Thursday, April 14, 2016

KONSER SHEILA MAJID: Melepas Rindu untuk "I"

Sheila Majid merayakan tiga dekade kariernya bersama para penggemar, sahabat penyanyi lokal, dan tata panggung kreatif.

Pertunjukan malam itu dimulai dengan reffrain lagu "Kerinduan". Potongan lagu itu kemudian dirangkai dengan beberapa lagu lain seperti, "Warna", "Tua Sebelum Waktunya", dan "Aku Cinta Padamu". Seluruh komposisi itu dibawakan Sheila Majid dengan suaranya yang khas.


Malam itu, Sheila tampak anggun di usianya yang sudah setengah abad. Penampilannya tambah elegan dengan balutan gaun putih glitter berlengan kimono, yang memanjang hingga mata kaki, hasil rancangan Saptojoyo Kartiko. Rambutnya memanjang terurai dengan riasan muka bersahaja.

"Hello Jakarta, how are you? Rindu tak sama I?" sapa penyanyi kelahiran 3 Januari 1965 ini kepada penonton yang hadir dalam "30th Anniversary Concert: Kerinduan Sheila Majid", yang digelar di Plenary Hall, Jakarta Convention Center, Sabtu malam pekan lalu. Kehadiran wanita berdarah Mandailing-Jawa ini seakan memuaskan kerinduan para penggemarnya.

Penampilan Sheila tambah apik berkat panggung yang dirancang dengan artistik. Di antara pemain orkestra dan posisi blocking Sheila, Jay Subiakto, penata panggung, meletakkan sebuah layar transparan, yang dibentuk dari 70 lapis potongan kawat sepanjang 4,5 meter. Diletakkan di tengah, layar ini menjadibackground sekaligus foreground sepanjang pertunjukan, menyajikan visualisasi perjalanan Sheila selama tiga dekade.

Tak hanya mengurus panggung, bersama Tohpati, Jay juga menyusun 18 lagu yang dinyanyikan Sheila malam itu. Untuk penggarapan lagu-lagu Sheila dalam konser ini, Tohpati sengaja meracik aransemen tak jauh dari aslinya. "Karena penonton inginnya sing along menyanyikan lagu Sheila," katanya.

Animo penonton macam itu memang sudah terbaca sejak pukul 19.00, satu setengah jam sebelum pertunjukan dimulai. Ruang berkapasitas 5.000 orang itu hampir penuh ketika pertunjukan dimulai. Umumnya yang datang berusia dewasa, meskipun ada juga penonton belia yang datang ditemani kedua orangtuanya.

Seperti Rehan Mahendra, remaja berusia 17 tahun. Ia datang bersama kedua orangtua dan adik perempuannya. Rehan, yang diajak orangtuanya, mengaku lebih kenal Siti Nurhaliza ketimbang Sheila Majid. Namun ketika seorang teman memperdengarkan lagu "Sinaran", Rehan langsung menyimpulkan kalau lagu-lagu Sheila enak didengar. "Jadi penasaran, ingin dengar lagu-lagu lainnya," katanya.

Konser itu memang tak hanya dihadiri penggemar Sheila dari Indonesia, tapi juga dari Singapura dan Malaysia. Fans dari Malaysia memang perlu datang jauh-jauh ke Jakarta karena pertunjukan serupa -memperingati tiga dekade karier Sheila- tidak diselenggarakan di sana.

Azmi Latief, 56 tahun, adalah salah satu penggemar berat Sheila. Ia bersama adik perempuannya sudah berada di Jakarta sejak Jumat malam. Keduanya mengaku sudah menjadi fans berat Sheila sejak 1985. "Kami fans umur paling senior," kata Azmi, sambil tertawa.

Di malam pertunjukan itu, Sheila tak tampil sendirian. Setelah nomor evergreen "Antara Anyer dan Jakarta", Sheila melanjutkan dengan tembang "Hadirmu", yang ia sebut sebagai one of my favourite song in Indonesia. Saat masuk bait ketiga, juara Indonesian Idol Season 2, Mike Mohede, tampil menemani Sheila. Malam itu, pria bersuara empuk ini tampil memesona dengan setelan jas berwarna hitam. Ia juga membawakan "Jeritan Batin" setelah mengantar Sheila sejenak meninggalkan panggung.

Setelah Mike undur diri, Sheila muncul dengan gaun hitam panjang. "
Are you tired? I need your enthusiasm. This next song is a duet song, dan saya akan duet bersamamu.You must hafal this song, 'Begitulah Cinta'," katanya. Namun, duet itu tak sepenuhnya dilakukan bersama penonton.

Di tengah lagu, dari arah depan tiba-tiba muncul suara laki-laki. Sheila kaget, namun ia langsung mengenal pemilik suara itu. "Harvey,
where are you?" Sheila celingak-celinguk mencari asal suara. Butuh beberapa detik sebelum sinar lampur menemukan posisi Harvey Malaiholo, yang duduk di kursi VIP bagian belakang. Kejutan itu disambut riuh tepukan pentonton. "Saya tak menyangka. Kudengar kau terkena demam. Semoga segera membaik. I love you, Harvey," ujar Sheila, seusai keduanya berduet.

Lagu-lagu Sheila yang dipilih untuk dinyanyikan dalam konser di Jakarta ini merupakan komposisi yang populer di Indonesia. Kebanyakan lagu ini bertempo medium dan bernuansa jazzy. Sementara itu, tempo up beat hanya terdapat dalam lagu "Sinaran" dan "Warna".

Dengan panggung besar, ada kekhawatiran lagu jazzy menjadikan konser tampak kurang megah. Kekhawatiran lainnya, jika dijejerkan, lagu semacam ini akan menjadikan panggung monoton. Solusinya, lagu dengan warna sama tak disusun berurutan. Di antara lagu bertempo sedang, disisipkan lagu lain yang lebih nge-dance. Juga lagu yang sedikit nge-rock. Inilah kemudian yang menjadi alasan mengapa Armand Maulana ikut ambil bagian.

Berduet dengan Armand, Sheila menyanyikan lagu "Persis Kekasihku" yang bertempo cepat. Di Indonesia, lagu ini memang tak terlalu populer. "Diharapkan Armand bisa memberi warna baru di konser itu," kata Tohpati, music director pertunjukan ini.

Bila akhirnya pertunjukan malam itu berlangsung menawan, acungan jempol harus diberikan kepada Sheila. Pasalnya, ia tidak punya banyak waktu untuk latihan. Dua pekan sebelum pertunjukan di Jakarta, Sheila juga menggelar konser serupa di Singapura. Idealnya, untuk konser seperti ini dibutuhkan delapan hingga 10 kali latihan. Untuk latihan ritem saja biasanya butuh empat kali latihan. Lalu latihan gabungan, yang dilaksanakan empat hingga lima kali.

Untungnya, para penyanyi pendamping dari Indonesia memudahkan pembentukan kekompakan itu. Kehadiran Mike Mohede juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari usaha itu. Mike memiliki kualitas suara yang bagus dan berkarakter "bunglon". Ia cocok dengan jenis nada apa pun. "Mike cocok sama lagu-lagunya Sheila," kata Tohpati.

Sementara itu, kemunculan Harvey memang tanpa skenario sama sekali. Pada konsep awal, lagu "Begitulah Cinta" rencananya akan dinyanyikan bersama penonton. Rupanya Jay Subiakto punya ide lain. Di tengah lagu, Harvey dan suaranya tiba-tiba ditampilkan di tengah penonton. "Benar-benar surprise. Jangankan Sheila, saya saja nggak tahu," kata Tohpati.

