : 123 Ayat Tentang Seni
Penulis    : Yapi Tambayong 
Penerbit    : Nuansa Cendekia, Bandung, Agustus 2012, 298 halaman


Situasi seni Indonesia saat ini berada pada posisi sesat nalar. Banyak istilah-istilah kesenian yang keliru berseliweran diantara penyair dan masyarakat awam. Kekeliruan penggunaan istilah ini mengakibatkan pemahaman yang rancu soal seni. Ironisnya kekeliruan ini bersumber dari buku-buku yang menjadi referensi banyak orang, salah satu buku itu adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Parahnya lagi, kekeliruan itu diwariskan lembaga pendidikan melalui tuturan para pengajar mulai sekolah dasar hingga perguruan tinggi.

Seni Indonesia saat ini juga masih memosisikan diri sebagai inlander. Pengalaman sebagai bekas bangsa jajahan menjadikan kita kerap minder pada seni dan kebudayaan sendiri. Pada benak kita, seni dan kebudayaan barat lebih unggul dan lebih paripurna.

Kondisi kritis tersebut membuat Yapi Tambayong mengambil tindakan. Melalui buku berjudul 123 Ayat Tentang Seni, Yapi mencoba meletakan kembali pondasi-pondasi mengenai seni. Ia memaparkan lima bagian seni, yaitu susastra, musik, drama, rupa dan film dalam bentuk ayat yang masing-masing berisi 123 ayat. Seperti do-re-mi dalam tangga nada, 123 berarti juga muasal. Tiap-tiap ayat terdiri dari satu paragraf yang menjelaskan satu perihal. Seperti yang dipaparkan Yapi dalam kata Pengantar, buku ini adalah “buku yang menyajikan pengertian asasi kepelbagaian kesenian dalam ladang bahasan keindahan yang menyeluruh namun mufrad.”

Penulis buku ini, Yapi Tambayong, yang lebih kita kenal dengan sebutan Remy Sylado. Ia pertama kali memulai karier sebagai wartawan. Yapi yang menguasai beragam bahasa ini mulai dikenal luas dengan berbagai novelnya, diantaranya Ca Bau Kan, Kembang Jepun, Sam Po Kong dan Paris van Java. Selain pada bidang sastra, Yapi banyak berkiprah dalam keempat bidang lain yang ia bahas pada buku ini. Ia banyak menulis buku-buku mengenai musik, drama, seni rupa dan membuat berbagai filmografi. Salah satu filmografi karya Yopi yang terkenal berjudul Taksi yang ia buat pada 1990.

Selain membuat karya, Yapi juga dikenal aktif mengajar di berbagai perguruan tinggi di Bandung dan Jakarta. Sejak 1970 ia mengajar di Akademi Sinematografi Bandung. Ia juga mengajar di Institut Teater dan Film, dan Sekolah Tinggi Teologi. 

Melihat kiprahnya yang sudah malang-melintang di dunia seni, baik sebagai praktisi maupun pakar, memang sudah saatnya Yapi membuat satu karya utuh dari pemahaman yang berbeda mengenai seni. Pada 123 Ayat Tentang Seni, tak hanya memaparkan wacana, tapi sekaligus kritik wacana dengan menerobos pakem-pakem seni yang selama ini ada. Meski ilmiah, gaya bertutur Yapi membuat buku ini enak dibaca oleh kalangan manapun.




Kabut di Kedalaman Matamu

Aku menemukan kabut di kedalaman matamu. Dingin dan muram. Kucoba menghapus kabut itu, namun ia berubah menjadi hujan deras dan membadai. Dan kamu menghilang di tengah hujan.

Friday, October 12, 2012

Pengemis-pengemis Jembatan Salemba UI

Hampir di setiap sudut jalanan Jakarta ada pengemis. Itu pasti. Kali ini saya memotret pengemis di jembatan Salemba UI pada sisi sebelah timur. Ada dua pengemis di sana, di tangga dan di pelataran tangga. 

Pengemis yang berada di pelataran tangga ini tampak seperti bertangan buntung. Tapi sepertinya tidak, sebelah tangannya ia masukan ke dalam baju. Ia memakai topi hingga menutupi sebagian besar mukanya. 

