Thursday, August 23, 2012

Ini jaman budaya virtual!


Tak usah heran bila melihat pelajar sekarang tak banyak membawa buku ke sekolah. Sebab “buku” itu sudah mereka bawa, bukan dalam bentuk kertas, tapi dalam wujud soft file tersimpan di flashdisk atau laptop yang mereka unduh lewat e-learning.
Pergeseran budaya dari tradisional menjadi modern mau tak mau memberikan tawaran menarik terhadap sistem dan metode pembelajaran. Pergeseran budaya ini salah satunya ditandai dengan semakin maraknya penggunaan peralatan elektronik berbasis IT (Information Technology) yang bisaa disebut budaya virtual. E-learning atau pembelajaran virtual merupakan wujud nyata produk budaya virtual itu.
E-learning berasal dari dua kata, yaitu e atau elektronika dan learning atau pembelajaran. Jadi E-learning berarti proses pembelajaran menggunakan jasa bantuan perangkat elektronika semacam audio, video, maupun perangkat komputer. Meski terhitung relatif baru, sudah banyak sekolah di Indonesia yang menggunakan teknologi pembelajaran ini.  
Ari Budiyanto, koordinator lab. komputer SD Muhammadiyah Condong Catur mengatakan tujuan penggunaan E-learning adalah demi efektifitas pembelajaran. “Untuk anak usia SD, bisaanya akan lebih tertarik pada fasilitas-fasilitas seperti audio-visual, soft-edu, dan sebagainya yang bersifat menarik dan interaktif. Jadi e-learning tak hanya untuk mewarnai proses pembelajaran, tapi juga sebagai rekreasi pendidikan,” demikian papar Ari.
Sependapat dengan Ari, Irvan Andi Wiranata, Administrator jaringan komputer SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta mengatakan pentingnya penggunaan e-learning untuk proses pembelajaran. “SMK Muhammadiyah 3 kan sudah menjadi Sekolah Berstandar Internasional (SBI), jadi salah satu kelebihan proses pembelajarannya kami menggunakan e-learning,” terang Irvan. Apalagi sekarang, tambah Irvan, SMK Muhammadiyah 3 dipercaya mengelola ICT (Information and Comunication Technology) center Yogyakarta.