Tuesday, April 12, 2016

Menjelang Senja





Menjelang senja, aku memahat namamu pada tiap helai cahaya. Kelak bila penghabisan datang, kau akan menyaksikan bayanganku menari hingga hari lindap diam-diam.

Monday, April 4, 2016

Sajak untuk....

Sumber kiciks.wordpress.com


Malam membisu. Angin berhenti
Alam menabalkan isyarat tentang perjalanan cinta yang menua
Dan luka
; seorang Laki-laki yang terus belajar bagaimana menerjemahkan cinta

Saturday, February 6, 2016

Sutradara Teater Kubur, Dindon WS: Kritik Globalisasi ke India (Teater Kubur Goes to India #2)

Seperti Radhar Panca Dahana di Teater Kosong dan Harris Priadi Bah di Teater Kami, nama Dindon WS begitu melekat pada eksistensi Teater Kubur. Pria kelahiran Jakarta, 10 Agustus 1960, ini memulai Teater Kubur dari pertunjukkan ''Sandiwara Dalam Sandiwara'' yang mentas di acara 17 Agustusan pada 1982. Sejak itu, dan setelah Teater Kubur berdiri satu tahun setelahnya, sutradara bernama asli Wahyudin Sukarja yang akrab dipanggil Dindon ini memberikan sentuhan artistik yang kuat dalam lakon-lakon yang dibawakan kelompoknya.

Untuk keperluan pentas di 11th International Theatre Festival, India, 26-30 Januari 2016, Dindon mengaku tidak terlalu sibuk. Ia tinggal mematangkan aksi pentas yang telah ada dan mengubah artistik panggung dengan memunculkan atmosfer keindonesiaan lewat idiom bambu. Usai latihan terakhir lakon On-Off (Rumah Bolong) di kompleks Taman Pemakaman Umum Rawabunga, Jatinegara, Jakarta Timur, Dindon menyempatkan diri melayani wawancara saya. Berikut petikannya:

Bagaimana ceritanya hingga punya kesempatan ikut kompetisi di India?
Kami diundang. Kebetulan pemerintah punya dana kebudayaan untuk diplomasi. Ada progres bagus. Mereka (pemerintah) sudah lima kali mengundang kami, baru kali ini saya mau. Biasanya mereka ngundang tidak ada duitnya, kita tidak bisa jalan. Karena nyari-nyari duit, ya, malu juga.


Seperti apa persiapan untuk pentas di India? 
Latihan tiap hari. Karena lakon ini ''sudah jadi'', persiapan paling tidak dua bulan. Kalau peralatan sebagian besar banyak di sana. Seperti bambu untuk artistik, sudah ada di sana. Kostum disiapkan di sini.

Apa bagian dari globalisi yang hendak diperiksa lewat naskah ini? 
Ini lebih tentang kondisi Indonesia. Rumah sebagai negeri di era globalisasi, semua terbuka. Semua. Kalau kita tidak sikapi dengan kritis, akan hancur. Banyak nilai-nilai yang hilang. Naskah asli saya yang bikin. Ini sebetulnya pengalaman riset di daerah. Saya banyak menemukan permasalahan di sana; tanah ulayat, pergeseran nilai dan budaya. Begitu pintu dibuka, tantangannya adalah kesadaran kritis. Kalau tidak kita akan habis. Globalisasi tidak perlu disesali, tidak bisa dicegah. Asal disikapi dengan menempatkan diri, ya harus kritis itu. Masih adakah budaya kritis kita sehingga kita tidak kehilangan pakaian (identitas asal).

Ada penyesuaian atau perubahan penting naskah ini untuk keperluan pentas di India? 
India juga sama persoalannya, nasionalisme juga. Bahkan lebih dulu. Ia memiliki trauma perang setelah dijajah Ingris. Sama juga, mencoba membangkitkan nasionalismenya, dengan bangga, dengan hasil budaya mereka.

Akan menggunakan bahasa Indonesia dalam dialog? 
Kita harus bangga menyuarakan dan berbahasa Indonesia. Bahasa adalah salah satu identitas. Waktu di Jepang dulu, kami bawakan On-Off dalam bahasa Indonesia, yang lantas diterjemahkan oleh panitia ke dalam Jepang. Untuk di India ini, saya tidak tahu.

Teater Kubur sudah lebih dari 30 tahun. Bagaimana strategi kaderisasinya? 
Keluarga besar kita sudah lebih dari 40 orang. Kebanyakan anggota lama. Generasi baru juga banyak yang sudah kita latih. Anggota kita berangkat dari sini, kemudian menyebar ke mana-mana. Tempat ini tempat saya bermain waktu kecil. Karena tempatnya di kuburan, makanya saya namakan Teater Kubur. Kita tidak ada hambatan soal kaderisasi. Yang muda dan yang tua harus yakin. Basic saya seni, dan harus melatih orang-orang untuk seni.




Rumah Bolong di Bawah Hujan (Teater Kubur Goes to India #1)

Aksi teaterikal Teater Kubur tak dibatalkan meski diiringi hujan gerimis. Persiapan menuju pentas di India.

Foto oleh Nufus
Segerombolan orang asing menyerbu rumah itu. Seisi rumah panik. Nenek berlarian. Mother, yang sedang menampi beras, kaget bukan kepalang. Tidak ketinggalan John, si bocah nakal, memilih ambil langkah seribu. Sedang Salmon Salmin, si tua bertubuh renta, tampak payah melawan orang-orang yang memaksanya mengenakan jas besar dan panjang.

Dalam konteks ini, jas tersebut mewakili kepentingan gerombolan itu. Metafora arus besar yang dibawa oleh globalisasi dan menyerbu sebuah bangsa. Jas bukanlah produk lokal Indonesia. Ia nilai baru yang berasal dari luar dan dipaksakan untuk dikenakan masyarakat lokal. Bersama itu, segala persoalan dimunculkan. Mulai urusan, kolonialisme, agraria, isu lingkungan, hingga terorisme. 

Demikian kiprah Tetar Kubur membawakan naskah On-Off (Rumah Bolong) di antara hujan gerimis Sabtu sore pekan lalu. Arena permainannya adalah satu sudut di kompleks Taman Pemakaman Umum Rawabunga, Jatinegara, Jakarta Timur. Penontonnya berjejeran di tenda depan panggung dan bocah-bocah bergerombol di sampingnya. 

Pertunjukan itu adalah latihan terakhir atas lakon yang naskahnya ditulis oleh dedengkot Teater Kubur, Dindon WS. Lakon tersebut akan dibawakan di India untuk mengikuti 11th International Theatre Festival yang diselenggarakan oleh All India Cultural Association di Bareilly, India, 26-30 Januari 2016. 

Dalam lakon yang melibatkan 18 aktor ini, Dindon sekaligus juga pegang peranan sebagai sutradara, produser, sampai mengurusi praktek artistik panggung hingga kostum. 

Bukan kali pertama Teater Kubur mementaskan On-Off. Pada 2008 lalu, naskah ini dibawakan di Setagaya Public Theatre of Tokyo, Jepang. Dua tahun kemudian, naskah yang sama pentas di Teater Salihara, Jakarta. 

Foto oleh Nufus
Adegan pembuka On-Off pada ketiga pentas itu sama. Di atas panggung, sejumlah aktor tampak seperti sedang melakukan peregangan dan pemanasan. Satu per satu aktor berjalan melintasi panggung, dan, tahu-tahu pentas dimulai. ''Ini teater telanjang, tidak perlu ditutup-tutupi,'' kata Dindon, yang selama pentas sore itu mengamati sambil jongkok di depan panggung. 

Secara umum, Dindon bilang tidak ada perubahan signifikan dalam lakon On-Off yang telah dibawakan sebelumnya dengan versi yang akan dibawakan di India. Durasinya sama terentang dalam1,5 jam. Terhitung hanya cuilan adegan saja yang ditambah atau dihilangkan. 

