Wednesday, August 26, 2009

Di Batas Kenangan

Adakah kau tanya sampai di mana batas kenangan?
Menyusuri lorong tua yang tak sempat kita beri nama. Kau kais
sisa kata-kata di antara remeh temeh
kehidupan.

Dulu, sewaktu langit masih biru, kau simpan
kenangan itu
dalam kotak kecil
di sudut hatimu.


Dwi Prama, 22 Juli 2009

Wednesday, November 5, 2008

; Buat Seorang Kawan

Mari kita diskusikan perihal apa dan mengapa. Biarkan
tema-tema itu berputar
dan mengantarkan kita membentuk
sebuah cerita. Lakon lama yang kita dekonstruksi
dengan karakter kita sendiri. Versi kita sendiri.

Tuesday, October 14, 2008

TERIMA KASIH CINTA


Akhir-akhir ini aku sering sekali mendengarkan lagu-lagunya Afgan. Terutama lagu yang berjudul terima kasih cinta. Aku mulai suka lagu ini sewaktu dalam perjalanan menuju resto DJHA (Durian Jatohan Haji Arif) di Baros, sebuah kecamatan yang terletak di kabupaten Serang tempat kelahiranku. Di jok belakang, adikku memutar lagu Terima Kasih Cinta dari MP3 handphonenya.

Menurutku lagu ini bagus dan enak didengar. Iramanya slowly tapi tidak mellow. Juga bukan sejenis lagu ngebeat ataupun ngerock seperti lagu-lagu yang beberapa tahun terakhir sering aku dengar. Apalagi dinyanyikan oleh Afgan yang kata teman-temanku bersuara “seksi”. Aku tak perduli apa arti “seksi” yang dimaksud teman-temanku itu. Afgan menyanyikan lagu ini dengan penuh penghayatan saja sudah lebih dari cukup bagiku. Suara Afgan patut diacungi jempol. Sampai-sampai seniorku di BPS mengomentarinya dengan yakin, “apapun lagunya, kalau dinyanyikan sama Afgan pasti jadinya bagus.” Sepakat.

Lagu ini menceritakan seseorang yang pernah berbuat salah kepada kekasihnya. Apa yang telah dilakukannya itu menyakiti hati sang kekasih. Setelah lama merenung ia sadar bahwa sejatinya rasa cinta itu masih ada. Maka kemudian yang muncul adalah rasa penyesalan. Ia sadar, tanpa kekasihnya hidup tak berarti apa-apa. “Tanpamu tiada berarti, tak mampu lagi berdiri,” ucap Afgan dalam bait lagunya.

Amat jelas, ada tautan antara penyesalan—atas kesalahan yang telah menyakiti hati sang kekasih—dan rasa cinta, yakni upaya untuk meminta maaf dan keinginan untuk menata kembali mahligai cinta yang pernah retak. “Balikkan lagi”, istilahnya. Lantas ketika kesadaran dan keinginan untuk balikkan lagi mencuat dalam pikiran, sang kekasih dengan tangan terbuka menerimanya kembali. Sang kekasih memberinya kesempatan untuk memperbaiki mahligai cinta mereka, dengan melupakan segenap masa lalu: segala kesalahan dan sakit hati. Ia terharu atas kelapangdadaan juga keikhlasan hati sang kekasih. Puji syukur ia representasikan dalam rasa terima kasih dan janji tak akan mengulang kembali kesalahan yang pernah dilakukannya. “Terima kasih cinta untuk segalanya,” seperti diungkap Afgan.
Berikut ini lagunya.

Terima Kasih Cinta
Tersadar di dalam sepiku setelah jauh melangkah
Cahaya kasihmu menuntunku kembali dalam dekap tanganmu
Terima kasih cinta untuk segalanya
Kau berikan lagi kesempatan itu
Tak akan terulang lagi semua
Kesalahanku yang pernah menyakitimu
Tanpamu tiada berarti tak mampu lagi berdiri
Cahaya kasihmu menuntunku
Kembali dalam dekap tanganmu
Terima kasih cinta untuk segalanya
Kau berikan lagi kesempatan itu
Tak akan terulang lagi semua
Kesalahanku yang pernah menyakitimu

Friday, September 26, 2008

PERJALANAN ADALAH JANJI

Episode renyah tawa masa kecil adalah kenangan
Tentang belaian dan kata cinta.
Mimpi dalam tidur
Ketika pendakian mencapai puncak
Rangkaian perjalanan dalam kereta
Dan segenap cerita-cerita menuju titik kulminasi.
Sampai mimpi tak lagi terjangkau psikoanalisis,
Seribu koma dan tanda tanya
Siapa akan melanjutkan perjalanan?
Akankah gerbong telah benar-benar berkarat,
Pasrah jatuh ke tanah?
Koma-koma adalah sisa
Tanda-tanda tanya terjawab sudah
Dengan kemirisan, dengan pesimisme
Sejarah mencatat kematian generasi
Kematian cerita pada satu titik sentral.

