Friday, August 18, 2017

Generasi Digital Incaran Terorisme


Hasan Cahyono, bukan nama sebenarnya, memiliki gambaran ideal soal sebuah negara. Bagi anak berusia 17 tahun ini, suatu negara akan damai, tentram, dan warganya sejahtera, jika negara tersebut berlandaskan hukum islam. “Negara Islam itu paling ideal, harus ditegakan,” ujarnya, berapi-api. 

Dalam pikiran kanak-kanaknya, negara islam yang ideal contohnya Arab Saudi, Turki, dan negara-negara di Timur Tengah.

Meski rajin mengikuti pengajian bulanan di kampungnya, Hasan beroleh informasi mengenai konsep negara Islam itu bukan dari guru ngajinya. Siswa salah satu sekolah menengah di Jawa Timur ini memperoleh informasi negara ideal islam itu justru dari laman internet.

Saban waktu, di sela-sela aktivitas bersekolah, Hasan rajin mengakses informasi seputar dunia Islam secara online lewat ponselnya. Sebagai generasi digital, ia akrab dengan benda pintar itu. Ia membuka laman-laman tertentu, maupun menggunakan mesin pencari.

Informasi lain yang rajin ia perbarui adalah mengenai perang di Suriah. Hasan melihat perang Suriah adalah perang agama Islam melawan kafir. Sebagai sesama muslim, ia merasa prihatin dengan penderitaan warga muslim Suriah di tengah kecamuk perang. Sampai-sampai anak kecil menjadi korban.

“Mereka terkena bom, tubuhnya penuh darah. Itu saudara kita sesama muslim yang mengalami musibah,” ujarnya.

Sesekali Hasan membagikan informasi yang ia peroleh itu melalui jejaring sosial Facebook. Melalui grup-grup di jejaring sosial itu pula Hasan kerap memperoleh informasi terbaru soal Suriah. Salah satunya lewat grup Save Aleppo.

Hasan hanya satu dari sederet anak-anak digital yang terpapar paham radikalisme melalui internet. Anak digital lainnya adalah IAH (18 tahun), tersangka penyerangan pemuka agama di Gereja Katolik Santo Yosep, Medan, pada Minggu, 28 Agustus 2016. IAH berguru mengenai radikalisme, bahkan terorisme hasil berselancar di dunia maya.

Sementara itu, Sultan Aziyansyah, pelaku teror yang menusuk polisi secara membabi buta di Cikokol, diduga terkait Kelompok Jamaah Anshorut Daulah (JAD) pimpinan Aman Abdurrahman. Meski aksi teror itu dilakukan di usia yang sudah tak lagi kanak, Sultan belajar seluk beluk aksi terror dari media sosial sejak belia. Ia juga menyebarkan ide terorisme melalui blog teach-n-share.

Anak-anak generasi Z yang lahir di rentang tahun 1995-2010 merupakan generasi digital native. Sejak lahir, mereka telah mengenal media elektronik dan terpapar internet, baik melalui personal computer, laptop, maupun ponsel. Kementerian Telekomunikasi dan Informatika menyebutkan terdapat 165 juta nomor aktif di Indonesia. Sebanyak 40 juta diantaranya digunakan oleh anak-anak.

Melalui ponsel, anak-anak dengan mudah mengakses internet. Mereka mengakses permainan maupun media sosial. Mereka mengunggah data pribadi yang dapat dengan mudah diakses siapapun. Melalui media sosial itu pula anak-anak dapat berinteraksi dengan berbagai jenis manusia dari berbagai belahan dunia.

Internet adalah rimba raya yang tak kita ketahui batasnya. Internet bisa berdampak positif, juga berdampak buruk, terutama pada anak. 

Sejumlah situs berisikan pemahaman terorisme misalnya adalah Almustaqbal-net. Situs ini sempat berkembang dengan domain Www.al-mustaqbal.net, namun kemudian diblokir setelah Fachri, pengelolanya ditangkap Densus 88 tahun 2015 lalu.

Situs dengan domain baru itu kini tak dapat diakses, namun situs asal dengan domain Blogspot itu masih tetap ada. Selebihnya, laman bermuatan terorisme tersebar begitu banyak di dunia maya. Dari muatan soal cita-cita khilafah islamiyah, bom bunuh diri, hingga uraian teknis soal bagaimana membuat bom.

