Friday, August 18, 2017

Melesat terbang di langit Baluran


30 satwa dilepasliarkan di “The Little Africa van Java” Taman Nasional Baluran.


Sambil mengepakan sayap, elang brontok berdada lurik merah bata itu melesat keluar dari kandang. Ia sempat mampir ke salah satu dahan sebelum kembali terbang ke atas langit Taman Nasional (TN) Baluran, Situbondo, Jawa Timur. Bersama 29 satwa lainnya, elang brontok menikmati kemerdekaannya sebagai satwa liar di “The Little Africa van Java”.

Pelepasliaran itu dilakukan oleh Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya dan Wakil Ketua Komisi IV DPR Herman Khoeron pada Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2017 yang diperingati setiap tanggal 10 Agustus.

Sebelumnya elang brontok dan 4 elang lainnya telah rampung bersekolah di Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta (YKAY). Selain elang, satwa lain yang berasal dari Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta adalah 2 ekor Landak Raya (Histrix brachiura).

“Mereka satwa dilindungi, sudah seharusnya tinggal di alam liar,” ujar Koordinator Divisi Konservasi Wildlife Rescue Centre, drh Randy Kusuma, pengelola YKAY, kepada Anadolu Agency.

Total satwa yang dilepasliarkan berjumlah 30 ekor. Selain dari Yogyakarta, satwa juga berasal dari BKSDA Jawa Timur, Jawa Timur Park dan BKSDA Bali. Dari BKSDA Jawa Timur satwa berjenis Merak Jawa (Pavo muticus) 9 ekor, Elang Brontok (Nisaetus chirhatus) 4 ekor, dan Elang Bido (Spilornis cheela) 2 ekor. Sementara 1 ekor merak dan 2 ekor Landak Raya (Histrix brachiura) merupakan hasil breeding di Jawa Timur Park. Dari BKSDA Bali didatangkan 5 ekor Merak Jawa (Pavo muticus) yang rampung disekolahkan di Pusat Penangkaran Satwa Bali.

TN Baluran merupakan 1 dari 5 TN tertua di Indonesia. Lahan seluas 25.000 hektar ini merupakan habitat asli elang, merak dan landak.

Mulanya elang yang akan dilepasliarkan dari YKAY berjumlah 7 ekor. Namun 2 ekor lainnya terinfeksi virus menular Newcastle desease atau tetelo. “Virus ini menular. Akhirnya terpaksa yang 2 disembuhkan dulu,” ujar Randy.

Elang alap jambul merupakan hasil sitaan Polda Jawa Timur. Diserahkan ke BKSDA Yogyakarta, lalu disekolahkan di YKAY tahun 2015 lalu. Sedang elang brontok berasal dari piaraan warga Sleman dan mulai bersekolah di YKAY sejak 2012 lalu.

Saat ini YKAY membina 170 ekor satwa dari segala jenis, terutama aves dan primata. Di YKAY, satwa bersekolah dan melewati sejumlah tahap hingga dinyatakan lulus. Yaitu karantina, penilaian perilaku, pendidikan satwa dan pra pelepasan.

“Setiap satwa yang datang pasti masuk karantina lebih dulu. Kita cek laboratorium dan pastikan tidak ada gejala klinis penyakit yang bisa menular ke satwa lain dan manusia,” ujar Randy.

Di sekolah ini elang diajarkan melompat di berbagai tingkat tenggeran. Rendah, sedang dan atas. Ia juga diajarkan bagaimana terbang melesat dan kembali menukik ke dahan.

Indonesia, ujar Menteri LHK Siti Nurbaya, kaya akan keanekaragaman hayati. Terdapat 54 TN dan 123 wisata alam.

“Konservasi menjaga keanekaragaman hayati kita. Salah satunya dengan memelihara sumber daya genetika,” ujarnya.

Siti yakin satwa yang dilepasliarkan akan survive di TN Baluran. “Sebelumnya satwa telah dikarantina lebih dulu dan dianggap siap untuk hidup di alam liar. Mereka sudah melewati proses dan standar yang sudah ada,” ujarnya.

Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK mengatakan perilaku satwa yang dilepasliarkan akan terus dipantau hingga sebulan. Pihaknya terus memastikan agar satwa itu survive dan tidak diburu  masyarakat.

“Ini sekaligus pesan untuk masyarakat, agar tidak memburu satwa liar. Kalau mau melihat langsung ya datang saja ke habitatnya,” ujarnya kepada Anadolu Agency, Minggu.

Sementara itu Menko Perekonomian Darmin Nasution menekankan pentingnya leadership dalam pengelolaan lingkungan, selain strategi konservasi. Tujuannya agar memunculkan motivasi dan visi pelestarian keanekaragaman hayati tercapai.

“Indonesia memiliki hutan konservasi yang luas dan keanekaragaman hayati. Itu menjadi modal kita untuk menarik perhatian dunia. Konservasi tidak hanya untuk kelestarian ekologi, tapi juga kesejahteraan rakyat,” ujarnya.

Upaya konservasi, ujar Wakil Ketua Komisi IV DPR Herman Khoeron, harus diimbangi dengan program dan anggaran. Saat ini anggaran KLHK untuk pelestarian ekologi begitu kecil sementara wilayah cakupannya begitu luas. Dari persoalan kebakaran hutan, rehabilitasi lahan pasca bencana hingga reformasi agraria.

“DPR selalu mendukung. Tentu konservasi tak hanya untuk perlindungan, tapi juga kesejahteraan rakyat,” ujarnya.


-->
Herman juga memastikan revisi UU 5/1990 tentang Konservasi Sumebr Daya Alam Hayati dan Ekosistem akan rampung tahun ini.

No comments:

Post a Comment