Thursday, March 19, 2015

Cinderella Sepanjang Masa*

CINDERELLA
Sutradara: Kenneth Branagh
Pemain: Lily James, Richard Madden, Cate Blanchett 
Produksi: Disney, 2015


Setelah sukses dalam bentuk animasi 65 tahun lalu, lakon Cinderella bangkit kembali dalam sajian live-action. Digagas sutradara Shakespearean dengan visual meriah.

Menjelang pukul dua belas malam, satu per satu personel kereta kencana yang membawa Cinderella pulang dari istana, kembali ke wujud semula. Dua sais mulai berekor kadal, empat kuda mulai berkuping tikus, dan mulut kusir berubah menjadi moncong angsa. Tentu saja Cinderella panik luar biasa. Ia tak ingin penyamaran putri abu menjadi putri cantik jelita terbongkar. Tak jauh di belakang mereka, serombongan tentara kerajaan terus mengejar demi memperoleh identitas Cinderella yang kadung membuat Pangeran Kit jatuh hati.

Disney kembali menyuguhkan dongeng klasik sepanjang masa, Cinderella, dengan judul sama. Jika versi sebelumnya yang dibuat pada 1950 berbentuk animasi, kali ini Cinderella disajikan dalam bentuk live-action berdurasi 112 menit yang dibintangi oleh Lily James dan Richard Madden. Sutradaranya adalah Kenneth Branagh.

Branagh terkenal sebagai sutradara dan aktor yang doyan mengadaptasi karya-karya William Shakespeare ke layar lebar. Sebut saja; Henry V (1989), Much Ado About Nothing (1993), Othello (1995), Hamlet (1996), Love Labour's Lost (2000), dan As You Like It (2006). Lewat karya-karya Shakespearean itu, ia telah menyabet pelbagai penghargaan. Di antaranya daftar nominasi Academy Award sebagai aktor, aktor pendukung, sutradara, penulis naskah, dan film pendek.

Seperti nasib Cinderella, perjalanan dongeng klasik ini menjelajah waktu dengan sukses dan akhir yang membahagiakan. Istilah "dongeng peri"-nya: lived happily ever after. Cinderella, yang menjadi dongeng dari generasi ke generasi, ini ditulis oleh Charles Perrault pada 1697 dan telah diadaptasi dalam berbagai bentuk seperti opera, balet, teater, musik, dan film.

Sebagai karya film, Cinderella pertama kali diadaptasi oleh Georges Melies di Prancis pada 1899 dengan judul Cendrillon. Selepas itu, puluhan film dengan tema atau judul yang sama menyusul. Termasuk animasi klasik rilisan Disney pada 1950, Cinderella, dan terakhir, A Cinderella Story yang dibintangi Hilary Duff dan Chad Michael Murray pada 2004, hingga menjadi salah satu elemen racikan dongeng dalam Into The Woods (2014) --film drama fantasi-musikal dengan sutradara Rob Marshall. 

Pengaruh Cinderella juga terekam pada hampir tiap kepala anak perempuan di dunia selama berabad-abad. Mereka tumbuh dan berkembang bersama karakter Cinderella yang baik hati, polos, dan teraniaya. Dus, terciptalah mitos datangnya pangeran tampan berkuda yang menyelamatkan sang gadis dari nasib buruk. Itu kemudian dikritik habis oleh Collete Dowling sebagai The Cinderella Complex; gagasan bahwa perempuan cantik, anggun, pekerja keras, difitnah masyarakat, tapi tidak mampu mengubah nasibnya sendiri melainkan harus menunggu pertolongan pangeran tampan.

Pada 1950, animasi klasik Cinderella menguras biaya produksi sebanyak US$ 3 juta. Tapi perjuangan menyuguhkan mimpi hidup susah dan dipinang pangeran itu juga meraup laba berkali-kali lipat, lebih dari US$ 34 juta, dan masih terus diputar hingga kini, setelah 65 tahun kemudian.

Live-action Cinderella versi Branagh dibuat dengan nuansa klasik yang glamor. Ia tak hanya membangun kembali arsitektur Eropa abad ke-19 dengan penuh warna pada layar bioskop, melainkan juga memamerkan parade elaborasi kostum cantik dalam adegan pesta dansa buah karya desainer Sandy Powell.

Powell telah malang melintang menggagas kostum berbagai film. Di antaranya Far From Heaven dan The Crying Game. Termasuk tiga film yang mengantarnya menyabet Piala Oscar, yaitu The Young Victoria, Shakespeare in Love, dan The Aviator.

Dalam Cinderella versi Branagh, Powell mendesain kostum Ibu Peri; sebuah gaun putih bersayap perak terbuat dari 131 meter kain dan dilengkapi dengan 10.000 kristal Swarovski dan 400 buah lampu LED. Ratusan lampu ini akan menyala ketika Ibu Peri membaca mantra.

Dengan parade meriah itu, mampukah Branagh mengulang sukses manis Cinderella versi animasi klasik? Atau ia butuh bantuan mantra-mantra dan kereta kencana?We'll see.



* bisa dilihat pula di Majalah Gatra edisi xxi Maret 2015. Artikel di web ini lebih lengkap dengan tambahan teori Cinderella Complex

No comments:

Post a Comment