Belajar Kapan Saja, Di Mana Saja
Ada banyak situs e-learning yang terpercaya menyediakan materi-materi pendidikan umum ataupun permatapelajaran. Sebut saja Sekola Maya (sekolahmaya.com, sekolahmaya.net, dan sekolahmaya.org) yang dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dari Depdiknas. Situs ini menjadi situs percontohan yang diujicobakan sebagai alternatif pembelajaran untuk paket A, paket B atau paket C.
Masyarakat Yogyakarta memiliki portal Jogja Learning Gateway (JLG) dan Jogja Virtual School (JPS) bernama Jogjabelajar.org yang kini dikelola BTKP (Badan Teknologi Komunikasi dan Pembelajaran). Para pendidik dari berbagai sekolah memberikan kontribusi dengan memperkaya materi pembelajaran yang diupload di situs ini.
Selain Sekola Maya dan Jogjabelajar.org, ada banyak situs e-learning baik dari dalam maupun dari luar negeri. Situs-situs yang banyak dikunjungi di antaranya adalah ilmukomputer.com, e-edukasi.net, britishcounsil.org, ristek-encyclopedia.org, maupun Wikipedia.org yang sudah diakui eksistensinya.
Siswa-siswi SD Muhammadiyah Condong Catur maupun SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta sebetulnya tak perlu banyak membuka situs semacam itu. Sekolah mereka telah menyediakan sendiri e-learning untuk efektifitas dan efisiensi proses pembelajaran.
“Namanya http://www.belajar.muganet.ac.id. Sebetulnya konsepnya sudah 1 tahun lebih. Guru-guru membuat materi pembelajaran dalam bentuk digital dan diupload ke e-learning,” tutur Irvan menceritakan situs e-learning milik SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta. Sedang situs SD Muhammadiyah Condong Catur beralamat di http://www/sdmuhcc.com.
Prosesnya guru membuat lesson plan dan materi pembelajaran dalam bentuk digital dan diupload ke e-learning sekolah. Selain itu materi-materi lain yang dibutuhkan didownload dari banyak situs untuk melengkapi materi yang ada. “Materi-materi tersebut dipilih dan disesuaikan dulu dengan siswa SD. Materi yang layak, kita unduh dan dikelompokkan sesuai bidang pelajaran,” ujar Ari.
Pada kegiatan belajar mengajar, siswa mengakses langsung materi pembelajaran dari e-learning sekolah. “Sebetulnya e-learning itu sebagai pusat sumber belajar dan virtual school. Jadi e-learning untuk tempat belajar, latihan, dll,” tutur Irvan. Sebagai bentuk dokumentasi, siswa bisa mengunduh materi-materi pembelajaran di e-learning dan disimpan dalam flashdisk atau laptop. Selain itu siswa bisa diberi tugas searching materi tertentu dengan menyisipkan sumbernya.
Selain materi pembelajaran, ujian sekolah terkadang dilakukan lewat e-learning. Siswa mengisi soal yang ada di e-learning, setelah selesai komputer langsung memproses dan nilai langsung bisa tampil. “Hanya saja untuk ujian online waktunya dibatasi dan soal dibuat secara acak, jadi antara siswa satu dengan yang lain soal yang diberikan tidak sama,” Irvan menjelaskan. Cara ini tentu lebih efisien karena cepat dan bisa dilakukan di mana saja.
Dalam prakteknya, kerap ada perbedaan antara materi yang diunduh dari internet dan materi sekolah. “Solusinya kita kolaborasikan saja. Karena kalau kerangka umum sebetulnya sama, hanya kendala teknisnya saja yang berbeda,” ujar Ari. Perbedaan itu, lanjut Ari, justru memperkaya metode pembelajaran.

Melengkapi Database Lewat E-Learning Sekolah
Jika selama ini perannya hanya sebatas penugasan dan interaksi dengan siswa dalam bentuk pengumpulan tugas, adanya situs e-learning sekolah, memungkinkan sekolah membangun dan melengkapi sendiri database yang diperlukan untuk dokumentasi sekolah dan proses pembelajaran. “Setiap sekolah sebetulnya punya data pembelajaran yang luar biasa banyak,” ujar Ari. Maka data-data itu dikumpulkan dalam database yang terintegrasi untuk dikemas di e-learning sekolah.
Materi-materi berupa bahan pembelajaran, film, puzzle, game edukasi, file presentasi, gambar, atau majalah diupload ke e-learning untuk mempermudah siswa dan guru mencari materi pembelajaran. “Segala data yang bisa didigitalkan diupload ke e-learning. Ada sekitar 400an data,” terang Ari. Jika ada siswa atau guru yang perlu informasi tertentu, mereka  tinggal mensearchnya di e-learning. Jika materi tersebut tidak ada, misalnya siswa butuh gambar transformer, gambar itu segera dicari di internet dan ditambahkan ke galeri e-learning.
Siswa SD Muhammadiyah Condong Catur memang diarahkan untuk online lewat situs sekolah tersebut. Langkah ini diambil dengan tujuan memfilter informasi yang masuk, “karena tak semua informasi di internet layak untuk anak seusia SD,” jelas Ari.
Selain guru, siswa juga mengupload hasil kegiatan di intranet. Contohnya siswa membuat puisi dengan tema kemerdekaan. Puisi itu dibuat dalam bentuk power point seindah mungkin, hasilnya nanti diupload di internet. “Pengemasan hasil karya anak justru akan menyuburkan e-learning itu sendiri. Kalau pengguna merasa memiliki, akan ada interaksi,” tutur Ari.

Dimuat di majalah Jogja Education edisi September-Oktober 2009








No comments:

Post a Comment