Thursday, July 19, 2018

Semangat Baja Perempuan Senja


Meski berusia senja dengan pandangan mata yang rabun, Asiroh tetap menarik perahu eretan. Seturut upaya perahu-perahu eretan di Jakarta bertahan menghadapi arus zaman.
Di sebuah perahu eretan Jakarta, seorang perempuan tua memicingkan matanya. Berbekal pandangannya yang rabun, ia berusaha menangkap benda yang tampak mungil di seberang sungai. Rupanya benda itu bergerak, yang berarti manusia, tengah menuruni undakan kayu dari atas tanggul sungai menuju titian terbawah.
“Itu sewa,” ujar Kastim, suaminya, dari sudut perahu. Kastim tengah nyaman duduk di pojokan dengan menempatkan kaki sebelah kirinya ke atas kursi, pose yang dilakoninya saban hari. Tak seperti perempuan itu, penglihatan Kastim masih awas, hanya pendengarannya sudah tak terlalu berfungsi dengan baik.
Dalam bahasa awam, sewa berarti penumpang. Sosok di seberang adalah calon penumpang yang akan menggunakan jasa perahu eretan untuk menyeberangi sungai.
Perempuan tua itu buru-buru meraih tali besi yang melintangi sungai, kemudian menariknya. Tak berapa lama, perahu sampai ke titian. Penumpang naik, dan perempuan itu kembali menarik tali besi untuk mengantar penumpang ke seberang.
Perempuan tua itu bernama Asiroh, 75 tahun, penarik perahu asal Brebes, Jawa Tengah, yang beroperasi di Kanal Barat, persisnya di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Lokasi yang terapit gedung-gedung megah, rel kereta dan pemukiman kumuh Jakarta.

Penarik perahu tiga dekade
Asiroh lupa kapan persisnya ia dan suami memulai profesi sebagai penarik perahu eretan. Yang ia ingat, saat itu Indonesia masih dipimpin Presiden Soeharto.
“Kira-kira hampir 30 tahun lalu,” matanya menerawang.
Selama hampir tiga dekade itu, perahu eretan Asiroh mengantar penumpang menyeberangi sungai sejak pukul 5 pagi hingga 10 malam, setiap hari.
Asiroh bergiliran jaga dengan Suharna, dengan metode aplusan per bulan, seperti umumnya perahu eretan di Jakarta. Jika bulan ini jadwal Asiroh menarik perahu, maka bulan depan jatah itu akan bergeser ke tangan Suharna.
Jika sedang tak kejatah menarik perahu, Asiroh pulang ke kampung halaman. Bertani bawang merah seperti warga Brebes lainnya, atau hanya nyawang cucu-cucunya jika tidak sedang musim tanam bawang merah.
Perantau ini pernah pula mengalami kejayaan di Jakarta. Pertama kali menginjakkan kaki ke ibukota lebih dari 50 tahun lalu, Asiroh dan suami mulanya hanya pekerja penjual ikan. Belajar dari pengalaman itu, keduanya lantas membuka lapak penjualan ikan milik sendiri. Seiring bertambahnya tahun dan lapak kian ramai, keduanya sempat memiliki rumah berlantai dua di Jakarta Utara.
Rupanya masa jaya itu tak berlangsung lama, rumah itu terpaksa dijual demi membayar utang suami yang gemar berjudi. Sisa uang penjualan rumah itu Asiroh belikan perahu yang beroperasi di Kanal Barat hingga kini.
Namun tiga tahun belakangan, Kastim sudah enggan menarik perahu. Sebaliknya, Asiroh tetap bertahan meski di usia renta itu ia yang harus menarik perahu.
“Kalau tidak narik, saya nggak bisa ngasih uang buat cucu-cucu saya,” kata nenek dengan 11 cucu ini.
Kepelikan hidup itu telah berlangsung lama, namun saat membincangkan Kastim, Asiroh menatap suaminya dengan mata berbinar, sebinar mata remaja yang tengah jatuh cinta.
“Ya nggak apa-apa, jalani aja. Iya, kan, Pak,” ujar Asiroh, tersenyum, sementara Kastim diam tak acuh.
Meski sudah berusia senja, namun kelapukan Asiroh hanya pada jumlah usia. Toh semangatnya tak kendur juga. Ia masih perkasa menarik perahu, meski kadang napasnya ngos-ngosan juga.

