Thursday, June 4, 2015

Doea Titik Lemah Film Tentara*


Doea Tanda Cinta
Sutradara :Rick Soerafani
Pemeran : Fedi Nuril, Rendy Kjaernett, Tika Bravani
Produksi : Induk Koperasi TNI Angkatan Darat bekerja sama dengan Benoa dan Cinema Delapan, Mei 2015

Sumber Foto: http://awanjakarta.com/berita-terkini/film-terbaru/doea-tanda-cinta-jadi-film-perjuangan-cinta-di-akademi-militer/


Ketika disodorkan undangan untuk menonton film Doea Tanda Cinta, saya hanya melengos. Film garapan lembaga tentu mengusung misi personal yang belum tentu ada kaitannya secara langsung dengan publik. Atau bahkan sarat dengan kepentingan personal. Apalagi dibikin oleh rumah produksi yang tak memiliki nama besar, dengan produser dan sutradara tak terlalu dikenal.

Tiga bintang utama film ini bagi saya tak terlalu menarik dan bukan aktor moncer. Fedi Nuril memiliki nama besar, terutama sejak perannya dalam film 5 cm. Film 5 cm diangkat dari novel populer dan meninggalkan kesan menarik bagi banyak pembaca, terutama yang suka berpetualang. Film ini digarap ketika menjelajahi alam bebas ala backpacker menjadi tren di Indonesia. Meski begitu akting Fedi tak bagus-bagus amat. Tentu tak bisa dibandingkan dengan Reza Rahardian yang selalu berakting maksimal.

Salah satu pemeran lainnya adalah Rendy Kjaernett. Ia mantan bintang sinetron yang beruntung bisa memasuki dunia layar lebar meski kiprahnya bisa dikatakan tak cemerlang.

Pemeran film dan sinetron memiliki strata sosial berbeda dan jauh, sejauh langit dan bumi. Pemeran film mengandalkan kemampuan akting sebagai modal utama, sementara kemolekan fisik nomor berikutnya. Sedang dalam sinetron berlaku sebaliknya kemolekan fisik kriteria utama meski kemampuan akting tidak bagus-bagus amat.

Selain itu film ini juga minim publikasi. Media yang mengulas film ini bisa dihitung dengan jari. Film bagus umumnya memperoleh perhatian media dengan sangat besar. Perhatian media bisa menjadi cara praktis untuk mengetahui apakah film komersial terekomendasi untuk ditonton atau tidak.

Film Tjokroaminoto misalnya, menguras perhatian media jauh sebelum syuting dilakukan. Jika perbandingannya tidak setara karena Tjokroaminoto film biopik, baiklah saya ambil contoh lain. The Raid yang mengusung Gareth Evans, tokoh baru dalam dunia film, bahkan dalam seni peran, telah mengalihkan perhatian banyak pemerhati film dunia. Film ini memperoleh perhatian banyak festival film dunia, salah satunya Festival Film Toronto dan menjadi box office di Amerika pada seri keduanya.

Sialnya titah redaktur mengamanatkan saya untuk menonton film ini dan membuat ulasannya. Baiklah, sesekali nonton film “biasa” untuk mempertegas apa saja yang membedakan “biasa” dan “tak biasa”. Akhirnya saya datangi juga bioskop yang telah diramaikan oleh penonton-penonton berseragam loreng.

Sebetulnya ada banyak hal yang bisa dievaluasi dalam film ini. Tapi biar tampak kompak dengan judulnya, saya ambil dari doea sisi saja, dari sisi plot dan posisi film ini di tengah film menyoal kehidupan tentara.


*****

Akhirnya pertahanan Mahesa (Rendy Kjaernett) runtuh juga. Pada salah satu sesi latihan di hutan, kakinya menginjak batu rapuh. Tubuh yang sudah sempoyongan itu kemudian terpeleset, jatuh ke sungai dan pingsan.