Kalau ada perbedaan yang bisa dibilang kentara, letaknya pada artistik panggung. Jika pada dua pentas sebelumnya, terutama di Salihara, Dindon ''hanya'' menyematkan garis putih melingkar di lantai dan tirai sebagai penanda backstage, untuk versi India ia menggunakan rangkaian bambu setengah melingkar. 

Sejak berdiri pada 1982, ajang di India ini akan menjadi kali ketiga Teater Kubur pentas di panggung internasional. Selepas pentas di Tokyo, Teater Kubur sempat beraksi di panggung teater di Swiss. Dan Kubur bukan satu-satunya kumpulan teater asal Indonesia yang manggung di India. Terakhir, Desember 2013, Teater Tanah Air pimpinan Jose Rizal Manua pernah pentas di New Delhi dalam ajang International Childrens Festival of Performing Arts. 

Saturday, January 23, 2016

Percakapan tentang Menggaruk dan Menambal


Narasi-narasi kecil tentang identitas politik, sosial, dan budaya mempertemukan Entang Wiharso dengan Sally Smart. Lantas keduanya kian bersinggungan saat memberi sudut pandang terhadap teror dan kekerasan dalam peradaban.

Ketika pergolakan yang umumnya dikenal sebagai G-30-Sterjadi, Entang Wiharso belum lahir. Namun ia telah menyimak informasi seputar itu sejak usia sekolah, dari cerita Ibunya dan propaganda Orde baru. Dari kelindan informasi itu, paling kena diingatannya adalah sosok Amoroso Katamsi yang memerankan tokoh Soeharto dalam film G-30-S yang wajib diputar dan ditonton saban 30 September. Ingatan itu, kelak, terhubung dengan persepsinya tentang laku kekerasan politik di Indonesia di masa lalu.

Lalu perupa kelahiran 19 Agustus 1967 itu memanifestasikan ingatannya dengan membuat potret akrilik Amoroso. Potret tersebut menjadi bagian dalam karya massifnya yang dibuat dengan teknik cetak digital. Total ada 1.000 gambar -potret dan peristiwa-- di atas plexiglass yang dituangkan dalam delapan panel instalasi itu. Entang memberinya judul Self Potrait.

Karya itu dibuat tahun lalu sebagai kelanjutan proyek residensinya di Singapore Tyler Print Institute. Merupakan representasi ingatan Entang tentang berbagai peristiwa publik dalam sejarah peradaban manusia di era kontemporer. Tidak hanya menyangkut peristiwa kekerasan di September 1965 yang terjadi di Indonesia, Self Potrait mengetengahkan berbagai peristiwa kekerasan di berbagai belahan dunia juga melalui tokoh-tokoh ikonik budaya populer seperti Bruce Lee, John F. Kennedy, Andy Warhol, hingga Iwan Fals.

Tema tentang kekerasan dan rasa sakit menjadi semacam benang merah dalam karya-karya Entang. Pasca-tragedi 9/11, dengan interpretasi yang --menurut Entang-- salah, tema khasnya itu bahkan pernah mengalami sensor di sebuah galeri di negara yang mengaku sebagai promotor utama demokrasi, Amerika Serikat.

Ketika itu, kurator dan pemilik galeri yang menyensor karya Entang, dinilai mengabaikan sudut pandang penting si perupa terhadap realitas kekerasan. Entang mengetengahkan realitas itu sebagai teror yang melahirkan rasa sakit, yang lantas dikelolanya menjadi rasa yang menyenangkan untuk mereduksi klaim keberhasilan pemberi teror.

Self Potrait tentang kekerasan kian menegaskan sudut pandang tersebut bersama sikapnya yang cair dan mengolok-olok keangkeran teror kekerasan.

Self Potrait dan karya-karya Entang lainnya berdialog dengan karya-karya seniman asal Australia Sally Smart dalam pameran berjudul Conversation: Endless Acts in Human History di Galeri Nasional, 14 Januari 2016-1 Februari 2016. Karya lainnya dalam bentuk patung, lukisan, dan instalasi. Sejumlah karya besar keduanya yang pernah dipamerakan juga turut hadir.

Entang dan Sally bersahabat. Pertama kali bertemu di Melbourne, ketika Entang residensi seusai pameran kolektif ''Closing the Gap'' pada 2012, Entang mengaku sudah merasakan chemistry dengan Sally. ''Tampak familiar. Seperti sudah pernah bertemu sebelumya,'' kata Entang. Begitu pula Sally. Ia merasakan adanya koneksi intelektual dan profesional dalam karya-karya mereka. ''Sebuah persahabatan sejati telah muncul,'' katanya, agak lebay.

Sejak itu, keduanya menjadi teman dekat dan memiliki banyak kecocokan hingga menggagas ide untuk membuat pameran bersama. Setahun kemudian, di Hong Kong, dialog itu berlanjut dengan perolehan sederet lembaga yang mendukung pameran ini. Di antaranya Galeri Canna Indonesia dan Pemerintah Australia.

Koneksi keduanya, sekurangnya, tampak pada tema dan metode pengerjaan karya. Pada metode pengerjaan karya, keduanya sama-sama menggunakan teknik memotong (cutting), membongkar objek, kemudian merekonstruksi kembali menjadi sebuah karya.

Ornamen-ornamen seperti teks, selang mesin, pepohonan, dan organ tubuh berupa usus dan jantung serta organ tubuh lainnya tampak dalam hampir setiap karya keduanya. Ornamen-ornamen ini menjadi narasi kecil yang mengukuhkan narasi besar ide-ide yang hendak disampaikan.

Ide-ide yang disampaikan keduanya pun saling bersinggungan. Karya seniman asal Tegal, Jawa Tengah, yang mulai memperoleh perhatian dunia sejak karyanya dipamerkan dalam Venice Biennale 2005 ini berkelindan seputar identitas dan narasi sosial, politik, ekonomi, juga budaya. Sedangkan Sally, yang berasal dari Flinders Renges, Australia bagian selatan, dengan latar belakang keluarga petani-peternak, telah melewati fase hidup yang tak mudah sebagai warga dari daerah terisolasi dan negara dengan persoalan etnis masa lalu.

Karya-karya Sally banyak cerita seputar identitas, gender, rasisme, kolonialisme politik dan persoalan sosial-ekonomi. ''Ini kolaborasi pemikiran. Karya keduanya bermuatan opini. Suatu pandangan dan penilaian terhadap semua persoalan yang mendasari penciptaan karya mereka,'' kata kurator pameran ini, Suwarno Wirosetrotomo.

Karya Sally berjudul Choreograph of Cutting (2015) menjadi representasi persoalan yang pernah Sally temui itu, berikut rumusan-rumusannya. Karya itu berupa papan tulis hitam dengan sajian kolase dari sejumlah figur tubuh perempuan menari, video, diagram, dan teks. Di sudut karya, sebuah teks memberikan penjelasan soal tubuh perempuan terbatasi dan terjebak dalam sebuah lingkaran.
Sally menyebut karyanya sebagai upaya ''menambal sobekan luka dengan tetap meninggalkan bekasnya''. Sedangkan Entang mendefinisikan karyanya sebagai upaya ''menggaruk rasa gatal'' dari segala persoalan dalam peradaban manusia.

Peradaban manusia dipenuhi aksi teror dan kekerasan. Dialog, salah satunya dalam bentuk pameran seni, akan menemukan persamaan dan perbedaan masing-masing kemudian bermuara pada orientasi bersama. Meski sudah mewujud dalam sebuah pameran, kata Entang, ini adalah awal dari sebuah dialog panjang dan tanpa akhir. ''Butuh percakapan terus untuk memperoleh sesuatu yang baru, yaitu kesadaran yang lebih dari ekspektasi,'' katanya.

