Saturday, February 6, 2016

Sutradara Teater Kubur, Dindon WS: Kritik Globalisasi ke India (Teater Kubur Goes to India #2)

Seperti Radhar Panca Dahana di Teater Kosong dan Harris Priadi Bah di Teater Kami, nama Dindon WS begitu melekat pada eksistensi Teater Kubur. Pria kelahiran Jakarta, 10 Agustus 1960, ini memulai Teater Kubur dari pertunjukkan ''Sandiwara Dalam Sandiwara'' yang mentas di acara 17 Agustusan pada 1982. Sejak itu, dan setelah Teater Kubur berdiri satu tahun setelahnya, sutradara bernama asli Wahyudin Sukarja yang akrab dipanggil Dindon ini memberikan sentuhan artistik yang kuat dalam lakon-lakon yang dibawakan kelompoknya.

Untuk keperluan pentas di 11th International Theatre Festival, India, 26-30 Januari 2016, Dindon mengaku tidak terlalu sibuk. Ia tinggal mematangkan aksi pentas yang telah ada dan mengubah artistik panggung dengan memunculkan atmosfer keindonesiaan lewat idiom bambu. Usai latihan terakhir lakon On-Off (Rumah Bolong) di kompleks Taman Pemakaman Umum Rawabunga, Jatinegara, Jakarta Timur, Dindon menyempatkan diri melayani wawancara saya. Berikut petikannya:

Bagaimana ceritanya hingga punya kesempatan ikut kompetisi di India?
Kami diundang. Kebetulan pemerintah punya dana kebudayaan untuk diplomasi. Ada progres bagus. Mereka (pemerintah) sudah lima kali mengundang kami, baru kali ini saya mau. Biasanya mereka ngundang tidak ada duitnya, kita tidak bisa jalan. Karena nyari-nyari duit, ya, malu juga.


Seperti apa persiapan untuk pentas di India? 
Latihan tiap hari. Karena lakon ini ''sudah jadi'', persiapan paling tidak dua bulan. Kalau peralatan sebagian besar banyak di sana. Seperti bambu untuk artistik, sudah ada di sana. Kostum disiapkan di sini.

Apa bagian dari globalisi yang hendak diperiksa lewat naskah ini? 
Ini lebih tentang kondisi Indonesia. Rumah sebagai negeri di era globalisasi, semua terbuka. Semua. Kalau kita tidak sikapi dengan kritis, akan hancur. Banyak nilai-nilai yang hilang. Naskah asli saya yang bikin. Ini sebetulnya pengalaman riset di daerah. Saya banyak menemukan permasalahan di sana; tanah ulayat, pergeseran nilai dan budaya. Begitu pintu dibuka, tantangannya adalah kesadaran kritis. Kalau tidak kita akan habis. Globalisasi tidak perlu disesali, tidak bisa dicegah. Asal disikapi dengan menempatkan diri, ya harus kritis itu. Masih adakah budaya kritis kita sehingga kita tidak kehilangan pakaian (identitas asal).

Ada penyesuaian atau perubahan penting naskah ini untuk keperluan pentas di India? 
India juga sama persoalannya, nasionalisme juga. Bahkan lebih dulu. Ia memiliki trauma perang setelah dijajah Ingris. Sama juga, mencoba membangkitkan nasionalismenya, dengan bangga, dengan hasil budaya mereka.

Akan menggunakan bahasa Indonesia dalam dialog? 
Kita harus bangga menyuarakan dan berbahasa Indonesia. Bahasa adalah salah satu identitas. Waktu di Jepang dulu, kami bawakan On-Off dalam bahasa Indonesia, yang lantas diterjemahkan oleh panitia ke dalam Jepang. Untuk di India ini, saya tidak tahu.

Teater Kubur sudah lebih dari 30 tahun. Bagaimana strategi kaderisasinya? 
Keluarga besar kita sudah lebih dari 40 orang. Kebanyakan anggota lama. Generasi baru juga banyak yang sudah kita latih. Anggota kita berangkat dari sini, kemudian menyebar ke mana-mana. Tempat ini tempat saya bermain waktu kecil. Karena tempatnya di kuburan, makanya saya namakan Teater Kubur. Kita tidak ada hambatan soal kaderisasi. Yang muda dan yang tua harus yakin. Basic saya seni, dan harus melatih orang-orang untuk seni.




No comments:

Post a Comment