Hampir karam
Pekan lalu, pada pukul 3 dini hari, perahu Asiroh bocor. Tak seperti biasanya, ia menautkan perahunya ke tali pada bagian tengah sungai. Air sungai yang bau masuk hingga ke geladak. Asiroh berupaya membuang air itu sedikit demi sedikit, dan membiarkan suaminya tetap tertidur lelap.
Rupanya air yang masuk lebih cepat ketimbang upaya Asiroh. Perahu miring ke samping dan barang-barang Asiroh tercebur ke sungai. Baju-baju, alat makan, juga uang simpanan lebih dari Rp1 juta.
Beruntungnya, sekelompok pemuda yang tengah begadang di pinggir tanggul mendapati perahu yang hampir karam itu. Mereka terjun ke sungai dan mengevakuasi sepasang suami istri itu.
“Kalau tidak ada mereka, entah bagaimana nasib kami,” ungkap Asiroh.
Esoknya, belasan orang berupaya menarik perahu dari tengah sungai. Perlu beberapa hari menarik perahu penuh lumpur itu hingga ke pinggir dan mengeringkannya.

Bertahan hadapi arus zaman
Di Jakarta, perahu-perahu eretan terus berjuang menghadapi arus zaman. Semasa jaya dulu, para penarik perahu eretan bisa memperoleh penghasilan hingga Rp300.000 dalam sehari.
Kini perolehan itu kian terpangkas menjadi Rp100.000-Rp200.000 saja. Jumlah itu masih harus dikurangi pembayaran setoran kepada pemilik perahu, berkisar Rp50.000-Rp100.000.
“Sekarang mah sepi, kalah sama Gojek. Dulu sekali nyeberang bisa bawa banyak, sekarang mah 1-2 orang aja udah alhamdulillah,” tutur Asiroh.
Selain melawan maraknya ojek daring yang menawarkan efisiensi dan kenyamanan, seturut penelusuran Anadolu Agency, perahu-perahu eretan di Jakarta juga harus berjuang melawan arus sungai yang deras, sekaligus jembatan yang jumlahnya kian bertambah.
Sejak Januari lalu, setidaknya terdapat 21 perahu eretan yang masih melaju membelah sungai di Jakarta. Tersebar di Kanal Barat, Pesing, Taman Kota, Pasar Ikan, Bukit Duri, Pasar Baru, Plumpang dan Muara Baru.
Tiga di antaranya harus berpulang lebih dulu, kalah oleh arus zaman. Di Bukit Duri, perahu yang saban hari menyusuri Sungai Ciliwung, pasrah pada derasnya arus musim penghujan Maret lalu. Armada itu lepas dari kaitan dan terbawa arus hingga ke pintu air Manggarai dalam kondisi lapuk. Selain itu, dua perahu lainnya teronggok di Kanal Barat, bocor akibat hempasan arus deras sungai.
Sejumlah warga Jakarta juga masih mengingat beberapa perahu eretan lain yang dulu menjadi armada penyeberangan namun kini tinggal cerita. Di Pasar Minggu, di Grogol, Bendungan Hilir, Pluit, dan sederet perahu eretan lainnya yang pernah ada namun tak sempat tercatat sejarah.
Asiroh dan penarik perahu asal Brebes lainnya tak hanya menjadikan armadanya itu sebagai sumber kehidupan, tapi sekaligus rumah yang menaungi mereka dari panas dan hujan. Mereka bekerja, memasak, bercengkerama bersama warga kampung yang sesekali berkunjung, juga bermalam di rumah apung itu.
Saat malam tiba, mereka menyalakan lampu petromaks dan menurunkan tirai. Menjelang tidur, mereka mengikatkan tali dengan kuat ke tautan terdekat, agar perahu, sekaligus hidup dan penghidupan mereka itu, tak terbawa arus saat terlelap.
Sementara pada saat yang sama dunia terus bergerak cepat dan teknologi kian canggih. Yang manual dan lamban akan tertinggal, bahkan tersingkirkan. Sampai kapan perahu eretan Jakarta dapat bertahan di tengah derasnya laju zaman, waktu yang akan membuktikan.

