Thursday, September 19, 2013

Sudjojono Sampai Mati

Mozaik kisah kasih Djon dan Rose dalam bingkai teater. Bersumber dari berbagai dokumen sejarah: visual, audial, arsip surat-menyurat, dan kesaksian sumber-sumber yang pernah bersinggungan dengan Sudjojono. Pertunjukan biografis yang romantis.

Suara mezosopran Rose Pandanwangi menggema di seluruh ruangan. Lagu yang ia nyanyikan itu lagu kesukaan Sudjojono, Ich Liebe Dich, karya Ludwig van Beethoven. Rose terlihat anggun berbalut rok hitam dan blus merah dengan cardigan emas. Begitu lagu berakhir, di tengah panggung, tampak Rose muda (diperankan putri pertama Rose-Sudjojono, Maya Sudjojono) dan Sudjojono muda (Gandung Bondowoso) sedang memadu kasih. ''Kudengar orang bilang kemarin adalah kemarin. Esok adalah esok. Sebelum hari ini berlalu, kita santap saja Mama,'' kata Sudjojono pada Rose.

Lalu, suara merdu Rose tua kembali menggema. Kali ini ia menyanyikan lagu My Way. Cinta yang telanjur bersemi menjadi jalan yang mereka pilih. Tapi kemudian, Rose muda dan Djon bingung bukan kepalang. Sedari mula mereka sadar status masing-masing yang tak lagi sendiri. ''Harus ada kejelasan, Mas. Setelah hubungan kita kian jauh. Kita tidak bisa begini terus,'' kata Rose muda.



Biografi kehidupan Sudjojono atau akrab dipanggil Djon, lengkap dengan kisah cintanya itu dikemas dalam pertunjukkan teatrikal berjudul Pandanwangi dari Sudjojono yang disutradarai oleh Gandung Bondowoso. Dalam durasi sekitar dua jam, Gandung memadukan berbagai disiplin seperti teater, monolog, tari, dan olah-vokal pada pertunjukan yang digelar di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jumat malam, pekan lalu.

Gandung yang juga berperan sebagai Djon muda dan narator, mempersiapkan lakon biografis ini dengan cukup serius. Ia mengetengahkan mozaik-mozaik yang membentuk kisah hidup Djon melalui penggalian arsip visual, audio, catatan, dan kesaksian. Dalam pementasan ini, penonton bukan hanya dapat menikmati karya-karya lukisan Sudjojono yang terpampang sebagai latar belakang panggung, melainkan juga rekaman suara aslinya.

Sesuai dengan judulnya, plot besar pertunjukan ini adalah perjalanan kisah kasih Rose dan Djon. Namun untuk menjaga objektivitas muatan biografis, sejumlah interaksi Djon dengan sumber-sumber lain juga dimunculkan. Di antaranya pemunculan sosok-sosok yang dijadikan objek lukisan Djon, seperti Jajang C. Noer. ''Itu saya, itu, itu gambar saya,''kata Jajang dari atas panggung, sembari menunjuk sebuah lukisan karya Djon yang terpampang di tirai belakang panggung. Ceritanya, dulu Jajang bertetangga dengan Djon di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Jajang tahu betul kalau Djon itu pelukis hebat. Ia rela menyerahkan tabungannya Rp10 ribu agar bisa dilukis Djon.

Dari fragmen ini, selain Jajang, tampil pula empat anak Djon yang diperankan oleh cucu-cucu Djon dan Kemal Abdul Hamid (diperankan oleh aktor senior, Joseph Ginting), pacar Pandanwangi, putri bungsu Djon. Mereka bertutur mengenai tantangan kesabaran yang harus dilalui, berdiri seharian, ketika menjadi objek lukisan Djon. Tak mengherankan bila sebagian besar hasil lukisan mereka adalah sosok dengan wajah cemberut.

Djon memang terbiasa membuat lukisan dalam waktu lama. Lukisan My Queen, misalnya, yang mulai ia buat pada 1956 dan menjadi representasi awal hubungan Rose-Sudojono, selesai 15 tahun kemudian. Pada tiap lukisan itu, Djon selalu membubuhkan puisi.

Dalam riwayat kepelukisannya, Djon banyak mengkritik gaya lukisan mooi indie yang hanya melukis pemandangan dan manusia cantik dalam bentuk sempurna, yang hidup dalam citraannya sendiri. ''Djon berpendapat lukisan semacam itu memang cantik, tapi tidak berjiwa karena lepas dari kehidupan sebenarnya,'' tutur Gandung dalam narasinya.

Pada 1946 Djon membuat kredo ''jiwa ketok''. Merujuk pada pengertian "jiwa yang kelihatan" ; "kecantikan" jiwa yang hadir tanpa mempercantik wajah modelnya. Atas kiprah dan pemikirannya itu, Djon dianugerahi gelar Bapak Seni Lukis Indonesia Baru oleh Trisno Sumardjo, pengamat seni yang juga seniman.

