Sunday, August 5, 2018

Beri kerja pada yang tuna

Hayati Nupus
SERANG, Banten
Siti Fatimah, 20 tahun, sibuk meramu sirup rasa coco pandan dengan minuman berkarbonasi dan buah kelengkeng yang sudah dikupas di dapur Bubble Café and Gallery di Selasa siang yang terik itu. Tak sepatah kata pun keluar dari mulut perempuan berkerudung ini.
Minuman di dalam gelas itu sudah hampir jadi, Siti membubuhkan perasan jeruk nipis dan daun mint sebagai topping.
“Ini Mojito Compo, minuman terlaris di Bubble Café and Gallery,” kata Siti kepada Anadolu Agency, dengan lidah cadel sambil terbata-bata. Siti adalah seorang tunarungu.
Sepintas, Bubble Café and Gallery tampak seperti café-café pada umumnya. Mereka menawarkan aneka kopi, jus, bakso, nasi ayam bakar, dan kudapan seperti otak-otak serta french fries.
Namun jika memperhatikan lebih lanjut, pengunjung akan mendapati café yang berlokasi di Serang, Banten, itu dikelola oleh 14 orang yang semuanya spesial. Mulai dari kasir, pramusaji, hingga juru masaknya adalah penyandang disabilitas atau difabel.
Siti lantas memberikan Mojito Compo racikannya kepada Alfath, pramusaji yang sejak tadi menunggu. Seperti Siti, Alfath juga tunarungu, dia berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat.
Menyajikan Mojito Compo dan nasi ayam bakar ke meja pembeli, Alfath kemudian mendekapkan lengan dan membuka telapak kanannya, mempersilakan tamunya menikmati hidangan.
Jika makan telah rampung, Danu, penyandang autisme, siap menghitung jumlah nominal yang harus pelanggan bayar. Pemuda asal Serang berkacamata tebal ini memang pandai berhitung, juga memiliki ingatan fotografis dan kritis.
Danu kerap melontarkan segala jenis pertanyaan kepada pelanggan sebagai bentuk keakraban. Kadang-kadang dia menyebutkan nama-nama pemusik yang belum tentu masyarakat awam ketahui.
Jika café sedang sepi, Danu iseng-iseng mengisi suara film kartun, dia pandai berlaga aneka ragam karakter suara. 

Minim akses kerja
Bubble Café and Gallery berawal dari keprihatinan Christiana Young, Kepala Yayasan Anak Mandiri (YAM), lembaga yang mengurusi pendidikan difabel.
Di Indonesia ada begitu banyak difabel namun akses mereka pada pekerjaan masih terbatas. Padahal, kata Christiana, di Sekolah Luar Biasa, bakat dan minat mereka digali, mereka dilatih seni musik dan seni rupa.
Mereka juga diajarkan aneka keahlian vokasional seperti memasak, melukis, menjahit, bahkan berkebun. Namun begitu lulus, tenaga kerja ini tak terserap.
“Setelah lulus kebanyakan mereka kembali ke rumah, sementara keluarga pasti inginnya mereka mandiri atau bekerja, agar tak menjadi beban,” ujar Christiana.
Sebetulnya, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas mewajibkan perusahaan swasta untuk memberikan kuota 1 persen bagi pekerja difabel, sedang kantor pemerintahan 2 persen. Sayang, implementasi kebijakan itu masih lemah.
“Banyak institusi yang menolak, makanya kami membuka lapangan kerja sendiri, lewat café ini,” ujar Christiana.
Saat ide pendirian café tercetus, banyak orang meragukan. Bagaimana mungkin mendirikan café yang seluruh pengelolanya berkebutuhan khusus.
Toh, Christiana tidak gentar dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Dia merekrut difabel alumni YAM, belakangan juga merekrut difabel dari sekolah lain. Mereka adalah penyandang tunarungu, tunawicara, cerebral palsy, tunagrahita, autisme, juga low vision.
Christiana menyeleksinya dan melatih mereka melakukan pekerjaan spesifik, seperti mengenalkan penggunaan alat masak dan aneka bumbu kepada calon juru masak, juga mengajari tata cara pelayanan prima bagi pramusaji. Setelah dianggap layak, barulah mereka siap mengelola café.