Pada foto ini, ia tampak sedikit tegak. Orang yang mengenalnya bisa jadi tahu siapa ia. Tak mudah saya memperoleh foto ini. Ketika saya foto, ia selalu berusaha menunduk. Barangkali agar wajahnya tak dikenali. Ah, peduli apa, saya pun tak kenal dia.

Saya memang tak begitu suka pengemis. Tapi barangkali ia tak punya pilihan atau apapun maka menjadi pengemis. 








Entah mengapa pengemis tua ini bertelanjang dada. Kondisinya lebih memprihatinkan ketimbang pengemis gadungan di atas. Apalagi ia juga sudah lanjut usia.

Ini dia wajah sang bapak tua pengemis....


 
Sedikit out of context, saya tambahkan suasana di atas jembatan....

Thursday, October 11, 2012

Pada Perhentian Stasiun

Dari Yogyakarta, Senin kemarin saya kembali ke Jakarta dengan Kereta Bogowonto. Dijadwalkan pukul 7.30, kereta ekonomi AC ini berangkat pukul 8. Kereta yang cukup nyaman dengan harga murah-meriah, hanya Rp140.000 saja. 

Seperti biasa, setiap ada pergantian penggunaan jalur, salah satu kereta harus mengalah. Keretaku berhenti di Stasiun Linggapura, sekitaran Tegal. Bagi beberapa orang, perhentian ini memuakkan. Perhentian artinya penundaan jadwal sampai. Tapi bagi saya, perhentian artinya foto-foto. Apalagi kalau pemandangan di sekitar stasiun itu menarik.

Kebetulan, Stasiun Linggapura dikelilingi pegunungan dan lahan terbuka. Pak Agus, Security kereta sempat menyebutkan nama beberapa bukit. Tapi saya lupa nama bukit itu :D :D...
Diantara pegunungan yang saya lupa namanya itu, ada cerita menarik. Jadi di gunung itu tinggal beberapa warga. Kata Pak Agus, ada sekitar 4 rumah di sana. Mereka tinggal jauh dari puncak kok. Anak-anak mereka tidak sekolah dan tidak juga bergaul dengan anak-anak di kaki gunung. Kebutuhan sehari-hari mereka peroleh dari ladang. Kadang-kadang mereka turun gunung untuk menjual hasil kebun dan membeli berbagai kebutuhan. Konon, mereka sama seperti warga kaki gunung, menggunakan aneka barang yang sama untuk kebutuhan sehari-hari. Misalnya minyak goreng. Padahal minyak goreng diperoleh dari hasil olahan yang tidak sederhana. Jadi katanya warga gunung ini dulunya warga kaki gunung juga. Entah apa penyebabnya mereka tinggal di sana.
 
Yup. Kereta melaju melewati persawahan dan pegunungan. eh, ada jembatan juga di ujung sana. Saya selalu menyukai alam terbuka. Persawahan, pegunungan; cakrawala. Ada kebahagiaan tersendiri ketika saya menyaksikannya.

Friday, August 31, 2012

Ramai Fragmen Perahu Kertas



Kugy patah hati! Di hari ulang tahun Keenan, laki-laki yang ia suka, Kugy urung memberikan kado unik buatannya sendiri. Ia malah pergi meninggalkan Keenan. Meninggalkan sepasang sahabatnya, Noni dan Eko, juga Wanda, sepupu Noni yang cantik dan blasteran.

Semua itu karena Kugy cemburu kepada Wanda. Wanda memang sengaja diperkenalkan Noni dan Eko untuk dijodohkan dengan Kugy. Bukannya mereka sahabat yang tidak baik, sebelum bertemu Keenan, Kugy sudah lebih dulu punya pacar di Jakarta. Namanya Joshua. Kugy cemburu melihat Wanda dan Keenan tampak begitu nyambung. Keenan yang pelukis, dan Wanda yang memiliki yayasan seni. Keenan terperanjat ketika Wanda tertarik pada lukisan Keenan. Tak hanya itu, Wanda yang memang tertarik pada Keenan, mengusulkan agar lukisan Keenan turut tampil pada pameran lukisan yang diadakan yayasannya. Kedekatan Kugy dengan Keenan, juga persahabatan Kugy dengan Noni dan Eko akhirnya luntur gara-gara itu.