Resep dunia tinggalkan sedotan plastik


Berbagai lembaga dan negara berupaya mengganti sedotan plastik yang merusak lingkungan, di Indonesia upaya itu salah satunya dengan memproduksi sedotan berbahan bambu. 
Jika tengah berkunjung ke pantai di sekitar tempat tinggalnya di Bali, Jevie Dorawati, 31 tahun, dan Yumna Batubara, 26 tahun, hanya bisa prihatin menyaksikan aneka sampah plastik berserakan di pantai dan mengambang di permukaan air laut. Dari kantong kresek, sedotan plastik, kemasan makanan, hingga botol plastik bertebaran mengotori pantai yang indah.
Padahal, kata Yumna, Bali terkenal sebagai tempat wisata dengan pantai yang indah. Selain mengotori dan merusak citra pariwisata Bali yang terkenal hingga ke seantero jagat raya, sampah plastik juga merusak lingkungan.
“Melihatnya saja menyebalkan. Itu kan kotor, dan butuh waktu lama untuk terurai,” keluh Yumna, kepada Anadolu Agency, Jumat.
Penggunaan plastik begitu massif di Indonesia, khususnya sedotan plastik. Riset Divers Clean Action mencatat 93,2 juta batang sedotan plastik dikonsumsi dengan minuman kemasan dan di berbagai restoran di Indonesia setiap harinya.
“Sementara benda kecil ini selalu luput dari proses daur ulang,” kata Yumna.
Keresahan itu pula yang menginspirasi Yumna dan Jevie menggagas bisnis sedotan berbahan bambu. Sekali berbisnis, mengurangi sampah plastik dan melestarikan lingkungan pun terlampaui.
Bisnis dengan merk Bulung Bambu itu dimulai sejak 2014 lalu. Dengan jargon Less Plastic, Save the World, sedotan bambu ini dipasarkan secara grosir lewat media sosial. Pembelian minimal 100 buah, dengan harga Rp2.000 per buah.
Yumna dan Jevie memperoleh sedotan bambu itu dari 10 orang pengrajin di Jawa Tengah. Bambu yang digunakan adalah bambu buluh kecil atau Phyllostachys aurea A&Ch yang ditanam di wilayah pegunungan.
Proses produksinya pun secara alami, hanya menggunakan matahari untuk pengeringan. Bambu yang telah berusia tiga bulan dibersihkan dari duri, dijemur agar tidak berjamur, dan dipotong berukuran 20 cm. Setelah dibersihkan ulang, bambu yang telah menjadi sedotan dikirim ke Bali.
Tak disangka, pembeli yang menghampiri lewat media sosial itu justru mayoritas berasal dari luar negeri. Sedang pelanggan dari dalam negeri hanya berkisar 30 persen. Maka dari Bali, sedotan bambu ini melanglang buana ke berbagai negara seperti Dubai, Oman, Jerman, Singapura, Kanada, Jepang, Australia, hingga Afrika.
Seperti hari ini. Tak kurang dari 50.000 buah sedotan bambu sudah terkemas dengan rapi. Paket seberat 300 kilogram ini merupakan pesanan salah satu pelanggan di Australia. Di negeri kanguru itu, sedotan bambu dikemas ulang dengan merk baru dan dikirim ke berbagai restoran dan retail.
Yumna dan Jevie kerap kewalahan menghadapi pesanan pelanggan. Hingga saat ini Bulung Bambu baru sanggup mengirim hingga 100.000 buah saja sebulan.
Terkadang pelanggan juga meminta agar diameter bambu yang diproduksi berukuran sama. “Jelas itu tidak mungkin, karena prosesnya benar-benar alami. Kalau pelanggan request begitu paling-paling kami jelaskan runutan proses produksinya,” kata Yumna.