Gandung mempersiapkan pementasan ini dalam kurun waktu cukup lama, sembilan bulan untuk riset dan penulisan, dan dua bulan untuk latihan. Riset dan penulisan membutuhkan waktu paling lama. Pada tahap riset, Gandung mewawancarai berbagai narasumber yang pernah bersentuhan langsung dengan Sudjojono. Terutama keluarga Sudjojono.

Gandung juga membaca berbagai buku yang memuat tentang Sudjojono, membaca naskah-naskah pidatonya dan mendengarkan suara Sudjojono dalam rekaman kaset. ''Ini naskah sejarah, saya tidak boleh ngarang, tidak boleh berimajinasi,'' kata Gandung seusai pentas.

Sebagian aktor masih amatir. Anak-anak Djon semasa kecil dan Maya yang menjadi Rose muda misalnya. ''Kalau saya menggunakan orang-orang yang bersentuhan langsung dengan Sudjojono akan lebih afdol," Gandung menjelaskan. Untuk mengimbangi akting aktor amatir itu, ia menghadirkan aktor kawakan seperti Jajang C. Noer dan Joseph Ginting."Supaya nuansa teaternya lebih muncul,"ujarnya.

Kisah kasih Rose dan Djon dalam lakon ini menjadi materi paling lengkap. Selain sumber-sumber sekunder, Gandung merujuk langsung pada cerita Rose Pandanwangi yang kini berusia 83 tahun. Rose dan Djon pertama kali bertemu di Armsterdam pada 1951. Saat itu Rose adalah penyanyi seriosa yang sedang belajar vokal, sedang Djon pelukis kenamaan Indonesia yang sedang melakukan lawatan kebudayaan.

Sepulang dari Belanda, tiga tahun kemudian, Rose dan Djon dipertemukan kembali pada konferensi perdamaian sedunia di Jakarta. Seorang yang mengenal mereka menyarankan Rose untuk bertandang ke galeri lukisan Sudojono di Yogyakarta. Sejak itu Rose rajin mengunjungi Djon. Rose menyaksikan langsung, banyak lukisan Djon yang tak selesai dibuat. Ia pun menyarankan agar Djon menyelesaikan lukisan-lukisan tersebut. ''Jika begini terus, kau tidak akan dikenang,'' kata Rose muda dalam pentas.

Rupanya, dukungan Rose memberikan semangat baru pada Djon. Sejak saat itu wajah Rose banyak nongol dalam lukisan-lukisan Djon. Sejak itu pula cinta Rose dan Djon tumbuh bersemi. Setelah pementasan, kepada GATRARose bercerita mengenai cara Djon mengungkapkan isi hatinya. Yaitu dalam bentuk pernyataan retorik; ''Kamu tahu kan kalau saya cinta?" Rose menirukan ucapan Djon.

Singkat cerita, mereka lantas jadi sepasang kekasih. Rose bercerai dari suaminya pada 1958. Beberapa bulan kemudian Djon menceraikan istrinya, Mia Bustam. Mereka menikah setahun berikutnya, saat Djon berusia 46 tahun sedangkan Rose 30 tahun. ''Setelah lama melalui banyak rintangan, kami baru bisa memutuskan dengan ikhlas bahwa untuk menempuh jalan bersama,'' kata Rose mengenang.

Rose mengabadikan kisah cintanya bersama lukisan-lukisan karya Djon di museum di Cirendeu (semula di Pasar Minggu). Termasuk surat-surat cinta Djon untuk Rose. Salah satu surat yang menggambarkan betapa abadi cinta Djon-Rose, dibacakan oleh narator di penghujung pentas.

"....walaupun topan membelah kapal dan memukul berkeping-keping, saya masih merasa tidak sendirian. Bahkan sampai kematian di dasar laut pun kita tetap bersama dengan pelukan lengan-lengan erat kita yang abadi. Sebuah cinta dua seniman yang tidak pernah akan hilang. Ya, ya, Rose. Cinta seperti itu sangat hebat. Badai bisa menghilangkan, memaksakan dan meremukkan tubuh ini. Tapi cinta tidak. Itu adalah jiwa cinta yang besar, tidak mengenal kehilangan....''

Pementasan ini menjadi bagian dari rangkaian acara memperingati seabad pelukis Sudojono yang digelar sepanjang 2013. Acara lain adalah pameran karya-karya Sudjojono, pembacaan surat-surat cinta dan diskusi. Rangkaian acara ini selenggarakan di berbagai wilayah seperti Jakarta, Yogyakarta, Bali, dan bahkan hingga di Singapura. 

No comments:

Post a Comment