Konflik cinta Kugy-Keenan ini tampil dalam film Perahu Kertas. Film ini diadaptasi dari novel dengan judul yang sama hasil garapan Dewi Lestari. Film yang disutradarai Hanung Bramantyo ini baru tayang di bioskop dua minggu kemarin dan berhasil menyedot banyak penonton. Yang menjadi ganjalan dan sangat mengganggu, film ini terlalu diramaikan oleh fragmen-fragmen jalan cerita yang justru mengacaukan fokus cerita tersebut.

Fragmen pertama menampilkan repotnya Kugy pindah dari Jakarta ke Bandung untuk kuliah di jurusan sastra. Dari proses pindah hingga ia tinggal di Bandung dibantu oleh sepasang sahabatnya, Noni dan Eko. Kemudian datanglah Keenan, dari Amsterdam kalau tidak salah, yang juga kuliah di Fakultas Ekonomi di kampus yang sama. Keenan pelukis, sedang Kugy penulis dongeng. Dari pertemuan pertama, kedua anak manusia ini sudah terjalin cinta.

Datanglah Wanda. Cerita kemudian fokus ke Keenan dan Wanda yang asyik mengadakan pameran seni. Dalam fragmen ini, Wanda diceritakan berkorban habis-habisan demi Keenan. Mulai dari membujuk orang tuanya agar lukisan Keenan tampil di pameran, bolak-balik Jakarta-Bandung, sampai membohongi Keenan bahwa lukisannya sudah terjual semua. Meski begitu Keenan tetap tak bergeming. Di ulang tahun Wanda, tahulah Keenan kalau Wanda sendiri yang membeli lukisannya. Semua itu Wanda lakukan demi memperoleh cinta Keenan. Pada pesta inilah puncak sekaligus akhir kisah Wanda dan Keenan.

Keenan kemudian hijrah ke Bali. Ia diusir papanya karena lebih memilih lukisan ketimbang kuliah. Di Bali, Keenan belajar melukis pada mantan pacar mamanya, Pak Wayan. Di bali itu pula Keenan berkenalan dengan perempuan pendiam keponakan Pak Wayan. Perempuan itu kemudian jatuh cinta pada Keenan. Seorang laki-laki Bali nampak cemburu melihat kedekatan Keenan dan perempuan itu.

Sementara itu, Kugy yang sedang patah hati lebih banyak menghabiskan waktunya pada sebuah sanggar anak. Anak-anak sanggar itu bahkan memiliki kedekatan emosional tersendiri pada Keenan. Mereka tidak mau mengikuti lomba kalau Keenan tidak datang.

Pada saat yang sama, Kugy berkonflik dengan Joshua. Perbedaan yang sudah ada sejak lama tiba-tiba saja menjadi kesenjangan antara Kugy dan Joshua. Joshua menganggap Kugy aneh dengan dunia dongengnya. Joshua juga merasa Kugy lebih mementingkan sanggar ketimbang dirinya. Joshua kemudian menawarkan pilihan, anak-anak sanggar, atau turut ke Bali bersamanya. Kugy rupanya lebih memilih anak-anak sanggar ketimbang pacarnya yang egois. Mereka pun putus.

Fragmen kemudian berpindah pada proses Kugy menyelesaikan kuliah, memperoleh pekerjaan baru dan sukses pada pekerjaan itu. Fragman kemudian berlanjut ke cinta lokasi antara Kugy dengan Remi, bos di kantor tempatnya bekerja. Remi rupanya pernah bertemu Keenan di Bali dan membeli lukisannya. Meski begitu Kugy tidak tahu kalau Remi dan Keenan saling kenal.

Fragmen-fragmen ini terlalu ramai. Penonton hanya menyaksikan beragam fragmen tanpa ada kedalaman cerita dari setiap fragmen. Tak ada kedalaman artinya tak ada penghayatan. Sebetulnya benang merah film ini tetap tidak hilang, tetap dalam kerangka percintaan antara Keenan dan Kugy. Meski telah berputar-putar ke fragmen lain, fokus ceritanya akan kembali ke percintaan Keenan dan Kugy. 
 
