Sunday, August 5, 2018

Dari autis Indonesia untuk Rohingya


-->
Adinda Mandita Praharsacitta yang menyandang autisme menuangkan kisah pilu pengungsi Rohingya mencari suaka dalam bentuk desain kerudung untuk Jakarta Modest Fashion Week 2018.

Foto oleh Hayati Nupus
Hayati Nupus
JAKARTA (AA) – Adinda Mandita Praharsacitta, 18 tahun, menyodorkan hasil gambarnya. Berupa serombongan manusia memboyong seluruh harta bendanya: uang, pakaian, makanan. Juga anak-anak yang tak berhenti menangis.
“Mereka warga Rohingya, mau mengungsi ke luar angkasa,” kata Dita, sapaan akrab Adinda Mandita Praharsacitta, Rabu lalu.
Dalam imajinasi Dita yang menyandang autisme, luar angkasa lebih menjanjikan kedamaian ketimbang manusia-manusia di dunia. Di dunia, warga etnis Rohingya dianiaya dan diusir dari negaranya di Myanmar.
Perang dan pengusiran semacam itu, kata Dita, juga dialami warga Afghanistan dan Palestina.
Dita kembali menyodorkan hasil gambar berikutnya, dengan tema masih terkait. Jika gambar pertama itu berupa eksodus manusia, gambar lainnya berupa negeri yang hancur berantakan akibat perang. Dita menggambarkan senjata laras panjang, bom, bendera robek, baju bolong-bolong, ambulans, rumah sakit, tangan-tangan yang saling menggenggam, dan teriakan minta tolong.
Dita melengkapi kedua gambar ini dengan gambar lain berisi 12 anak ayam yang kehilangan induknya.

“Ada yang orang tuanya dibunuh, seperti anak-anak Rohingya,” ungkap Dita.
Ketiga gambar ini diaplikasikan dalam bentuk fashion kerudung untuk perhelatan fashion tingkat dunia Jakarta Modest Fashion Week 2018.

Korban perundungan
Saat lahir 6 Mei 2000 lalu, tak tampak kekurangan apapun dalam fisik Dita. Dia lahir lengkap, dari ujung rambut hingga ujung kuku, seperti anak lainnya.
Hal aneh itu mulai Dian Parmitasari, ibu Dita, rasakan saat anaknya berusia 6 bulan. Pandangan Dita tak fokus, saat menyusu pun perhatiannya dengan mudah teralihkan.
Namun Hendro Prastowo, ayah Dita, menampik hal itu. Hendro berpendapat jika itu kekhawatiran Dian saja.
Seiring bertambahnya usia, kian tampak jika perkembangan anak bungsu dari tiga bersaudara itu terlambat. Dita baru bisa melafalkan nama di usia 1,5 tahun, saat anak-anak lain sudah pandai berceloteh. Cara Dita berjalan pun tidak fokus. Dia sering menabrak tembok, kursi, atau kaca, namun tak menangis ketika terjatuh.
Kelambatan itu kian terasa saat Dita memasuki bangku sekolah. Dita sulit berkonsentrasi, hiperaktif, terlalu cuek, hingga tak naik kelas.
Akibatnya, di sekolah Dita kerap menjadi objek perundungan teman-temannya, bahkan guru-gurunya.
“Malahan ada guru yang merobek hasil gambar Dita, karena tidak sesuai dengan yang diinginkan,” keluh Dian.
Tak cocok dengan sekolah yang satu, Dita berpindah ke sekolah lainnya. Selama menempuh Sekolah Dasar, Dita tercatat tiga kali berganti sekolah.
“Ini perjalanan panjang, tapi saya dan Dita harus lalui,” tutur Dian.
Dian mengadukan kelambatan perkembangan anaknya pada pakar pendidikan Arief Rachman. Arief berkata, untuk anak seperti Dita, perlu sekolah yang dapat mengembangkan kreatifitas dan keahliannya.
Lantas Dita berpindah sekolah ke Garuda Cendekia, yang didirikan Arief Rachman bersama pakar pendidikan Doued Joesoef. Di sekolah baru itu, Dita yang seharusnya duduk di bangku kelas VIII, memulai kembali ke bangku kelas VII.
Sekolah baru itu lebih ramah ketimbang sekolah-sekolah yang pernah Dita enyam sebelumnya. Dita makin kreatif, Dian pun tak perlu lagi dipusingkan dengan perundungan seperti yang terjadi di sekolah sebelumnya.
Dita paling berbakat soal gambar. Hasil gambarnya berkarakter, seputar satwa yang dikembangkan dengan imajinasinya, dan makhluk luar angkasa. Dian juga menyediakan guru les seputar animasi dan melukis kanvas, agar bakat Dita berkembang.
Seiring kian terasahnya keahlian Dita menggambar, dia menerbitkan buku komik. Dari tujuh komik, enam di antaranya diterbitkan sendiri. Komik pertama berjudul Permusuhan dengan T-Rex, yang dia buat di usia 13 tahun. Buku keduanya berjudul The Invasion of Lizard Alien, buku ketiga dan keempat berjudul Rex dan Spoty, serta buku keenam hasil kolaborasi dengan penyandang disabilitas lain berjudul My Life, My Dream. Sedang buku terakhir, Mewarnai Monster Fantasi, diterbitkan oleh Penerbit Bestari, Agustus 2017 lalu.