Sementara itu, Suwarno menyebut dialog dalam pameran ini sebagai wujud kompleks dari ungkapan populer Yunani, ars longa vita brevis. ''Kehidupan relatif pendek, akan tetapi kekuatan visual dan narasi seni yang tersimpan di dalamnya bisa hidup sepanjang jaman,'' katanya.


Thursday, December 31, 2015

Kemenangan Jepang atas Peristiwa 1965

PERISTIWA 1965: PERSEPSI DAN SIKAP JEPANG
Penulis: Aiko Kurosawa
Penerbit: Kompas, Jakarta, 2015, xxi+202 halaman

Jepang meraup kemenangan ekonomi besar dari pergolakan politik akibat Gestapu. Dari jalinan diplomasi politik yang baik hingga metaformosis menjadi negara adidaya di Asia.

Naoko Nemoto adalah perempuan dengan pemulusan serangkaian proyek Jepang di Indonesia semasa pemerintahan Soekarno. Pertemuannya dengan Soekarno merupakan hasil skenario Direktur perusahaan Tonichi Boeki, Kubo Masao, dalam kunjungan pertama RI ke Jepang pada Juni 1959.

Soekarno, yang dikenal gila perempuan, kemudian jatuh cinta pada Naoko. Sekembalinya ke Jakarta, ia mengundang perempuan itu datang ke Jakarta, lantas menikahinya. Sejak menikah dengan Soekarno, Naoko beralih kewarganegaraan dan mengubah namanya menjadi Ratna Sari Dewi.

Sebelum Gestapu, Jepang memiliki peran ekonomi dan politik yang kuat. Hubungan diplomatik Indonesia-Jepang mulai dibuka pada Januari 1958. Berdasarkan Perjanjian Pampasan Perang (Reparation Agreement) yang telah disepakati November tahun sebelumnya, Jepang harus membayarkan ganti rugi perang sebesar US$ 223 juta kepada Indonesia, berikut bantuan ekonomi sebesar US$ 400 juta. Jepang membayar sebagian dana pampasan perang itu dalam bentuk proyek yang dikerjakan Jepang di Indonesia.

Perusahaan Jepang berlomba merebut proyek pembangunan dari dana pampasan itu. Salah satunya Tonichi, yang memiliki kedekatan khusus dengan Soekarno. Lewat implementasi proyek dana pampasan itu, perusahaan Jepang memperoleh kesempatan besar untuk berekspansi ke Indonesia. Kesempatan itu tidak diperoleh negara-negara Barat lainnya.

Semasa itu, Indonesia dan Jepang adalah kawan akrab. Sedangkan bagi Inggris dan Amerika, Soekarno adalah sosok berbahaya arena bersimpati pada ideologi komunisme. Tugas Jepang, selain memuluskan kepentingan ekonominya, juga menjaga agar Soekarno tidak condong ke kiri.

Setelah menikahi Dewi, keterikatan Soekarno dengan Jepang semakin kuat. Lewat itu pula kepentingan Jepang dimuluskan. Dengan bantuan Dewi, Duta Besar Jepang dapat langsung bertemu Soekarno tanpa harus melewati protokol resmi.

Tokoh Jepang yang akrab dengan Soekarno, di antaranya, adalah PM Jepang Ikeda Hayato. Ikeda menyebut Soekarno sebagai "Brother Soekarno". Tokoh lainnya adalah Deputi Ketua Liberal Democratic Party Kawashima Shojiro. Kawashima dipanggil Dewi dengan sebutan "Papa", sementara oleh Soekarno ia dipanggil dengan sebutan "My Brother".

Begitu eratnya hubungan dengan Indonesia, Jepang selalu diamanahi tugas oleh negara-negara Barat untuk mendekati Soekarno dalam beragam persoalan. Seperti konflik Indonesia-Malaysia. Menjelang Gestapu, hubungan Indonesia-Jepang mulai berjarak, akibat kedekatan Indonesia dengan Cina yang berideologi Komunis.

Semasa itu, Jepang masih percaya Soekarno dapat menstabilkan negaranya dan meninggalkan kebijakan pro-Peking. Fakta yang terjadi kemudian justru sebaliknya. Situasi semakin genting dan pemerintahan diambil alih Soekarno melalui legitimasi Supersemar. November 1965, Saito mengubah haluan dan meninggalkan Soekarno.

Baru pada masa Orde Baru, Jepang memperoleh keuntungan ekonomi lebih besar lagi. Meski gagal memperoleh proyek di bidang pertambangan seperti minyak, timah, bouksit dan tembaga yang telah diambil Amerika, namun Jepang menjalankan roda ekonominya di Indonesia dalam bidang lain.

Jepang mengekspor katun seharga US$ 6 juta ke Indonesia dengan tempo pembayaran dua tahun. April 1966 ia mengirimkan bantuan 10.000 ton beras dan 5.000 gulung katun senilai US$ 25 juta sebagai bantuan kemanusiaan. Pada Mei tahun yang sama, ia memberikan pinjaman US$ 30 juta ketika Hamengku Buwono IX dan Emil Salim berkunjung ke Jepang.

Januari 1966, Menteri Perdagangan Jepang Miki Takeo berinisiatif membangun konsorsium ekonomi beranggotakan Amerika, Australia, dan berbagai negara Eropa. Setelah beberapa kali preliminary meeting, pertemuan resmi perdana terselenggara di Den Haag dan melahirkan Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI).

Aiko Kurosawa menyusun fakta-fakta terkait negerinya itu dalam sebuah buku berjudul Peristiwa 1965: Persepsi dan Sikap Jepang. Ia memunguti fakta-fakta yang terserak lewat wawancara tokoh-tokoh terkait dan riset literatur lewat naskah akademik, koran-koran Jepang yang memberitakan G-30-S, serta arsip-arsip pemerintah. Arsip-arsip pemerintah itu ia peroleh dari arsip Kementerian Luar Negeri Jepang, Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, dan British Foreign Office, yang sudah dibuka kepada publik.

Tuesday, December 15, 2015

Pasar Setan

Sumber foto: http://www.wisatasoloraya.com/
Remah yang kudapati malam ini adalah sejumput kenangan
Tentang pendakian masa silam ketika langit belum kelabu dan
Merapi masih cerah berdiri

Ada apa denganmu?
Mengobarkan api di tengah musim daun-daun berguguran sementara kita sudah melewati berjuta purnama
Masihkah perlu
Mempertanyakan di stasiun mana kau atau aku akan berhenti
Menutup lembaran sejarah yang telah lama kita torehkan bersama

Aku menyusuri bukit-bukit gelisah dan menunggui nasib-nasib dikeramatkan
Menghadang amarah yang serupa letusan Merapi membelah angkasa
Membakar jiwa-jiwa

Di Pasar Setan ini, lima tahun silam, 
Kau lebih memilih melabuhkan keretamu pada jurang-jurang misteri di lereng Merapi
Merapal segenap keyakinan yang rupanya selama ini kau pegang, tanpa kutahu, tanpa pernah kaututurkan, tanpa pernah pula kutangkap maknanya

Sejak itu hujan selalu turun dan langit muram



Wisma 46, 15 Desember 2015

Monday, November 23, 2015

TEATER: Jika Koruptor Menyambut Inspektur Jendlar



Pentas ke-142 Teater Koma. Mengusung isu korupsi dengan menyadur Revizor karya Nikolai Gogol. Asyik, kecuali selip lidah.