Menu diet untuk semua
September 2017, Bubble Café and Gallery resmi berdiri. Pelanggan pertama adalah YAM, untuk memenuhi kebutuhan katering makan siang lebih dari 100 siswa. Ketimbang memesan makanan ke tempat lain seperti yang dilakukan sebelumnya, lebih aman jika makanan itu berasal dari café milik yayasan sendiri, tukas Christiana.
Apalagi, seluruh makanan dan minuman di café ini merupakan menu diet difabel. Menggunakan garam khusus untuk penyandang autisme, kecap khusus, tanpa gluten, tanpa pengawet atau MSG.
Jika konsumen memesan semangkuk bakso, daging bakso itu berasal dari daging pilihan dan tepung tapioka. Sebab penyandang autisme dilarang mengonsumsi tepung terigu. Bihun dalam bakso itu pun bihun jagung.
Jika mengonsumsi terigu, atau bahan makanan lain yang terlarang, tantrum penyandang autisme akan kambuh.
“Makanan dan minuman ini sehat untuk penyandang difabel, termasuk nondifabel,” kata Christiana.
Belakangan, café ini dikunjungi pula oleh konsumen awam. Pada waktu-waktu tertentu malah pengunjung datang berombongan, bisa sampai 30 orang. Mereka berkumpul atau merayakan ulang tahun di café ini.
Café ini beroleh apresiasi positif, sekaligus negatif. Christiana pernah mendapati pelanggan yang marah karena menganggap pramusaji kurang senyum.
“Sebetulnya pramusaji kami sudah tersenyum, tapi memang senyum anak autisme ya sebatas itu,” kata Christiana.
Tak hanya menyajikan makanan dan minuman lezat, café berinterior warna-warni ini sekaligus berupa galeri hasil karya anak-anak difabel. Aneka suvenir seperti gantungan kunci, dompet, sarung bantal, kerudung, dan beragam kue kering dijual di sana.
Naik ke lantai dua, pengunjung akan mendapati berbagai lukisan karya anak-anak difabel. Umumnya lukisan bergaya abstrak, beberapa lainnya tampak bergaya kubisme.
Di akhir pekan, café ini kian ramai dengan lantunan keyboard dari panggung kecil sebelah pojok café. Pemain musiknya adalah difabel, begitu juga pelantun lagunya.
YAM memetakan 2,5 persen keuntungan café ini untuk donasi. Tahun lalu, donasi itu berupa pembelian alat bantu kursi roda bagi tunagrahita di pelosok Banten.
Christiana prihatin, jumlah anak difabel kian meningkat, khususnya autisme. Pada 2010 lalu pemerintah memperkirakan terdapat 112 ribu anak autisme di Indonesia.
Prevalensinya terus meningkat. Jika pada 2000 sebatas 1:1000 kelahiran, jumlah itu kian berlipat pada 2008 menjadi 1,68:1.000 kelahiran.
“Perlu peran kita untuk memberi mereka kesempatan agar bisa berkarya dan mandiri,” kata Christiana.

https://www.aa.com.tr/id/budaya/memberi-kesempatan-kerja-pada-yang-tuna/1219643

4 comments:

  1. Di pemerintahan, yang saya tahu pada tahun 2014 sudah ada alokasi CPNS untuk penyandang disabilitas.

    ReplyDelete
  2. Saya pernah liat postingan teman saya di instagram yg makan di resto dimana semua karyawannya adalah difabel dan berkebutuhan khusus. Lupa namanya, mungkin inilah tempatnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarang ada banyak, kak. Ini salah satunya

      Delete