Bagi anak kota dan putra petinggi militer seperti Mahesa, kehidupan di rumah dan di pendidikan Akademi Militer (Akmil) tentu berbeda. Di rumah ia dikelilingi kehidupan mewah dan hedonis. Apapun yang ia inginkan bisa dengan mudah dicapai dengan materi dan embel2 pangkat bapaknya. Sementara di Akmil sangat menyengsarakan. Bocah kebluk ini harus apel pagi, hidup disiplin dan menghadapi berbagai latihan fisik yang keras khas militer. Pola hidup begitu menyiksanya secara fisik juga mental.

Berkebalikan dengan Mahesa, Bagus (Fedi Nuril) justru lahir dan tumbuh di tengah keluarga sederhana. Bersekolah tentara sudah menjadi impiannya sejak kecil. Di Akmil itulah ia dan Mahesa dipertemukan. Mereka menjadi karib dan bahkan terjebak cinta pada perempuan yang sama. Perempuan itu adalah Laras (Tika Bravani), gadis asal Magelang yang baru lulus SMA.

Suka duka menempuh pendidikan di sekolah militer, hingga lulus dan kemudian terjun ke medan operasi dalam satuan Kopassus ini dikemas dalam film berdurasi 90 menit ini. Penggarapnya sutradara Rick Soerafani dengan penulis skenario Jujur Prananto. Rick adalah sutradara pendatang baru dalam dunia film. Sebelumnya ia telah menyutradarai belasan video iklan. Sementara Jujur adalah Cerpenis asal Salatiga yang karyanya bertebaran di media nasional. Debutnya dalam dunia film ia mulai dengan menulis skenario Ada Apa dengan Cinta berlanjut Petualangan Sherina.

Di Indonesia, film-film menyoal kehidupan tentara bisa dibilang sedikit. Beberapa diantaranya adalah Teror di Sulawesi Selatan, Madju Tak Gentar, Tujuh Wanita dalam Tugas Rahasia, Enam Djam di Jogja, hingga trilogi Merah Putih. Itu pun umumnya mengupas soal revolusi pasca kemerdekaan dengan tahun produksi 1964 hingga 1980an--kecuali trilogi Merah Putih yang diproduksi 2009, 2010 dan 2011. Film-film ini menjadi oase bagi penggemar film bertemakan kehidupan tentara di tengah semaraknya dominasi film bertema cinta dan horor.

Meski menyoal kehidupan tentara, Doea Tanda Cinta lebih tergolong genre laga-drama. Tak heran bila film ini lebih didominasi cerita cinta dan secuil kisah para tentara berjibaku di medan operasi. Pada penghujung film, Bagus dan Mahesa ditugaskan untuk menyelamatkan sandera, seorang profesor LIPI, dari tangan segerombol penjahat yang dipimpin John Reno. Sayangnya pertarungan di medan operasi itu hanya berdurasi beberapa menit saja, amat minim untuk ukuran genre film laga. Apalagi dengan adegan gerilya dan baku tembak yang tidak mencekam, tak cukup untuk memacu adrenalin penggemar film laga.

Dari sisi plot, film ini tak menawarkan hal baru. Diawali dengan adegan tembak-menembak dalam operasi militer penyelamatan sandera di salah satu hutan di Flores, Nusa Tenggara Timur. Alur kemudian mundur ke awal cerita, dan melaju secara linier. Sayangnya film ini tak banyak memberikan kejutan, tiap perkembangan alurnya sangat mudah ditebak. Misalnya siapa pemenang diantara cinta segitiga, tokoh mana yang tertembak mati di medan operasi, hingga berhasil atau tidaknya upaya penyelamatan sandera. Satu-satunya kejutan yang dimunculkan adalah ketika Bagus melompat dari helikopter yang siap tinggal landas demi membalas kematian sahabatnya. Meski juga alur ini tampak lucu, karena logikanya tak akan ada tentara yang membiarkan tentara lainnya terjun sendirian menghadapi sekelompok penjahat.

*versi lain dari ulasan ini ada di Majalah GATRA

No comments:

Post a Comment