Tidak ada yang bertahan sebagai rahasia di kota kecil di negara Astinapura itu. Ananta Bura, sang wali kota, memiliki telinga dan mata yang lihai menyelinap di antara surat-surat penting rahasia yang singgah di kotanya. Termasuk informasi tentang kedatangan seorang Inspektur Jenderal. Ia dikirim dari ibu kota untuk melakukan investigasi administrasi pemerintahan demi persiapan perang negeri Astina melawan Amarta.

Ananta Bura panik bukan kepalang. Posisinya, juga pejabat lain di kota kecil itu, terancam. Persoalannya, selama 30 tahun menjabat, virus korupsi merajalela. Segala jenis pejabat, tak ada yang tak korup. Wali kota, hakim, kepala kesehatan, penilik sekolah, kepala kantor pos, bahkan pegawai kecil seperti Nakuli dan Sadiwi terlibat dalam aktivitas yang dalam terminologi wali kota: "Jika sesuatu sudah masuk ke dalam kantong, tidak mudah mengeluarkannya."


Lantas, mereka merembukkan siasat untuk memanipulasi citra pelayanan masyarakat di kota itu di hadapan Inspektur Jenderal nantinya. Masalahnya, tidak ada deskripsi soal tongkrongan Inspektur Jenderal. Dari sejumlah informasi, mereka menyimpulkan bahwa sang utusan penting negara itu ?serba ingin tidak resmi?.

Saat bersamaan, si kembar Nakuli dan Sadiwi melaporkan bahwa kota mereka kedatangan seorang pegawai dari Pusat bernama Anta Hinimba. Sudah dua minggu tamu itu bermukim di penginapan. Ditinjau dari berbagai segi, tamu tak diundang itu bisa jadi adalah Inspektur Jenderal yang sedang menyelidiki kota dengan cara sembunyi-sembunyi. Sejak saat itu, segala hal yang berkaitan dengan komunikasi di kota itu berada dalam kubangan salah pengertian yang membuat mereka kian kotor.

Kepanikan pejabat kota sarang korupsi itu dan perlawanan masyarakat setempat yang tak menuai hasil, berkelindan dalam lakon Inspektur Jenderal yang dibawakan Teater Koma di Gedung Kesenian Jakarta, 6-15 November 2015.

Lakon ini merupakan saduran atas naskah satir klasik Revizor (1836) karya sastrawan besar Rusia, Nikolai Gogol. Nano Riantiarno selaku sutradara pementasan ini memanfaatkan naskah terjemahan oleh Teater Populer pada tahun 1970-an dan mengadaptasikannya ke dalam kisah carangan dengan setting pewayangan.

Ini merupakan produksi kedua Teater Koma di 2015. Dan produksi ke-142 sepanjang usia Koma; catatan produktivitas dan kontinuitas yang tidak bisa disamai oleh kelompok teater modern mana pun di Indonesia.

Lewat Inspektur Jenderal, dengan lihai Nano menyadur pernyataan sosial dan politik Gogol yang kontroversial di zamannya itu ke dalam latar peristiwa dan penokohan ala pewayangan. Bagian penting dari naskah ini (satir, sarkas dalam balutan komedi gelap, dan diksi khas Gogol ) dipertahankan sebagai material cerdas dan tajam. Nyaris tidak ada celetukan atau improvisasi dialog yang menyisipkan kritik sosial kekinian sebagaimana kerap terlihat dalam naskah-naskah berlatar pewayangan yang dibawakan Koma sebelumnya. Zonder adegan slapstick yang menganggu.

Pilihan skenografi melingkar di pusat panggung oleh Taufan S. Chandra membawa kesan rekreasional terhadap bloking pemain. Ini model skenografi yang dimanfaatkan secara lebih sederhana daripada yang digagas oleh Syaeful Anwar dalam produksi ke-110 Koma, Festival Topeng (2006). Sebaliknya, penataan cahaya oleh Taufan dalam lakon ini tidak seterang, sejernih, dan seberwarna penawarannya dalam lakon Opera Ular Putih beberapa bulan lalu. Padahal, panggungInspektur Jenderal tidaklah sepadat dan sedekoratif setting lakon-lakon pewayangan Koma lainnya.

Budi Ros, aktor senior Koma, dengan oke mewakili sebagian besar aktor dalam lakon berbiaya produksi Rp 2 miliar ini, yang pantas diberi pujian atas konsistensi dan kerja kerasnya. Tapi dari unsur keaktoran juga, ada masalah yang tampak dan sulit diabaikan sebagaimana terpapar dalam press preview-nya pada Kamis malam, 5 November lalu, di GKJ. Yaitu, selip lidah.

Penonton teater Indonesia sudah maklum dan mafhum dengan selip lidah aktor di atas panggung. Namun dalam 3,5 jam durasi Inspektur Jenderal malam itu, ada banyak pemain pemain, termasuk para senior seperti Budi Ros dan Sari Majid, yang berulang kali terselip lidah dalam mengartikulasikan dialog. Tidak hanya terjadi satu-dua kali dan tidak hanya oleh satu-dua aktor. Tidak hanya menyangkut satu suku kata, ada yang terselip dalam ukuran kata. Dan lebih mudah, "massif", dan sering dijumpai dibandingkan dalam lakon-lakon Koma 10 tahun terakhir.

Padahal, Nano terkesan telah berupaya mengurai kepadatan dialog dalam menyadur naskah Gogol ini. Lagi pula, statistik produksi Teater Koma yang fantastik itu akan lebih yahud jika tidak diimbangi dengan peningkatan statistik selip lidah aktor-aktornya.

Di luar itu, naskah Inspektur Jenderal sangat bisa diandalkan. Dengan jeli, Nano memilih sebuah "arsip sastra" yang tidak kehilangan konteks cerita di masa kini. Ketika dipentaskan pertama kali pada 1836 di negeri asalnya, Revizor menggegerkan masyarakat Rusia. Dampaknya luar biasa. Masyarakat terpecah menjadi dua kubu, pimpinan jurnalis Faddey Bulgarin yang mendukung otoritas Tsar dan mengkritik habis karya Gogol sebagai karya vulgar, berhadapan dengan penulis Alexander Pushkin yang menyebutkan Revizor sebagai lakon terbaik Rusia. Dampak berikutnya, Gogol, yang saat itu baru berusia 27 tahun, harus mengasingkan diri dari negerinya dan menjelajah Eropa.

Naskah ini juga berkali-kali direproduksi ke dalam sinema. Sutradara Amerika Henry Koster memfilmkannya dengan genre komedi-musikal berjudul The Inspector General (1949) dan, di Rusia, sutradara Sergey Gazarov baru memfilmkannya pada 1996 dengan judul Revizor. Indonesia tak ketinggalan, Usmar Ismail memfilmkan naskah ini dengan judul Tamu Agung pada 1955.


Tema korupsi menjadi pijakan awal Nano dalam merencanakan pentas ini. Korupsi adalah penyakit universal. Sebagaimana dalam Inspektur Jenderal, di Indonesia rasuah telah menjangkiti sistem pemerintahan, dari sebelum Orde Baru dan menjamur hingga kini. Menurut Nano, penyataan penting dalam naskah ini tepat untuk dilontarkan ke tengah masyarakat Indonesia, "Jangan lagi ada korupsi!" ujarnya.

Jejak Bob pada Perjuangan Kemerdekaan





Bobby Earl Freeberg & RI-02: Mantan Pilot Angkatan Udara Amerika Serikat Berjuang untuk Kemerdekaan Indonesia
Penulis: Hendri F Isnaeni
Penerbit: Kompas, Jakarta, 2015, xvi+168 halaman


Meski warga Amerika, Bob memiliki kiprah besar dalam perjuangan Indonesia pasca-kemerdekaan. Mengantar Sukarno berkeliling Sumatera untuk menggalang dana hingga menyelundupkan candu.




