Wednesday, June 27, 2018

Temaram


Kamu menggenggam tangannya saat ia hampir terpeleset. Pelan-pelan, katamu, kesekian kali.
Tanggul yang membelah laut utara itu begitu licin. Debur ombak sesekali mengenai dinding dan menyisakan genangan di atas tanggul yang sempit. Genangan yang menjadi surga bagi suburnya lumut-lumut, sesubur cintanya pada laki-lakinya.
Kamu pernah berkelana dan bertemu aneka lumut dari berbagai belahan dunia. Kamu menceritakan pertemuanmu dengan lumut-lumut itu padanya beberapa waktu lalu, saat malam pergantian tahun dan orang-orang bereuforia berkumpul di pusat kota, menyalakan kembang api dengan riang seolah-olah dengan begitu sisa waktu akan bertambah dan masa kecil yang indah akan segera kembali. Sungguh perbincangan dengan tema yang aneh di malam tahun baru.
Meski kecil dan halus, katamu waktu itu, lumut menjadi makhluk dengan daya survive tinggi dan bisa hidup di manapun. Di pepohonan, di antara bebatuan, di rawa-rawa, di kota, di desa, bahkan di celah tersempit di dunia sekalipun.
Barangkali cintaku pada dia lebih tepat disebut lumut, gumamnya. Terus hidup di manapun, apapun kondisinya. Terus hidup meski tak memiliki bunga apalagi buah.
Belum tentu. Lumut hidup jauh sebelum manusia ada, sedang kau baru muncul ke dunia tiga puluh tahun lalu, katamu berkelakar.
Ternyata lumut juga tumbuh di dalam hati manusia, di dalam hatiku.
Sepasang manusia itu menapaki tanggul hingga terujung. Lembayung selepas senja masih tersisa di antara deretan gedung-gedung tua di ibu kota. Namun desau angin mengiringi keduanya berjalan ke timur, hendak menyaksikan cahaya purnama dari ujung tanggul.
Andai saja keadilan seperti lumut, katamu, akan terus hidup bagaimanapun situasi politik yang terjadi, kakek tidak akan kesepian hingga akhir hidupnya. Segerombol tentara merenggut nenek dari pelukan kakek di tengah malam, saat sungai-sungai di kampung sebelah beraroma amis dan berlumur darah.
Istrimu kafir dan berdada palu arit, tentara memopor kaki kakek lantas menginjak-injaknya hingga ambruk.
Bagaimana mungkin istri saya kafir. Baru beberapa jam lalu kami menunaikan ibadah lima. Meski sehari-hari tak mengenakan penutup kepala, ia rajin membasuh hati di pancuran belakang rumah dan melapangkan sujud di pojok kamar.
Lantas mengapa palu arit menjadi alasan untuk menculik seseorang. Palu berharga bagi tukang bangunan, kelompok masyarakat berekonomi lemah. Palu menyatukan tiap batang kayu menjadi hunian yang meneduhkan banyak orang dari hujan dan mengamankan siapa saja dari serbuan binatang. Begitu pula arit. Tiap beras yang dimakan berasal dari peran arit yang memotong tiap-tiap batang padi hingga petani mudah menjemurnya, menumbuknya, memasaknya, lalu menyajikannya di setiap meja.
Waktu itu usia ibumu belum genap lima, menjerit, darah bertebaran di mana-mana. Di lantai, kursi, meja.
Burung gagak hinggap sejenak di atas atap, lalu terbang ke angkasa. Suaranya menggema.
Kakek mengganti sebelah kakinya dengan tongkat kayu hingga kini. Namun ia tak pernah sanggup menggantikan posisi nenek di hatinya.
Kakekmu berjenis langka, kataku. Semua laki-laki yang kutemui menikah lagi tak lama setelah ditinggal istri. Tak peduli sudah berusia kepala enam, atau bahkan tujuh. Kesetiaan hanya ada pada lisan. Atau bisa jadi memang ia setia, setia pada setiap istri yang ia punya.
Kamu mengangkat bahu. Kamu tak pernah menikah apalagi menikah lagi.
Ombak menggedor-gedor tanggul dengan kencang. Perempuan itu merapatkan jaket biru yang lebih tampak tak berwarna. Semua tampak pekat kecuali air laut yang tersinari purnama. Cahaya lampu hanya ada di tanggul sebelah barat, puluhan meter dari sini.
Tanggul menjadi penyelamat warga utara. Membatasi permukaan air laut yang meninggi seiring perubahan iklim dan ulah manusia yang tak menghargai lingkungan, dengan pemukiman kumuh yang kian rendah akibat pembangunan sporadis gedung-gedung tinggi. Seperti cendawan di musim hujan, hutan beton bertumbuhan dengan subur.
Sejumlah pengamat meramalkan ibu kota akan tenggelam sepuluh tahun mendatang. Air laut tak hanya akan naik menghancurkan rumah-rumah kumuh, tapi juga masuk ke parkiran bawah tanah gedung-gedung bertingkat. Alphard, Porche, Ferrari, akan tenggelam dan ikan-ikan berenang-renang riang di dalamnya.
Jika ibu kota betul-betul tenggelam, katamu, aku akan membuat rumah di atas air. Barangkali aku akan membuat perahu seperti milik Nuh.
Tentu saja berbeda, Nuh membuat perahu besar untuk menyelamatkan pengikutnya. Lantas kamu akan menyelamatkan siapa selain diri sendiri.
Entahlah, mungkin menyelamatkan cintaku, katamu, lalu menyentuh bibir perempuan itu. Angin pantai membelai lembut, kemudian bergolak. Debur ombak menabur tanggul, membasahi hati keduanya.
Ciuman itu ia rasakan pula beberapa waktu lalu. Dari laki-lakinya. Lembut, lantas penuh gemuruh. Sekian lama mereka lupa. Sampai waktu menyadarkan betapa jurang di antara keduanya teramat dalam dan lebar. Tak ada satu teknologi canggih pun sanggup menghapusnya.
Tapi cinta itu anugerah Tuhan, aku tak kuasa menolak, kata laki-laki.
Semalam ia bermimpi menikahi laki-laki itu meski ia menganggap pernikahan adalah lembaga paling absurd di dunia. Melegitimasi relasi patriarkis atas nama kebenaran berlandaskan moral masyarakat dan agama.
Tapi dalam mimpi itu ia bahagia. Laki-laki itu pun bahagia. Seperti menemukan muara setelah ratusan tahun berkelana agar bisa bersama. Berpelukan, meraup peluh cinta.
Usai sudah segala kesedihan. Air mata kering dan bertumbuhan bunga-bunga. Ia dan laki-laki itu tak pernah memperkirakan bisa bersama, meski berharap itu.
Barangkali cinta memang tak harus memiliki, katamu, menarik napas panjang, lebih tepatnya mengingatkan diri sendiri.
Angin malam menghempaskan gelombang ombak. Purnama menggantung di sudut langit, namun malam tetap temaram.
Jakarta, Februari 2018