Gerbong-gerbong usang, cerita-cerita terbengkalai,
Teriakkan pada dunia: tak akan ada kematian saat ini
Kupu-kupu akan terbang
Mimpi-mimpinya tak sebatas ide
Hamparan kenangan adalah pembawa pesan
Ingat: Optimisme tak butuh sandaran
Bagi kami, perjalanan adalah janji!

Friday, August 29, 2008

KEPADA AKHIR SEJARAH

Kita pernah merangkai bunga-bunga suatu waktu
Melukis pelangi pada langit-langit yang masih suram dan kaku
Suram dan gelap
Namun kita tetap tersenyum
Tetap tertawa menikmati sesiang yang panas dan gerah.
Menikmati rimbun hutan, gemericik air,
Atau sisa daun-daun yang meranggas pada musimnya
Sampai saat senja menahbiskan keniscayaan gelap
Tentang malam yang sudah seharusnya datang
Ini akhir sejarah kita
Penghujung kebersamaan,
Senyum, canda, tawa,
Tangis, sakit hati,
Dan kesia-siaan yang pernah kita lakukan.
“Thanks to all, especially for you,” ucapmu sambil melambaikan tangan.

Monday, August 11, 2008

MENGAJUKAN PROPOSAL SKRIPSI BULAN INI JUGA


Saya memutuskan untuk mengajukan proposal skripsi bulan ini juga. Setelah hampir empat tahun menempati bangku kuliah, juga merasakan dinamika kehidupan mahasiswa yang penuh gejolak dan progresifitas, saya memutuskan untuk segera keluar dari fase ini.

Saya kira empat tahun waktu yang lebih dari cukup untuk menikmati hingar bingar gejolak di dunia kampus. Selebihnya, saya persiapkan satu tahun ke depan untuk memperbaiki nilai dan menggarap skripsi.

Saat ini saya dihadapkan dengan berbagai tema yang kiranya menarik untuk diangkat menjadi skripsi. Saya baru menyadari bahwa ternyata dunia matematika tidak sesempit dan tidak sesaklek yang saya pahami selama ini. Ada banyak bahasan yang perlu untuk diteliti dan ditekuni.

Saya kira, mengerjakan skripsi bukan hal yang sangat berat seperti yang dimitoskan orang-orang. Asalkan fokus menjalaninya, skripsi tak butuh waktu lama untuk dikerjakan. Artinya, tak perlu menunggu lama untuk segera wisuda.

Kehilangan fokus bisa jadi merupakan masalah setiap mahasiswa yang lulus lama. Satu hal ini juga yang sempat aku takutkan terjadi padaku. Mengingat aku orang yang belum bisa berpegang pada satu pijakan dan belum bisa terkungkung oleh sistem yang membatasi ruang gerak. Tapi saya kira itu justeru menjadi tantangan untuk mengukur sejauh mana perkembangan kedewasaan saya. Kedewasaan berarti teguh memegang amanah dan konsisten menjalaninya.

Saya ingin segera keluar dari status mahasiswa dan mencicipi berbagai petualangan yang lebih menantang di dunia luar. Saya percaya hidup mempunyai fase-fase untuk dijalani. Saya tak sabar untuk melewati fase berikutnya.

SKEPTIS


Kami berpacu dengan simbol-simbol. Melawan tatanan baku perihal aksioma dan teorema. Bagi kami, aksioma bukan kehendak Tuhan. Juga teorema-teorema yang takkan pernah menjadi sabda suci sang nabi. Kami tak percaya semua itu. Pernyataan-pernyataan tersebut tak lebih dari penjajahan pemikiran. Percaya pada kedua entitas itu berarti menjadi gajah di waekambas yang mau diapakan saja.

Kami berpacu dengan aneka rumus juga analisisnya. Integral, derivasi, deret, polynomial. Semua itu kami olah seperti bahan makanan yang akan kami rubah menjadi hidangan yang lezat.

Jangan percaya dengan pernyataan dosen. Sebab mereka mau tunduk pada tatanan baku yang sudah ada. Mereka hanya kambing congek yang bodoh. Manut dibilang apa saja oleh para ilmuwan-ilmuwan terdahulu.