Bobby Earl Freeberg keluar dari kokpit dengan wajah tegang. Kita dibuntuti beberapa pesawat tempur Belanda, katanya pada kedua penumpangnya, Ktut Tantri dan Abdul Mun'im. Ktut adalah perempuan Amerika yang berempati pada perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sedangkan Abdul Mun'im adalah Konsul Jenderal Mesir di India.


Dalam penerbangan dari Singapura menuju Yogyakarta dengan menyewa pesawat komersial milik Commercial Air Lines Incorporated (CALI) Filipina itu, Ktut bertugas menemani Mun'im yang menjadi utusan Raja Farouk dari Mesir beserta tujuh negara Arab lainnya, untuk menyampaikan pengakuan resmi kemerdekaan Indonesia. Ketiganya berhasil tinggal landas dari bandara Singapura setelah menyamar menjadi kuli romusa.



Kabar bahwa Ktut dan Konsul Jenderal Mesir terbang ke Yogyakarta rupanya tercium juga oleh Belanda. Pesawat-pesawat Belanda memaksa Bob agar mendaratkan pesawatnya di Jakarta saja.



Bob meminta agar kedua penumpangnya duduk di bagian belakang pesawat, menghindari jendela dan mengencangkan ikat tempat duduk. "Percuma saja kami bertempur melawan Jepang di Pasifik jika yang begini saja tidak bisa. Belanda-Belanda itu bisa saja menembak jatuh, tapi mereka tak akan bisa memaksa kita mendarat. Akan kita pamerkan kemampuan kita sedikit kepada mereka," kata Bob, yakin.



Ketika pesawat terbang mendatar kembali, operator radio menginformasikan bahwa Belanda sudah lewat. Mereka lolos dari kejaran dan sudah berada di langit Kalimantan. Beberapa jam kemudian, sampailah mereka di tanah tujuan, Yogyakarta.



Bob kelahiran McCune, Negara Bagian Kansas, Amerika Serikat, 1921. ia mewujudkan mimpi masa kecil untuk menjadi pilot dengan mendaftar di Angkatan Laut Amerika Serikat. Selepas menjadi perwira pada Maret 1942, Bob bertugas di Patrol Squadron Bombing (VPB) dan dikirim ke daerah Pasifik. Tugasnya menyusuri pulau-pulau di Lautan Pasifik demi mencari kapal Jepang yang bersembunyi.



Perang usai, Bob bekerja sebagai pilot di CALI. Dari hasil tabungannya selama bekerja, ia berhasil memiliki Dakota Douglas C-47 Skytrain. Dengan pesawat itu, pada 6 Juni 1947 ia lepas landas dari Filipina menuju Pulau Jawa.



Demi urusan politik dan logistik, selepas deklarasi kemerdekaan, pemerintah harus membuka koneksi keluar negeri. Sebagai negara baru merdeka, saat itu Indonesia belum memiliki apa-apa. Tidak ada mesin ketik, alat kantor, pesawat terbang, kata Sukarno waktu itu.



Pemerintah Indonesia kemudian mencarter pesawat asing yang berani menembus blokade Belanda. Bob adalah salah satu pilot pesawat asing itu. " Namaku Bob Freeberg. Aku orang Amerika. Aku seorang pilot dan menaruh simpati pada perjuangan Anda. Bantuan apa yang dapat kuberikan? " kata Bob kepada Presiden Sukarno.



Bob memiliki kiprah besar dalam perjuangan Indonesia pasca-kemerdekaan. Bersama Bob dan pesawatnya, Pemerintah Indonesia menembus angkasa demi beragam misi. Mengekspor hasil bumi seperti kina dan vanili, bahkan menyelundupkan candu ke berbagai negara. Dari hasil ekspor itu, pemerintah membiayai segala kebutuhan sebagai negara baru.



Dakota C-47 milik Bob kemudian memperoleh nomor registrasi RI-002. Ini pesawat resmi kenegaraan pertama Indonesia. Nomor RI-001 sengaja disimpan untuk pesawat kepresidenan kemudian hari.



Bersama RI-002, Bob pernah mengantar Sukarno dan rombongan kepresidenan berkeliling Sumatera untuk menggalang dana. Mereka menyusuri Bukittinggi, Tapanuli, Aceh, Pekanbaru, Jambi, Bengkulu dan Lampung selama satu bulan. Itu adalah satu-satunya perjalanan presiden ke luar Pulau Jawa sebelum agresi militer Belanda terjadi enam bulan kemudian.



Bob bukanlah satu-satunya orang asing yang turut berkiprah dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Selain Bob, sederet nama lain dinyatakan punya peran. Dua di antaranya adalah Ktut Tantri dan John Coast, yang justru lebih banyak dikenal ketimbang Bob.



Dengan sebutan Surabaya Sue, Ktut turut mengobarkan dukungan terhadap kemerdekaan Indonesia melalui siaran radio pada 1945. Sementara itu, Coast adalah orang Inggris yang menjadi atase Presiden Sukarno di Bangkok. Coast mengabadikan kisah hidupnya dalam buku Recruit to Revolution: Adventure and Politics in Indonesia (1952).



PAMERAN: Satu Abad Sang Perayu


Mencari identitas dua dara dalam peringatan seabad Basoeki Abdullah (27 Januari 1915-5 November 1993). Mencari peran naturalisme Basoeki dalam wacana seni rupa Indonesia.


Sumber foto: museumbasoekiabdullah.or.id
Lukisan dengan obyek tiga perempuan cantik itu adalah salah satu karya masterpiece Basoeki Abdullah. Perempuan paling depan mengenakan busana melayu berwarna merah marun dengan kain songket berwarna senada. Ia duduk dengan bahu menyender di kursi. Di belakangnya, perempuan lain menyenderkan tangan di bahu kursi. Rambut perempuan itu digelung dan mengenakan baju kuning berbalut kain sari India. Sedangkan perempuan ketiga berdiri di samping keduanya dan mengenakan gaun cheongsam ungu muda.

Semula lukisan itu diberi judul Nusantara. Belakangan, judulnya diubah menjadi Tiga Dara. Basoeki membuatnya sekira tahun 1955. Setelah sang maestro naturalis itu mati karena dibunuh pada 1993, orang-orang mulai mencari tahu siapa sosok tiga perempuan cantik yang jadi model Tiga Dara itu.

Setitik cahaya datang pada 2010. Azah Aziz, ketika itu berusia 84 tahun, datang ke Indonesia dan menyempatkan diri menyambangi lukisan itu di sebuah pameran di Jakarta. Azah adalah seorang jurnalis senior di Malaysia. Perempuan berdarah campuran Arab, Melayu, dan Turki itu mengklaim diri sebagai sosok perempuan berbalut baju merah dalam lukisan itu. Ketika dilukis, Azah berusia 30 tahun. Seturut kemiripan wajah, didukung cerita-cerita yang disampaikan, orang-orang memercayai klaim itu.

Satu dara -tidak benar-benar dara karena Azah mengaku sudah punya satu anak saat dilukis Basoeki-- sudah ditemukan. Dua lainnya masih dicari. Museum Basoeki Abdullah berupaya menguak misteri identitas dua dara lain dalam lukisan itu enam dekade setelah lukisan dibuat. Kesulitannya: mungkin saja dua pemilik wajah itu sudah sangat renta atau telah meninggal dunia.

Proyek ''Mencari Tiga Dara'' diluncurkan melalui website Museum Basoeki Abdullah. Upaya yang sama juga dilakukan lewat pameran ''Rayuan 100 Tahun Basoeki Abdullah'' yang menghadirkan reproduksi digital lukisan Tiga Dara. Pameran tunggal Basoeki ke-50 hasil kerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini diselenggarakan di Museum Nasional, 21-30 September lalu.