Kembalinya fragmen ke fokus cerita, setelah penonton diajak berputar-putar ke aneka fragmen, seperti tersadar dari shock yang panjang dan kembali ke realitas kehidupan. Ada kelelahan dari shock yang panjang, dan ada sedikit helaan nafas bahwa penonton kembali ke kehidupan yang riil. Meski nafas telah terhela, kelelahan akibat shock panjang itu tentu saja tak hilang begitu saja. Makanya, film ini, menurut saya, gagal membuat penonton merasa menikmati dan turut masuk ke dalam cerita.

Selain ramai fragmen, film ini juga penuh taburan bintang. Para pemeran utama dalam film ini sebetulnya termasuk pendatang baru. Seperti Maudy Ayunda yang menjadi Kugy, Adipati Dolken yang menjadi Keenan, Sylvia Fully (Noni) dan Fauzan Smith (Eko). Artis terkenal yang tampil adalah pemeran orang tua Keenan, Ira Wibowo dan Agus Melaz. Begitu juga dengan orang tua Wanda. Ibunya Wanda bahkan diperankan langsung oleh Dewi Lestari. Sayangnya ia tampil 2 syut saja.

Beberapa sosok lain yang sudah sangat familiar justru tampil di tengah bahkan di akhir cerita. Reza Rahadian misalnya. Pemeran utama dalam Perempuan Berkalung Sorban ini muncul di tengah cerita ketika ia ke Bali dan tertarik pada lukisan Keenan. Sebelumnya Reza tidak tampil sama sekali. Selanjutnya Reza berperan sebagai bos sekaligus pacar Kugy. Begitu juga dengan Titi DJ. Parahnya, Titi tampil ketika film hampir berakhir. Ia menjadi salah satu keluarga Kugy dalam tampil beberapa syut saja (kalau tidak salah malah sekali syut).

Bintang-bintang bertaburan ini bukannya menambah daya tarik film, tapi justru malah mengacaukan fokus. Bayangkan, ketika kita sedang asyik menikmati cerita, tiba-tiba kita dikagetkan oleh kehadiran Reza di tengah film. Kehadirannya yang tiba-tiba membuat menonton harus menguras energi untuk mengingat alur film dari awal, siapa sosok Reza ini. Kehadiran Titi DJ juga begitu. Perannya yang tidak penting dan hanya tampil dalam beberapa syut saja, setelah itu menghilang. Jika begini sebaiknya Titi DJ tidak usah ditampilkan saja. Seperti pelengkap, tapi membuat kacau rasa. Bagi saya, cerita lebih penting ketimbang bintang-bintangnya.

Satu hal yang saya menikmati betul dari film ini adalah sinematografinya. Dari awal film, kameramen membidik objek-objek dengan angle yang unik dan memikat. Misalnya ketika ia membidik Kugy yang sedang duduk di meja belajarnya. Ia tidak mebidik dari depan, melainkan dari samping, sekaligus membidik cermin di lemari pakaian Kugy. Efeknya sosok Kugy tidak tampil tunggal, melainkan ganda, Kugy yang riil dan Kugy dalam cermin. Komposisi gambarnya pun sesuai dengan the rule of third-nya fotografi dan nyaman ditonton. Banyak angle-angle unik semacam ini yang ditampilkan. Selain itu, film ini juga menampilkan eksotisme alam Indonesia. Bali dengan pantai dan budayanya, keindahan alam di sekitar lokasi sanggar anak, juga hijaunya pegunungan dilihat dari rumah Keenan.

Film yang diadaptasi dari novel, biasanya memang mengecewakan. Bagi saya itu sebetulnya wajar saja. Berbeda dengan novel, film memiliki ruang dan waktu yang terbatas. Biasanya sutradara kepingin memasukan semua isi novel ke dalam film. Namun keinginan itu justru membuat film jadi mengecewakan, terutama bagi pembaca yang sudah membaca novelnya. Meski belum membaca novelnya, tapi tetap saja saya kecewa. Semoga film-film selanjutnya yang diadaptasi dari novel tidak sebegini mengecewakan. Amin.