Hasil riset Maarif Institute Desember 2015, terdapat 4 dari 100 anak SMA sepakat soal gerakan ISIS dan ide-ide terorisme. Sedang hasil survey Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) Oktober 2010 – Januari 2011 yang diselenggarakan di 100 sekolah menengah di Jakarta, hampir 50% siswa mendukung cara kekerasan dalam menghadapi persoalan moralitas dan konflik keagamaan. Sebanyak 63% siswa mau melibatkan diri dalam tindakan penyegelan rumah ibadah agama lain. Malah belasan pelajar menyetujui aksi bom bunuh diri. 

Anak Target Potensial
Sayangnya tak semua orang tua memiliki kesadaran untuk melindungi anaknya dari bahaya internet. Survey Harris Interaktif yang digelar terhadap 9000 orang tua pengguna internet di Amerika Serikat, Rusia dan Eropa pada Februari  Maret 2012 menyimpulkan hanya 5% orang tua yang melindungi anak mereka dari bahaya internet.

Sepanjang tahun 2016, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menangani 4 kasus anak yang terpapar terorisme dan aliran radikal. Satu di antaranya terpapar muatan terorisme dan gerakan radikal itu dari laman digital.

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Susanto, mengatakan berdasarkan hasil kajiannya, penetrasi terorisme dipengaruhi oleh 4 hal. Pertama sebagai ideologi patronase, anak yang dididik oleh guru radikal, berpotensi kelak menjadi radikal.

Kedua, faktor nasab atau keturunan. Ketiga peer radikalisme, bersumber dari faktor tempat pemicu radikalisme, dan keempat, factor self radicalism. “Banyaknya muatan radikal yang dibaca membuat anak dengan sendirinya menjadi radikal,” kata Susanto.

Anak-anak menjadi target potensial perekrutan demi regenerasi agen terorisme. “Semangatnya potong generasi. Mereka mencari kader pelaku syahid berikutnya,” katanya.

Modusnya bertahap. Pertama, penetrasi ide radikalisme, mengupayakan agar anak tertarik dengan ideologi tersebut. Kedua, begitu tertarik, anak diajak bergabung. “Kalau sudah merasa sama, maka mereka melakukan tindakan,” katanya.

Pengamat terorisme Al Chaidir mengatakan sudah sejak lama kelompok terorisme memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana dakwah dan komunikasi. Berbagai jenis media social mereka gunakan seiring dengan perkembangan teknologi. MIRC, Blackberry Messanger, Whatsapp, Facebook dan Telegram.

“Dulu mereka yakin menggunakan Facebook. Bahrun Naim dakwah melalui itu. Belakangan mereka migrasi ke Telegram. Lebih aman dengan enkripsi tinggi,” katanya.

Selain sebagai sarana komunikasi antar teroris, teknologi digital juga memudahkan mereka untuk melakukan perekrutan anggota baru, termasuk target anggota usia anak. “Anak-anak mudah dibuat penasaran. Ibarat kertas, anak masih putih bersih, belum banyak referensi, lebih mudah diajak,” kata Chaidir.

Demi menggaet anak-anak, para teroris itu melakukan pendekatan lewat gaya hidup remaja. Mereka menggunakan bahasa gaul khas anak muda, atau cara lainnya. “Misanya dengan kalimat, kan malu kalau cowok muslim tak mau berjihad, sambil menggambarkan bidadari 72 orang di surga. Anak mudah terpengaruh,” katanya.

Divisi Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Hamidin Ajiamin mengiyakan jika saat ini anak-anak disasar sebagai target anggota baru teroris. Situasi yang terjadi di Indonesia itu tak lepas dari situasi global. Beberapa waktu lalu pemerintah Irak menemukan kurikulum sekolah dengan muatan terorisme.  “Isinya pemaknaan jihad ala ISIS,” katanya.

Jihad ala terorisme itu juga mereka dakwahkan lewat laman digital. Tahun 2014 lalu, BNPT mengidentifikasi sebanyak 9800 situs dengan muatan terorisme.

Dulu, kata Hamidin, media digital hanya digunakan sebagai alat bantu penetrasi ajaran terorisme. Begitu sudah satu pemikiran, perekrut dan calon anggota bertemu untuk berbaiat. “Sekarang bahkan baiat pun mereka lakukan melalui media social, melalui grup chatting,” katanya.

Menjauhkan anak dari gawai tentu tak mudah. Melarang pun bukan pilihan bijak. Hamidin mengatakan pentingnya kepedulian orang tua mendampingi anak ketika berselancar di dunia maya. “Apabila anak masuk ke situs radikal, orang tua harus segera mendampingi. Tidak serta merta melarang, tapi digeser pada dunia anak, dunia bermain,” katanya.



No comments:

Post a Comment