Pameran ini menyajikan 42 lukisan asli karya Basuki Abdullah dengan beragam tema. Potret, lanskap alam, mitologi, dan perempuan. Kesemuanya mencomot koleksi Museum Basoeki Abdullah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Galeri Nasional Indonesia, Museum Seni Rupa dan Keramik,Cemara 6 Gallery dan sederet milik kolektor individu.

Tidak hanya lukisan yang dipajang, pameran ini juga menyajikan sejumlah reproduksi digital lukisan karyanya, foto, sejumlah arsip tentang Basoeki, berikut sederet memorabilia barang-barang yang pernah digunakannya ketika membuat karya. Kurator pameran ini, Mikke Susanto menyebut ajang ini bersifat semi-retrospeksi sekaligus semi-historis. Membuka kembali manuskrip karya dan hasil pemikiran Basoeki, sekaligus menyajikan arsip-arsip mengenai kehidupannya.

Tema rayuan sengaja dipilih terkait keterampilan sosial Basoeki dalam berkesenian. Lukisan-lukisan yang dipamerkan itu adalah jejak rayuan cucu Wahidin Sudiro Husodo ini. Jejak itu menyoal budaya leluhurnya seperti epos Ramayana dan Mahabharata, lanskap alam, dan potret tokoh nasional, kemudian melanglang buana ke Asia Tenggara, hingga ke Eropa.

''Rayuan ini menjadi titik penting dalam hidupnya agar ia menjadi utuh. Merayu seseorang untuk menjadi modelnya, membeli lukisannya, menjadi bagian dari apa yang ia inginkan. Basoeki Abdullah pandai untuk itu,'' kata Mikke.

Kepandaian Basoeki dalam merayu dan menuangkan hasil rayuannya ke dalam kanvas naturalisme tidak sepenuhnya mendapat tanggapan positif. Buku Basoeki Abdullah: Sang Hanoman Keloyongan (diluncurkan dalam pameran ini) yang ditulis Agus Dermawan T. merekonstruksi kritik "Bapak Seni Lukis Modern Indonesia", S. Sudjojono, terhadap karya-karya Basoeki.

Sudjojono pada 1930-an menempatkan karya naturalisme Basoeki sebagai penjelmaan nyata selera turis, tidak memiliki ingatan sejarah karena tidak merekam sebuah momentum. ''Naturalisme Basoeki dikecam sebagai contoh kedangkalan lukisan mooi Indie atau 'Hindia jelita' yang sekadar bermain di wilayah jual-beli,'' tulis Agus.

Namun, Basoeki adalah orang yang gampang murka jika ada yang menyebut naluralisme tidak lebih berharga dari realisme. ''Lukisan saya boleh dikecam, namun pandangan yang melecehkan naliralisme adalah keliru besar. Naturalisme justru ibu dari realisme,'' ungkap Basoeki sebagaimana dikutip Agus dalam bukunya.

Sudut pandang kaum akademisi dalam konstelasi seni rupa Indonesia menilai lukisan-lukisan naluralis Basoeki sebagai manifestasi yang cuma menghibur penglihatan dan tidak mengusung wacana. Itu sebabnya, karya Basoeki secara literer ditulis samar-samar di kitab sejarah seni rupa Indonesia.

Namun Basoeki bergeming. Ia, menurut Agus, memang mengakui bahwa tidak menemukan apa-apa dan tidak mencetuskan gaya baru dalam ''karier'' kepelukisannya (bukan berarti tidak mencoba gaya baru; di akhir kariernya ia sempat mencoba melukis abstrak namun, konon, tidak mendapat tanggapan beraryi dari publik seni rupa maupun pasar). Namun buatnya, hal terpenting dari sebuah karya adalah kegunaannya bagi penikmatan batin manusia. ''Lukisan saya memilih cara komunikasi yang paling bisa dipahami,'' ujarnya. 
Dengan sasaran indra penikmatan dan model komunikasi sederhana semacam itu, Basoeki menerjemahkan imajinasi orang Indonesia atas tokoh mitologi dan legenda seperti Nyi Roro Kidul dan Doko Tarub.

Nyi Roro Kidul adalah tokoh utama dalam mitlogi Laut Selatan Jawa. Ia disebut-sebut sebagai sosok perempuan dengan kecantikan dan keanggunan luar biasa. Sedang legenda Joko Tarub mengisahkan tujuh bidadari turun ke bumi untuk mandi dan sang Joko mencuri selendang salah satu bidadari itu yang kemudian diperistrinya. ''Seperti apa sosok Nyi Roro Kidul dan Joko Tarub, ya seperti yang Basoeki Abdullah lukis. Basoeki menanamkan pada kita imajinasi berkelanjutan mengenai itu semua,'' kata Mikke.


Setidaknya tiga kali Basoeki menciptakan lukisan Nyi Roro Kidul. Sedangkan legenda Joko Tarub ia lukis sebanyak enam kali. Salah satunya adalah pesanan khusus Presiden Soekarno dengan figur bidadari berjumlah enam saja.

Menelaah Barat dengan Manuskrip Jawa



Teks, budaya, bahasa dan sejarah berkelindan dalam satu karya. Menggunakan referensi barat dan timur dengan sudut pandang oksidentalis.

Seperti kitab yang terbuka, halaman kanan lukisan manuskrip tua itu berisikan teks kidung Ramayana, sastra jawa klasik di abad 12. Persis rujukan aslinya, ia berupa teks hanacaraka dalam bahasa sansekerta. Sedang di halaman kiri, Dewi Venus berpose erotis, sebagaimana dalam lukisan “The Sea Monster” karya pelukis Jerman abad renaissance Albrecht Durer. Jika dilihat detil, pose Dewi Venus itu berbahan taburan teks-teks kidung Ramayana, dengan huruf dan bahasa sansekerta pula.

Kedua teks budaya timur dan barat ini memiliki kesamaan; mengisahkan penculikan putri oleh sosok antagonis. Kitab Ramayana mengisahkan Shinta diculik raksasa bernama Rahwana. Sedang dalam The Sea Monster, digambarkan Dewi Venus diculik manusia setengah ikan yang berjenggot dan bertanduk.

Pertemuan itu terpapar dalam lukisan manuskrip berjudul “The Book of Hours of Ramayana”(180 x 291 Cm) lengkap dengan ornamen berbagai bunga yang bertujuan memuliakan teks khas dalam kitab-kitab iluminasi. Karya pelukis Eddy Susanto itu menandai pameran tunggalnya berjudul “JavaScript” di Galeri Nasional, 4-13 September 2015.

Sumber foto: Gulalives.co
Selain lukisan manuskrip yang berjumlah 25 buah, sejumlah 25 karya lainnya juga dipamerkan. Terdiri dari 20 buah Cabinets of curiosities (jumlah yang sama dengan aksara jawa), illuminations of javascript, hymne of dystopia, the javanese calender lifetime, dan melancolia.

Selain kesamaan kisah dengan The Sea Monster, naskah Ramayana sebagai produk budaya, juga memiliki kedekatan dengan The Book of Hours. Jagat nusantara pernah mengalami peralihan dari tradisi teks melalui babad dan kakawin, kemudian bergeser ke tradisi kidung. Apa yang terkandung dalam kakawin yang mulanya dibaca dan dilakukan segolongan elit, kemudian beralih menjadi dinyanyikan dan dilakukan oleh kalangan luas dari berbagai golongan. Peralihan tradisi itu terjadi juga di barat, melalui The Book of Hours yang mulanya teks doa dari abad pertengahan, kemudian menyebar luas dengan dikidungkan di berbagai gereja.