Ramai-ramai ganti sedotan plastik
Bulung Bambu merupakan satu dari sederet pihak yang berupaya mengurangi sampah sedotan plastik. Upaya serupa datang dari Starbuck. Beberapa waktu lalu perusahaan kedai kopi yang memiliki 25.000 gerai di 61 negara ini mengumumkan untuk berhenti menggunakan sedotan plastik pada 2020 mendatang.
Starbuck meniadakan sedotan plastik dengan mengganti gelas berkemasan sippy cup yang memiliki lubang pada bagian tutupnya.
Komitmen serupa juga dicetuskan oleh Perdana Menteri Inggris Theresa May. Mulai tahun depan, Theresa akan melarang penjualan produk berbahan plastik sekali pakai, salah satunya sedotan plastik. Theresa menargetkan negaranya akan bebas sampah plastik yang tak diperlukan pada 25 tahun mendatang.
Di Inggris, keberadaan sampah plastik mengkhawatirkan. Pemerintah setempat mencatat setidaknya 1 juta burung dan 100.000 mamalia laut mati setiap tahunnya karena mengonsumsi limbah plastik.
Pemerintah Inggris pada Oktober 2017 juga menyebutkan bahwa restoran-restoran di negaranya memproduksi sampah dari sedotan plastik hingga 8,5 miliar buah setiap tahun.
World Wildlife Fund juga memperkirakan bahwa 28 negara Uni Eropa menggunakan 82.000 ton sedotan plastik. Sebanyak 15.700 ton di antaranya digunakan oleh warga Inggris, saat negara itu masih tergabung dalam Uni Eropa.

Sedotan bukan kebutuhan esensial
Pegiat Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik Tiza Mafira malah mengatakan, secara umum, penggunaan sedotan tidak esensial dalam kehidupan manusia. Toh tanpa sedotan pun manusia dapat mengonsumsi minuman langsung dari gelas atau botol.
Kebutuhan akan sedotan hanya esensial bagi golongan tertentu, misalnya para penyandang disabilitas, atau orang sakit yang kesulitan jika harus mengonsumsi minuman langsung dari gelas.
“Kalau sudah esensial begitu, barulah disarankan menggunakan sedotan, dan sekarang ini sudah mulai banyak alternatifnya, selain plastik,” kata Tiza.
Selain berbahan bambu, aneka sedotan alternatif mulai beredar di pasaran, dari bahan kertas dan stainless. Sedotan berbahan bambu, menurut Tiza, malah lebih memiliki masa depan, karena tanaman ini merupakan endemik Indonesia dan sejumlah negara Asia.
Dari sekian banyak sampah plastik, kata Tiza, sedotan plastik termasuk yang dominan. Sampah-sampah ini amat berbahaya karena butuh waktu ratusan tahun untuk terurai.
Sampah-sampah sedotan plastik itu, tutur Tiza, lantas mengotori sungai, laut, dan membahayakan binatang. Jika terkonsumsi satwa laut, sedotan plastik ini amat berbahaya karena bisa menyumbat hidung atau tenggorokan.
Dunia masih mengingat ketika seekor penyu jantan berjenis Olive Ridley ditemukan tengah meringis kesakitan di perairan Costarica pada 2015 lalu. Rupanya hidung kiri penyu itu tersumbat sedotan sepanjang 12 cm yang dibuang oleh manusia.