Saat ini Dita tengah menyusun buku komik dengan tokoh bernama Luigi, mumi peninggalan Mesir kuno berkostum hitam-putih. Ceritanya, Luigi yang baik hati suka malas mandi. Akibatnya dia sering dikejar lalat-lalat.
Rencananya, komik Luigi akan terbit akhir tahun ini.
Dian juga mengaplikasikan hasil gambar Dita dalam beragam media. Stiker, tempat pensil, bantal, kaos, jaket, payung, tas dan kerudung. Dengan merk Mandita, Dian memasarkan produk-produk hasil desain Dita ke berbagai pameran.
“Saya ingin dia mandiri, dan menginspirasi banyak orang kalau anak autis juga bisa berkembang dan hidup mandiri,” kata Dian.
Dita juga beberapa kali menjadi pembicara di berbagai talk show. Meski menyandang autisme, tutur kata Dita tertata.
Dita mengaku bercita-cita menjadi animator. Tahun ini dia naik ke kelas XII. Tahun depan, dia akan melanjutkan sekolah ke universitas.

Desain untuk donasi
Dalam Jakarta Modest Fashion Week yang digelar 26-29 Juli 2018 di Jakarta, kerudung kisah pengungsi hasil desain Dita dipamerkan dengan merk Dhiendanasrul, bersama sederet produk fashion hasil rancangan Dhienda Nasrul lainnya.
Pameran ini juga melibatkan karya fashion difabel dari Turki dan Jerman. Pernah digelar di Istanbul, London, dan Dubai, ini kali pertama Modest Fashion Week melibatkan kelompok difabel.
Dhienda Nasrul, desainer fashion yang menggunakan karya Dita mengatakan terdapat 15 persen jumlah difabel dari seluruh populasi di dunia. Sebagian besarnya merupakan perempuan.
Dhienda mengakui, tak mudah menemukan difabel dengan keahlian yang sudah ‘jadi’ seperti Dita. 
“Karya Dita memiliki pesan kuat, setiap hasil desainnya memiliki makna,” kata perempuan berdarah Aceh ini.
Dhiendana menengarai jika anak difabel sebetulnya memiliki bakat. Bakat itu yang perlu dikembangkan.
Selain Dita, Dhienda juga menggunakan hasil desain dua orang difabel lainnya. Nantinya, 10 persen hasil penjualan produk para difabel itu akan disumbangkan ke Yayasan Selasih Indonesia, yayasan yang membantu pencari suaka dari berbagai negara yang hidupnya terkatung-katung di wilayah Jakarta Barat dan tak memperoleh bantuan LSM.
“Dengan kekurangan yang ada, mereka tetap dapat membantu sesama, membantu pengungsi,” kata Dhienda.

No comments:

Post a Comment