Interaksi penonton dengan karya “The Book of Hours of Ramayana” tidak hanya melalui sajian visual, tapi juga audio. Di antara ornamen iluminati, pada bagian kanan bawah karya, penonton bisa mendengarkan suara pesinden melantunkan kidung Ramayana dan kidung dalam The Book of Hours dalam rekaman MP3.

Lukisan manuskrip lain tak memuat lukisan tua karya maestro barat, tapi produk budaya dengan kemajuan teknologi bikinan barat yang sedang digandrungi anak muda. Yaitu facebook, google, twitter, amazon.com, wikipedia, youtube, berikut portal website lainnya. Produk budaya kekinian itu diwujudkan dalam “Illuminations of Javascript”. Bentuk fisiknya, manuskrip lukisan itu menjadi wadah script masing-masing portal website dalam wujud teks hanacaraka.


Visual hanacaraka ini menjadi wujud identitas kejawaan Eddy Susanto, yang pernah numpang lahir di Jakarta, kemudian tumbuh dan berkembang di tanah leluhurnya di Jawa. Usai menamatkan studi Desain Grafis di Modern School of Desain, Yogyakarta, ia melanjutkan studi di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta di jurusan yang sama.

Di dunia desain, segala bidang telah dilakoninya. Kaos untuk sederet distro, poster, dan sampul buku. Ia pernah menyabet juara 1,2 dan 3 sekaligus dalam lomba poster HAM untuk Munir, serta mendesain ratusan cover buku untuk berbagai penerbit, seperti Pustaka Pelajar, Jendela, Kreasi Wacana Galang Press dan Insist Press.

Pada ranah lukis, ia mempertemukan dua produk budaya, barat dan timur, juga visual teks dalam satu wadah. Tercatat ia pernah memenangkan Bandung Contemporary Art Award yang diselenggarakan oleh Lawangwangi Creative Space. Sedang pameran tunggal diantaranya adalah The Passage of Panji – Memory, Journey and Desire di Lawangwangi Creative Space, Bandung, pada 2014 dan Albrecht Durer and the Old Testament of Java, Galerie Michael Janssen, Singapore di tahun yang sama.

Riset untuk pameran JavaScript digagas sejak 2,5 tahun lalu. Dengan merujuk ke sejumlah teks keagamaan lokal seperti Negara Kartagama, Arjunawiwaha, Pararaton, Wedhatama, Ramayana dan Serat Centini, juga lukisan tua karya maestro barat seperti Albrecht Durer, Christoph Weigel dan Martin Schaongauer.

Proses riset mendalam berikut korespondensi antara teks, bahasa, budaya dan sejarah ini yang menimbulkan kelindan makna dalam karya-karya JavaScript. Kelindan makna itu muncul karena tak hanya menerobos batas geografis timur-barat tapi juga menerobos dimensi waktu, pola produksi dan karakter visual. “Maka pemirsa pameran sedikit banyak akan dituntut untuk melakukan penelusuran intelektual yang cukup rumit untuk mendapatkan korelasi yang koheren,” kata kurator JavaScript, Asmudjo Jono Irianto.

Menariknya, jika selama ini ilmu pengetahuan dan berbagai produk budaya turunannya menggunakan perspektif orientalis dalam melihat timur, karya Eddy justru sebaliknya. Eddy menelaah budaya barat dengan modal identitas kebudayaan timur yang telah ajeg. “Perspektif okesidentalis ini jarang digunakan ilmuan maupun seniman,” katanya.

Kurator lain pameran ini, Suwarno Wisetrotomo mengatakan karya-karya ini tak hanya memancarkan watak historis yang kuat tapi juga memunculkan kesadaran soal identitas. Sebuah momentum yang ia nilai tepat di tengah kondisi bangsa yang limbung dan tidak percaya diri di antara pergaulan global.

Ada begitu banyak orang Indonesia yang kehilangan nilai-nilai lokalitasnya. Ada begitu banyak orang jawa yang kehilangan identitas kejawaannya. “Karya ini membangkitkan kesadaran bahwa kita tidak punya alasan untuk tidak percaya diri di tengah pergaulan dunia. Kita bukan bangsa miskin, kita punya modal budaya sejarah yang tidak terkira. Manuskrip Jawa ini menunjukan itu semua,” kata Suwarno.


Wednesday, September 2, 2015

Koreksi Sejarah Film Indonesia (Festival Arkipel Bag II)

Pada 11 Oktober 1896, di Batavia, diputar film le scenimatographe. Film itu diputar dua kali pada hari yang sama: pukul 18.30 dan 19.30. Harga tiketnya, 1 gulden sekali menonton. Menilik dari jenis teknologi yang digunakan, le scenimatographe, pemutaran ini bisa jadi dilakukan oleh pengusaha yang juga pesulap asal Prancis, Louis Talbot.

Iklan pemutaran le scenimatographe termuat dalam surat kabar Java Bode edisi 9 Oktober 1896. Kolase iklan di surat kabar yang memuat soal masuknya teknologi sinema di Indonesia menjelang abad ke-20 itu menjadi satu dari sekian karya seni yang disuguhkan dalam pameran berjudul ''Jajahan Bergerak: Antara Fakta dan Fiksi'', di Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki, 19-29 Agustus 2015.


Sumber foto: rollingstone.co.id
Pameran yang digagas Forum Lenteng ini menjadi bagian dari program besar ''Arkipel 3rd Jakarta International Documentary & Eksperimental Film Festival''. Tahun ini Arkipel mengambil tema besar ''Grand Illusion''.

Pameran yang mengetengahkan arsip film hasil penelusuran seniman video Mahardika Yudha ini berupaya merentangkan situasi migrasi pengetahuan, sudut pandang dan ilusi melalui teknologi sinema dari negeri-negeri Eropa ke Hindia-Belanda yang terjadi pada masa awal kehadiran teknologi sinema.

Untuk diketahui, dalam buku ''Film Indonesia Bagian I (1900-1950)'' yang disusun oleh Taufik Abdullah, Misbach Yusa Biran, dan S.M. Ardan mencatat, teknologi sinema pertama kali masuk jagat Nusantara pada 1900. Itu ditandai dengan diputarnya film Intocht van H. M. De Koningin en Hertog Hendrik te Den Haag oleh perusahaan kolonial. Isinya berupa narasi gambar Ratu Wihelmina bersama Yang Mulia Hertog Hendrik ketika memasuki Kota Den Haag, 5 Desember 1900.

Sumber yang digunakan Misbach dalam meriwayatkan sejarah film semasa kolonial Belanda hingga datangnya tentara Nippon itu adalah iklan yang dimuat surat kabar Bintang Betawi terbitan 30 November 1900.

Buku garapan Misbach dan kawan-kawan itu yang kemudian menjadi rujukan utama berbagai karya ilmiah seperti skripsi, tesis dan disertasi, soal sejarah film di Indonesia, sejak diterbitkan pada 1993 oleh Dewan Film Nasional, hingga sekarang.

Hasil penelusuran Mahardika dalam pameran ini memberikan masukan penting dalam melacak mula teknologi sinema masuk ke Hindia Belanda. Sekaligus sebagai koreksi atas catatan Misbach dan kawan-kawan.

Sebab, temuannya menyebutkan teknologi sinema itu masuk ke Hindia Belanda pada 1896, atau empat sebelum pemutaran Intocht van H. M. De Koningin en Hertog Hendrik te Den Haag. Selain itu, le scenimatographe bukan dibawa oleh pemerintah kolonial atau orang Belanda, melainkan pengusaha-pengusaha asal Eropa selain Belanda dan Amerika. Mereka adalah Louis Talbot yang membawa scenimatograph, Harley yang membawa kinetoscope Edison, Meranda dengankinematograph, dan Carl Hertz asal Amerika dengan cinematographe Lumiere.